"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan takdir
"Mau kemana, Xena?" tanya Mira.
Langkah Xena yang baru saja menuruni tangga langsung berhenti. Xena mengangkat pandangannya. Mira langsung berdiri dari sofa. Tatapannya lurus ke arahnya.
"Ada yang harus aku selesaikan, Ma." jawab Xena datar.
Mira melangkah mendekat. Perlahan dan terukur, " Dengan siapa?"
Xena tak menghindar, "Sandra."
Mira berhenti tepat di hadapannya. Matanya menatap dalam. Seolah ingin memastikan apakah ini hanya emosi sesaat atau benar-benar keputusan.
"Untuk apa?"
Xena menghela nafas pendek, "Mengakhirinya."
Mira masih menatap putranya, "Kau yakin?"
Xena mengangguk, "Aku sudah memutuskannya."
Mira menyilangkan tangannya di depan dada, " Apa kau sudah menyadarinya?"
Xena menatap ibunya lurus, "Aku tidak ingin kehilangan Rasti."
Mira tidak memotong. Tidak membantah. Tidak juga menekan. Tatapannya berubah meski tidak sepenuhnya.
"Bagus. Mama berharap kau tidak membuatnya kecewa."
"Tidak akan pernah."
"Semoga kata-kata mu bisa dipercaya."
"Tentu. Tentu, Ma. Aku tidak akan mengingkarinya."
Mira menatap putranya beberapa detik lebih lama. Tidak ada lagi pertanyaan. Tidak ada lagi tekanan.Tapi jelas jawaban itu bukan hanya kata-kata Xena, tapi juga kesungguhannya.
"Pergilah," ucap Mira akhirnya.
Xena mengangguk. Tanpa berkata lagi. Ia melangkah keluar rumah. Langkahnya mantap tapi wajahnya tetap tegang. Xena sudah mengambil keputusan dan itu artinya tak ada celah baginya untuk tidak mengakhiri.
Di dalam kamar, Rasti masih duduk diam di tepi ranjang. Pandangannya kosong tapi pikirannya penuh. Pintu terbuka perlahan. Mira masuk hingga membuat Rasti tersentak sedikit. Ia langsung mencoba duduk lebih tegak.
"M-ma...."
Mira tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari Rasti, memperhatikan wanita itu dalam diam. Namun pandangannya beralih pada noda merah yang melekat di seprai. Mira menghela nafas pelan. Ia sadar saru hal kini saatnya ia membuka hati dan menerima Rasti sebagai menantunya.
Ada jeda cukup lama untuk membuat Rasti kembali merasa canggung.
"Sudah lebih baik?" tanya Mira akhirnya.
Rasti mengangguk kecil, "Sudah, Ma."
Mira melangkah mendekat. Tangannya menyentuh dahi Rasti sebentar. Memastikan sendiri. Sentuhan itu tidak dingin dari biasanya. Lebih manusiawi.
"Kau tau Xena pergi ke mana?"
"Rasti mengangguk, " Iya, Ma."
"Kau membiarkannya?"
Pertanyaan itu tidak menyudutkan. Tapi cukup membuat dada Rasti kembali sesak, "Rasti percaya, Ma."
Mira menatapnya, "Kau tidak takut?"
Rasti tersenyum tipis, sangat tipis, "Rasti tidak ingin menjadi alasan seseorang bertahan dengan cara yang salah."
Mira terdiam. Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat Rasti bukan sebagai beban. Bukan sebagai perempuan yang dipaksa masuk ke dalam keluarga ini. Tapi sebagai seseorang yang mengerti.
"Kau mencintainya?" tanya Mira tiba-tiba.
DEG
Rasti terdiam, matanya berkaca-kaca, "Rasti...tidak tau, Ma."
Mira menghela nafas pelan. Lalu menarik Rasti masuk ke dalam pelukannya, "Bukalah hatimu untuknya. Jangan lemah. Kalau kau menyerah. Semua yang kau sudah berikan akan sia-sia."
Mira menghela nafas pelan.
Air mata Rasti akhirnya jatuh tapi ia mengangguk.
***
Di luar rumah, Xena berdiri di samping mobil. Ponselnya ada di tangan. Nama itu kembali muncul di layar. Kali ini, Xena tidak mematikannya. Xena menatap layar itu beberapa detik. Lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Xena..." suara seberang sana terdengar lega tapi juga penuh tuntutan.
"Kita perlu bicara," ucap Xena langsung.
"Akhirnya," jawab Sandra pelan.
Xena menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi, "Aku tunggu di tempat biasa."
Sambungan terputus. Xena menurunkan ponselnya. Rahangnya mengeras. Tapi bukan karena ragu melainkan karena ia tau setelah ini tidak ada jalan kembali. Ia membuka pintu mobil lalu masuk. Mesin dinyalakan.. Xena melaju untuk memulai kehidupannya dan mengakhiri masa lalunya.
Di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Sandra sudah duduk lebih dulu. Secangkir kopi di depannya hampir tidak tersentuh. Tangannya saling menggenggam di atas meja. Gelisah. Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu. Dan saat sosok itu akhirnya masuk, Sandra langsung berdiri.
"Xena."
Xena berjalan mendekat. Wajahnya datar. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan seperti dulu.
"Kau sudah lama?" tanyanya singkat.
"Belum."
Mereka duduk berhadapan. Sunyi. Canggung. Bahkan lebih canggung dari orang asing. Sandra mencoba tersenyum, meski jelas dipaksakan.
"Ada apa? Kau sudah memutuskan?"
"Sudah."
Jawaban itu terlalu tegas. Terlalu cepat. Sandra terdiam sejenak.
"Lalu, Kau ingin bicara apa?" tanyanya akhirnya.
Xena menatap Sandra agak lama, "Kita akhiri sampai di sini."
DEG
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa pembuka. Tanpa basa-basi. Sandra membeku.
"Apa?"
"Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi."
Sandra tertawa kecil, tapi tidak ada lucu du sana, "Kau memilih dia?"
Xena tak menyangkal, "Iya."
Sandra menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca, "Secepat itu?"
"Aku memang terlambat menyadarinya."
"Lalu aku apa, Xena? Kau bilang aku penting bagimu. Tapi..."
Beberapa orang di sekitar mulai melirik. Tapi Xena tak peduli.
"Aku tak ingin membohongimu lagi," ucap Xena pelan tapi tegas.
Sandra menatapnya, Air matanya jatuh, " Aku sudah bilang... aku tidak mau berbagi."
"Aku juga tak ingin membuatmu berbagi."
"Lalu kenapa kau memilih dia?!"
Xena terdiam sejenak, "Karena aku tak bisa meninggalkannya."
Hening.
Sandra menutup mulutnya. Menahan tangis yang semakin pecah, "Dan aku?"
Xena menunduk sesaat. Lalu menatapnya kembali, "Kau akan menemukan seseorang yang memilihmu...sejak awal."
Air mata Sandra jatuh tanpa henti, "Itu harusnya kau, Xena..."
Xena tidak menjawab. Karena ia tak punya jawaban yang bisa memperbaiki semuanya. Sandra mengusap air matanya kasar. Lalu berdiri.
"Aku benci kau."
Xena terdiam.
Tapi aku lebih benci diriku sendiri karena masih berharap."
Sandra mengambil tasnya, "Pergilah! Aku tak ingin melihatmu lagi."
Xena mengangguk pelan. Tidak menahan. Tidak mengejar. Karena ia tau, beberapa perpisahan memang garus benar-benar terjadi.
***
Suara mobil terdengar dari luar. Rasti langsung membuka mata. Jantungnya berdegup lebih cepat. Langkah kaki terdengar semakin dekat. Pintu terbuka. Xena muncul di ambang pintu kamar. Tatapan mereka bertemu Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak. Hanya saling melihat, seolah mencari jawaban dari satu sama lain.
Xena melangkah masuk perlahan. Menutup pintu di belakangnya. "Aku sudah menyelesaikan nya."
Suaranya tenang. Lebih ringan dari sebelumnya. Rasti menatapnya. Dalam. Tapi tak bertanya satu pertanyaan pun. Ia bisa merasakannya. Xena langsung memeluknya.
"Terima kasih sudah menunggu."
Tapi disaat itu takdir seolah mempermainkan mereka. Ponsel Xena berdering. Membuatnya mengendurkan pelukan. Sebuah nama itu lagi tertera di layar. Rasti menatapnya, tegang.
"Angkat saja."
Xena menggeser tombol hijau lalu,
"Halo, bisa bicara dengan Xena?"
Xena terhenyak suara itu jelas bukan Sandra melainkan seorang pria.
"Iya, saya sendiri."
"Maaf, Pak. Kami dari kepolisian, pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit."
DEG