NovelToon NovelToon
Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: sisile

Raden Syailendra Atmajaya, pria kota dengan kehidupan yang liar, terpaksa menikah dengan Sahara, gadis desa yang cantik dan baik, karena perintah dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sisile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 26

Rizki memanggil Raden, dia memberi isyarat supaya Raden menghampirinya.

“Sayang, aku nyamperin Rizki dulu ya, kamu tetap di sini jangan ke mana-mana!”

Sahara pun mengangguk.

Melihat Raden pergi, Membuka kesempatan bagi Alex untuk mendekati Sahara, Alex pikir Sahara akan menjadi sasaran empuk nya malam ini. Ia berjalan menghampiri Sahara dengan membawa dua gelas minuman beralkohol.

“Hai gue Alex, nama lo Sahara bukan?” Sapa Alex dengan senyum memikat yang biasa ia gunakan untuk menjaring para korbannya.

“Iya kak.”

“Oh iya, si Raden nitipin minum buat kamu, katanya takut kamu haus.”

“Oh ya?”

“Iya ini,” Alex memberikan gelas yang diterima oleh Sahara.

Dari kejauhan Genji yang tengah berjoget di lantai dansa melihat Alex yang mendekati Sahara. Ia langsung memberitahu Raden.

“Den, si Alex ngedeketin Sahara tuh.”

Raden langsung menoleh ke arah Sahara. Ia terkejut melihat gelas yang ada di tangan istrinya. Dengan segera, Raden berlari ke arah Sahara.

Ketika cairan memabukkan tersebut sudah berada di depan mulut Sahara, dengan cepat Raden mendorong gelasnya hingga jatuh dan pecah ke lantai.

Sahara tersentak mendengar bentakan kemarahan dari suaminya.

"KENAPA KAMU TERIMA MINUMAN DARI ORANG YANG GAK KAMU KENAL?”

Seketika Sahara ketakutan dan hampir menangis.

Raden menatap tajam ke arah Alex dan menarik kerah bajunya membuat tubuh Alex seketika terangkat.

“Gue minta lo jangan pernah lagi deketin Sahara! PAHAM?”

Alex tersenyum smirk.

“Emang dia siapa lo, cewek lo?”

“Iya dia cewek gue, kalo lo masih berani gangguin dia lagi, gue gak bakal mikir dua kali buat ngabisin lo.”

Teman-teman Raden yang melihat ketegangan di antara mereka pun mencoba melerai sebelum mereka membuat keributan yang lebih besar sehingga menghancurkan pesta. Mereka belajar dari pengalam sebelumnya dimana Raden dan Alex sangat sering menghancurkan pesta karena berkelahi.

Alex pun pergi meninggalkan Raden, yang lainnya juga ikut bubar dan melanjutkan pesta.

Raden menatap ke arah Sahara yang masih tertunduk penuh ketakutan. Raden menghembuskan nafas, ia menyesali karena sebelumnya telah membentak Sahara.

“Ra, kamu tau gak minuman apa yang Alex kasih ke kamu? Kalo kamu sampai minum kamu bisa mabok atau bahkan yang lebih parahnya Alex bisa aja masukin obat perangsang. Kenapa kamu nerima gitu aja minuman dari orang yang gak kamu kenal?”

“Emang aku gak pantes datang ketempat ini, emang seharusnya aku gak dateng kesini,”

Sahara mengambil tas lalu pergi dari tempat itu sambil menangis.

Raden mengejar Sahara, namun sesampainya di parkiran, Sahara sudah tidak ada.

Sahara duduk di sebuah taman bersama Tama, mereka bertemu di depan klub ketika Sahara keluar dari klub sembari menangis. Tama yang baru saja tiba di sana langsung menyuruh Sahara naik ke atas motornya dan mereka pergi dari tempat itu.

“Kamu datang ke klub sama siapa?” Tama menyodorkan sebuah sapu tangan yang diterima Sahara.

“Kak Raden, kak Tama juga lagi apa di sana?” tanya Sahara sembari menghapus air matanya menggunakan sapu tangan yang diberikan oleh Tama.

“Aku diundang ke acara itu.”

Sementara itu Raden yang berada di parkiran klub tampak sangat kebingungan. Dia bingung harus mencari Sahara kemana karena gadis itu menghilang begitu cepat.

Angel yang memiliki sifat licik mencoba memanfaatkan keadaan ini dengan  menghampiri Raden

“Kamu lagi nyari siapa sih Den?”

“Ya cari Sahara lah.”

“Cewek kampung kaya gitu aja, kamu gak perlu cariin dia, mendingan kita ke dalem kita seneng-seneng Den.”

“Lo aja yang ke dalem, gue mau nyari Sahara.”

Raden pergi meninggalkan Angel, Raden masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan klub. Ia menyusuri setiap jalanan di Jakarta sambil mencoba menelpon Sahara namun tidak di angkat.

“Ra, kamu dimana? maafin aku Ra…!” Raden memukul stir mobilnya karena kesal, ia sangat khawatir karena Sahara yang tidak tahu dengan jalanan di Jakarta.

Dua jam sudah Raden mencari Sahara namun sama sekali ketemu. Ia mulai lelah dan merasa tidak tahu lagi harus mencari kemana.

Sementara Sahara masih terlihat duduk bersama Tama di taman.

“Ra, sebaiknya kamu hati-hati sama Raden, dia suka mainin cewek, aku udah lama kenal sama dia, aku tau dia di kampus kayak gimana,” ujar Tama.

“Aku kenal kak Raden dari kecil.”

Seketika Tama terkejut mendengarnya.

“Maksudnya gimana?”

“Aku  kenal kak Raden dari kecil karena bapak aku kerja di perkebunan milik keluarga nya kak Raden, dan aku kuliah juga dibayarin sama orang tua kak Raden.”

“Jadi kalian udah lama saling kenal?” Tama tampak syok mendengar fakta tersebut.

Sahara pun mengangguk.

Raden yang datang entah dari kapan langsung menarik tangan Sahara yang membuat gadis itu langsung tersentak.

“Ayo kita pulang!” Tegasnya.

Namun Tama malah menarik pergelangan tangan Sahara yang satunya, Sehara jadi bahan rebutan.

“Biar gue yang nganter Sahara  pulang.”

“Dia pergi bareng gue, jadi pulang bareng gue juga.”

“Tapi lo gak bisa ngejaga dia, buktinya aj tadi dia sampai nangis.”

Raden dan Tama saling adu argument untuk memperebutkan Sahara, bahkan mereka hampir berantam. Namun melihat Sahara yang sudah tidak ada di sana, mereka pun berhenti bertengkar.

“Sahara, Ra...? Ah, gara-gara lo Sahara jadi pergi, mana dia gak tau Jakarta.”

Raden segera pergi mencari Sahara, Tama juga ikut mencari.

Raden mencoba menghubungi Sahara  berkali-kali namun tetap tidak diangkat, Raden pun memutuskan untuk pulang ke rumah, siapa tahu Sahara sudah pulang. Namun setibanya di rumah, Sahara tidak ada di sama.

“Ah sial, kamu dimana sih Ra?” Raden menendang pintu rumahnya karena amarah. Lalu Raden mencoba menghubungi Tiara.

“Asalamualaikum kak?”

“Tia, kakak kamu ada di situ gak?”

“Heuh, gak ada kak! Emang kenapa, kak Sahara kemana?”

“Nanti aja kakak cerita nya, kalo ada kabar soal Sahara kasih tau kak Raden ya!”

“Iya kak.”

Sambungan telepon pun terputus, Raden bingung harus mencari kemana lagi.

Beberapa jam kemudian, di tengah kekalutan yang Raden rasakan, Tiara menghubunginya.

“Iya Tia, udah ada kabar belum?”

“Tadi kak Sahara nelpon, katanya dia lagi di bis mau pulang ke sini.”

“Oo gitu, makasih ya Tia, kakak mau nyusul ke sana.

“Iya kak.”

Raden pun langsung berangkat menuju ke Adonara.

Sahara sampai dirumahnya yang ada di Adonara, dia bersalaman dengan ibu bapak nya dan langsung masuk ke dalam kamar. Sahara yang merasa kelelahan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, air menangis sampai akhirnya ia pun ketiduran.

Waktu menunjukan pukul 3 pagi, Mobil Raden tiba di kediaman orang tua Sahara.

Herman membukakan pintu untuk Raden, kemudian menantunya itu langsung mencium tangannya sebagai tanda hormat.

“Pak, Saharanya ada?” ujar Raden dengan raut wajah sedikit panik.

“Ada di kamar, kamu langsung ke sana aja.”

Raden mengangguk lalu menuju ke kamar Sahara. Karena pintu kamar tidak di kunci, ia langsung masuk dan mengunci pintunya kembali.”

BERSAMBUNG…

1
Desvita
author lanjut trus thor
valentinee: Stay terus ya bun🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!