Sequel Terpaksa Menikahi Tuan Posesif
IG : @nafasal8
Season 1
Damian harus merasakan kekecewaan yang mendalam, karena sang tunangan diam-diam berselingkuh darinya. Ia terpaksa harus memutuskan pertunangannya secara sepihak.
Jebakan yang direncanakan oleh Arra, ternyata menjadi pertemuan pertama untuk Damian dan Sarah. Lantas bagaimana cara Damian untuk menaklukkan hati Sarah.
Bagaimana perjuangan Damian untuk mendapatkan hati sang pujaan hati, berhasilkah atau Sarah malah berbalik arah dari Damian?
Season 2
Rencana konyol Davian untuk menjadikan Linanda sebagai kekasih settingan ternyata berujung pada keputusan Oma yang ingin menikahkan mereka dalam waktu dekat.
Bagaimana kisah Davian dan Lin dalam menghadapi rencana Oma? Apakah mereka akan bersatu dalam ikatan suci? Atau mengungkap semua dan mengaku pada keluarga besar mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25. Nasihat Ibu
Setelah menunggu selama kurang dari lima belas menit, akhirnya Sarah keluar dengan mengenakan baju santai dan riasan tipis alami. Meskipun perasaannya masih tak karuan, gadis itu memilih keluar dari kamarnya dan menemui Damian yang sudah menunggu di ruang tamu bersama Ben dan Satya.
Ben yang selalu bisa diandalkan itu memilih mengajak Satya untuk pindah ke teras depan, dengan dalih mencari udara segar. Satya yang mulai mengerti maksud Ben, akhirnya hanya bisa tersenyum menyeringai sambil melihat secara bergantian ke arah kakaknya dan Tuan Muda calon kakak iparnya itu.
"Sat, kita ke teras rumah yuk!" ajak Ben sambil menepuk pelan pundak Satya.
"Eh, iya ... iya Kak Ben," ucap Satya. Entah sejak kapan Satya menjadi sok akrab dengan Ben, ia bahkan sudah memanggil Ben dengan panggilan kakak.
"Kamu panggil Ben, dengan panggilan apa?" tanya Damian memperjelas indra pendengarannya.
"Kak Ben! Kenapa Tuan? Kak Ben sendiri yang menyuruh saya memanggil seperti itu," terang Satya sambil menunjuk ke arah Ben. Damian tampak tersenyum samar.
"Kalau begitu panggil aku 'Kakak' juga seperti Ben!" perintah Damian. Ketiga para manusia yang berada di ruangan tersebut mendadak heran dengan permintaan Damian.
"Kenapa kalian memandangiku seperti itu? Bukankah itu permintaan yang sederhana!" protesnya.
"Bukan seperti itu Tuan bos, saya tidak bisa memanggil anda dengan panggilan sembarangan," kilah Satya. Damian tampak mengerutkan kening.
"Kenapa seperti itu?"
"Ya, anda kan Tuan Muda. Jadi saya harus menghormati anda," jelas Satya dengan nada suara yang dibuat seserius mungkin.
"Pokoknya kamu harus panggil aku kak Damian, mengerti!"
"Tukang paksa," desis Sarah yang dihadiahi Damian sebuah tatapan yang sulit di artikan oleh gadis itu. Jantungnya kembali berdetak tak karuan, ia sendiri bingung dengan perubahan perasaannya yang selalu berubah-ubah semenjak kejadian lamaran semalam.
"Baik kakak Bos! Apa sih yang enggak buat kakak Bos," celetuk Satya sambil memberi hormat kepada pria yang tengah duduk itu. Hal itu membuat Ben dan Damian terkekeh.
🍁🍁🍁
Sarah memilih duduk sedikit menjauh dari Damian, ia hanya menundukkan kepala sambil menunggu pria itu berucap sesuatu.
"Sarah, kenapa kamu duduk di sana? Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ucap Damian.
"Tidak apa-apa Tuan, saya duduk disini saja," kilah Sarah.
"Ck ... kenapa kamu sangat formal sih, aku calon suamimu lho. Belajar lah memanggilku dengan panggilan yang lebih romantis."
Jantung Sarah kembali berpacu lebih cepat, ucapan sederhana Damian membuatnya tak bisa menguasai perasaannya. Gugup dan canggung, itulah yang saat ini menguasai pikirannya.
"Sarah ... kenapa kamu diam?"
Sarah masih bergeming, ia juga bingung kenapa perasaannya jadi aneh begini.
Damian mendengus kesal, ia beranjak dan duduk di samping gadis itu.
"Tatap aku!" perintah Damian. Namun Sarah masih tetap menundukkan kepalanya. Pria itu segera menangkup wajah Sarah dengan kedua tangannya.
Jantung Sarah seolah mau loncat, perlakuan Damian membuatnya tersipu. Perubahan wajahnya terlihat jelas, Damian menyukainya sungguh sangat suka saat Sarah sedang tersipu.
"Apa kamu masih meragukan ku?" tanya Damian dengan tangan masih memegang wajah gadis itu.
Mata Sarah mulai menatap manik indah milik Damian, entah kenapa saat Sarah menatap kedua mata coklat pria di hadapan nya itu. Ia seolah menemukan sesuatu di balik tatapan sendu pria yang sudah memintanya untuk menjadi istrinya itu.
Bu Karmila yang sudah pulang dari pasar tampak terkesiap melihat adegan ambigu antara anak gadisnya dengan Tuan Muda tampan itu.
"Sarah ....!" desis Bu Karmila, raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. Bu Karmila segera membekap mulutnya.
Damian segera melepaskan tangannya dari wajah Sarah, raut wajah mereka berdua juga tak kalah terkejutnya dengan Bu Karmila.
"Ibu ....!" Sarah segera bangkit dari duduknya.
"Ini tidak yang seperti Ibu lihat," terang Sarah dengan melambaikan kedua tangannya. Namun Bu Karmila masih terdiam di tempat.
Melihat sikap Bu Karmila, Damian langsung menyimpulkan bahwa wanita paruh baya itu sedang salah paham kepadanya dan anak gadisnya.
"Bu, saya dan Sarah tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kami lakukan. Saya sangat menyukai putri Ibu, jadi saya akan selalu menjaga kehormatannya sampai tiba nanti waktunya. Saya juga sudah memohon ijin kepada Ibu untuk menikahi putri Ibu. Sikap saya barusan hanya menegaskan pada Sarah, bahwa saya memang benar-benar ingin menikah dengannya. Karena dia masih meragukan saya," jelas Damian dengan raut wajah serius.
Sarah segera mengalihkan pandangannya pada Damian, ia tak menyangka pria di sebelah nya akan berkata demikian. Tak terasa cairan bening segera lolos dari kedua sudut mata gadis itu.
Bu Karmila yang mendengar nya pun merasa terharu. Kini, kedua wanita yang berada di ruangan tersebut tampak menumpahkan perasaannya.
Damian mulai kebingungan, kenapa mereka menangis.
"Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih Bu. Apa saya sudah menyinggung perasaan anda?" Damian tampak menatap sendu kedua Ibu dan anak itu.
"Tidak Tuan, anda sama sekali tidak menyinggung perasaan saya. Hanya saja saya sangat terharu, bagaimana bisa seorang Tuan Muda seperti anda bisa menyukai gadis biasa seperti anak saya." Bu Karmila tampak menyeka air matanya, perlahan ia berjalan menuju tempat duduk yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tuan, wajar saja jika Sarah masih tak percaya dengan apa yang anda utarakan. Selama ini, dia tidak pernah dekat atau mempunyai teman pria. Ayahnya selalu mendidiknya untuk terus fokus belajar dan tidak boleh dekat dengan teman pria. Dan sekarang, anda tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Apalagi latar belakang anda yang jauh berbeda dengan kami. Membuatnya semakin meragukan niat anda, tapi Ibu juga tak bisa memaksa. Ini masalah hati, jadi sebisa mungkin saya tidak ikut campur dalam keputusan Sarah. Dia yang akan menjalani, jadi semua keputusan ada di tangan Sarah. Tapi disini Ibu mau menanyakan kepada Tuan, apa keluarga anda tahu Tuan? Maksud saya, apa bisa keluarga terpandang seperti keluarga anda menerima Sarah yang hanya gadis biasa yang setiap hari berjuang untuk hidupnya," ungkap Bu Karmila. Kedua matanya kembali berkaca-kaca.
Sarah yang mendengar nasihat Ibunya hanya bisa terisak, ia kembali menundukkan kepalanya dan mulutnya seolah terkunci. Ia membenarkan semua perkataan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu. Tentu saja ia masih gamang dengan niat baik Damian kepadanya, semuanya tampak begitu tiba-tiba. Ia belum siap dan masih ragu, itulah kata pertama yang ada di pikirannya saat Damian mengutarakan niatnya untuk menikahinya.
"Untuk itulah tujuan saya kesini, nanti malam saya akan mengajak Sarah untuk saya kenalkan kepada keluarga saya. Saya bersungguh-sungguh ingin menikahi Sarah Bu," ungkap Damian penuh dengan keseriusan.
Sarah tampak terperanjat dengan kalimat Damian, ajakannya menikah saja sudah membuatnya tak bisa tidur semalaman. Dan sekarang pria ini kembali membuatnya seperti sedang menaiki rollercoaster, rasanya ia ingin sekali bersembunyi di balik tubuh sang Ibu dan mengatakan 'aku belum siap'.
Namun, Bu Karmila malah berkebalikan dengannya. Wanita itu tampak tersenyum lega, setidaknya inilah yang ia harapkan. Pria yang sangat bertanggungjawab dan tulus yang akan ia percayakan untuk menjadi suami dari sang putri tercinta nya. Menjadi orang tua tunggal baginya tak mudah untuk menjaga seorang anak gadis seperti Sarah, putrinya yang cantik sering membuat pemuda di kampungnya tergila-gila dan ingin menjadikan gadis itu kekasih bahkan ada yang meminta nya secara terang-terangan kepada Bu Karmila.
Lalu, kenapa Bu Karmila menjatuhkan pilihannya kepada Damian. Apakah karena Damian seorang yang kaya dan tampan? Tentu saja bukan seperti itu, itulah dilema yang melanda wanita yang memiliki dua anak itu. Desas desus akan kembali terdengar di telinganya, seorang Sarah akan menikah dengan pria kaya raya. Matre? Itu lah kata yang paling menyakitkan yang sering Bu Karmila dengar dari tetangga di sekitarnya.
Padahal sifat itu sangat bertolak belakang dengan putri nya, gadis itu bahkan rela bekerja keras demi mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Dan kini, tiba-tiba seorang pria kaya sangat tertarik padanya. Apakah itu semua salahnya? Dia tidak pernah menggodanya, bahkan Bu Karmila melihat sendiri anak gadisnya tak ingin terlibat dengan Tuan Muda tersebut. Tapi itulah cinta, Damian sedang memperjuangkan nya. Bukan dengan janji manis yang biasa dilakukan seorang laki-laki kepada seorang wanita untuk meyakinkan nya. Tapi, Tuan Muda ini menunjukkannya dengan bukti. Dengan tindakan langsung. Itulah yang membuat Bu Karmila akhirnya yakin, bahwa Damian patut untuk diberikan kesempatan.
"Baiklah, saya mohon jaga anak saya baik-baik Tuan. Saya sangat menyayanginya lebih dari hidup saya sendiri, saya percaya Tuan tulus. Dan saya harap juga demikian." Bu Karmila kembali menyeka air matanya.
Sarah semakin larut dalam haru, ia tak tahu harus bahagia atau bersedih saat ini. Yang kini ia rasakan hanya perasaan haru yang menyelimuti perasaannya. Damian mengelus pelan punggung Sarah, belaian yang ia harap bisa menguatkan serta meyakinkan gadis itu atas semua niat tulusnya.
Ada perasaan lega di hati Damian, ia merasa terharu dengan ucapan Bu Karmila. Seorang Ibu yang selalu berharap untuk kebahagiaan anaknya dan sekarang akan segera ia wujudkan.
Bersambung ....
.
Mampir ke novel keren ini ya😍👍🏻 beneran keren banget pokoknya😍
Mohon maaf ya kalau Up nya berubah-ubah jamnya karena beberapa kesibukan Real Life yang tidak bisa di tinggalkan, tapi semoga terhibur ya dengan karya receh saya.
Love U all guys🥰😘