Arianna Safi mengalami penganiayaan yang membuatnya meninggal. Tidak disangka dia justru masuk ke dalam tubuh figuran antagonis di novel yang dia baca sebelum meninggal.
Figuran antagonis itu bernama Arianna Serafine Wezen yang merupakan kembaran dari antagonis cerita yaitu Catalina Hermione Wezen.
Arianna yang diberi kesempatan untuk hidup pun bertekad untuk merubah takdir agar tidak sesuai dengan alur cerita dimana dia, Catalina dan keluarganya mengalami kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Perasaan Arianna
...-<{ SELAMAT MEMBACA }>-...
"Tiba-tiba saja aku merindukan Lunar." gumam Arianna seraya menatap penampilannya di depan cermin.
Biasanya setelah selesai mandi, Lunar akan bertanya panjang lebar tentang riasan wajah yang diinginkannya lalu mau model rambut seperti apa untuk tatanan rambutnya. Berbeda dengan sekarang yang mana tatanan rambutnya selalu sama saja. Arianna selalu menggerai rambut panjangnya.
Asik menonton wajah cantik milik Arianna asli, Arianna sampai melihat dengan jelas perubahan warna matanya yang tiba-tiba. Sesaat Arianna melihat sendiri warna mata kirinya berubah menjadi hitam lalu berubah lagi menjadi warna ungu.
"Astaga!" Arianna menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.
Tidak lama kemudian ingatan tentang dia yang berada di kamar Eze dan tengah berpelukan dengan pria itu terlintas begitu saja.
"YA AMPUN!" Arianna terjingkat dari tempat duduknya.
"Jadi seperti itu ya? Lalu apa aku tertidur setelahnya?" Arianna bertanya-tanya sendiri dengan wajah penuh kebingungan, "Sebaiknya aku tanya pada Ezekiel."
Arianna berlari keluar dari kamarnya untuk menemui Ezekiel. Tepat setelah menutup pintu kamarnya dari luar, Arianna berhenti di tempat karena Ezekiel sudah lebih dulu menghampirinya.
"Ada apa? Kenapa kau terburu-buru seperti itu?" tanya Eze dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ezekiel!!! Ada yang aneh dengan mataku!" jelas Arianna sambil menunjuk mata kirinya, "Mataku tiba-tiba berubah menjadi hitam lalu kembali normal lagi. Setelah hal itu terjadi, aku baru mengingat saat kita ..."
Wajah Arianna memerah karena dia teringat saat mereka berdua sedang berpelukan.
"Biar ku lihat lagi." Eze langsung memegang wajah Arianna dengan kedua tangannya. Pandangannya lurus dengan kedua mata Arianna dan tentu saja dengan wajah tampannya yang begitu dekat dengan wajahnya.
Deg
Deg
'DUH JANTUNG!!' Arianna ketar-ketir takut bila Ezekiel mendengar suara debaran jantungnya yang begitu keras.
"Sebelum ingatanmu kembali, apa kau merasa pusing?"
"I-iya ..." jawab Arianna terbata. Dia bahkan tidak berani menatap balik Ezekiel.
"Masih merasa pusing?" tanya Ezekiel lagi.
"S-sudah ti-ti-dak."
Ezekiel pun menurunkan tangannya dari wajah Arianna, namun tidak menjauhkan wajahnya, "Tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja."
Demi keamanan jantung Arianna yang terus berdebar kencang, Arianna mundur selangkah untuk menjaga jarak.
Tentu saja semua gerak-gerik Arianna terbaca oleh Ezekiel hingga membuat pria itu tanpa sadar tersenyum begitu tipis.
"Anna,"
Arianna mendongakkan kepalanya untuk melihat Ezekiel yang jauh lebih tinggi daripada dirinya, "Y-ya?"
"Aku akan menepati janjiku untuk mengajakmu melihat monster-monster milikku." Eze mengulurkan tangannya pada Arianna.
"Aku pikir kau melupakannya." Arianna menerima uluran tangan Ezekiel, "Aku anggap ini kencan pertama kita sebelum menikah."
Ezekiel tertawa kecil, "Kau suka hal yang romantis seperti kencan?"
"Tentu saja! Hal seperti itu kan juga membantu hubungan kita menjadi lebih dekat."
"Seperti ini?" Eze menarik tubuh Arianna lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arianna.
Mata Arianna mengerjap beberapa kali karena sekarang dia kembali berdekatan dengan Eze, "Bu-bukan se-seper-ti ini y-yang aku maksud!"
Ezekiel mengabaikan ucapan Arianna, lalu dalam sekejap mata keduanya sudah sampai di hutan yang nampak mengerikan di mata Arianna.
Arianna tidak lagi terkejut karena sebelumnya dia pernah merasakan seperti apa berteleportasi. Hanya saja pemandangan hutan yang sekarang jauh lebih mengerikan daripada saat dia melawan para pemberontak itu.
"Ini adalah hutan Syrill, orang-orang menyebut tempat ini sebagai hutan kematian karena hutan ini merupakan sarang monster." jelas Ezekiel.
Mata Arianna masih memperhatikan sekelilingnya sambil memeluk lengan Ezekiel erat, "Lalu, apakah hutan ini jauh dari Kekaisaran?"
"Ya, jauh karena hutan ini berada di ujung Atlanta. Jika kau berhasil melewati hutan ini, kau akan bertemu laut lepas. Dahulunya hutan ini bisa dilewati jika ingin menuju benua Huca yang merupakan tempat bangsa Canisk berada, tentu setelah menyebrangi laut."
"Lalu kenapa sekarang tidak bisa dilewati?"
Mendapati seringaian Eze, sepertinya Arianna tahu alasannya.
"Aku yang membuat hutan ini tak bisa dilewati oleh siapapun. Para manusia jadi kesulitan untuk menemukan jalur lain agar tetap bisa terhubung dengan bangsa Canisk." ucap Eze dengan wajah tanpa dosa.
Seketika angin berdesir cukup kencang dan membuat rambut Arianna beterbangan. kemudian disusul dengan suara gemuruh dan tanah yang dipijakinya berguncang.
"SIALAN! DUNIA INI MEMANG ANEH SEKALIGUS MENGERIKAN!" pekik Arianna saat melihat segerombolan monster berbagai jenis datang menuju arah mereka berdua.
Monster-monster yang berdatangan memiliki bentuk yang beraneka ragam. Ada yang mengerikan, menjijikan lalu ada pula yang lumayan unik menurut Arianna. Untuk ukuran jangan ditanya, Arianna akan menjadi geprek bila terinjak oleh kaki besar mereka.
Salah satu monster yang ukurannya jauh lebih besar dari Luke maju kemudian menekuk semua kakinya seperti memberikan hormat untuk Ezekiel. Arianna tercengang dengan mulut yang menganga lebar.
"Kami memberi hormat untuk Raja Ezekiel pemilik kami. Kami siap menerima perintah apapun dari Raja Ezekiel."
Arianna sampai tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya karena melihat monster bisa saja.
"Untuk sekarang tidak ada perintah, aku hanya datang untuk menunjukkan siapa yang akan menjadi Ratuku."
Arianna refleks bersembunyi di belakang tubuh Eze saat sorot mata para monster tertuju ke arahnya.
"Mereka tidak akan menyerangmu, Anna. Perlihatkan dirimu agar mereka semua mengenalimu sebagai Ratuku." ujar Eze meyakinkan.
Arianna pun menurut dan mencoba memberanikan diri berhadapan dengan berbagai macam monster. Arianna menyenggol Eze dengan lengannya, "A-aku harus bagaimana sekarang?"
Tiba-tiba saja semua monster menundukkan kepalanya seolah-olah mengakui bahwa dirinya adalah Ratu mereka. Itu semua terbukti saat monster berbentuk mirip serigala itu kembali berbicara.
"Kami memberi salam untuk Ratu baru kami. Semua perintah dari Ratu akan kami laksanakan meskipun nyawa kami taruhannya."
Arianna menoleh ke arah Eze, "Ezekiel, apa aku boleh menyentuh dia?" Arianna sungguh penasaran dengan monster berkepala serigala yang bisa bicara di depannya.
"Tentu. Dia merupakan monster terkuat kedua setelah Luke, kau juga bisa memberikan nama untuknya."
Arianna mengulurkan tangannya untuk menyentuh monster di depannya, "H-haloo~ Namaku Arianna, apa kau setuju bila ku beri nama Aci?"
"Saya senang atas nama yang Ratu berikan." balas monster itu.
Diam-diam Eze membatin, 'Lagi-lagi nama yang aneh, apakah Anna tidak bisa memberi nama yang lebih keren lagi?'
Eze menatap Arianna yang sekarang tampak tidak takut lagi dengan monster-monsternya. Eze mengakui keberanian Arianna yang sekarang justru bisa mengajak bercanda para monsternya.
Bila seandainya orang yang dipilih Eze menjadi istrinya bukanlah Arianna, apakah wanita itu bisa seberani Arianna? Eze menduga tidak akan ada yang seberani Arianna.
"Anna, sepertinya mereka semua menyukaimu."
"Hihihi~" Arianna yang tengah tertawa karena merasa senang bisa merasakan pengalaman baru pun tidak menyangka jika dia bisa semudah itu akrab dengan para monster berbahaya ini.
"Apa kau ingin melihat laut lepas bersamaku?" ajak Eze.
"Mau!!" sahut Arianna cepat, "Tapi bisakah kita berjalan kaki saja?" pintanya pada Eze.
"Seperti yang kau inginkan, Ratuku." Eze kembali mengulurkan tangannya pada Arianna.
Arianna menerima tangan Eze lalu menggenggam tangan besar pria itu. Arianna lantas memberikan salam perpisahan pada para monster.
"Nanti kita main lagi ya ... Dada semua~"
Eze dan Arianna berjalan bersisihan menyusuri hutan yang gelap tanpa adanya cahaya matahari.
Eze mencuri pandang ke arah genggaman tangannya dengan Arianna sambil sesekali menatap Arianna dari samping. Senyum lebar Arianna masih terpancar dan tentunya berbanding terbalik saat mereka datang ke hutan ini tadi.
"Kau sudah tidak takut lagi, Anna?" tanya Eze yang penasaran.
"Aku masih takut bila tidak ada kau." jawab Arianna seraya menatap Ezekiel.
Ezekiel lantas memalingkan wajahnya dari Arianna. Wajahnya terasa begitu panas sekarang.
"Eze? Telingamu merah!"
"Abaikan dan jalan saja terus!" sentak Eze. Pria itu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Arianna.
"Loh?" Arianna memandang bingung Eze yang tiba-tiba seperti itu. Memilih abai, Arianna berjalan mengikuti langkah kaki lebar Eze sambil mengomel sesekali.
Arianna bernapas lega saat pantai mulai terlihat di depan matanya. Dia pun melepas sepatunya agar bisa merasakan pasir putih pantai yang tentunya sudah lama dia rindukan.
"AAAAA!!!" Arianna berteriak seraya merentangkan kedua tangannya.
Eze hanya bersidekap dada seraya memperhatikan Arianna yang masih asik berteriak tidak jelas.
Sepoi-sepoi angin yang berhembus membuat keduanya larut menikmati indahnya pemandangan di depan mereka.
Tak ingin melewatkan kesempatan langka ini, Arianna mendekati bibir pantai untuk merasakan sapuan ombak agar mengenai kakinya.
Arianna mengangkat gaunnya tak terlalu tinggi lalu mulai menghentak-hentakkan kakinya saat ombak bergerak mendekatinya.
"Eze!!! Ayo main!" ajak Arianna pada Eze yang justru diam saja.
Tidak disangka Eze berjalan mendekatinya kemudian mengambil sepatu yang ada di tangan Arianna.
Syur
"Hahahaha~" Arianna tertawa girang saat mencipratkan air ke wajah Ezekiel.
"Anna!" Eze menatap kesal pada Arianna sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan.
"Ini seru tahu!" Arianna kembali tertawa dan lagi-lagi mencipratkan air pada Eze.
Eze yang kesal mendapat serangan bertubi-tubi dari Arianna hingga membuatnya basah kuyup pun mulai membalas Arianna.
Syur syur
"Akh! Kau curang, Eze!!" Arianna memekik tak terima saat Eze membalasnya dengan sihir.
"Aku tidak curang, aku hanya memanfaatkan kekuatan yang ku miliki." balas Eze dengan wajah mengejek.
"Mana boleh seperti itu, dasar Raja monster!" Kali ini Arianna mencipratkan air ke arah Eze dengan brutal.
"Hentikan itu, Anna! Haha~" Eze mencoba menghalau air yang dicipratkan Arianna padanya.
Arianna yang sudah lelah pun memutuskan berhenti. Akan tetapi tawanya kembali menyembur saat melihat Eze yang basah kuyup.
"Kenapa?" Eze bertanya-tanya alasan Arianna menertawakannya.
"HUAHAHAHAA ~ Rambutmu!" Arianna menunjuk rambut Eze yang basah kuyup dan sedikit awut-awutan.
Dengan cepat Eze membenarkan rambutnya menggunakan sihir sekaligus mengeringkan baju dan rambutnya. Kemudian Eze tidak sengaja melihat gaun Arianna yang tampak tembus pandang karena basah.
Eze kemudian berbalik cepat dan mengarahkan tangannya yang mengeluarkan sihir untuk mengeringkan gaun Arianna.
"Ke depannya, jangan memakai gaun tipis lagi."
Arianna pun paham kenapa Ezekiel tiba-tiba saja berbalik memunggunginya lalu tubuhnya yang diselimuti sihir. Perhatian yang diberikan Ezekiel sekarang membuat jantungnya kembali berdebar.
Jujur, Arianna menyukai Ezekiel. Dia tak pernah menyangka akan menyukai penjahat tampan ini. Akan tetapi Arianna mencoba menyadarkan dirinya bahwa mungkin saja perasaannya akan bertepuk sebelah tangan.
'Ezekiel nggak mungkin suka sama gue.'
Arianna tahu bahwa alasan Ezekiel mengajaknya menikah bukan karena nenyukainya, melainkan karena Ezekiel membutuhkannya. Ezekiel memanfaatkannya karena pria itu memegang kartu As miliknya.
"Ayo pulang, Anna."
Arianna baru sadar dari lamunannya saat Ezekiel mengajaknya kembali pulang. Entah kenapa tiba-tiba saja dadanya merasa sesak karena tahu bahwa perasaannya hanya sepihak saja.
Bagi Arianna, Ezekiel adalah pria yang masih misterius dan sulit ditebak perasaannya.
Bersambung ....
Pembacaku yang baik hati dan budiman🤍 Terima kasih buanyak buanyak karena udah meramaikan ceritaku ini. Sambil nunggu update tan cerita ini, kalian bisa mampir dulu ke ceritaku yang lain ya😊
The Miracle Of Two Souls udah tamat dan bisa kalian baca. Disitu ada anak kesayangan aku juga selain Ezekiel, hehehe. Mampir juga kesitu yaaa😊🤍
See you next chapter guys