NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:22.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

Teruntuk Moms, Single Moms, dan seluruh wanita yang sedang berjuang bagi anak-anaknya. Jangan sedih ... kamu hebat, kamu kuat! Aku di sini bersamamu!



"Jangan menyerah di awal, karena tidak ada awalan yang sempurna"

Warning!! 21 Area!!

Akira Shofie harus bertahan ditengah kerasnya kehidupan saat ia harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri setelah suaminya menceraikannya dan menelantarkan mereka.

Namun, kehidupannya berubah total ketika ia terpaksa menikah dengan anak dari atasan mantan suaminya.

Akira yang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa saat suaminya berselingkuh, akhirnya menemukan keberanian membalas sakit hatinya dulu dengan dukungan suaminya yang sangat perhatian dan menyayanginya juga ketiga anaknya.

Akankah Akira sanggup membalas dendam yang telah lama bersarang di hatinya? Ataukah ia berhasil berdamai dengan dendam dan hidup dengan baik bersama suami dan ke enam anaknya? Temukan jawabannya di dalam kisah ini.



NOTE : Ceritanya ngga bagus-bagus sangat...B ajah...hehehehe....

ig: misshel_88

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wondel Women

Menyusuri rumah ini, bagaikan sedang tur di museum. Kakiku terasa pegal ketika sampai di halaman belakang tempat keluargaku tinggal. Seperti rumah di dalam rumah. Tempat ini tak kalah indah dari rumah besar. Tempat ini lebih terasa seperti rumah sesungguhnya, tidak seperti rumah besar.

“Apa kau suka tempatnya?” Aku terkejut melihat Tuan Dirga. Entah dari mana munculnya, seperti berApperate dari suatu tempat. Apa hobi ayah dan anak ini sama? Mengagetkan orang.

“Tidak, ma-maksud saya, saya tidak menyukai rumah yang besar” Ingin rasanya aku menghilang saja, Tuan Berkuasa ini sangat membuatku tertekan di setiap kehadirannya. Pembawaannya yang tenang seperti semuanya berada di bawah kendalinya.

“Ah, sayang sekali, sepertinya saya harus kecewa lagi, dua anak saya tidak menyukai rumah ini” Apa itu? Apa dia pernah bermain film? Semula, beliau tampak bahagia, walaupun terlihat kelelahan, tetapi sekarang sorot mata itu layu, di iringi gerakan tubuhnya menurun.

“Mungkin, saya belum terbiasa saja, Tuan. Tapi rumah ini asri dan sejuk, saya suka” Aku mencoba menghiburnya, dan aku tidak bohong, itulah yang kurasakan sekarang. Setiap orang membutuhkan adaptasi dengan lingkungan, apalagi tempat baru, yang dalam mimpi sekalipun, tak pernah melintas.

“Benar, Nak. Kau hanya perlu berada di sini lebih lama, mengenal satu sama lain. Menjadi terbiasa, mungkin akan menimbulkan perasaan yang berbeda suatu saat nanti” Tuan Dirga menerawang jauh, seolah apa yang dia ucapkan tergantung di antara awan-awan itu. Aku pun mengekori pandangan beliau, walaupun aku tak menemukan apapun. Hanya awan dan langit yang mulai memendarkan warna aslinya.

“Iya, Tuan. Saya akan berusaha” Mungkin tinggal beberapa hari di sini, akan membuatku terbiasa. Hanya saja, di perlakukan tidak biasa, aku sulit menerimanya.

Tuan Dirga masih menatap awan di langit. Tangannya saling mengait di belakang tubuhnya. Sesekali kulihat, beliau tersenyum. Entah apa yang di pikirkannya. Segurat kesedihan tak mampu ia sembunyikan di wajahnya yang menolak tua. Beliau tidak tampak seperti orang berusia lanjut. Di tambah dengan penampilannya saat ini, beliau tampak sepuluh tahun lebih muda.

Hampir 10 menit, aku berdiri di sebelah Tuan Dirga. Seperti orang bodoh yang diabaikan. Aku berkali-kali menatap antara langit dan Tuan Dirga. Tidak ada apa-apa di sana, Tuan Dirga hanya diam dan langit semakin terang.

“Tuan, ini sudah siang, saya harus melihat anak-anak saya. Sebaiknya anda segera bersiap untuk sarapan” Aku ingat apa tujuanku kemari. Namun, aku tidak ingin membuat Tuan Dirga tersinggung. Masa iya, aku berdiri di samping orang yang tengah ngobrol dengan awan? Lalu aku harus berbicara dengan rumput yang tidak bergoyang?

“Silakan, maaf mengganggumu, kita bisa bicara lagi nanti” Beliau kembali menjejak bumi. Beliau tampak malu karena ketahuan melamun olehku.

“Permisi Tuan” Aku menundukkan kepalaku sebagai tanda hormat. Lalu aku menyusuri jalan setapak di tengah-tengah rumput hijau yang terhampar memenuhi seluruh halaman rumah.

Ada beberapa pondok seperti di taman kota, ada pula sebuah ayunan dari kayu. Jika tak ingin keluar rumah, di sini sudah seperti berada di taman kota. Beberapa orang tengah merapikan pepohonan dan rumput. Tak heran juga sih, halaman yang luas dan pohon yang cukup banyak tentu memerlukan pekerja yang tidak sedikit.

Excel, Jen dan Jeje, terlihat keluar dari dalam rumah. Sebenarnya aku ingin melihat ke dalam seperti apa, sepertinya aku harus menundanya dulu. Begitu melihatku, mereka bertiga menghambur ke pelukanku.

“Mama” Jen berteriak paling heboh. Menarik perhatian beberapa pekerja di sana.

Aku menangkup mereka bertiga sekaligus, menciumi rambut mereka yang wangi. Seperti tonik yang mampu menenangkan saraf.

“Apa kalian tidur nyenyak?” aku merunduk agar kami bisa saling bertatapan. Membelai pipi ketiganya, yang lembut dan kenyal. Apalagi pipi Jen, aku suka berlama-lama membelainya bahkan mencubitnya.

“Iya Ma, kami tidur nyenyak sekali” Jeje terlihat bersemangat sampai tidak sadar kepalanya ikut bergoyang. Aku tertawa di buatnya.

“Ma, apa Paman itu menyakiti Mama?” Tanya Excel yang tiba-tiba berubah serius. Aku terkesiap, bagaimana bisa Excel bertanya seperti ini? Apa Nina yang mengajari? Atau wajahku masih kurang ceria di hadapan mereka?

“Kenapa Excel bertanya seperti itu? Apa Mama terlihat tidak baik-baik saja?” Aku menghadapi Excel agar dia yakin aku tidak apa-apa. Membiarkan dia menilai sendiri keadaanku.

“Paman itu terlihat galak Ma, bahkan sejak mengantar kami ke rumah waktu itu, Excel takut jika dia akan menyakiti Mama” Excel meneliti wajahku, setelah dia yakin aku baik-baik saja dia baru percaya.

“Kamu ini” aku mencubit pipi Excel dengan gemas. “Apa Excel lupa, siapa Mama? Mama kan Wondel Women”

“Jangan ungkit itu lagi Ma" Excel cemberut, setiap di ingatkan tentang kesulitannya mengucapkan “R”. Sekitar umur 5 tahun baru bisa lancar mengucapkannya.

“Iya, maaf, maaf, Mama ngga akan bilang begitu lagi” Aku memeluk Excel yang segera di sambutnya.

“Ma, tadi Kakek itu, menyuruh kita sarapan bersama di rumah yang besar itu” Jen memperagakan “rumah besar” dengan tangannya sehingga membentuk lingkaran abstrak.

“Oh ya? Cuma kalian? Kakek? Uti? Tante Nina tidak diajak?” tanyaku berlebihan.

“Uti sama Kakek sarapan di kamar, ada suster juga Ma di dalam” Celetuk Jeje.

“Benarkah?” Aku tidak percaya, suster? Untuk apa?

“Anak-anak, kalian tunggu Mama di ayunan itu ya, Mama mau lihat kakek sebentar” Aku menunjuk ayunan kayu tak jauh dari tempatku berdiri.

“Baik Ma” Ketiganya mengangguk dan segera menuju ayunan.

*****

“Ibu, Ayah” Aku memanggil mereka berdua dari ambang pintu yang terbuka. Terdengar sahutan Ibu dari bagian belakang rumah. Aku segera melangkah menuju tempat itu.

“Kenapa Ra?” Tanya Ibu yang memegang nampan berisi sarapan dan obat Ayah.

“Mana Ayah, Bu?” Aku menoleh kanan kiri. Namun Ayah tidak ada di ruangan ini.

“Ayah di kamar Ra, mau sarapan dulu, setelah ini Ayah akan ke rumah sakit lagi” Jawab Ibu. Aku mengikuti Ibu ke kamar.

“Ke rumah sakit lagi? Apa Ayah belum sembuh Bu?” Aku semakin penasaran, Ayah terlihat sudah sehat kemarin.

“Kata Papa Mertuamu, Ayah harus diperiksa lebih lanjut, pokoknya akan diperiksa secara keseluruhan deh. Ibu tidak begitu paham, dokter dan perawat tadi yang bilang ke Pak Dirga”

Aku mengangguk tanda mengerti. Kalau sudah Tuan Berkuasa itu memiliki keinginan, siapa yang berani membantah?

“Benar, Ra. Semua Pak Dirga yang mengatur. Kalau Ayah sendiri, Ayah merasa sudah sehat”

Aku mencium tangan Ayah, di sebelahnya berdiri seorang suster. Aku bisa menebak, ini semua sudah diatur oleh Tuan Dirga.

“Ayah nurut aja ya, lagipula biar cepet sembuh” Aku menggenggam tangan Ayah. Memberi semangat Ayah agar secepatnya bisa pulih.

“Sudah siang, nanti anak-anak terlambat masuk sekolah Ra” Ibu mengingatkan.

"Nina dimana Bu?"

"Masih mandi"

“Jam berapa Ayah ke rumah sakit?”

“Setelah ini Ra,”

“Oh, Ayah, Ibu, aku antar anak-anak dulu ya”

“Hati-hati Ra, jangan ngebut” aku mencium tangan ayah dan ibu bergantian. Kemudian membawa anak-anak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin Ibu lupa, kita tidak sedang di rumah sendiri. Biasanya, setiap akan mengantar ke sekolah, ibu selalu bilang seperti itu.

Kami tiba di meja makan, Tuan Dirga belum ada di tempat itu. Hanya Harris dan Johan saja. Mereka menatap kami, entah apa yang ada dalam pikiran mereka.

“Kenapa masih berdiri, ayo duduk” Tuan Dirga berjalan menuju kursi di ujung meja.

“Ayo, silakan, mau sarapan apa” Tuan Dirga membuka tangannya mempersilakan kami sarapan.

Excel, Jeje dan Jen takjub dengan apa yang mereka lihat. Makanan beraneka ragam dan terlihat menggiurkan. Namun pilihan mereka jatuh pada roti lapis. Aku sendiri memilih nasi goreng.

"Maaf, saya terlambat" Nina masuk dan bergabung dengan kami di meja makan.

"Silakan, silakan. Ayo, jangan sungkan, ambil apa yang kalian mau" Tuan Dirga terlihat sangat antusias. Mungkin sarapan kali ini memberi kesan berbeda untuknya.

Kami sarapan dengan tenang. Aku bersyukur anak-anak bisa mengerti situasi di sini. Mereka tidak berbicara selama makan. Hingga mereka menyelesaikan sarapan dengan cepat.

“Saya antar anak-anak ke sekolah dulu, Tuan” aku berdiri mengemasi piring bekas anak-anak. Mereka menatapku keheranan. Apa ada yang aneh?. Santi segera mengambil alih piring-piring itu dari tanganku.

“Anak-anak akan di antar oleh sopir, setelah ini ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan kalian berdua” Tuan Dirga mengarahkan pandanganya padaku dan Harris.

Aku merasa tidak enak pada anak-anak, tetapi mereka tampaknya mengerti. Setelah berpamitan kepadaku, mereka segera ke depan di antar oleh seorang asisten rumah tangga.

*****

“Jadi, apa rencana kalian setelah ini?” Tuan Dirga mulai rapat keluarga di ruang kerjanya.

“Aku akan kembali ke rumah, dan bekerja seperti biasa” jawab Harris sangat datar. Ingin rasanya aku berteriak di depannya, sama, aku juga.

“Saya anggap ini mewakili kalian berdua. Tetapi, saya harap, kalian tinggal di sini beberapa hari lagi” Tuan Dirga menatap Harris dan aku bergantian. Beliau terlihat sekali menginginkan hal itu.

“Semalam lagi” jawab Harris ketus. Aku tak tahu hubungan ayah dan anak macam apa ini. Mereka seperti musuh menurutku.

“Baiklah, terserah kalian. Oh ya, Nak, besok keluarga kalian akan menempati rumah baru di perumahan B, tak jauh dari sekolah dan rumah lama kalian. Kau tak perlu mencemaskan apa pun, semua sudah diatur” Lagi-lagi Tuan Berkuasa membuat pengaturan tanpa meminta pertimbangan dariku. Aku memilih diam, menolak pun tak ada gunanya, bukan?

“Apa kegiatanmu setelah ini?” Tanya Tuan Dirga. Beliau menatapku, menanti jawabanku yang seolah patut untuk di ikuti.

“Tidak ada, Tuan. Saya hanya akan menemui teman saya saja” Aku bingung harus menjawab apa, apa aku harus tahu diri atau menyesuaikan diri? Aku takut Tuan Dirga dan Harris tersinggung bila tahu aku masih akan bekerja. Tetapi, aku juga mempunyai tanggung jawab pada Ivy.

“Lakukan saja semua seperti biasa, Nak. Tidak usah berpikir macam-macam. Jika ada kesulitan jangan sungkan mengatakan padaku maupun Harris” Tuan Dirga tersenyum, senyum terbaik yang pernah dia tunjukkan. Dia seperti tahu apa yang membuatku gelisah.

“Terima kasih, Tuan” Pengertian Tuan Dirga membuatku merasa lega. Aku masih bisa kembali ke kafe Ivy.

“Boleh saya minta satu hal, Nona?” Tuan Dirga kembali bersikap formal, seperti sebelum-sebelumnya, membuatku kembali waspada. Harris pun tampak keheranan.

“Panggil saya Papa, seperti dia”

Aku menoleh ke arah Harris, meminta persetujuannya. “Baik, Pa” jawabku setelah Harris mengangguk setuju.

“Oke, kalian boleh pergi. Jangan lupa nanti masih menginap di sini” Aku melihat kepuasan terpancar dari raut wajahnya. Sepertinya beliau benar-benar telah mendapatkan apa yang dia mau.

.

.

.

1
Dwi Setyaningrum
berkali kali baca ulang crita ini tetap aja ikut mewek..
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kangen baca ulang thor...
Tiktok: misshel_author: Makasih udah baca ulang kak, aku temenin dr jauh😍
total 1 replies
Nur Wakidah
lhah siapa ini main peluk aja 😆😆😆 jangan Rio tolong 🙈🙈🙈
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: halo kak baca juga d novel ku 𝘼𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profil ku ya😌
total 1 replies
Rasenniyya Mom
James dan Lily Potter nih? 😆
Rasenniyya Mom
Mau kasih kira lollipop ya, Ris??/Grin/
Kamiem sag
benar complicated
Kamiem sag
ya... Kiraterus terlena dgn pesona dan perhatian Haris sampai lupa tumbuh kembang anak anaknya
Haris juga sepertinya cuma butuh apem Kira gak butuh kehadiran anak anaknya maka dia bisa merajuk dan mengabaikan sapaan Jeje ( sakit tau anak sekecil itu merasa diabaikan dan gak dibutuhkan)
Kamiem sag
Jeje cerdas cumabelum tau aja dunia orang dewasa😄😄
Kamiem sag
memang gila si Haris mencintai Kira juga gila
Kamiem sag
sesal Rian makin bertambah
Kamiem sag
love you bang Haris
Kamiem sag
hancur
Kamiem sag
😲😮
Kamiem sag
kasih sayang ibu yg buat Viona jadi lebih baik
Kamiem sag
kupikir cuma Rio dan Jo yg patah hati ternyata Hendra juga
Kamiem sag
Kira itu hiena singa juga rubah betina😄😄😄😄😄
Kamiem sag
Evan ayah biologisnya Kristal??
Kamiem sag
aku gak coment
Kamiem sag
Viona berubah??
tersentuh oleh ibu??
Kamiem sag
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!