NovelToon NovelToon
CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aquarius97

YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨

PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻

Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.

Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.

Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.

Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.

Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.

Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.

Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.

Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 CMDWM

Restu mendorong tubuh Qiana, memaksanya masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan. Begitu Qiana duduk, pintu langsung ditutup olehnya.

Blam.

Wajah Qiana tampak masam, bibirnya tertekuk menahan kesal. Tapi Restu seolah tak peduli. Ia berdiri di sisi jalan dengan ekspresi datar, menyaksikan taksi tersebut melaju pergi.

Sementara di dalam taksi, Qiana mendesah kasar, lalu menghempaskan pundaknya ke kursi dengan wajah sebal.

"Dasar bos aneh. Seenaknya aja maksa-maksa!" gerutunya, sambil bersungut-sungut.

Pikirannya langsung melayang ke beberapa menit sebelumnya, saat ia dan Restu berdebat di apartemen.

"Maaf, saya tidak bisa mengantar kamu pulang karena ada urusan mendadak. Dan terimakasih karena kamu sudah menolong saya, Qiana." Restu menghembuskan napas sejenak, lalu melanjutkan. "Tapi tenang saja, saya sudah pesankan taksi untukmu," ujarnya tegas.

Qiana spontan menggeleng. "Loh, tidak usah, Pak. Saya kan bawa motor sendiri!"

"Motor kamu mau saya pinjam," balas Restu santai, lalu mengangkat kunci motor Butet yang sudah berada di tangannya.

"Ih, Pak! Nggak boleh!" Qiana melompat-lompat berusaha meraih kunci. Tapi dengan santai, Restu mengangkatnya semakin tinggi, membuatnya mustahil untuk diraih.

"Makanya, tumbuh tuh ke atas, bukan ke samping! Hoaam..." ejek Restu, menepuk-nepuk mulutnya yang menguap.

Qiana langsung berhenti, tangannya terkepal. "Gimana mau tinggi...saya lupa minum Hilo dulu!" serunya, sambil menghentakkan satu kakinya. "Dahlah, saya pergi!" ia pun berbalik dan keluar dari apartemen.

Restu menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah Qiana yang membuatnya gemas, lalu perlahan mengikutinya turun.

Drama belum berakhir. Qiana yang masih jengkel enggan menuruti perkataan Restu untuk naik taksi yang sudah ia pesan. Ia malah berniat mencari angkot saja untuk pulang.

Akhirnya, terjadilah adegan paksa-memaksa, dan dorong-mendorong.

>>>

Taksi melaju perlahan menembus jalanan Sabtu pagi yang lumayan lenggang. Kota terasa berbeda, tidak sepadat hari kerja.

Meski ini akhir pekan, kendaraan yang melintas masih bisa dihitung. Mungkin karena masih terlalu pagi juga.

Qiana masih bersandar, matanya menatap keluar jendela. Ingatannya kembali dengan tawaran Restu.

Tiga kali lipat dari gaji di Indomaret? Lumayan juga, kalau dipikir-pikir. Tapi rasa tak nyaman selalu muncul setiap kali ia berada di dekat Restu. Terlebih, pria itu pernah menciumnya tiba-tiba.

Qiana mendesah pelan. Jangan salahkan pikirannya jika menganggap Restu sebagai bos mata keranjang. Ia bergidik ngeri, hukuman satu bulan saja sudah terasa begitu berat baginya.

Apalagi bosnya itu terkesan dingin, tidak ramah, dan suka semena-mena menyuruhnya. Belum lagi, bosnya selalu saja suudzon padanya, membuat Qiana diam-diam ingin menampolnya tiap kali bicara.

>>>

"Benar di sini, Neng?" tanya sopir taksi, perlahan menginjak rem.

"Benar, Pak. Terima kasih," ucapnya sembari membuka pintu.

"Sama-sama, Neng!" sopir taksi membalas dengan ramah.

Dari pintu gerbang, Qiana bisa melihat seorang wanita tua yang tengah sibuk menyapu halaman.

Segera, kakinya melangkah menghampiri.

"Nek, apa yang Anda lakukan? Kami tidak minta nenek disini untuk jadi pembantu. Sini, nenek duduk saja. Biar Min-min yang selesaikan!" Qiana merebut sapu lidi, kemudian menuntun nenek itu ke kursi yang berada di teras.

Nenek itu tersenyum lembut menatap Qiana, merasa terharu, seolah ketulusan dan perhatian wanita muda ini benar-benar menyentuh hatinya.

"Nenek juga tidak ingin jadi pembantu. Tapi mata Nenek sepet lihat halaman yang begitu kotor, seperti rumah orang minggat saja!"

Qiana mendelik, dalam hatinya ia merasa dongkol. "Idih, sebenarnya ini nenek siapa sih, ngeselin amat omongannya!"

"Ya sih, Nek. Min-min cuma kasihan saja lihat sapunya, keknya takut sama nenek!"

"Mana ada sapu takut? Ngadi-ngadi kamu, Min!" beliau melengos.

Qiana mengangguk serius, mengimbangi gaya bicara Nenek aneh di hadapannya. "Ya, tadi sapunya sampai gemetar di pegang nenek!" kekehnya pelan.

"Kurang ajar! Kamu mengejek nenek sudah jompo?"Nenek melotot menatap Qiana. "Hmm...tidak tahu saja nenek masih kuat, apa mau coba adu panco sama Nenek, hah?"

"Pffffttt !!! Tidak-tidak ! Ampun, Nek." Qiana mengangkat kedua tangannya. "Oh ya, kemana yang lain, Nek?" tanyanya, sambil mulai menyapu.

"Ada, Bu Heni sedang menyuapi Bu Ani, di kamar," jawab nenek. "Kamu darimana, padahal katamu semalam akan pulang jam satu. Apa jam satu malam itu matahari sudah setinggi ini?"kini, giliran beliau yang bertanya.

"Ceritanya panjang, Nek. Nanti Min-min ceritakan, ya. Oh ya, apa nenek sudah ingat sesuatu tentang keluarga nenek?"

Sebenarnya nenek itu belum pikun. Ia hanya berpura-pura di depan Qiana. Saat pertama kali bertemu, entah kenapa ada rasa nyaman yang tiba-tiba menyusup, seolah memiliki firasat positif tentang wanita muda yang telah menolongnya itu.

"Belum… Apa kamu keberatan saya tinggal di sini? Kalau begitu, serahkan saja saya di panti jompo sementara. Saya tidak apa-apa, dan tidak mau merepotkan kalian," wajah nenek memelas.

Qiana menggeleng, mendekat, dan merangkul nenek itu. "Nek, bukan begitu maksud Min-min. Hanya saja, Min-min khawatir keluarga nenek sekarang juga bingung mencari Anda," tuturnya lembut.

"Kalau nenek belum mengingat, ya sudah tidak apa-apa. Tinggal di sini dulu. Nanti kita cari pelan-pelan, ya, cucu nenek," imbuh Qiana lagi.

Nenek tersenyum, meraih dagu Qiana, dan mengusapnya pelan. "Kamu anak baik. Begitu bertemu cucuku, aku ingin menjodohkanmu dengannya!"

Qiana refleks menepis tangan nenek. "Ey, nenek! Jangan sembarangan jodoh-jodohin. Iya kalau cucu nenek tampan, kalau tidak bagaimana?"

Dahi nenek mengerut. "Eh, jangan salah, ya. Cucu nenek itu pria tertampan! Awas kalau sampai ketemu, pasti kamu bakalan klepek-klepek sama dia!" tukasnya sambil bersedekap dada.

"Hahaha, Min-min bercanda kali, Nek. Iya-iya, cucu nenek paling cakep. Tapi maaf, untuk sementara Min-min belum kepikiran untuk menikah."

...🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️...

Setelah memastikan Qiana pulang dengan taksi, Restu kembali ke atas. Ia menelepon Niko, meminta untuk menjemputnya.

Tadi, ia mendapat kabar dari Rangga. Bahwa omanya hilang, meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan siapa pun.

Setelah meminta Rangga menelusuri keberadaannya, terungkap bahwa Omanya diam-diam pergi ke Jakarta. Tanpa pengawal, tanpa bodyguard, dan tanpa meminta izin dari papa maupun mamanya.

Restu seketika panik. Seharusnya, jika oma benar-benar menyusul ke Jakarta, ia sudah sampai sekarang. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Oma Dania, tapi hanya terdengar suara operator yang dingin.

Rasa khawatir itu menumpuk. Bagaimanapun, segalak-galaknya Oma Dania, Restu sangat menyayanginya.

Hatinya mencelos membayangkan omanya yang seorang diri di kota besar, tanpa pengawal. Segala kemungkinan buruk terus menari di pikirannya, membuat Restu gelisah tak karuan.

Bagaimana jika sesuatu terjadi dengan Omanya? Restu meminta Niko mengantarnya ke kediaman keluarga Wicaksono yang berada di Jakarta, berharap Omanya sudah ada di sana.

...ΩΩΩΩΩΩΩ...

Hmm.. Semoga Restu bisa segera bertemu omanya yaa?

1
Filan
Restu, ga yakin nih si Nadine ga ganggu lagi.
Filan
terlalu penasaran atau obsesi
Filan
Dia udah kesambet sih ya...
Miu.Nuha
masa lalu gk usah dibuka lagi...
Miu.Nuha
ber oh ria /Facepalm/
oh ah oh eh oh uh...
Miu.Nuha
akal2an Oma 😅
Miu.Nuha
ih kenapa pula ini Oma 🤭
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
Miu.Nuha
hahaha ngelawak mulu neneknya 😭😭
Miu.Nuha
hilih, giliran nama cucuny aja gk mau nyebut, lupa apa niat ngelupa lagi nih 😫
Miu.Nuha
apa itu mendiang suami 🤔
Miu.Nuha
Omamu tau2 ketemu sama qiana, Res...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
Miu.Nuha
mahal pak beli susu 😭😆
Miu.Nuha
mungkn saatny pk restu tampil 👍
gk mau kalah sama Angga
Miu.Nuha
calon istriku sholihah bngt, batin restu ❤
Miu.Nuha
stalker cucunya donk 😆😆😆
Miu.Nuha
takut ketauaann 😭
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
Miu.Nuha
siap2 jadi Angga terus kamu Res kalo smpe nikah sama Qiana 😆😆
Miu.Nuha
untung bisa boong
Mingyu gf😘
heh justru itu bagus, karena se*s bebas sarang penykit
Mega Siregar
janganlah dipaksa...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!