🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3
Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.
Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.
Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.
Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.
"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.
"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi hari yang terik disertai kicauan burung membuat Lion tidak melepaskan pandangan indah matahari yang telah naik beberapa jengkal ke langit.
Dia mengingat kejadian 3 tahun lalu saat dia mengungkapkan seluruh isi hati pada Lucia yang malah menumpahkan air mata berharga milik adiknya.
Awalnya dia ingin bercerita saja dan ingin meminta maaf atas segala perlakuannya selama ini. Tapi saat mendengar pertanyaan Lucia itu. Dia juga tidak yakin akan jawabannya sendiri. Jika hal itu benar-benar terjadi, jika Lucia benar-benar telah dihancurkan oleh pria saat dia masih membenci Lucia apa yang akan dia lakukan?
Apakah dia akan senang?
Apakah dia biasa saja?
Atau apakah dia tidak peduli?
Baru kali ini Lion merasa bahwa dirinya teramat kejam. Dia tau jawabannya sendiri tapi dia tak mampu mengungkapkannya karena akan sangat menyakitkan.
Tapi Lucia bukan seorang gadis yang bodoh. Dia mengerti arti diam seorang Lion. Di saat kebenciannya ini perlahan telah memudar, Lucia malah semakin menjauh darinya.
Saat Lion benar-benar ingin melindungi Lucia, gadis itu tidak pernah menampakkan wujudnya lagi.
Sejak tiga tahun ini, Lucia tidak lagi berlatih. Dia juga tidak pernah sarapan atau makan bersama dengan Duke dan yang lainnya. Dia hanya berdiam diri di istana jasmine, atau bertemu dengan teman-temannya.
Waktu itu Duke sangat marah dengan sikap Lucia tapi saat Lion menceritakan semua yang pernah Lion katakan pada Lucia tiga tahun lalu ayah menjadi tenang.
Saat itu Lion bertanya, "jika mereka benar-benar melakukan hal keji itu pada Lucia waktu itu apa yang akan ayah lakukan?"
Duke terdiam sebentar dan menjawab pertanyaan Lion. "Aku akan membunuhnya atau hukuman paling ringan adalah mengasingkannya ke tempat pelelangan budak dan menghapus hubungan darah antara aku dan Lucia."
Syok menghantam pendengaran Lion mengenai jawaban ayahnya. "Tapi sejak dia menerobos pintu kediamanku dan melihat kecantikan ibumu padanya, aku berubah pikiran."
"Tidak buruk juga untuk punya anak perempuan di antara 3 putraku."
"Biarkan saja dia. Terserah dia mau melakukan apa pun. Aku telah membencinya sekian tahun dan sekarang aku tidak ingin mengekang kebebasannya."
Perkataan Duke selanjutnya membuat Lion menyimpulkan bahwa kebencian ayahnya juga telah mereda. Malah dia merasakan sedikit rasa kasih sayang saat Duke mengatakan punya anak perempuan juga tidak buruk.
Anehnya Lion merasakan kerinduan yang teramat sangat pada adiknya. Danny dan Edith yang berusaha mendekati Lucia pun hampir tidak membuahkan hasil.
Lucia dengan cepat menghilang dan hanya menyisakan Momo, kucingnya untuk bermain dengan Danny dan Edith sesekali.
Dalam kegundahan Lion dan kedua adiknya. Lucia sedang bersantai di lantai atas Restoran Bintang. Dia menikmati berbagai aneka makanan sembari mendengar alunan musik dan nyanyian yang dipersembahkan oleh wanita muda nan cantik yang memang Lucia pekerjakan di restorannya untuk menarik para bangsawan makan di sana.
Pintu ruangan bos diketuk dari luar. "Masuklah." Setelah Lucia mempersilahkan orang yang mengetuk itu masuk, sosok cantik muncul dari balik pintu.
Gaun merah panjang yang menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi serta rambut coklat mudanya yang bergelombang telah membuat banyak sekali bangsawan bertekuk lutut di kakinya.
"Nona, ini daftar nama yang anda minta." Suara lembut dan gerakannya yang gemulai membuat Lucia sedikit merinding. Lucia membaca daftar nama itu dan terlihat puas.
"Seperti yang anda perintahkan saya mendapatkan setiap nama dan keluarga yang berpihak pada Pangeran Damian atau Pangeran Clair."
"Di sana juga saya mencatat berbagai rahasia dari bangsawan yang saya layani."
Lucia tersenyum puas. Dia mengambil sekantong uang dan melemparkannya pada wanita di depannya. Wanita dress merah itu dengan sigap menangkap kantong uang yang Lucia lemparkan.
"Kerja bagus Cleria. Bisa mendapatkan informasi yang banyak dalam waktu singkat. Kau memang memiliki keahlian," puji Lucia pada wanita cantik di depannya yang bernama Cleria.
"Nona, sejak anda menyelamatkan saya 3 tahun yang lalu dari kejaran penjaga rumah bordil, saya tidak mungkin bisa seperti sekarang."
"Saat itu, wajah saya hancur dan tidak bisa berguna lagi untuk rumah bordil. Saya yang dalam keadaan seperti itu pun, mereka malah ingin merampas bola mata saya untuk dijual."
"Untungnya, Nona menyelamatkan saya. Nona menghajar mereka dan membeli saya dengan harga yang mahal pada pemilik rumah bordil."
"Nona juga menyembuhkan wajah saya yang terkena racun serta membuat saya menjadi penyanyi di Restoran Bintang ini."
"Jadi apapun yang Nona perintahkan akan saya selesaikan secepat dan sebersih mungkin," ungkap Cleria dengan mata berkaca-kaca.
"Sudahlah, itu memang takdir yang mempertemukan kita. Kau kembalilah bekerja."
"Baik, Nona." Cleria berbalik dan turun ke lantai 2 untuk menyanyi serta memainkan musik. Jika dia lelah, dia akan menghibur beberapa bangsawan pria.
Sementara itu di tempat lain. Di sebuah kedalaman bagian timur Lamboerge seorang remaja pria dengan bringasnya menghabisi hewan-hewan liat yang ganas dan menghalangi jalannya.
Tatapan mata terfokus pada tujuan. Dia membunuh 350 hewan buas dalam waktu 1 jam. Seorang kepala prajurit meniup pluit pertanda usainya ujian untuk masuk menjadi Prajurit Khusus Lamboerge.
Para peserta berkumpul dan membentuk barisan. Remaja yang bringas tadi pundaknya ditepuk oleh kepala prajurit.
"Luar biasa, nak. Kau adalah peserta termuda dengan hasil terbaik untuk ujian kali ini. Kau bisa segera menjadi Prajurit Khusus Lamboerge setelah pelantikan."
Terpancar kebahagian sekaligus kebanggaan di mata remaja itu. Ia adalah Valley, 3 tahun lalu dia masih bocah berusia 10 tahun yang pernah Lucia ajarkan sedikit ilmu pedang. Kini dia sudah sedikit lebih tinggi dari pada saat itu.
Tubuhnya juga lebih berisi serta berotot. Dia masih teringat janji Lucia untuk menjadikan dia Ksatria pribadinya jika Valley bisa menjadi Prajurit khusus dalam 3 tahun.
Dia berlatih siang dan malam untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Setelah pelantikan dia akan mencari Lucia dan menagih janji wanita tersebut.
Restoran Bintang semakin ramai. Tiba-tiba masuk seekor kucing oren membawa sebuah keranjang yang berisi banyak sekali surat. Kucing itu susah payah masuk ke ruangan bos.
"Nona ini beberapa surat yang ada di kediaman." Lucia mengambil tumpukan surat itu. Matanya beralih pada surat dengan cap Duke Lamboerge.
"Eh, Kenapa Duke menulis surat?" Lucia langsung membuka surat tersebut dan membacanya.
Lucia, Aku tau kau masih marah pada keluarga ini. Tapi Raja Salvavor mengirim titah pada kita. Dia memintamu untuk segera bertunangan dengan Pangeran Damian secepatnya dan setelah perayaan kedewasaanmu dia akan melangsungkan pernikahan.
Tapi tenang saja, aku akan berusaha menolak permintaan Raja walau harus bertempur dan mengerahkan semua pasukan. Ayah tau kau tidak ingin menikah dengan Damian. Jika kau baca surat ini, tetaplah bersembunyi. Ayah akan menyelesaikan semua urusan.
Lucia menghembuskan napas dengan berat. Walau pun keluarga ini pernah jahat tapi seseorang juga bisa berubah. Contohnya ayah Lucia ini.
"Ayo pergi." Lucia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
"Nona, kita mau kemana?"
"Kita akan memporak-porandakan istana, kau mau ikut?"
Momo tampak bersemangat. Dia bahkan meloncat-loncat kegirangan. "Ini yang aku tunggu-tunggu Nona, ayo kita penggal juga kepala Raja."
"Eh, tidak bisa. Kenapa kau sangat ingin memenggal kepala Raja?"
Dengan cekikikannya Momo menjawab, "bukannya dulu Nona juga suka memenggal kepala orang?"