Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Perut Besi Dewi Andalas
Kegelapan di bawah tanah itu pekat, mengikat, dan mematikan. Arka tidak bisa melihat jari-jarinya sendiri. Ia hanya bisa merasakan arus limbah berbau amonia dan belerang yang merobek-robek kulitnya.
Kedua lengannya memeluk peti kayu berlapis terpal itu dengan putus asa, seolah itu adalah satu-satunya jangkar kewarasannya. Suhu cairan korosif ini meningkat drastis, merebus luka lecet di lutut dan kulit melepuh di betisnya. Rasanya seperti ribuan jarum berkarat ditusukkan ke pori-porinya secara bersamaan. Arka memejamkan mata rapat-rapat, menahan napas hingga paru-parunya berteriak meminta oksigen, sementara arus bawah tanah itu menariknya semakin cepat.
BZZZZZZZ.
Suara dengungan mesin hidrolik berkapasitas raksasa mulai menggetarkan cairan pekat di sekelilingnya. Arka merasakan gaya tarik gravitasi berubah. Air di sekitarnya berputar liar. Ia tersedot ke atas.
Gendang telinganya serasa mau pecah akibat tekanan yang fluktuatif, hingga tiba-tiba—
BYAAAR!
Peti kayu itu dimuntahkan keluar dari mulut pipa raksasa, terlempar menghantam lantai kisi-kisi besi dengan bunyi berdebum yang memekakkan telinga. Tubuh Arka ikut terpelanting, berguling di atas pelat baja bergerigi.
"Uhk—! Haaah!" Arka memuntahkan cairan hitam kental dari kerongkongannya. Napasnya tersengal, meraup udara yang berbau karat, oli mesin, dan garam laut.
Transisi suhu langsung menghantamnya tanpa ampun. Dari air limbah bawah tanah yang merebus kulit, ia kini dilempar ke dalam ruangan bersuhu nyaris beku. Ini adalah ruang kargo pendingin kelas industrial. Udara dingin seketika menggigit tubuh kurusnya yang basah kuyup. Giginya bergemeretak tak terkendali.
Pandangan Arka berputar. Dengan sisa tenaga yang ia gali dari dasar instingnya, ia menyeret tubuhnya menjauh dari area bongkar muat otomatis. Setiap kali perutnya bergesekan dengan kisi-kisi baja bersalju, kulit melepuhnya meninggalkan jejak noda kemerahan. Ia memaksa dirinya merayap, masuk ke celah sempit—hanya selebar bahu manusia—di antara dua kontainer baja raksasa yang berembun dingin.
Arka meringkuk di sana, memeluk lututnya sendiri, menggigil hebat hingga tulang-tulangnya berderak. Kondisinya berada di ambang batas hipotermia dan syok anafilaktik akibat racun kimia.
Tiba-tiba, suara mekanik pintu palka yang berat terbuka bergema di ruangan itu.
CLANG. CLANG. CLANG.
Langkah kaki sepatu bot berpelat besi menghantam lantai. Cahaya lampu senter yang menyilaukan menyapu lorong-lorong kontainer, menembus celah-celah sempit. Arka menahan napas, menggigit lengan kemejanya yang robek untuk meredam suara gemeretak giginya.
Dua sosok berseragam abu-abu tebal berjalan melewati deretan peti selundupan yang baru saja dimuntahkan dari pipa limbah.
"Cepat segel peti-peti dari Sektor 4 ini. Pastikan sistem pendinginnya maksimal," gerutu salah satu pria, suaranya teredam masker respirator.
"Sistem barcodenya rusak terkena asam limbah," sahut pria kedua, nadanya terdengar panik.
Langkah kaki pertama berhenti seketika. "Kalau begitu hitung manual, Bodoh! Berdoa saja berat kotor kargo ini tidak meleset satu gram pun dari manifestasi."
"T-tapi—"
Pria pertama mencengkeram kerah temannya, membantingnya ke dinding kontainer tepat di sebelah tempat Arka bersembunyi. Dinding baja itu bergetar, mengirimkan hawa dingin ke punggung Arka.
"Kau mau mati?!" desis pria pertama, suaranya bergetar oleh ketakutan yang absolut. "Tuan Sitorus akan memeriksa muatan ini begitu kita bersandar di Sektor 3. Kau tahu kan apa yang dia lakukan pada awak kapal bulan lalu yang salah menghitung stok reagen? Dia memasukkan mereka ke mesin grinder pupuk biologis dalam keadaan hidup! Bagi Sitorus, kita ini bukan manusia. Kita ini cuma variabel pengeluaran!"
Nama itu. Sitorus. Sektor 3.
Arka menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Otaknya menolak menganalisis nama itu, menolak membangun probabilitas logika karena trauma Neural Feedback yang siap menghancurkan sarafnya. Tapi ia tidak perlu meretas sistem untuk memahami satu hal: monster yang mengendalikan logistik ini jauh lebih rasional, dan karenanya, jauh lebih kejam daripada Gulo.
Langkah kaki kedua pria itu menjauh, suara perdebatan mereka mereda seiring dengan tertutupnya pintu palka.
Ruang kargo kembali dicekam kesunyian dan suhu yang membekukan.
Arka menyandarkan kepalanya yang berat ke dinding kontainer. Ia perlahan menoleh ke sisi kirinya—ke arah tumpukan bayangan gelap yang diciptakan oleh embun pipa es.
"Kau dengar itu, Bram?" bisik Arka parau, bibirnya yang membiru melengkung membentuk senyum tipis yang memilukan.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya udara dingin yang membekukan.
"Kita berhasil... kita masuk ke kapalnya," gumamnya, air mata hangat mengalir pelan dari sudut matanya, membeku sesaat setelah menyentuh pipinya. "Bertahanlah, Hasan... kita akan ke Sektor 3. Aku akan mencari penawarnya."
Arka memejamkan mata, membiarkan tubuhnya yang melepuh menggigil dalam delusi yang menenangkan, terombang-ambing di dalam lambung kapal raksasa yang tengah membawanya menuju sang raja logistik.
***
[AUTHOR NOTE] Arka berhasil selamat dari kubangan limbah korosif, tapi kini dia terjebak di ruang pendingin perut Kapal Andalas! Dan untuk pertama kalinya, nama Sitorus bergema—bukan sebagai perantara biasa, tapi sebagai tiran rasional yang mengolah nyawa manusia menjadi pupuk biologis. Fisik Arka sekarat, dan mentalnya semakin dalam terperangkap dalam halusinasi. Bagaimana cara Arka bertahan dari hipotermia di ruang kargo ini? Dan apa yang terjadi jika Sitorus menemukan "variabel liar" ini di kapalnya? Tulis teori kalian!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼