Salsa mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fariz, yang paling menyebalkan semuka bumi, dan yang anehnya kakaknya itu mempunyai asisten sekaligus bodyguard yang tidak kalah menyebalkan, namanya Ares. Laki-laki yang selalu berpakaian serba hitam, jarang bicara dan beraura dingin. Berada didekat Ares selalu membuat Salsa seperti berada ditengah-tengah pemakaman.
Ares jauh dari tipe lelaki idaman Salsa. Tapi, sayangnya atau sialnya, perintah Fariz tidak bisa diganggu gugat ketika ia memerintahkan Ares untuk menikah dengan Salsa!
Peristiwa demi peristiwa yang membahayakan nyawa Salsa justru membuat Salsa dapat melihat sisi manis Ares. Sebuah sisi yang membuat rasa aneh tumbuh diantara keduanya.
Akankah rasa itu akan terus tumbuh dan berbunga? Ataukah mati berguguran ketika rahasia dari sebuah jawaban yang selama ini Salsa cari telah terungkap?
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diserang bukan Di Serang!
Salsa keluar dari kamar, rasa penasaran juga khawatir membuat Salsa menggerakkan kakinya ke arah tangga, dia baru saja hendak turun ketika mendengar suara Ares berteriak melarangnya.
"Jangan turun! Tetap di kamarmu!" Titahnya.
Ares berdiri di lantai bawah yang sudah berserakan pecahan kaca dari jendela yang dilempar dengan beberapa batu.
"Ini ada apa, Res?" tanya Salsa, dia masih berdiri di ujung anak tangga.
Tanpa menjawab, Ares pun menyusul Salsa, kemudian menarik Salsa masuk ke dalam kamar Salsa.
"Sembunyi." kata Ares sembari menatap tajam kedua mata Salsa.
"Sembunyi? Memangnya ada apa lagi? Apa itu mereka yang waktu itu?"
"Saya nggak tahu. Yang jelas sekarang, jauhi jendela, tetap berjongkok di samping tempat tidur atau tiarap saja, itu lebih aman."
"Apa?" Salsa membeliak. "Lebih aman dari apa?"
"Peluru." jawab Ares yang semakin membuat Salsa ingin menggelindingkan kedua bola matanya. "Cepat sembunyi. Saya akan memeriksa keadaan."
"Tapi gue takut sendirian."
"Kunci pintu, saya akan ketuk pintu dua kali pelan lalu lima kali dengan cepat. Kalau tidak, jangan dibuka, masuk ke dalam lemari, dan pegang ini." Ares menyerahkan sebuah pistol ke tangan Salsa.
"Akk! Tap-tapi...gue...gue..." Salsa erkejut sampai tergagap tiba-tiba saja disuruh untuk memegang senjata api.
"Untuk berjaga." kata Ares sambil menjelaskan dengan singkat dan cepat bagaimana menggunakan senjata api itu. "Sekarang cepat kunci pintunya dan tetap tiarap!" Ares langsung menutup pintu dari luar. Salsa pun menurut meski sebenarnya ia memilih ingin ikut saja dengan Ares, jika pun mati tertembak, ia tidak sendirian.
Ya Tuhan... Ya Tuhan...
Salsa tiarap di samping tempat tidurnya, jantungnya berdegup dengan sangat cepat, lebih cepat dari pada setelah selesai naik wahana paling ekstrem di taman bermain. Tangannya tremor memegang senjata api. Ia tidak pernah menyangka akan memegang sebuah senjata api sungguhan dalam hidupnya. Semua pikiran buruk berkecamuk dalam kepala. Ketakutan akan kehilangan menyergap Salsa. Bayangan ketika orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal kembali bertebaran dalam ingatan Salsa. Ketakutan yang sama kini dia rasakan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ares? Bagaimana jika Ares tertembak? Bagaimana jika Ares...mati?
Salsa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berharap dengan menggelengkan kepalanya seperti orang kesurupan akan melemparkan keluar segala pikiran buruk dari dalam kepalanya.
"Gue nggak bisa diem aja begini kayak polisi tidur!" ujarnya pada diri sendiri, jadi Salsa mengumpulkan keberaniannya untuk bergerak, setidaknya dia harus menghubungi polisi atau...
"Ah, Kak Fariz! Gue harus telepon Kak Fariz sekarang! Mana hape? Mana hape?! Duh, itu hape kenapa segala jauh banget di atas kasur!" Perlahan Salsa mengulurkan tangannya ke atas kasur, meraba-raba permukaan kasur yang berantakan untuk mencari keberadaan ponsel yang biasanya tak pernah lepas dari genggamannya. Dan sekarang, di saat genting seperti ini, benda pipih itu malah tenggelam di antara tumpukan bantal dan selimut.
"Ah! Ketemu!" Salsa langsung menghubungi Fariz dengan jemarinya yang tremor. Panggilan itu tidak langsung diangkat. Tapi Salsa terus mengulangi sampai terdengar suara serak Fariz diseberang panggilan teleponnya.
"Kakak!" Teriak Salsa. Siapa pun yang mendengar teriakan itu melalui panggilan telepon pasti akan menjauhan telinganya sejauh sepuluh kilo meter. "Tolong Kak! Aku dan Ares diserang!"
"Hah? Apa? Diserang? atau di Serang?" tanya Fariz masih dengan nada malas-malasan.
"Iiiiih! Diserang Kak, bukan di Serang! Ngapain juga aku di Serang! Ada yang melempari rumah pake batu, aku...aku juga sekarang memegang pistol! Aku takut Kak! Ares sendirian ngecek keadaan! Gimana kalau misalnya-"
"Oke! Oke! Tenang dulu!" Suara Fariz mulai terdengar normal. Sepertinya kesadaran mulai datang.
"Gimana bisa tenang sih, Kak! Ares di luar sendirian! Kalo dia kenapa-kenapa gimana?!"
"Ares sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini. Yang penting sekarang kamu ada dimana?"
"Aku ada di kamar, Ares suruh aku tiarap di dalam kamar, aku juga dikasih senjata, aku takut, Kak!"
"Kalo gitu tetap diam disana, jangan keluar kamar."
"Trus Ares gimana?"
"Dia akan baik-baik saja."
"Trus Kakak nggak akan suruh Fo atau Jon datang?! Gimana kalo Ares tertembak? Dia nggak pegang senjata!"
"Kamu mengkhawatirkan, Ares?" tanya Fariz.
"Nggak! Aku mengkhawatirkan bumi dari pemanasan global!" jawab Salsa setengah berteriak dengan sangat sebal pada Fariz. "Pake segala tanya! Udah deh, cepetan kirim bantuan ke sini!"
"Ya oke! Aku akan kirim Fo dan beberapa orang ke sana."
"Jangan lama-la... Akh!" Salsa memekik kaget ketika mendengar suara benturan pada pintu kamarnya. Refleks Salsa mengarahkan mulut pistol ke arah pintu, meski dirinya sendiri tidak yakin apakah dia bisa menarik pelatuknya jika orang jahat muncul disana.
* * *
Di luar pintu kamar Salsa, dua orang pria tengah berjibaku saling menghajar dan saling membanting. Ares berhasil menghajar pria bertopeng itu beberapa kali, hingga memitingnya, hanya dengan sekali gerakan, Ares akan bisa membuka topeng hitam orang itu tapi suara tembakan dari dalam kamar membuat Ares tentu saja langsung kehilangan fokusnya.
BUG! Pria bertopeng itu menghajar Ares dengan telak hingga Ares terjerembab, dan pria itu kabur menuruni tangga, dan melesat keluar lewat jendela belakang yang pecah.
Ares langsung menendang pintu kamar Salsa, dengan dua kali tendangan maut, Ares berhasil mendobrak pintu.
"AAAKK!" Salsa berteriak , ia sudah berdiri di sudut kamarnya dengan pistol yang mengarah pada Ares.
Ares mengankat kedua tangannya, "Ini saya. Tembak atau lepaskan pistolnya." ujar Ares pelan tapi tegas.
Tentu saja Salsa langsung melemparkan pistol sialan itu ke sudut lain kamarnya, lalu tanpa Ares bisa memprediksi, Salsa tiba-tiba saja menghambur ke dalam pelukan Ares. Memeluk tubuh Ares dengan erat dan menangis. Tubuh Salsa gemetar, wajahnya tenggelam dalam dada bidang Ares.
Ares membeku, untuk membalas pelukan Salsa saja, Ares seperti kehilangan kemampuan motoriknya. Pelukan itu menghantarkan sengatan-sengatan bertegangan tinggi yang membuat debaran jantung Ares malah tak karuan dari pada saat menghadapi empat orang bersenjata tajam dan bertopeng di bawah tadi. Ternyata, menghadapi penjahat bersenjata jauh lebih mudah dari pada menerima pelukan erat dari Salsa.
"K-Kamu tidak apa-apa?" tanya Ares setelah berhasil membasahi tenggorokannya.
Salsa menggeleng dengan wajahnya yang masih terbenam dalam dada Ares.
"Saya dengar suara tembakan. Apa yang terjadi? Apa ada orang di-"
Lagi-lagi Salsa menggeleng. Dia menengadahkan wajahnya ke atas, melihat Ares dengan matanya yang basah dan ketakutan.
Ya Tuhan.... Batin Ares. Ia harus menguatkan diri.
"Jari gue tremor, nggak sengaja narik pelatuknya tadi." kata Salsa lirih.
Perlahan Ares menghela napas lega. Jika saja boleh jujur, dirinya sudah ketakutan setengah mati membayangkan bahwa ada yang berhasil menerobos masuk ke dalam kamar Salsa dan melukai Salsa.
"Oke, tidak apa-apa."
"Tapi...gue takut... gimana kalo tadi... gue nembak lo juga...." kata Salsa sambil terisak.
"Tidak apa-apa. Saya akan baik-baik saja."
"Mana ada orang ketembak baik-baik aja! Pokoknya gue nggak mau pegang pistol lagi!"
"Ya." jawab Ares sambil melihat sekeliling kamar demi mengalihkan wajahnya dari wajah Salsa. Jika ia tidak mengalihkan pandangannya, mungkin dia tidak bisa lagi menahan diri.
"Kamu sudah bisa lepaskan saya."
Kalimat itu menyadarkan Salsa bagaimana posisi dirinya kini. Ia memeluk Ares dengan sangat intens.
.
.
.
Bersambung~