Kematian mendadak Gandawasa Natadharma, miliuner pemilik perusahaan game terbesar asal Indonesia yang bermukim di San Fransisco, Amerika Serikat, menimbulkan kecurigaan bahwa kematiannya tidak wajar.
Istrinya yang berbeda lima belas tahun lebih muda, Lily Kanissa Natadharma, tentu saja menjadi orang pertama yang paling dicurigai. Wanita yang pernah dikenal sebagai “Gadis Teh Botol”, sejak fotonya yang sedang minum teh botol di kelas ketika remaja, pernah viral. Gadis manis bermata indah dengan wajah polos bagai malaikat pada waktu itu, kini telah menjelma menjadi wanita yang luar biasa cantik menawan dan sangat berkelas.
Ketika digiring ke luar mansionnya yang mewah dengan tangan diborgol, para wartawan menghujani Lily dengan pertanyaan. Ia hanya melontarkan satu kata dengan wajah dingin, “Bodoh.” Lalu ia menundukkan kepala dan masuk ke mobil polisi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Detektif Maxmillian Anderson diuji kemampuannya untuk menguak fakta, mencari bukti-bukti serta menyelidiki motif yang membuat janda miliuner itu melakukan tindakan kriminal. Demi harta? Atau karena orang ketiga?
Benarkah dia pembunuhnya, atau ada orang lain yang melakukannya?
Namun, yang lebih penting adalah, mampukah Max menepis daya tarik Lily, yang dengan keanggunannya yang dingin, justru telah membuat hati Max terbakar sejak matanya singgah di wajah wanita itu, bahkan dari jauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Menyembunyikan Jejak
Andrea berjalan ke luar dan melihat rekannya sedang berbicara dengan seorang gadis sejenak, sebelum gadis itu membungkuk setengah badan dan meninggalkan halaman kantor SFPD.
“Siapa itu?” Andrea menghentikan rekannya, melirik punggung gadis yang sedang mencegat taksi dan langsung naik ke dalamnya, tanpa bisa melihat wajahnya.
“Oh… itu. Seorang gadis Korea, turis yang ingin melaporkan kehilangan paspor.” Rekannya menjawab sambil lalu.
Andrea mengerutkan kening, “Melaporkan kehilangan paspor? Apakah dia tidak tahu kalau layanan publik hanya buka sampai jam empat sore?”
“Dia turis, Davis. Dan dia tampak cemas, bahkan tadi dia mengatakan sudah berkeliling mencari ke sana kemari kalau-kalau paspornya jatuh di suatu tempat, sehingga setiba di sini dia kebelet kencing dan menumpang ke toilet.”
Andrea agak terkejut. Intuisinya mengatakan ada sesuatu dengan gadis itu.
“Menumpang ke toilet? Di kantor polisi? Itu agak… tidak umum,” Andrea menggumam.
Rekannya menepuk pundaknya, “Ayolah, jika sudah kebelet bahkan rumah orang pun akan kita ketuk. Tidak ada yang aneh dengan itu. Kau sudah akan pulang?”
Andrea mengembuskan napas, sedikit banyak membenarkan apa yang dikatakan rekannya. “Ya, aku baru beres membuat laporan untuk Chief (kepala polisi) tentang apa yang kudapatkan di DC.”
“Bagaimana kasusmu itu, apakah ada perkembangan?” Rekannya bertanya penuh simpati.
Andrea menggeleng, “Belum ada yang berarti. Dua hari aku menyelidiki di DC, dari bandara aku langsung ke kantor untuk berdiskusi dengan Anderson dan membuat laporan untuk Chief. Ini sungguh menguras energi. Terduga sangat cermat.”
“Ah… semoga segera ada petunjuk lain. Pulanglah dan beristirahat.” Rekannya menepuk pundaknya sambil melangkah masuk meninggalkannya.
Sementara Andrea merenung. Hatinya tetap merasa ada sesuatu tentang gadis yang mengaku kehilangan paspor itu.
“Sebentar,” Andrea berseru. “Apakah tadi gadis itu menyebutkan namanya?”
Rekannya yang sudah berada di tengah ruangan menoleh, “Ya… Kim sesuatu. Aku tidak ingat nama lengkapnya. Tapi aku menganjurkan dia agar kembali besok pagi. Jika kau begitu penasaran, kau bisa menemuinya sendiri besok.”
Rekannya melambaikan tangan dan kembali membalikkan tubuh.
Namun, Andrea yakin, besok gadis itu tidak akan kembali.
***
Di taksi, Kenneth mengetik pesan kepada temannya.
[Kau pulanglah. Aku sudah di taksi menuju ke tempatku sendiri. Jika aku perlu berbicara lagi denganmu, aku akan menghubungimu.]
Kenneth tidak menunggu balasan, begitu melihat pesan itu telah terkirim dan telah dibaca, ia segera menghancurkan nomor ponselnya.
Di film-film sering ada adegan seseorang menggunakan ponsel sekali pakai agar tidak dapat dilacak. Itu sudah kuno. Sekarang, semuanya sangat mudah, ada aplikasi khusus untuk itu.
Ia bahkan tidak perlu mengganti ponselnya. Ia hanya perlu mendapatkan satu yang disebut nomor virtual telepon pembakar. Itu dapat digunakan menelepon dan mengirim teks secara anonim, dan tidak akan memunculkan nomor telepon asli.
Orang yang menerima telepon atau teks pun tidak akan bisa balik menghubunginya.
Ah, betapa Kenneth menyukai teknologi. Semua pekerjaannya jadi mudah.
Tiba di tempatnya tinggal, Kenneth turun dari taksi dan membayar dengan uang tunai. Ia sangat hati-hati menggunakan segala hal yang akan meninggalkan jejak. Kartu kreditnya telah lama sekali tidak digunakan, sehingga jika polisi melacak transaksinya, mereka tidak akan menemukan apa-apa.
Kenneth berdiri di depan cermin di kamar mandi. Ia melepaskan sepatu, membuka pakaian wanita yang dikenakannya, dan melepas wig dari kepalanya.
Setelah itu, ia melepaskan skot dan bulu mata palsunya, lalu mulai menghapus make up. Tak lama kemudian, wajah aslinya telah kembali.
Kenneth tersenyum puas. Baik temannya maupun polisi, telah berhasil ia kelabui. Tentu saja ia tidak bisa memakai penampilan ini lagi. Di kantor SFPD tadi, kehadirannya pasti sudah terekam CCTV. Jadi, mulai besok ia harus berlatih penampilan yang lain.
Mungkin bukan lagi gadis Korea. Ia bisa menjadi… gadis Asia lain, Thai misalnya? Atau… bahkan gadis berkulit hitam? Itu tidak mustahil. Ia bisa mencoba. The power of make up -kekuatan riasan wajah, memang sungguh mengagumkan.
***
Keesokan harinya, sambil mendiskusikan apa yang ia temukan di Washington DC di depan Max dan kepala polisi, Andrea menanti-nanti kemunculan gadis Korea itu di kantor SFPD. Meskipun hatinya mengatakan gadis itu tidak akan muncul, tetapi ia masih berharap.
Sayangnya, harapannya sia-sia. Hingga layanan pulbik SFPD kembali tutup, tidak ada turis Korea yang datang melaporkan kehilangan paspor. Setelah itu, Andrea juga sempat menelepon ke konsulat Korea, bertanya jika ada seorang gadis dengan nama depan Kim, yang melaporkan kehilangan paspor.
Tetapi tentu saja, jawaban konsulat sesuai dengan dugaannya: tidak ada turis Korea bernama Kim yang melaporkan kehilangan paspor.
Max yang melihatnya gelisah sejak tadi, akhirnya bertanya. "Apa yang mengganggu pikiranmu? Aku melihatmu gelisah sejak tadi."
Alih-alih menjawab, Andrea mendahuluinya berjalan keluar kantor mereka. "Mari kita ke ruangan monitor CCTV."
"Apa yang ingin kau lihat?" Tanya Max.
"Kemarin sore aku melihat seorang gadis pergi dari sini, dan intuisiku mengatakan ada sesuatu dengannya. Kata Roswell, gadis itu turis Korea yang ingin melaporkan kehilangan paspor. Namanya Kim sesuatu."
"Lalu? Apa yang aneh tentang itu?" Max terdengar heran.
"Gadis itu datang setelah jam layanan publik berakhir, Anderson. Itu sudah lebih dari jam delapan malam. Apalagi, menurut Roswell, gadis itu menumpang ke toilet."
"Menumpang ke toilet? Itu agak... mencurigakan." Max bergumam, langkahnya agak tersendat.
"Kita sehati," ujar Andrea. "Dan kau tahu? Aku menunggunya kembali ke sini seharian ini, tetapi dia tidak datang. Aku juga sudah menelepon ke konsulat Korea, dan tidak ada yang bernama Kim sesuatu yang melaporkan kehilangan paspor. Karena itu, aku ingin melihat profilnya dari CCTV."
Mereka tiba di ruangan monitor CCTV.
"Archie, bisa diputar rekaman kamera nomor 3, 4, dan 5 kemarin antara pukul delapan sampai sembilan malam?" Andrea langsung meminta rekannya yang berjaga di situ.
Archie segera melakukan apa yang diminta tanpa bertanya. Dia sudah mengerti, setiap kali tim Divisi Investigasi Strategis meminta sesuatu darinya, pasti ada kaitan dengan kasus pembunuhan yang sedang mereka tangani.
Tak lama kemudian, Andrea menunjuk sosok seorang gadis di rekaman.
"Hentikan, Archie. Itu dia, Anderson. Itu gadis yang kulihat kemarin malam."
Max mendekatkan wajah ke layar monitor. Meskipun sudah malam dan penerangan agak redup, tetapi karena kualitas CCTV di kantor SFPD adalah yang terbaik, wajah gadis itu terlihat sangat jelas, apalagi itu berwarna, tidak hitam putih.
"Apakah kau curiga..." Max tidak melanjutkan kata-katanya, hatinya sangat tegang, antara berharap dan marah. Berharap bahwa gadis itu adalah orang yang mereka curigai. Marah karena dia sangat berani mengolok-olok polisi di sarangnya!
"Kirimkan ke tim digital. Aku perlu kita membesarkan foto gadis itu, kemudian direka ulang, apakah itu benar-benar seorang gadis, atau... seorang laki-laki yang menyamar." Andrea menepuk bahu Archie, "Sekarang!"
Andrea dan Max langsung pergi ke ruangan lain, dimana tim digital berkumpul, menunggu rekaman itu dikirimkan.
Tim digital membesarkan wajah gadis itu, mengutak-atik beberapa kali, dan akhirnya menempelkan dengan foto Kenneth.
Andrea dan Max menunggu dengan tegang, hingga akhirnya layar komputer menunjukkan fitur wajah gadis itu... sangat tepat dengan fitur wajah Kenneth.
Seketika Max menghantam kursi hingga kursi itu terguling.
"Berani sekali dia mengolok-olok kita! Bahkan datang sendiri ke sini!" Napas Max terengah-engah, dadanya turun naik.
"Kita telah kecolongan lagi. Variasi penampilan Wanjiru harus diperluas, bukan hanya laki-laki, melainkan juga perempuan." Andrea melipat tangan di dada dengan jengkel. "Dengan otaknya itu, seharusnya sejak awal kita memperhitungkan kemungkinan ini."
"Sepanjang karirku, baru sekali ini aku merasa ditantang dan ditampar sekaligus," Max menyugar rambutnya. "Jangan sampai ini menjadi kasus dingin yang tidak terpecahkan dan terus terbuka sampai menemukan bukti baru, entah berapa lama."
mgkin ada yg dendam lbh parah dr ken, tp knp ken dibunuh
misal ada yg dendam, kan enak dia gk susah" turun tangan
apa lily jg patut dicurigai yaa🤔
klu kau yg membunuh ganda, pasti kau akan ketangkep✌