NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.

Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.

"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Tinta dan Air Mata

Deru mesin Rolls-Royce yang menderu menggema di halaman mansion menjadi pertanda. Steve melangkah masuk dengan amarah yang siap meledak kapanpun itu.

Penampilannya jauh dari kata Presiden Direktur yang biasanya rapi dan perfeksionis, kemeja mahalnya tampak berantakan dasinya sudah di longgarkan paksa, dan rambutnya yang acak-acakan.

Mata Steve yang tajam menatap salah satu pekerja rumah tangganya. "Elleta, dimana?"

Pekerja rumah tangga itu, menggenggam bajunya erat. "Nona Elleta, masih di kamarnya, Tuan."

Steve mengabaikan tatapan ngeri dari pekerja rumah tangganya. Melenggang pergi menuju kamar Elleta.

Dengan gerakan cepat, Steve merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci cadangan dan membuka pintu kamar itu dan dalam satu kali sentakan.

Brak!

Elleta sentak berdiri, matanya terbelalak melihat laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan keadaan napas memburu.

Namun, sedetik selanjutnya, arah mata Steve yang tertuju lurus pada kanvas di dekat jendela membuat jantung Elleta berpacu cepat. Ia tahu, pria di hadapannya ini sedang tidak baik-baik saja.

"Steve, jangan!" teriak Elleta, mencoba menghadang, memasang badannya untuk melindungi lukisan Santa Barbara miliknya.

Steve tidak menghiraukan ucapan Elleta. Rasa cemburu dan frustasi masalah yang akhir-akhir ini menimpanya.

Tangan yang kekar itu mendorong bahu Elleta, dengan gerakan kasar, gadis itu terhuyung ke belakang. Steve meraih kanvas itu, merobek, menginjak hingga bentuknya hancur tak berbentuk.

Elleta syok, menetap mahakaryanya yang belum selesai. Laki-laki di hadapannya di berani menghancurkannya. Guncangan emosi yang memuncak memenuhi dadanya. Dengan tangan bergetar Elleta menghampiri Steve dengan tangan gemetar.

Plak!

Suara tamparan keras menggema ke seluruh kamar yang luas itu. Tangan Elleta bergetar di udara, wajahnya memerah padam menahan marah yang tak tertahan.

"Kamu monster, Steve! Kamu sakit! Kamu kurung tubuhku, tapi enggak dengan pikiranku," jerit Elleta lantang. Kedua matanya memerah, air matanya menggembung penuh di pelupuk mata, rasa ingin mendesak keluar. Namun, dengan sekuat tenaga Elleta tahan. Dia menolak terlihat lemah di depan laki-laki itu.

Napas Steve tak beraturan, tamparan itu membuat wajahnya tertoreh ke samping. Urat-urat lehernya menonjol keluar, gusaran yang sudah mencapai puncak. Jari-jarinya mengepal dengan kuat.

Bergetar hebat, Steve menahan dorongan untuk bertindak kasar. Namun, melihat mata Elleta yang sendu menantangnya.

Steve menggeram rendah. Ia berbalik badan dengan cepat, membanting pintu kamar Elleta dengan kencang hingga berdentum keras. Laki-laki itu meninggalkan gadis itu sendirian di keheningan yang menyayat hati menyelimuti kamar itu.

Dia masih berdiri menatap nanar ke kanvas yang sudah tak berbentuk. Dadanya naik turun dengan napas yang tersenggal. Begitu suara kunci pintu diputar dari luar, tanda bahwa dia kembali dikurung, kaki Elleta terasa lemas.

Pertahanannya akhirnya runtuh. Elleta jatuh terduduk di atas karpet mahal itu. Matanya sedari tadi menahan bendungan emosi yang akhirnya runtuh. Ia merangkak mendekati sisa-sisa lukisannya.

Tangannya yang gemetar menyentuh kain kanvas yang terkoyak, jari-jarinya menelusuri tepian tajam bekas robekan tangan Steve.

"Bajingan gila," bisik Elleta parau, suaranya pecah di tengah isak tangis.

Ia mencoba memungut potongan kain yang menampilkan hamparan laut senja Santa Barbara. Sekarang lukisan itu ternodai oleh jejak kaki laki-laki itu. Di sana, di antara cat yang retak, ada satu yang Elleta sadari.

Elleta tidak menangis karena ia menyadari ini apa ini termasuk memprovokasi monster yang salah. Tapi di balik tatapannya justru berubah tajam. Ia memeluk potongan kanvas itu ke dadanya, meremas erat hingga kuku-kukunya memutih.

"Kamu boleh menghancurkan kanvasku, Steve," gumam Elleta dalam kesunyian kamarnya. "Tapi kamu enggak bisa menghancurkan isi kepalaku."

Elleta mengusap air matanya dengan punggung tangannya secara kasar. Dia menolak untuk terisak seperti pecundang. Dengan sisa tenaga yang ada. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya sedikit linglung, namun ia melangkah menuju sudut kamarnya di mana ia bisa menyembunyikan sisa cat dan kuas cadangannya.

Malam ini, ia tidak akan tidur. Ia akan membiarkan kemarahannya ini menjadi bahan bakar untuk karyanya selanjutnya. Karya yang jauh dari bahaya daripada hanya sekedar lukisan pemandangan.

*

*

*

Steve mengurung diri di dalam ruang kerja pribadinya yang gelap gulita. Ia termenung di balik meja mahoganinya, menatap tangannya yang tadi ia gunakan untuk merusak kebahagiaan Elleta. Penyesalan dan amarah yang bercampur aduk menjadi satu, rasa kepalanya ingin pecah.

"Tolong Steve, ini bakal jadi salah satu kerja sama yang menguntungkan di masa depan."

Ucapan itu terlintas di kepalanya, membuat Steve memegang kepalanya. Di tengah merenungnya, ponselnya di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama Theo.

Steve langsung menyambar ponsel itu, menempelkan di telinganya tanpa mengeluarkan suara. Ruangan itu mendadak sunyi hanya menyisahkan suara napas Steve yang berat.

"Selamat malam Tuan Steve, Maaf mengganggu waktunya, saya mau mengabari bahwa keamanan di California telah di bobol. Sementara saya akan memeriksa penyebabnya."

Tut

Sambungan telepon itu mati sepihak. Steve belum sempat berkata, pikirannya langsung bercabang kemana-mana. Detak jantungnya terpacu cepat dan tubuhnya menegang kaku di kursinya.

Steve beranjak dari kursinya, melangkah gontai menuju cermin besar yang terpasang di sudut ruang kerjanya.

Cahaya remang-remang dari lampu jalan di luar mansionnya yang menyusup lewat celah tirai, menciptakan bayangan panjang yang seolah ikut menatapnya.

Laki-laki itu berdiri diam di hadapan cermin. Sosok yang terasa asing menatap balik ke arahnya.

Kemeja sutra mahalnya itu tidak lagi rapi, kerah yang tadinya kaku sekarang lusuh dan noda cat minyak, sisa dari lukisan Elleta yang ia hancurkan masih menempel di jemari kanannya.

Steve menatap noda warna biru laut itu dengan tatapan kosong.

"Sial," umpat Steve lirih, suaranya yang serak, pecah di tengah ruangan yang sunyi.

Ia memandang bayangannya sendiri dengan tatapan penuh kebencian. Steve hanya melihat seorang laki-laki yang baru saja menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan satu-satunya yang ia miliki yaitu ketenangan Elleta.

Steve mengangkat tangannya mencoba menghapus noda cat itu dengan ibu jarinya. Namun, noda itu malah melebar ke kulitnya.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba sedikit menenangkan detak jantungnya yang masih berdetak kencang karena sisa amarah.

Bayangan mata sendu Elleta yang menantangnya terus teriang di kepalanya. Tamparan gadis itu masih membekas di pipinya, tapi kata-katanya.

"Kamu monster, Steve. Kamu sakit!"

Pernyataan itu lebih menyakitkan karena ia tahu bahwa itu kebenaran yang tidak bisa ia sangkal. Di cermin itu, Steve melihat kehancuran yang ia buat sendiri dan ia cukup sadar untuk memperbaiki semuanya.

Hanya satu yaitu ia harus berhadapan dengan lawan yang sulit ia kendalikan, dirinya sendiri.

1
Roseanne_0606
wah seru nih mode detektif 🤭
Roseanne_0606
waduh apa nih 😭😭
Roseanne_0606
aneh nih si steve, ditampar bukannya marah malah suka 😭😭😭
Lovelyiaca: Steve aslinya bucin ya gengsi aja itu hehe 😌
total 1 replies
Roseanne_0606
Tim Elleta sih kak 💪
Lovelyiaca: Kalau aku timnya Theo aja 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Akhirnya update lagi kak 🤭
Lovelyiaca: Iya kak, aku bakal update terus, tunggu kelanjutannya ya 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Gapapa kak, semangat ya 💪
Lovelyiaca: Makasih yaa kak 😆🔥
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan asal nuduh woyy 😭😭😭
Lovelyiaca: Maaf ya kak, sesuai script soalnya 🙏🙏🙏 - Steve A.D
total 1 replies
Roseanne_0606
di tabok aja, El. Stevenya itu 😭😭
Lovelyiaca: tabok aja kak 🤣
total 1 replies
Roseanne_0606
Bagus kak ceritanya 😆
Lovelyiaca: makasih kak, tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Roseanne_0606
Semangat updatenya thor 💪
Lovelyiaca: makasih supportnya kak 😄
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan mau pulang El
Lovelyiaca: makasih udah mampir ya kak
total 1 replies
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!