sekuel dari SELEPAS TALAK TIGA
Dirga Wijaya, seorang pebisnis sukses.Memiliki keluarga yang bahagia dari pernikahannya yang kedua. hingga sebuah kecelakaan menewaskan istri dan kedua mertuanya.
Hanya sang putri yang selamat, tetapi mengalami trauma yang sangat hebat sehingga memaksa Dirga untuk melakukan hipnoterapi agar putrinya tetap bisa hidup dengan normal.
setelah kecelakaan Dirga yang mengetahui bahwa ternyata Sang Putri berada dalam bahaya akibat incaran dari musuh, terpaksa menyembunyikan putrinya dan membuat sang putri hidup dalam penyamaran.
Tiga tahun kemudian, Dirga bertemu kembali dengan mantan istrinya yang juga sudah menjadi seorang janda. benih-benih Cinta dalam hati Dirga kembali berbunga.
tetapi sayangnya, bunga yang semakin berkembang harus dicabut paksa, saat Dirga mengetahui bahwa sang putri dan putra dari mantan istrinya saling mencintai.
lalu jalan apa yang akan ditempuh Dirga? apakah dia akan dengan egois meraih kembali cintanya, atau mundur demi Putrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Ega mengerjapkan mata, memindai sekeliling ruangan yang dia tempati. riuh suara burung yang berkicauan di dahan pohon besar yang tumbuh menjulang di halaman samping telah ramai terdengar. pertanda hari telah pagi. sinar matahari pun telah menerobos masuk ke peraduannya lewat tirai jendela yang terbuka lebar.
Ega mengambil nafas dalam dalam lalu membuangnya kembali. pasti Mamanya yang telah membuka jendela kamarnya tadi. Ega mengamati dirinya sendiri, yang bahkan belum berganti seragam sejak kemarin pulang sekolah.
"Maafkan Ega, Ma!" ucap Ega. semalam dia merasa kalau sang Mama membangunkannya untuk makan malam, tapi dia merasa malas untuk beranjak dari pembaringan. "Pasti Mama bingung dan sedih kemarin!" gumamnya.
"papa mohon, tolong gantikan tugas papa untuk menjaga mama lindungi Mama seperti mama papa yang juga selalu melindunginya. menurut lah setiap apapun yang diucapkan oleh Mama jangan pernah membantahnya jangan pernah membuat Mama menangis!"
sekelebat bayangan ketika Papanya Meninggalkan pesan kepada Ega kecil melintas di depan matanya, membuat Ega tersentak. hari itu, sehari sebelum kepergiannya, seorang perawat mengatakan jika papanya memanggilnya. dan pesan itulah yang ditinggalkan oleh Papanya.
bergegas saja Ega bangun dari tempat tidurnya kemudian beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. dia tidak boleh seperti ini.
*
Di tangga yang kini dia pijaki, Ega menghentikan langkahnya ketika melihat Mamanya sedang menata hidangan di meja makan .
"Sayang , kamu sudah bangun? Mama memang sengaja tak membangunkanmu tadi. toh ini hari Sabtu. dan kamu tidak harus pergi sekolah.ayo sini, kita sarapan!" seru Jameela ketIka menyadari keberadaan putranya di tangga menuju lantai bawah.
"Selamat pagi Ma!" Ega mengucap salam sambil berjalan mendekat.
"Pagi sayang. Mama masakin makanan kesukaan kamu dan pa...ah, itu maksud Mama, makanan kesukaanmu!" Jameela meralat ucapan yang belum sepenuhnya keluar.
Ega tahu apa yang baru saja hendak keluar dari mulut Mamanya. terlihat olehnya Mamanya yang kemudian berusaha menyibukkan diri. membereskan kembali peralatan makan yang ada di sebelah tempatnya duduk. tempat yang biasanya di tempati oleh Papanya.
berarti sebelumnya ada tiga piring dan tiga gelas di atas meja. Ega mengedarkan pandangannya pada seluruh isi meja. hidangan sederhana yang dulu menjadi favorit dia dan papanya ada di sana.
"Apakah Mama merindukan Papa?" celetuk Ega. membuat Jameela menghentikan pergerakannya. "Maafkan Ega Ma, pasti kemarin Ega telah membuat Mama bersedih ya?!" ucap Ega.
"Maafkan Ega Pa.. tanpa Ega sadari Ega sudah bikin Mama sedih.maafkan Ega tidak bisa menepati janji Ega!" batin Ega.
"Kamu ini bicara apa sih? yang bilang kalau Mama lagi sedih itu siapa?!" bantah Mila dengan menampilkan senyuman yang cerah.
""seorang ibu adalah pembohong terbaik di dunia. seorang ibu adalah pemain sandiwara terbaik di dunia. jika ada yang paling berhak mendapat piala Oscar karena akting terbaik, itu adalah ibu. seorang ibu akan tetap tersenyum di depan anaknya, meski hatinya berurai air mata!"
Ega pernah membaca kalimat seperti ini di buku catatan yang ditinggalkan oleh Papanya.
"Ada sebuah buku kecil di laci meja kerja Papa yang paling bawah. Papa membungkusnya dengan plastik berwarna hitam. simpanlah! papa percaya suatu saat kamu akan mengerti artinya!" begitu kata Papanya waktu itu. dan sekarang Ega membuktikan bahwa kata kata papanya seratus persen benar.
"sudah ayo makan, pagi pagi gak boleh ngelantur!" ucap Jameela sambil mengambil makanan dan meletakkannya di piring Ega. "kamu harus makan yang banyak ya, soalnya kemaren kamu melewatkan makan malam!"
"Maafkan Ega Ma!" ucap Ega sambil meraih tangan Mamanya. membuat tangan yang hendak mengambil lagi lauk untuk Ega terhenti.
"Lain kali jangan begitu ya nak. Ega harus jaga kesehatan. Mama hanya punya Ega di dunia ini. jika ada apa apa dengan Ega mama tidak tahu harus bagaimana!" ucap Mila. sambil membalas genggaman tangan Ega.
"Iya, Ma. Ega janji gak akan gitu lagi!" jawab Ega.
"Apakah Ega ada masalah? Mama siap menjadi pendengar?!" Mila menatap lekat dua bola mata Ega.
"Tidak ada Ma. jangan khawatir. Ega hanya kelelahan saja kemarin. jadi malas mau ngapa-ngapain!"
Jameela tahu Ega berbohong. Tetapi dia juga tidak bisa memaksa. mungkin akan ada waktunya di mana Ega bercerita dengan sendirinya.
"ini benar-benar rasa yang disukai Papa. Mama membuatnya untuk Papa!" batin Ega sambil terus mengunyah makanan yang masuk dalam mulutnya. "Mama sangat mencintai Papa! seharusnya aku tidak meragukan Mama" batin Ega.
"Aku akan lebih senang jika Ayah menemukan kebahagiaan di masa depan, daripada terus terpaku di masa lalu!"
tiba tiba saja perkataan Bintang kemarin Kembali terngiang di telinganya. apa benar dia memang harus merelakan Mamanya menggantikan kedudukan Papanya di hati Mamanya dengan pria lain?
"jika suatu saat nanti ada pria yang tulus mencintai Mama, dan Mama juga mencintai nya, papa mohon kamu mengikhlaskannya. Papa mohon biarkan Mama bahagia!"
lagi lagi Ega teringat akan kalimat yang dia baca dari buku Papanya. "jadi apakah ini yang dimaksud oleh Papa? Ega tahu Mama butuh teman untuk bertukar pikiran dan kasih sayang. Ega tahu Mama butuh seseorang yang bisa menjaganya. tapi apa Ega saja tidak cukup untuk Mama. Apa aku benar egois jika ingin menghalangi kebahagiaan Mama?!"
"Oh iya nak, nanti Om Toni akan menjemput mu!" suara Mila membuyarkan lamunan Ega.
"untuk apa Ma?!" tanya Ega. tidak ada rencana sebelumnya jika hari ini dia harus ke perusahaan.
"Semalam Om Toni menelepon jika hari ini ada pertemuan pemegang saham. dan kamu harus hadir. mumpung kamu juga tidak sekolah!" terang Mila
"Kenapa harus sekarang sih Ma? apa tidak bisa nanti saja kalau Ega sudah lulus sekolah?!" Ega merasa keberatan. walaupun dia tahu dia memang mewarisi seluruh perusahaan yang pernah dibangun oleh Papanya. tapi dia merasa masih belum saatnya dia untuk terjun langsung. lagipula bukankah sudah ada Om Toni. orang kepercayaan Papanya.
"Kamu hanya harus datang saja nak. jangan khawatir. Om Toni pasti mendampingimu. tanda tanganmu dibutuhkan. dan tidak bisa lagi Mama yang mewakili. karena usiamu sudah tujuh belas tahun!" Mila sangat sabar dalam memberi pengertian kepada putranya.
"Baiklah Ma, Ega akan bersiap!" ucap Ega yang telah selesai dengan sarapannya.
"Oh iya, Om Agam juga menelepon, karena beberapa bulan lagi kamu lulus, kalau kamu mau kamu bisa berkuliah di tempat Om Agam. Ega memperhatikan Mamanya. seperti ada nada tak rela dari suara Mamanya.."Mama menyerahkan semuanya pada pilihanmu sendiri. Mama tidak mau menentukan, lakukan saja seperti kata hatimu!" lanjut Jameela.
" masih ada waktu beberapa bulan Ma, Ega tidak mau menentukannya sekarang. karena bisa saja nanti Ega berubah pikiran di saat mau berangkat!" jawab Ega. Ega ingat dia dulu pernah janjian dengan Bintang bahwa mereka akan berkuliah di tempat yang sama.
" Ya sudahlah Mama kan sudah bilang semua terserah kamu. atau mungkin kamu ingin berkuliah di tempat almarhum papamu dulu. di Oxford university!" tanya Mila lagi.
" Ega belum mau mengambil keputusan sekarang Ma. akan Ega pikirkan dulu jawab Ega.!" hubungan dia Dan Bintang tidak ada kejelasan. walaupun mereka masih berbaikan. bukan tidak mungkin rencana cita-cita untuk berkuliah bersama juga akan berubah. bisa saja Bintang akan mencari cara agar mereka berjauhan.
Ega dan Mila sama sama menoleh ke arah luar. menajamkan pendengarannya ketika terdengar suara mobil semakin mendekat dan akhirnya berhenti di halaman rumah mereka.
Ega menatap Mamanya. itu bukan suara mobil om Toni. tapi...
"Mama ada janji sama Om Dirga?!" tanya Ega
"Tidak nak, Mama juga tidak tahu kalau Om Dirga mau datang!" jawab Mila.
Dengan sorot matanya yang peka, Ega mampu melihat gelagat Mamanya yang seolah salah tingkah. apakah Mamanya memang juga memendam rasa pada om Dirga? Apa benar dia memang harus merelakan Mamanya
Ingin sekali Ega bertanya tentang perasaan Mamanya pada om Dirga, tapi ... rasanya itu terlalu lancang.
Ega segera bangkit ketika tak lama kemudian suara mobil Om Toni juga terdengar memasuki halaman.
"Ega bersiap dulu ma, tolong sampaikan pada om Toni untuk menunggu sebentar!" ucapnya lalu beranjak menuju kamarnya.
*
Kamu mau pergi , Ga?!" sapa Dirga ketika mereka berpapasan di teras. tampak di sana sudah ada Om Toni dan juga Mamanya. entah sedang membahas apa sebelum dia datang tadi.
"Iya Om. Ega mau ke perusahaan sama Om Toni!" jawab Ega tak lupa seraya mencium punggung tangan Dirga. "Apa benar om Dirga ini nantinya akan menjadi papa sambungku? kenapa aku merasa tidak rela ada yang menggantikan posisi papa di hati Mama?" batin Ega.
"Belajar yang benar ya, Om yakin kamu akan sama hebatnya dengan Papa kamu!" ucap Dirga sambil menepuk pundak Ega. Ega hanya mengangguk sebagai jawaban
*
"selamat pagi tuan Muda.. !"
"selamat pagi tuan Muda..!"
Ega mengangguk dan tersenyum membalas sapaan para karyawan.
pagi itu perusahaan sedikit heboh. kedatangan Ega memang sudah mereka ketahui sebelumnya. dan itu membuat atmosfer berbeda dari biasanya.
Postur tubuh Ega yang tinggi tegap, apa lagi dengan pakaian resmi yang disandangnya, sama sekali tak menunjukkan bahwa dia masih baru kelas tiga SMA. dan itu membuat para karyawati yang merupakan kaum pemuja wajah tampan berlomba untuk cari perhatian.
harusnya kan melamar putri anda untuk putra kami begitu ya