Judul novel [My wife the farming transmigrasi]
Fu lichen saat ini hanya merasa perutnya mual, seakan mau muntah, dia melihat sekeliling merasa bahwa tempat itu sangat asing.
Tiba-tiba kepalanya sangat sakit, ingatan yang tidak dia miliki muncul secara tiba-tiba.
Pergi ke zaman kuno?
Secara tiba tiba mendapat istri dan anak?
Bagaimana kelanjutan cerita tersebut? jangan lupa like, komen, and vote😘
teer.id/onedea_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen 1003, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26(kedatangan tiga anak dipintu rumahnya)
Pagi yang cerah, suasana pagi dengan hawa dingin yang menusuk batin, sang mentari menyapa pagi hari dengan senyumannya yang sangat menghangatkan hati, burung-burung semuanya bertebaran saling bertegur menyapa satu sama lain, burung-burung bersautan dengan lantunan yang menawan melodinya.
Suasana yang sangat sejuk nan nyaman, dia meregangkan tubuhnya guna membuat tubuhnya tidak terlalu kaku akibat bangun dari tidurnya.
Dia melihat istri dan putrinya, dia melihat putrinya Baozi, Baoizi yang masih berada di alam mimpi, terlihat tangannya yang tengah berada dimulutnya. Mengemut-**** tangannya seperti sedang menghisap, mungkin karena merasa lapar, jadi putrinya saat ini tanpa sadar menaruh tangannya dimulutnya.
Sebenarnya tadi malam Baozi sudah terbangun karena rasa lapar. Dan sebagai ayah yang baik, pasti Fu Lichen dengan cepat menyadarinya dan langsung terbangun untuk menyuapi makan putrinya.
Sebelum tidur, Fu Lichen pasti akan menyiapkan sesuatu untuk dimakan putrinya saat terbangun di tengah malam, terbukti bahwa setiap malam pasti Baozi akan terbangun, mungkin karena proses pertumbuhannya, jadi saat ini Baozi pasti sering makan.
Kemudian dia melihat istrinya, istrinya yang saat ini terbangun, mungkin karena gerakannya yang terlalu keras, tengah mengucek matanya dan duduk, melihat wajah lembab istrinya yang saat bangun tidur membuatnya semakin imut di mata Fu Lichen.
“Um… sudah pagi ya?” tanya Su Lingyu sambil mengucek matanya.
“Ya, tidurlah sebentar lagi, aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi” kata Fu Lichen, sambal berdiri dan menuju ke dapur guna merebus air untuk mandi putrinya dan istrinya.
“Baiklah” jawab Fu Lingyu dan tertidur lagi, Su Lingyu yang sudah terbiasa dengan perlakuan suaminya itu hanya bisa kembali tidur, dia saat ini juga merasa sangat mengantuk dan ingin tidur lagi, dan juga suaminya yang memang memanjakannya membuatnya sangat nyaman.
Beberapa menit kemudian, Fu Lichen kembali ke kamar guna membangunkan istrinya itu, pertama dia membangunkan Baozi dan langsung menggendongnya, lalu dia mulai membangunkan istrinya itu.
“Lingyu, bangun, air hangat sudah siap, sana mandi” Perintah Fu Lichen kepada Su Lingyu.
Su Lingyu yang memang sudah mersa dibangunkan seseorang pun, langsung membuka matanya, tatpi hal iti tetap tidak mempengaruhi rasa kantuknya, hingga dia berdiri dan ingin langsung menuju ke kamar mandi, karena rasa kantuknya dia tidak melihat bahwa didepannya ada pintu yang masih tertutup, Fu Lichen yang melihat itu pun menarik Su Lingyu dan membangunkannya.
“Hais.. kamu harus hati-hati, bagaimana kalau kamu ketabrak pintu tadi?” kata Fu Lichen dengan nada khawatir.
“Iya, iya aku tahu, itu kan juga salah kamu karena terlalu memanjakanku, jadi aku sekarang jadi malas” gumam Su lingyu dengan pelan.
“Apa?”
Fu Lichen yang memang tidak mendengar mendengar gumaman pelan dari istrinya hanya bisa bertanya balik kepada Su Lingyu.
“Tidak apa-apa, kalau begitu aku akan mandi” kata Su Lingyu setengah lari, karena saat ini dia merasa semakin berani karena suaminya tidak begitu ketat kepadanya, dia mersa saat ini ada alarm merah dikepalanya dan berkata dalam hati.
“Sangat berbahaya, sepertinya aku terpengaruh dengan sifat malas, ini semua salah Lichen yang terlalu memanjakanku makanya aku jadi seperti ini, hmm! Sepertinya aku harus berusaha untuk menghilangkan sifat pemalasku ini”
.
Sedangkan Fu Lichen yang melihat Su Lingyu berlari kebelakang hanya menggelengkan kepalanya dan mersa Su Lingyu saat ini semakin berani dengan dirinya, tapi itu juga hal bagus untuk dirinya.
Fu Lichen pun langsung menuju ke bak mandi kecil untuk memandikan putrinya, Baozi yang mersa senang karena bisa bermain air pun mencipratkan aornya ke muka ayahnya, Fu Lichen yang melihat itu pun hanya tersenyum tidak berdaya melihat hal itu, dan merasa dia semakin mencintai putrinya yang lucu ini.
Setelah selesai memandikan putrinya, Fu Lichen pun menyerahkan Baozi kepada istrinya, dan menuju ke dapur guna untuk memasak makanan untuk keluarga mereka, karena hari ini dia berniat pergi ke yamen, dia memasak sesuatu yang sederhana, hanya tumis daging ditambah sayuran liar yang ada dibelakang rumahnya.
Bau harum pun tercium hingga kejauhan, Fu Lichen yang ingin sarapan pagi dengan keluarganya pun langsung menuju ke ruang makan, sebelum dia memasukkan makanan it uke dalam mulutnya, terdengar suara ketukan pintu.
“Tok tok tok tok”
Su Lingyu yang mendengar itu pun berniat untuk membuka pintunya, tetapi sebelum dia berdiri, dia ditahan Fu Lichen untuk Kembali dan melanjutkan makanannya.
“Biar aku saja yang membukanya, kamu dan baozi melanjutkan saja makanannya”
“Baiklah kalau begitu” angguk Su Lingyu.
Fu Lichen pun berdiri dan menuju ke pintu dan langsung membukanya, terlihat tiga anak yang berdiri di depan rumahnya dengan tampang ketakutan saat melihat dirinya, Fu Lichen melihat yang tertua sedang melindungi kedua adiknya dibelakangnya, Fu Lichen pun menganggap itu menarik dan mengangkat salah satu alisnya.
“Ada apa?” tanya Fu Lichen.
Yang tertua pun menjawab, “Um paman Fu, bo.. bolehkah aku meminta daging yang saat ini dimakan paman? Sedikit saja”
Fu Lichen pun langsung menjawab iya, dan menyuruh mereka menunggu disini, Fu Lichen yang kembali ke dalam rumah pun ditanyai Su Lingyu.
“Tidak ada apa-apa, hanya tiga anak yang meminta daging, mungkin mereka mencium baunya dan ingin meminta kita”
“Ini kan salahmu karena selalu memasak daging disetiap masakanmu” kata Su lingyu dengan cemberut.
“Iya, iya ini salahku, kalu begitu aku akan memberikannya kepada mereka” Fu Lichen pun mengambil daun untuk membungkus dagingnya dan memberikannya kepada mereka, sebenarnya dia terkejut dengan keberanian anak itu untuk meminta sesuatu kepadanya, dia pun juga berfikir bahwa mungkin sering mencium bau daging dari rumahnya dan akhirnya mereka mengumpulkan keberanian untuk datang kepadanya.
Mereka bertiga yang menerima daging itu pun merasa sangat gembira.
“Terima kasih paman Fu” kata mereka bertiga secara bersamaan.
“Ya, ingatlah ini jika kalian ingin sesuatu datanglah ke rumah ini, pasti paman akan memberikannya kepada kalian”
“Benarkah paman?” kata yang paling muda dengan nada yang gembira😃.
“Iya”
Mereka bertiga pun semakin senang karena hal itu dan sekali lagi berterima kasih kepada Fu Lichen dan akhirnya berlari pulang dengan gembira. Fu Lichen yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya, dan kembali masuk kerumah dan melanjutkan kembali makan paginya yang sempat tertunda.
"Sudah selesai?" tanya Su Lingyu.
"Sudah"
"Lain kali sebaliknya jangan terus memasak daging" kata Su Lingyu
"Tidak apa-apa kita juga tidak kekurangan daging, jika mereka memang datang kesini lagi, tinggal kasih lagi" kata Fu Lichen.
"Baiklah, baiklah, terserahmu saja" jawab Su Lingyu.