Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membelah
Tindakan Dabllo dan Festo yang menganggap rendah Ibu Leni membuat dia tidak dapat mengontrol amarahnya dan terus saja memarahi mereka berdua sehingga semua siswa yang berada disitu tak bernyali melihat kegeraman yang terpancar di raut wajahnya.
"Aku guru yang paling baik di sekolah ini, tidak ada satupun guru yang sebaik diriku karena kebaikanku akan melebih malaikat," dia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam sebelum sebelum mantap mereka penuh amarah, "Aku juga merupakan satu-satunya guru yang paling jahat disekolah ini, jikalau aku sudah jahat pasti melebihi...."
"Singa," sambung Metallo seraya memasuki ruangan mereka dengan begitu pedenya, sehingga membuat seluruh siswa yang tadi tak berkutik mulai tertawa lepas seakan-akan mengejek Ibu Leni.
"Diam! Jikalau kalian tertawa lagi, akan aku berikan hukuman kepada kalian semua!"
Satu demi satu siswa mulai berbisik kepada teman-teman mereka, oleh karena melihat Ibu Leni yang tak dapat mengontrol dirinya, "Aku baru lihat Ibu Leni sekejam ini,"
"Iya, selama aku berada di lembaga ini, baru kali ini aku mengetahui sifat aslinya Ibu Leni."
"Sungguh... Ini diluar dugaanku sebab setahu dia sangat baik."
"Mungkin ada masalah yang serius mengganjali dirinya hingga diluapkan nya disini."
"Ini sudah melebihi batas alami dirinya."
Beda halnya dengan Dabllo dan Festo yang menjerit kesakitan akibat cubitan dan juga pukulan dari Ibu Leni. Keduanya terus mengata-ngatain Ibu Leni serta saling menuduh tanpa menghiraukan lagi keadaan yang sedang terjadi.
"Apa-apaan ini, awas kau... Leni..." pinta Festo sembari memegang bokongnya yang terasa melepuh akibat pukulan yang diterima dari Ibu Leni.
"ini semua gara-gara engkau, lihat saja nanti," cetus Dabllo yang tenang duduk di kursi karena menerima pukulan yang sama dengan Festo, tetapi tidak terlalu sakit oleh karena hanya dua kali pukulan saja, sedangkan Festo mendapatkan sangsi yang lebih banyak darinya.
"Gara-gara aku..." dia menggit bibir bawahnya serta menatap tajam Dabllo, "Ini semua berawal dari kamu yang mengatainya Ibu geram, buakan?" cetusnya dengan nada yang begitu tinggi hingga membuat Ibu Leni yang berada di depan ruangan makin terbakar naluri kebaikannya.
"Akan aku urusi kalian berdua setelah yang ini," Ibu Leni menunjuk ke arah Metallo.
"Apa? Engkau pikir aku ini pion-pion catur yang suka diatur? Kurungkanlah niatmu Ibu, sebab ini hanya akan menyita waktu dan jikalau Ibu tidak mau, maka aku akan pulang ke rumah oleh karena tiada gunanya juga aku disini mendengarkan ocehanmu ataupun lain-lainnya," cetusnya.
"Berani-beraninya engkau," Ibu Leni menggigit bibir bawahnya serta berjalan mendekatinya lagi hingga jarak antara keduanya tinggal selangkah.
"Apakah aku tidak salah mendengar ucapanmu tadi?"
Ia menatap Ibu Leni dengan sinis,"Tentu tidak, Bu. Apa yang aku katakan benar adanya," Ia menghela nafasnya sesaat, "Ibu tidak sadar bahwa tinggal beberapa menit lagi kita akan istrahat."
"Istrahat atau tidak, itu tergantung aku. Sebelum aku mendidik kalian, tidak ada satupun siswa yang keluar ketika jam istrahat nanti."
"Metal, diam! Jangan memperpanjang masalah ini, aku tidak makan dari tadi pagi," bisik Nia yang berada disebelah kanan tempat duduknya.
"Aku lapar... Aku butuh asupan."
"Aku tidak setuju."
"Apa-apa ini, aku pastikan akan keluar waktu istrahat."
"Tidak.... Ini tidak mungkin."
"Apapun caranya aku akan keluar ketika jam istrahat, walau setelah itu aku mendapatkan sangsi yang berat tetap saja aku keluar karena aku takut lambungku kambuh lagi," pinta Nia dengan nada bicara yang sangat datar kepada Indri.
"Aku juga sama Nia," dia kemudian menundukkan kepalanya, "Nia tolong bisikan kepada Metal agar masalah ini cepat selesai."
Indri sendiri tidak mau jikalau jam istrahat, mereka hanya bisa menghabiskan waktu di dalam ruang kelas bersama Ibu Leni. Dilain sisi dia juga sangat takut jikalau masalah tersebut didengar oleh guru-guru lain dan juga kepala sekolah mereka, maka Metallo, Festo dan juga Dabllo akan menerima sangsi yang lebih berat lagi, apalagi dengan Metallo yang terus-terus membuat masalah.
"Nia cepat bisikan kepada Metallo."
Nia menatapnya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Metallo dengan penuh harap ia mendengarkannya, sebab apa yang baru saja dikatakannya tidak dia dihiraukan oleh Metallo.
"Metal... Metal," dia menarik lengan baju Metallo beberapa kali, sebelum Metallo mengalihkan pandangannya kepada dia.
"Apa yang engkau lakukan, lepaskan bajuku," pinta Metallo kepadanya.
"Metal, please... Jangan memperbesarkan masalah ini," keluhnya dengan raut wajah yang sangat lusuh.
"Aku sama sekali tidak memperpanjang masalah ini. Hanya, Ibu ini terlalu membesarkannya," jawabnya dengan nada yang sangat rendah, sehingga Ibu Leni yang berada kurang lebih selangkah darinya tidak dapat mendengar sepatah katapun, namun dia mengtahui betul bahwa Metallo sedang membicarakan dia.
Braak...!! Sebuah pukulan meleset cepat di pundak Metallo, hingga membuat dirinya mundur selangkah dari tempat dia berdiri, sembari mengelus-elus pundaknya yang terasa melepuh akibat pukulan itu.
"Masih mau mengalihkan pembicaraan ketika berhadapan dengan aku? Apa yang engkau katakan kepadanya?" tanya Ibu Leni dengan raut wajah yang berapi-api.
Metallo menjerit kesakitan sehingga ia tidak peduli dengan apa yang ditanyakan oleh Ibu Leni, dilain sisi ia justru sangat khawatir dengan Nia yang terlihat sangat gentar akibat kemarahan Ibu Leni.
"Apa yang dia katakan?" tanya Ibu Leni kepada Nia.
Nia tak menjawab sepatah katapun kepadanya. Dia beku, diam tak bernyali menyaksikan semua kejadian dengan mata tertutup, hingga membuat keangkuhan Ibu Leni lepas tak terkendali.
"Apa engkau masih memiliki pendengaran yang baik?"
"Oh, tentu Ibu," jawabnya.
"Apa yang ingin engkau lakukan kepadanya? Kenapa harus dia yang engkau sakiti," pinta Metallo seraya menangkap tangan kiri Ibu Leni yang hampir saja mendarat di pipi kanan Nia.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam serata menatapi Nia penuh dengan kegelisahan sebelum memandangi Ibu Leni, "Dia tidak tahu apa-apa, Bu. Kenapa anda harus menyakitinya? Aku mengatakan bahwa Ibu sangat geram!" tegas Metallo membelah Nia.
Trrengggg!!! Bel Istrahat telah berbunyi hingga membuat semua siswa yang berada di situ sedikit merasa kelegaan, namun tidak ada diantara mereka yang berani keluar dari ruangan oleh karena takut dengan Ibu Leni, dilain sisi mereka juga sangat takut jikalau masalah tersebut diadukan kepada kepala sekolah.
Bersambung.
Mohon Doa dan dukungan dari teman semuanya agar apa yang aku paparkan ini dapat berguna dan bermanfaat untuk kita semua.
Yu... Ikuti terus dan dukung karya ini ya teman sekalian... Jagalah diri kalian dimanapun kalian berada sebab kita tidak tahu kapan dan dimana akhir dari perjalanan hidup di dunia yang fana ini... Semangat dan tetap semangat walau terkadang jiwa membeku... Raga luluh... Hasrat mati... [Tersenyumlah untuk menutupi semua luka uang mengusik benak***]
SALAM SHANTUN🙏🙏🙏
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??