Judul : LUNARA
Genre : Romantic/Comedy
Sedari kecil selalu dikelilingi oleh empat orang pria yang sangat menyayangi dan melindunginya, ternyata tak membuat kisah cintanya seberuntung itu.
Kisah cinta pertamanya, berakhir bahkan sebelum dimulai. Kisah cinta selanjutnya dan seterusnya, penuh dengan penghianatan.
Gadis itu bernama Lunara, yang berarti Putri Bunga. Mempunyai kulit putih mulus, berparas cantik dan berhati baik. Bisa diibaratkan Lunara seperti malaikat. Kekayaan orangtua yang melimpah, tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis angkuh dan sombong.
Lunara gadis yang selalu terlihat ceria dimata dunia, namun memendam banyak luka.
© 2020, Maya Asviana
Kisah ini merupakan lanjutan dari Novel saya sebelumnya yang berjudul Paman Yoo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 26
"Sudah gak bisa bekerja, berisik pula, harusnya lu bisa jaga sikap sebagai seorang manajer, apalagi lu mendapatkan posisi ini tanpa perlu bekerja keras" ucap Reinaldo. Lunara menarik salah satu sudut bibirnya ke atas sambil menggelengkan kepala.
"Tanpa kerja keras katanya" gumam Lunara dalam hati.
Lunara beranjak dari duduknya sambil berdecak pinggang dan menatap Reinaldo.
"Kenapa? Lu merasa lebih hebat, karena lu mencapai posisi ini dengan kerja keras sedangkan gue bisa dengan mudahnya menjadi Manajer karena Daddy gue?" ucap Lunara lembut.
"Memang seperti itu kan kenyataannya. Lu mendapatkan posisi ini karena lu anak pemilik perusahaan" ucap Reinaldo sambil tersenyum.
"Kenapa? Lu iri karena gue terlahir sebagai anaknya pemilik perusahaan? Gue gak pernah minta dilahirkan menjadi anak dari salah satu pengusaha sukses di Indonesia" ucap Lunara.
"Tapi karena ini takdir gue, ya gue syukuri. Lu juga harusnya bersyukur dikasi otak yang kata Daddy gue, brilian. Mending otak lu itu dipake buat mikir jangan buat nyinyir. Kalau saat ini gue yang menjadi CEO, manajer angkuh seperti lu ini udah gue depak" ucap Lunara masih dengan nada bicara yang lembut walau kini sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Kalau gue mau, gue juga bisa mendapatkan tender besar, gampang banget buat gue. Tapi takutnya lu nanti jadi minder dengan gue. Udah anak pemilik perusahaan, cantik, jenius pula" ucap Lunara sambil mengibaskan rambutnya ke belakang dan menatap angkuh kepada Reinaldo.
"Sudah Kak" ucap Hana, menengahi perdebatan antara Reinaldo dengan Lunara.
"Yaudah buktikan aja kalau memang lu mampu! Tapi mendapatkan tendernya dari hasil kerja lu sendiri ya, bukan tender hadiah dari CEO" sindir Lidya.
"Lu ngapain ikut campur sih Lid!" ucap Rio yang kini menarik lengan Lidya agar menjauh dari meja Lunara. Namun Lidya langsung menghempaskan tangan Rio.
"Lidya, gue takutnya lu langsung bunuh diri deh, karena tau betapa sempurnanya seorang Lunara" ucap Lunara sambil tersenyum angkuh kepada Lidya. Hal itu membuat Lidya bertambah kesal. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut akan ancaman Lunara soal pemecatan waktu itu.
"Baiklah, Lunara Erlangga yang katanya sempurna" ucap Reinaldo lembut.
"Gue akan menuruti semua permintaan lu, kalau lu bisa dapetin tender akhir tahun ini. Gimana?" tantang Reinaldo sambil tersenyum menyodorkan telapak tangannya kepada Lunara.
Lunara terdiam sejenak, menatap Reinaldo yang tengah mengulurkan tangan sambil tersenyum. Lunara pun membalas uluran tangan Reinaldo.
"Okey deal!" tegas Lunara sambil tersenyum.
Ketika Reinaldo ingin menarik kembali tangannya, Lunara menahannya.
"Kak, Luna gak tanggung jawab loh, kalau nanti Kak Rein sampai jatuh cinta sama Luna. Soalnya Luna masih punya kekasih di Sydney" ucap Lunara sambil tersenyum lebar kepada Reinaldo.
"Hey Bocah, bukannya gue udah pernah bilang. Kalau gue gak tertarik dengan bocah manja seperti lu" ucap Reinaldo kesal.
"Oh ya?" ucap Lunara berpura-pura terkejut.
Reinaldo langsung menarik tangannya, kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Lunara langsung tertawa geli melihat sikap Reinaldo.
"Lucu banget ya Kak Rein, mirip banget sama Daddy gue" ucap Lunara
"Naksir Sis?" tanya Dwi.
"Lunara Erlangga pantang naksir pria duluan. Wanita sesempurna gue masa naksir pria duluan" ucap Lunara angkuh. Dwi, Tiara dan Rizal sontak terkekeh mendengarnya.
"Cantik, baik, cerdas, kaya raya pula. Sekilas sih terlihat sempurna. Tapi kelakuannya ... Minus, para pria agak mikir juga sih" ungkap Rizal.
"Wah, kurang ajar! Gak sopan lu! Gue pecat juga lu Bro" ucap Lunara kepada pria yang sudah memiliki anak satu itu.
Lunara, Dwi, Tiara dan Rizal serempak terbahak bersama.
"Udah, udah jangan berisik, nanti Pria Tua itu ngamuk lagi. Gue terpaksa deh buat proposal untuk tender akhir tahun. Males banget gue" ucap Lunara sambil menghela nafas.
"Sis, sebenarnya selama ini kita bertiga disuruh buat proposal sendiri, itu karena Sis Luna mau membuat kita lebih berkembang atau karena sis Luna malas membuat proposal sih?" Cecar Dwi.
"Sejujurnya ya karena gue malas sih, gue cuma cari-cari alasan aja biar kalian pada rajin, hahaha" ucap Lunara sambil terkekeh. Kompak dwi, Tiara dan Rizal melemparkan pena mereka pada Lunara.
"Woii ... Gue ini manajer loh! Gak sopan sama manajer sendiri" ucap Lunara berlagak marah.
Mereka pun kembali terbahak bersama-sama. Namun saat Reinaldo keluar dari ruangannya, Lunara, Dwi, Tiara dan Rizal, reflek menghentikan tawa mereka. Reinaldo yang melihat itu langsung menggelengkan kepalanya.
"Kak Rein!" ucap Lunara memanggil Reinaldo yang hendak berjalan menuju pantry room.
Reinaldo pun menoleh karena dipanggil Lunara. Lunara kemudian memperlihatkan jari telunjuk dan jempolnya yang saling bertaut menyerupai bentuk hati untuk Reinaldo.
Reinaldo lagi-lagi menggelengkan kepalanya dan menghela nafas melihat tingkah Lunara.
"Ada-ada aja sih tuh bocah kelakuannya, kadang menyebalkan, kadang lucu, dasar bocah aneh" gumam Reinaldo dalam hati.
Reinaldo kembali berjalan meninggalkan ruangan Divisi Strategi Pemasaran.
.
.
.
Waktu sangat cepat berlalu, selama tiga bulan ini Lunara sangat serius mengerjakan proposal untuk tender akhir tahun itu. Setiap hari Lunara, Dwi, Tiara dan Rizal masih heboh dan berisik seperti biasanya.
Dan hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan memenangkan tender itu. Karena pertemuan ini diadakan diwaktu yang sama dengan meeting akhir tahun Yohan Corp, Chicko, Junior dan beberapa karyawan PT. Sobat Erl turut datang ke Putra Erl. Dan ini lah pertama kalinya Junior kembali kesana sebagai Asisten CEO.
Junior pun langsung masuk ke ruangan Divisi Strategi Pemasaran. Kemudian berjalan menghampiri Lunara yang sedang berbincang di meja kerja Rizal. Begitu melihat Junior menghampiri nya, Lunara pun beranjak dari kursinya dan berdiri di depan meja kerja Rizal.
"Wuih Asisten CEO keren banget" goda Lunara sambil memperhatikan Junior dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
Diperhatikan seperti itu, Junior langsung duduk bersandar pada ujung meja kerja Rizal dan berpose.
"Aaah ... meleleh adek, Bang" ucap Lunara yang berdiri disamping Junior. Semua yang ada diruangan itu tertawa mendengar ucapan Lunara.
Lidya pun berjalan menghampiri Junior dengan senyuman lebar, lalu mengulurkan tangannya.
"Selamat ya Bang Jun, sekarang udah resmi jadi Asisten CEO" ucap Lidya. Junior terdiam beberapa detik. Setelah menghela nafas, Junior membalas uluran tangan Lidya.
"Terimakasih" ucap Junior singkat, kemudian menarik kembali tangannya.
Junior langsung beranjak dari tempatnya.
"Abang Langsung ke ruang meeting ya" ucapnya pada Lunara.
"Good luck buat presentasi kalian nanti" ucap Junior kepada Dwi, Tiara dan Rizal sambil melambaikan tangan dan hendak berjalan keluar ruangan itu.
"Sis Luna sendiri nanti yang presentasi" ucap Rizal.
Mendengar ucapan Rizal, Junior langsung membalikkan badannya dan kembali melangkah mendekat kepada Lunara. Sementara itu Lidya langsung kembali ke meja kerjanya.
"Kamu presentasi sendiri?" tanya Junior. Lunara hanya tersenyum menanggapinya.
"Proposalnya kamu yang kerjakan sendiri?" tanya Junior lagi. Kali ini Lunara menjawabnya dengan mengangguk.
"Wuih ... Finally. Semangat ya Dek" ucap Junior sambil mengacak kecil rambut Lunara.
"Harus dong" jawab Lunara ceria. Junior pun tersenyum dan kembali berpamitan untuk pergi ke ruang meeting.
Saat Junior hendak keluar, Rio berlari kecil menghampirinya. "Bang, aku juga mau disemangati" rengek Rio.
Junior pun berbalik badan dan menatap Rio.
"Semangat ya Bro" ucap Junior sambil mengacak rambut satu sentimeter milik Rio. Junior bahkan juga mencium dahi Rio dengan santainya.
Rio yang tidak menyangka dengan tindakan Junior itu langsung melayangkan tendangan ke bokong Junior.
"Si*alan lu Jun. Playboy sih playboy, gue jangan lu embat juga dong!" ucap Rio kesal.
Junior terkekeh dan langsung melarikan diri keluar dari ruangan Divisi Strategi Pemasaran. Sementara itu semua yang ada diruangan itu menertawakan Rio yang sibuk mengusap kasar dahinya yang dicium oleh Junior tadi.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, semua peserta meeting sudah berada di dalam ruangan. Chicko dan Junior juga turut hadir didalam meeting itu. Team satu dipersilahkan untuk mempresentasekan proposalnya pertama kali. Reinaldo pun berjalan kedepan.
Yohan merasa bingung karena anggota team satu tidak mengikuti Reinaldo tampil kedepan seperti biasanya.
"Proposal ini saya buat sendiri Pak, jadi saya akan mempresentasekannya sendiri." Ucap Reinaldo, begitu dia melihat tatapan bingung Yohan. Yohan pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengerti akan tindakan Reinaldo.
Reinaldo memulai presentasinya. Yohan dan klien terlihat sangat menyukai apa yang disampaikan oleh Reinaldo. Semua peserta rapat bertepuk tangan di saat Reinaldo menyelesaikan presentasi dengan sangat baik.
Setelah Reinaldo menyelesaikan presentasinya, moderator meeting mempersilahkan team dua untuk mempresentasekan juga proposalnya. Yohan Erlangga langsung terpana saat melihat Lunara dengan percaya diri berjalan sendiri ke depan.
"Kamu juga akan mempresentasekannya sendiri?" tanya Yohan antusias.
"Iya Pak, saya juga membuat proposal ini sendiri dan akan mempresentasekannya sendiri juga" tegas Lunara. Mata Yohan langsung berbinar mendengar jawaban Lunara.
"Finally" gumam Yohan tersenyum lebar.
Lunara pun mulai mempresentasekan proposalnya. Semua orang yang menghadiri meeting itu begitu terpana dengan penampilan Lunara yang berbicara dengan penuh percaya diri, bahkan senyuman Lunara tidak pernah luntur dari bibirnya walaupun dia mempresentasekan proposal itu dengan lugas.
"Akhirnya Daddy bisa melihat lagi, Lunara Erlangga sang Leader" gumam Yohan pelan.
Chicko dan Junior pun menatap bangga kepada Lunara. Bahkan ketiga rekan Lunara di Team Dua merasa sangat terpukau dengan penampilan Lunara.
"Gila ... Itu beneran Sis Luna tuh" bisik Rio kepada Dwi.
Dwi pun mengangguk dan menjawab pernyataan takjub Rio dengan senyum lebarnya.
Junior pun mengedarkan pandangannya keseisi ruangan. Junior melihat pandangan takjub orang-orang diruangan itu. Pandangan mata Junior tanpa sengaja terfokus kepada sosok pria yang duduk disebrang dirinya.
Ya, dia adalah Reinaldo. Tanpa sadar, Reinaldo terus tersenyum dan menatap dengan mata berbinar kepada wanita yang sedang berbicara dengan penuh percaya diri itu.
-------------------------------------------
.
.
.
Tuh hari ini visual nya komplit.
Junior - Lunara - Reinaldo.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca 💕
Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE, tuliskan KOMENTAR kamu dan beri VOTE yaaa ...
Jangan lupa juga untuk memberikan RATE
⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan
mau ke laundry bang (L)
😂😂😂
tdk monoton ke dalam romantisan saja...
lanjut author💪💪💪
ntar keenakan dia bikin kacau ditempat kerja.. 🤦♀️🤦♀️
kalau gk boleh dekat ma orang lain....
jangan muna. weww.. 😁😁