Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : REKAYASA KEKALAHAN
Suara gemuruh hujan di luar tidak mampu menembus dinding kedap suara ruang latihan pribadi milik faksi barat.
Ruangan itu didominasi warna putih abu-abu dengan lantai matras 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘮𝘦𝘳 khusus militer. Di sudut ruangan, jajaran senjata api laras panjang dan pisau tertata rapi—khas milik Ciel Vance.
Elara berdiri di tengah matras, mengenakan pakaian latihan serba hitam yang ketat, memperlihatkan siluet tubuhnya yang atletis.
Rambut hitamnya dikuncir kuda, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau 𝘥𝘶𝘳𝘢𝘭𝘶𝘮𝘪𝘯 tumpul untuk latihan.
Ia sedang bosan.
Rutinitas pembukuan dan laporan dokumen organisasi selama beberapa hari terakhir membuatnya jenuh. Ketika Ciel dengan nada formalnya berani mengajukan proposal untuk "evaluasi kemampuan fisik"—bahasa halusnya untuk latih tanding—Elara memutuskan untuk melayaninya.
Ciel berdiri tiga meter di depannya, memakai kaus abu-abu. Matanya yang sewarna perak menatap Elara dengan fokus penuh.
Bagi Ciel, latih tanding ini adalah eksperimen. Ia ingin mengukur secara matematis berapa kecepatan, daya ledak, dan waktu reaksi penerus Ouroboros.
"Aturannya standar, Nona Elara. Tidak ada serangan mematikan," ucap Ciel, memutar pisau latihannya.
"Aturan hanya dibuat oleh orang yang takut kalah, Ciel," sahut Elara datar, suaranya mengalun tenang. "Maju."
𝘚𝘞𝘜𝘚𝘏
Ciel bergerak maju dengan kecepatan yang mengagumkan.
Sebagai mantan perwira pasukan khusus, serangannya adalah kombinasi dari 𝘚𝘺𝘴𝘵𝘦𝘮𝘢 dan 𝘒𝘳𝘢𝘷 𝘔𝘢𝘨𝘢—langsung, efisien, dan tanpa gerakan berlebih. Ia menusuk ke arah ulu hati Elara, sebuah gerakan umpan yang akan dilanjutkan dengan sapuan kaki jika Elara menghindar.
Namun, Elara tidak menghindar dengan cara biasa.
Dengan ketenangannya yang tidak mengenal rasa panik, Elara membiarkan pisau Ciel berjarak hanya beberapa sentimeter dari bajunya sebelum ia memiringkan tubuhnya dengan sudut yang sangat tipis. Gerakan itu begitu minim, namun sangat efektif.
𝘚𝘛𝘙𝘙
Sebelum Ciel sempat mengeksekusi rencana serangan keduanya, Elara menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan Ciel dengan cengkeraman yang tidak selaras dengan tubuh langsingnya. Di saat yang sama, Elara memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum kecepatan Ciel untuk membalikkan keadaan.
𝘉𝘜𝘈𝘒
Satu hantaman lutut Elara bersarang telak di rusuk kiri Ciel, membuatnya kehilangan keseimbangan. Belum sempat Ciel memulihkan posisinya, Elara sudah berada di belakangnya. Dengan gerakan yang mulus, Elara melingkarkan lengannya di leher Ciel, melakukan 𝘳𝘦𝘢𝘳-𝘯𝘢𝘬𝘦𝘥 𝘤𝘩𝘰𝘬𝘦 yang sempurna, sementara ujung pisau latihannya menempel tepat di urat nadi leher Ciel.
Hanya dalam waktu tiga belas detik.
"Kau mati, Ciel," bisik Elara di dekat telinga Ciel. Napasnya bahkan tidak memburu. Ia telah memprediksi setiap jengkal pergerakan Ciel sejak pemuda itu mengambil langkah pertama.
Elara melepaskan kunciannya dan mundur dua langkah, menjatuhkan pisau latihannya ke matras dengan bunyi ketukan pelan. "Kau bertarung seolah-olah aku adalah buku teks militer yang bisa kau pelajari."
Ciel berlutut di matras, mencengkeram rusuknya yang terasa linu. Napasnya memburu, bukan hanya karena hantaman fisik, melainkan karena syok yang luar biasa.
Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah salah. Ia tidak pernah kalah secepat ini, dikalahkan oleh seorang wanita yang selama ini ia anggap sebagai "mahakarya" ayahnya.
Ciel mendongak. Di bawah pendar lampu neon ruang latihan, ia menatap Elara yang sedang merapikan lengan bajunya dengan ekspresi bosan, seolah-olah mengalahkan dirinya tidak lebih sulit daripada membalik halaman buku.
Kekalahan pertamanya ini tidak membuat Ciel ciut, itu justru menyalakan kegilaan baru di dalam jiwanya.
Ciel perlahan bangkit berdiri, mengabaikan rasa sakit di rusuknya.
"Saya akan memperbaiki kekurangan saya, Nona Elara," ucap Ciel, penuh kesungguhan.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..