(Baca Ulang, Sudah aku edit)
Harap Bijak karena beberapa episode mengandung adegan dua puluh satu plus. Thankyou 😘😘
***
Nasta Ayruma
Gadis itu sedang duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya. Bahu nya bergetar hebat merasakan sakit yang menusuk dalam kerelung hatinya. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei yang terlihat mulai lusuh.
Tangis yang seharusnya terdengar keras, kini hanya tercekat didalam tenggorokan.
Tak mampu dia bagikan.
Langkah nya tidak bisa mundur. Tak ada pilihan dalam situasi yang sulit ini untuk mengatakan Tidak ataupun Menolak.
Dia tidak punya kuasa saat harus terpaksa menikah dengan laki-laki penguasa yang arogan itu.
Pandu Bragistandara.!
Nasta : Bagaimana bisa aku egois memilih masa depanku sedangkan ibu sedang membutuhkan bantuan ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AioraAghfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Whisky And Words
Gelap, berisik dan bau alkohol adalah kareteristik yang melekat kental dengan sebuah nama club malam Whisky And Words.
Sebuah kelab malam yang bisa di jadikan alternatif buat siapa saja yang sedang dalam banyak pikiran. Alunan musik DJ yang menggema diiring dengan tarian erotis dari wanita-wanita penghibur tentu bisa membuat laki-laki kurang belaian merasa kesenangan.
Kedatangan Pandu beserta sang sekretaris dan anak buahnya membuat Whisky And Words tampak lebih mencekam daripada biasanya.
Padahal Pandu baru saja sampai di depan loby, namun aura tampan dan gagah lelaki itu kembali merangkul semua pengunjung. Mematahkan percaya diri para pesaing.
"Weey, kau datang lagi akhirnya...."
Tanpa permisi, seorang lelaki menyambut Pandu dan langsung segera merangkulnya. Dia adalah Bastian. Teman dekat Pandu sekaligus pemilik tunggal kelab malam Whisky And Words.
"Jaga sikap anda tuan Bastian." Suara baritoi Abraham yang terdengar tegas dengan cepat memperingati Bastian saat melihat lelaki itu merangkul sang tuan. Sebuah suara datar yang sangat mampu meredupkan nyali Bastian.
"Wao waoo, sekretaris mu ini sangat garang. hahaha" Adu Bastian, kepada Pandu yang hanya di balas dengan senyum smirk khas lelaki arogan itu. "Aku tidak akan melukai tuan mu. Jadi tolong, kendurkan sedikit sikap formal mu itu. Ini bukan di kantor tuan Abraham"
Bastian membawa tamu penting nya masuk lebih dalam, menuju sebuah meja yang memang sudah pemilik kelab itu persiapkan. Tak lupa, disamping tuan muda berdiri formal sang sekretaris dengan tatapan tajamnya.
"Duduklah, Ham."
"Baik Tuan."
Semua pelayanan terbaik dari diskotik miliknya akan Bastian keluarkan. Konser music live dari DJ terkenal yang harusnya tampil nanti menjelang tengah malam, sudah pasti jadwalnya akan Bastian majukan.
Tak peduli jika Bastian harus merogoh kocek pribadinya hanya untuk membayar uang lembur sang DJ. Yang pasti, Bastian sendiri tidak akan mengecewakan kedatangan Pandu.
"Ndu, aku ada barang baru. Masih pe ra wan. Apa sekarang kau sudah ada minat mencobanya?"
Pandu hanya diam mendengarkan tawaran Bastian, sambil meneguk secangkir kecil minuman alkohol di tangannya.
"Ayolahh, aku berikan gratis kalau kau mau, men ! Dia udah di tawar puluhan juta karena body nya yang bagus, tapi belum aku lepaskan." Pantang menyerah, begitulah prinsip laki-laki pemilik kelab malam itu menawarkan dagangannya pada Pandu.
Namun, satu kalimat penolakan untuk kesekian kali dari Pandu membuat Bastian kesal bukan main. "Aku tidak berminat."
"Ish, kau ini selalu begitu." Sela Bastian menimpali penolakan Pandu. "Aku jadi penasaran, seperti apa wanita kecil mu yang selalu diam-diam kau buntuti itu. Bisa-bisa nya dia membuat tuan muda terkaya di negeri ini tunduk, dan sanggup menunggu. Aku sangat penasaran secantik apa dia.!"
"Jangan membicarakan dia di tempat kotor mu ini, Bas !"
Tawa Bastian menggelegar tatkala mendengar makian Pandu yang menusuk jantung. Diiringi seringaian kecil, Bastian mencibir. "Tempat kotor tapi kau datangi juga. Dasar tuan muda. Itu namanya kau menelan ludah mu sendiri. haha"
Lalu, mata Bastian yang tidak sengaja bersitatap dengan mata elang Abraham membuat tawanya berhenti seketika. "Apa liat-liat?"
Pandu hanya melirik Abraham sekilas, dan memang benar. Wajah Abraham yang tanpa ekspresi apapun dibarengi dengan tatapan tajam mata elangnya sudah pasti membuat Bastian sedikit ketakutan.
"Sekretaris mu itu menakutkan." Lagi-lagi, Bastian mengadukan sikap Abraham kepada Pandu yang hanya di balas senyum smirk dari lelaki arogan itu. "Kapan-kapan datang lah sendiri, Ndu. Jangan ajak dia ! Biar tau rasa."
"Dia tidak akan mengizinkan."
"Hey..." Jawaban Pandu sukses membuat Bastian berteriak semakin kesal. "Kau yang tuannya, dia hanya sekretaris mu. Kenapa kau harus meminta izin padanya."
sambil memukul lengan Pandu dengan pelan.
"Jaga tangan anda tuan !" Lagi-lagi, suara tegas Abraham sukses membuat tengkuk leher Bastian merinding.
"Ck ck. Aku hanya memukulnya pelan. Tidak akan membuat tuan mu mati. Kau ini, bersantailah sedikit."
Sikap Abraham benar-benar membuat Bastian risih. Lelaki yang menjadi sekretaris dari temannya itu membuat Bastian tidak bisa leluasa menyentuh Pandu.
Abraham sama sekali tidak membiarkan dirinya lengah.
Padahal, Bastian juga tidak mungkin kan melukai Pandu.?
Mereka berteman sejak lama. Tapi tetap saja, sekretaris Pandu bernama Abraham itu sukses membuatnya merasa terintimidasi.
"Aku jadi bertanya-bertanya. Sebenarnya kau kesini mau apa, Ndu? Ditawari kencan satu malam dengan wanita tidak mau, minum alkohol juga cuma segelas kecil doang. Disini tempatnya bersenang-senang Ndu, tapi aku juga tidak melihat kau kesenangan. Kau justru membuat pelanggan ku takut dengan semua tatapan sekretaris dan anak buah mu di depan pintu itu."
"Aku sedang banyak pikiran, Bas!" Jawab Pandu datar. Singkat, padat dan jelas.
Seketika, Bastian menoleh ke arah Pandu yang terlihat memandang lurus kedepan dengan tatapan mata kosong. Bastian mendekatkan diri sembari berbisik lirih. "Apa sekretaris mu itu tidak becus bekerja? Kalau benar, pecat saja dia.!"
"Ehm." Abraham yang mendengar ucapan Bastian hanya berdehem, seraya menatap lelaki pemilik kelab malam itu dengan mata nyalang.
"Aku hanya bercanda. Matamu gak perlu melotot mengancam ku begitu." Seru Bastian dengan cepat, sebelum dia kembali memperhatikan Pandu. "Percaya lah padaku Ndu, permainan di atas ranjang bisa menyembuhkan sakit kepala. Kau coba sekali saja pasti akan ketagihan."
Pandu menggelengkan kepala tanda penolakan. Yang lagi-lagi membuat Bastian kesal. "Terserah mu lah, kalau begitu aku tinggal dulu sebentar."
"Bas"
Bastian ingin beranjak, namun urung saat panggilan dari Pandu ditangkap indra pendengarannya. "Hem, kenapa? Katakan kau berubah pikiran dan sekarang tertarik dengan tawaran ku. Itu akan membuat ku senang."
"Aku sudah menikah."
What?
"Heh, apa? Kau sudah menikah? Apa aku tidak salah dengar? Yang benar sajaaa." Tentu, Bastian terkejut bukan main.
Selama ini, dia yang termasuk teman dekatnya tidak pernah melihat Pandu berhubungan dengan perempuan manapun. Bastian tahu seperti apa Pandu. Pandu itu lelaki dingin dan arogan. Jangan kan berpacaran, sekedar berteman saja belum ada wanita yang bisa menakhlukkan.
Lantas, bagaimana bisa tiba-tiba menikah?
"Kau pasti bercanda kan kawan?" Bastian bertanya meyakinkan. Lelaki itu sama sekali tidak bisa percaya begitu saja kalau Pandu, si kaya yang arogan bisa mengatakan pernikahan. "Sudah lah, berhenti berusaha membohongi ku. Itu tidak akan berhaa...."
Namun sikap diam Pandu membuat Bastian seketika menutup mulutnya yang terbuka. "Gilaaaaa. kesambet apa kau itu? Kau juga tidak mengundangku!"
"Mendadak, dan di rahasiakan Bas.! Hanya keluarga terdekat saja"
Mulut Bastian semakin menganga lebar. "Kau menghamilinya begitu maksud mu? Perempuan mana yang kau tiduri?"
"Tutup mulutmu. Dia tidak seburuk itu.!"
"Aku juga sebenarnya berpikir kau tidak mungkin se be jat itu. Secara kan, kau sedang mengincar seseorang. Tapi bagaimana kau bisa tiba-tiba menikah?"
"Aku sendiri juga tidak tahu."
Heh? Dia yang menikah kenapa dia tidak tahu? Aneh memang.
"Ini gilaa."
"Kau bisa jaga rahasia kan, Bas?"
Bastian menatap Pandu jengah. "Yaelah, kau mengenalku sudah sangat lama, Ndu."
Waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam, dan ponsel Pandu yang berdering dari sang Mama tidak bisa membuat lelaki itu mengabaikannya begitu saja. "Iya ma.... iya-iya, Pandu pulang sekarang." Pandu menutup ponselnya, lalu menyimpannya dalam saku celana.
"Ham, kita pulang."
"Baik tuan."
Pandu berlalu begitu saja. Diikuti Abraham dan anak buahnya. Meninggalkan Bastian yang mencibir tak terima.
"Dasar anak mama ! Datang dan pergi sesukanya. Tapi bagaimana dia bisa tiba-tiba menikah? Atau jangan-jangan juga di paksa sama Tante Maria? Hih, kalau itu benar kasian sekali diaa. Pantas saja dia bilang banyak pikiran"
buat mas ato kak Arya,ntar sama Rista aja ya,dia ga kalah cantik n baik ko ma nasta🤭
please..Jan lama² ya ndah resign nya🤭