Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Panggung dan Kilatan Kamera
Sadar bahwa ini adalah panggung pertama mereka untuk mengeksekusi kesepakatan saling memanfaatkan yang telah disetujui, Arya mengambil inisiatif cepat tanpa ragu. Begitu mobil berhenti sempurna dan pintu dibukakan oleh Kevin, tangan kekar Arya bergerak tegas meraih jemari Nala. Ia menggenggam erat telapak tangan gadis itu, menariknya sedikit lebih dekat, dan merapatkan posisi berdiri mereka agar terlihat romantis di hadapan kilatan lampu kilat kamera yang mulai berburu gambar dengan brutal. Lila berjalan mengikuti Nala dan Arya dari belakang bersama dengan Kevin.
Sembari melangkah konstan memasuki studio dan memamerkan senyum profesional , seolah tak tau bahwa ada kilatan kamera di sana, Arya sedikit menundukkan kepalanya. Ia mendekat ke arah telinga Nala hingga helaan napasnya yang teratur terasa hangat di kulit leher gadis itu. Berbisik, Arya berucap dengan lirihnya “Lächle, Vika. Sieh mir in die Augen, als ob du mich nach einer Fernbeziehung schrecklich vermisst hättest. Lass die Kameras sehen, wie gut unsere Beziehung ist.”
(Tersenyumlah, Vika. Tatap mataku seolah-olah kau sangat merindukanku setelah mengalami hubungan jarak jauh. Biarkan kamera-kamera itu melihat hubungan kita yang baik)
Nala sedikit terkejut mendengar kalimat menggunakan bahasa Jerman. Nala tak menyangka bahwa orang disampingnya ini memberikan sebuah kejutan. Tak hanya itu, sebuah nama yang asing terdengar. Vika. Nama yang asing namun seperti ada kesan dalam hatinya.
“Vika?” gumam Nala yang masih mampu di dengar Arya. Nala melirik ke arah Arya yang terdiam membeku, seolah baru saja menyadari kesalahannya.
“Kau memanggilku Vika?” Arya menatap ke arah Nala yang sedang menanyainya. Nama Vika yang terlupakan, tanpa dirinya sadari nama itu terucap dan membuat Nala, sang pemilik nama menjadi kebingungan.
“Ya, apakah tidak boleh? Biar kelihatan beda. Tapi kalau kau terganggu, aku akan menggantinya.”
Nala menggelengkan kepalanya. Dia tak merasa terganggu nama panggilan asing untuknya. Nama Vika masih ada dalam bagian dari namanya. Hanya saja, mendengar nama itu berhasil memicu debaran jantungnya berpacu tidak keruan di balik rongga dadanya. Gelombang memori samar yang terasa familier kembali mengetuk dinding kepalanya. Namun melihat situasi yang tak mendukung Nala dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya, menghalau rasa sakit di kepalanya saat ada memori yang memaksa masuk. Tanpa menghilangkan senyum manis nan menawan di bibirnya, ia mendongak menatap rahang tegas Arya dan membalas bisikan itu menggunakan bahasa Jerman yang tak kalah fasih dengan nada datar yang menantang, “Ich weiß ganz genau, wie Kameras funktionieren, Herr Wijaya. Aber bitte halte meine Finger nicht zu fest. Du bringst meine Hände zum Schwitzen und ruinierst die Ästhetik ihres Fotos.“
Sepasang mata jernih Arya sedikit berkilat jenaka mendengar jawaban itu. Ia diam-diam merasa sangat puas karena umpan bahasa asingnya langsung disambut dengan begitu berkelas oleh Nala yang selalu memasang tampil sederhana dengan wajah cerianya.
(Aku sangat tahu cara kerja kamera, Tuan Wijaya. Tapi tolong jangan menggenggam jemariku terlalu erat, kau bisa membuat tanganku berkeringat dan merusak nilai estetika foto mereka.)
Begitu mereka masuk ke dalam interior studio, suasana riuh khas pra-pemotretan langsung menyambut indra pendengaran. Studio Lazuardi kini tampak jauh lebih luas dan modern dengan berbagai peralatan pencahayaan mutakhir di setiap sudutnya. Zara yang sudah mengenakan gaun adibusana buatan Tante Tania yang sangat megah tampak sedang berbincang di dekat meja properti bersama Citra yang sengaja datang untuk menemani. Begitu mata jeli Zara melihat Nala masuk ke dalam ruangan dengan jemari yang masih bertautan erat dengan Arya, kedua sahabatnya itu langsung saling menyenggol bahu dengan mata yang berbinar heboh penuh konspirasi.
Memanfaatkan momen emas saat Arya tengah berjalan menjauh untuk berdiskusi serius dengan Om Hari mengenai konsep tata cahaya dan dekorasi latar belakang, Zara dan Citra bergerak cepat. Mereka langsung menarik kedua lengan Nala dengan setengah menyeretnya ke sudut ruang rias yang sepi di balik tirai beludru. Detik berikutnya, serangan interogasi instan langsung diluncurkan tanpa ampun.
Mendekat ke arah Nala, Zara langsung memberondong dengan berbagai pertanyaan, “Daebak! Nala, apa-apaan adegan gandengan tangan erat di luar tadi? Itu terlalu natural untuk ukuran akting kencan pura-pura! Kau yakin kalian hanya bertransaksi bisnis? Lihat bagaimana Kak Arya terus memperhatikan pergerakanmu dari kejauhan tanpa berkedip sedikit pun!"
Citra mengangguk-angguk heboh menyetujui ucapan Zara, wajahnya memancarkan rasa penasaran yang luar biasa, "Benar, Nala! Kalau mataku tidak salah lihat, tatapan pria itu padamu sama sekali tidak mencerminkan ekspresi seorang rekan kerja. Ada sesuatu yang lain di sana."
Nala yang pipinya mulai memerah—yang untungnya bisa ia kambing hitamkan pada sapuan kuas perona pipi oleh penata rias—hanya bisa mendesis pelan sembari melotot ke arah kedua sahabatnya.
"Kalian berdua pelankan suara kalian. Itu semua hanya bagian dari strategi taktis karena di luar banyak media yang harus diyakinkan. Jangan sampai Bang Dipta tahu detail ini dari mulut kalian yang bocor, atau kita semua akan disembelih olehnya malam ini.” Tak lupa Nala juga mempraktikkan cara memotong leher seseorang sebagai ancaman, Zara dan Citra hanya bisa tertawa puas, merasa menang karena berhasil membuat sahabat mereka yang biasanya tenang itu mulai salah tingkah.
Tidak lama kemudian, sesi pemotretan pun dimulai di bawah arahan langsung Om Hari dan Tante Tania yang sangat detail dalam menilai estetika visual. Arya dan Nala diminta untuk mengambil beberapa pose klasik yang sarat akan unsur romansa romantis. Mulai dari pose saling bertatapan dalam jarak beberapa sentimeter yang sangat dekat, hingga lengan kokoh Arya yang melingkar posesif namun tetap terasa lembut di pinggang ramping Nala. Tatapan mata Arya yang lurus menembus netranya tidak terasa seperti akting buatan aktor papan atas; ada kedalaman rasa yang pekat, kerinduan yang teramat dalam, hanya Nala tak memahaminya. Hal itu membuat Nala sempat terpaku kehilangan kata-kata selama beberapa detik di bawah jepretan kamera.
Namun, di tengah atmosfer studio yang sarat akan letupan emosi tersembunyi itu, sebuah kecerobohan manis yang tidak terduga terjadi. Salah seorang staf junior studio yang bertugas mengelola akun media sosial Lazuardi Studio tanpa sengaja menyalakan fitur Live Streaming di balik layar.
Niat awalnya hanyalah untuk memperlihatkan sedikit suasana kesibukan persiapan behind the scene kepada para pengikut studio. Sialnya, kamera siaran langsung tersebut justru menangkap dengan sangat jernih, fokus, dan stabil bagaimana chemistry alami yang luar biasa kuat terpancar di antara Arya dan Nala saat mereka sedang berpose intim.
Dalam hitungan menit, kolom komentar siaran langsung tersebut langsung dibanjiri oleh ribuan netizen yang histeris. Penonton terkesima melihat betapa serasinya sang CEO tampan dan model cantik tersebut. Video potongan rekaman siaran langsung itu menyebar bak tebaran api di atas jerami kering, menjadi viral dalam sekejap di berbagai platform digital. Publik internet sangat memercayai bahwa kemesraan yang tertangkap kamera itu adalah bukti nyata dan valid dari sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta sejati, bukan sebuah setingan belaka.
Setelah kilatan lampu studio terakhir meredup dan Om Hari meneriakkan kata ‘Cut’ pertanda sesi foto hari itu telah selesai dinyatakan berhasil, Nala dan Arya tampak sedang duduk beristirahat di sofa sudut ruangan yang tenang untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Namun, langkah kaki yang terburu-buru dari Kevin memecah ketenangan sesaat mereka. Wajah asisten pribadi Arya itu tampak campur aduk antara terkejut, panik, sekaligus takjub saat ia berjalan cepat menyodorkan layar ponsel pintarnya tepat di hadapan sang bos dan Nala. “Tuan, Nona... sepertinya Anda kembali menjadi perbincangan. Bahkan sekarang ada pembahasan baru lagi.” ujar Kevin dengan napas yang sedikit memburu akibat bergegas.
Nala mengerutkan keningnya, meletakkan cangkir tehnya, lalu membelalakkan matanya tidak percaya saat membaca isi artikel dari salah satu media daring besar yang terpasang dengan judul utama mencolok: “Bukan Pacaran Settingan! Netizen Temukan Bukti Digital CEO Raditya Arya dan Model Cantik Nala Sudah Berpacaran Bertahun-tahun!”
Netizen bergerak cepat melakukan aksi deep-stalking berskala besar ke akun-akun media sosial lama milik Arya dan Nala. Mereka bergerak, menemukan bukti yang tak terbantahkan. Akun resmi milik Arya terbukti telah mengikuti akun Nala sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan sebelum Nala pergi menempuh pendidikan di luar negeri. Lebih gila lagi, para netizen berhasil mencocokkan beberapa unggahan foto estetis masa lalu milik mereka berdua. Sebuah unggahan yang menunjukkan sudut estetika, tempat, latar belakang bangunan yang terlihat identik saat mereka berdua sama-sama berada di kota Semarang pada masa sekolah dulu. Publik internet langsung mengambil kesimpulan mutlak dan membuat teori bahwa sang CEO tampan dari keluarga Wijaya sebenarnya telah menjalani hubungan asmara rahasia yang sangat awet, setia, dan romantis dengan Nala sejak masa remaja mereka.
Tubuh Nala mendadak kaku di tempat duduknya. Kepalanya berputar cepat, menatap Arya dengan tatapan penuh kepanikan yang nyata. Di dalam otaknya, Nala merasa banyak kaset lama yang sedang tayang. Di sudut ruangan, Zara dan Citra yang ikut mengintip layar ponsel dari belakang langsung membekap mulut mereka sendiri karena syok melihat bagaimana takdir digital bekerja dengan begitu mengerikan.
Di tengah kepanikan massal yang melanda ruangan itu, Arya adalah satu-satunya orang yang tetap tenang. Pria itu menerima kembali ponselnya dari tangan Kevin dengan gerakan yang sangat santai dan elegan. Ia kemudian menolehkan wajahnya, menatap lurus ke arah wajah panik Nala yang tampak begitu menggemaskan di matanya.
Sebuah senyuman tipis misterius yang penuh akan arti kemenangan mengembang di sudut bibir Arya. Sembari menyesap sisa teh hangatnya, sang CEO yang cerdik itu membatin dengan penuh kepuasan di dalam hatinya, “Kena kau, Vika. Panggungnya sekarang sudah siap sepenuhnya, dan kali ini aku tidak akan membiarkanmu lari atau bersembunyi lagi dari sisiku.”