Kehidupan Naura Anandita ternyata tidak seberuntung anak-anak pada umumnya. Hinaan dan cacian adalah makanan Naura sehari-hari, bahkan penderitaan demi penderitaan tidak pernah absen menghampiri kehidupan Naura. Acara camping sekolah yang seharusnya menjadi momen bahagia, justru menjadi awal penderitaan yang panjang untuk Naura. Naura diperkosa oleh seseorang pria yang mabuk, kehidupan Naura semakin hancur saat Naura diketahui hamil dan diusir oleh orangtuanya sendiri. Ditengah keputusasaannya, tidak disangka Naura dipertemukan dengan orang yang sudah memperkosanya itu. Siapakah dia? Apakah Naura akan meminta pertanggung jawaban orang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Merasa Jenuh
Pagi ini Mami Veronika mengunjungi Tristan di kediamannya.
"Pagi, sayang!"
"Pagi, Mi."
"Loh, kok kamu sarapan sendiri? Dinda mana?"
"Jam segini Dinda masih tidur," sahut Tristan cuek.
"Apa setiap pagi kamu sarapan sendirian?"
"Ya, seperti yang Mami lihat."
Mami Veronika mulai kesal dengan sikap Dinda karena sudah memperlakukan putra kesayangannya seperti itu.
Tidak lama kemudian, Dinda pun menuruni anak tangga dengan masih menggunakan kimono tidurnya.
"Pagi, sayang."
Dinda mencium pipi Tristan. "Loh, ternyata ada Mami. Kapan Mami ke sini?" tanya Dinda.
"Baru saja sampai. Dinda, apa kamu tidak pernah membuatkan masakan untuk Tristab?" tanya Mami Veronika.
"Ya ampun Mami, aku kan memang tidak bisa masak lagipula kan ada ART, jadi buat apa aku susah-susah masak kalau sudah ada yang masakin," sahut Dinda santai.
"Kalau kamu tidak bisa masak, setidaknya kamu bangun pagi dan temani suamimu sarapan."
"Astaga, kok Mami jadi bawel sih? Tristan saja tidak pernah mengeluh."
"Ya sudah, kalau begitu beri Mami cucu, Mami ingin menggendong cucu seperti teman-teman Mami yang lain."
"Mami, Dinda belum siap. Lagipula sekarang Dinda sedang sibuk mengurus restoran, kalau Dinda sampai hamil, nanti Dinda sendiri yang kerepotan," sahut Dinda.
Mami Veronika dan Tristan hanya bisa geleng-geleng kepalanya melihat kelakuan Dinda.
Setelah selesai sarapan, Tristan pamit ke kantor begitu pun Mami Veronika yang memilih pulang. Entah kenapa Mami Veronika jadi sedikit tidak suka kepada Dinda yang memperlakukan putranya seperti itu.
Tristan sampai di kantor, dia langsung menuju ruangannya dan duduk menyandarkan tubuhnya dengan memejamkan matanya. Tristan memijit kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut.
Ceklek...
"Kamu kenapa?" tanya Mike.
"Entahlah Mike, akhir-akhir ini aku merasa jenuh dengan pernikahanku."
"Jenuh? jenuh kenapa?"
"Aku juga tidak tahu, aku merasa tidak semangat saja bahkan untuk menyentuh Dinda pun rasanya aku malas. Apalagi Dinda sampai sekarang tidak mau mempunyai anak dariku, sedangkan Mami dan Papi sudah ingin menggendong cucu, katanya."
"Kalau kamu ingin mempunyai anak, kenapa kamu tidak mau mengakui anak dari Naura? Itu asli anakmu," seru Mike santai sembari membuka-buka dokumen.
Seketika Tristan membuka matanya dan merasa tersentak.
"Ini sudah 1 tahun berlalu, anak itu pasti sudah besar," seru Tristan.
"Iyalah, kemarin itu tepat usianya 1 tahun."
"Hah, kok kamu tahu?" tanya Tristan.
"Tahulah, karena tanggal lahirnya tercatat di berkas DNA dan aku masih ingat tanggal berapa anakmu lahir."
Tristan bangkit dari duduknya dan langsung pergi membuat Mike merasa bingung.
"Mau ke mana dia?" gumam Mike.
Tristan segera melajukan mobilnya ke sebuah toko mainan anak-anak, entah kenapa Tristan merasa ingin mengirim mainan untuk anaknya itu.
Tristan dengan semangat membeli semua mainan anak laki-laki, mulai dari mobil-mobilan, robot-robotan, dan masih banyak lagi. Senyuman Tristan tersungging saat mengingat anak laki-laki yang dia sia-siakan.
"Pasti Nattan akan senang," batin Tristan.
Setelah berbelanja dan membayarnya, Tristan pun segera membawa mainan itu ke LAPAS khusus wanita, tempat di mana Naura dan anaknya berada.
Ada perasaan menyesal dan bersalah di hati Tristan karena sudah membiarkan anaknya tumbuh di dalam penjara
"Maafkan Papa, Nak," batin Tristan.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Tristan pun sampai di depan LAPAS. Dengan senyum sumringahnya, Tristan menenteng berbagai macam mainan untuk anaknya itu.
Sementara itu, saat ini Naura sedang kerja bakti membersihkan halaman LAPAS. Sedangkan baby Nattan, sedang bermain dengan ditemani Susan, Sipir wanita yang sangat menyayangi Nattan.
"Naura, ada yang ingin bertemu denganmu," seru Pak Usman.
"Siapa Pak?"
"Katanya, namanya Tristan."
Seketika gunting rumput yang Naura pegang terjatuh begitu saja, Naura seperti mimpi Tristan mau menemuinya ke LAPAS. Namun sayangnya, Naura sudah tidak mau bertemu dan melihat Tristan lagi.
"Suruh saja dia pulang Pak, saya tidak mau menemuinya," seru Naura.
"Tapi dia membawa banyak mainan untuk Nattan."
"Suruh bawa lagi, Nattan tidak butuh mainan."
Semua orang hanya melihat Naura dan tidak ada yang bicara sedikit pun, mereka tahu kalau orang yang saat ini ingin menemui Naura, pasti orang yang sangat Naura benci.
Soalnya kemarin juga ada yang ingin menemui Naura tapi Naura menolaknya, dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Chris.
Pak Usman pun tidak bisa memaksa, ia segera meninggalkan Naura dan kembali menemui Tristan.
"Maaf Mas, Naura tidak mau bertemu dengan anda."
"Apa? Tapi kenapa?"
"Maaf saya tidak tahu Mas, bahkan kemarin pun ada yang ingin menemui Naura, Naura menolaknya."
"Kemarin ada yang menemui Naura? Siapa Pak?"
"Kalau tidak salah namanya Chris."
"Oh."
"Ya sudah, kalau begitu berikan saja mainan ini untuk Nattan."
"Maaf Mas, kata Naura mainannya Mas bawa pulang lagi karena Nattan tidak membutuhkannya."
Seketika hati Tristan merasa sedih, sebesar itukah Naura membencinya sampai-sampai dia tidak mau menerima pemberian darinya.
"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu."
Tristan akhirnya meninggalkan LAPAS itu dengan perasaan sedihnya, bahkan mainannya pun dia bawa kembali dan dia akan menyimpannya.
Hatinya begitu sakit, Naura memang pantas membencinya karena dia adalah orang yang menyebabkan Naura di penjara.
Tristan memutuskan untuk kembali ke kantor dengan membawa mainan itu.
"Kamu dari mana?" tanya Mike.
"Dari LAPAS."
"Hah dari LAPAS? Kamu menemui Naura?"
"Awalnya memang seperti itu, tapi Naura tidak mau menemuiku."
"Ya iyalah, Naura tidak mau menemuimu. Kamu itu yang sudah menyebabkan dia di penjara, bahkan Naura harus membesarkan Nattan di penjara dan itu sangat tidak mudah. Aku gak tahu nasib Nattan ke depannya, mudah-mudahan saja Nattan tidak mengalami trauma," sahut Mike.
Tristan merasa tertampar dengan ucapan Mike, Tristan benar-benar sudah menyesal sudah memfitnah Naura dan anaknya.
"Kamu simpan mainan ini, nanti kalau aku bertemu dengan Nattan, aku akan berikan mainan itu untuknya," seru Tristan.
***
Malam pun tiba....
Tristan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, malam ini dia begitu malas untuk pulang ke rumahnya. Apalagi harus bertemu dengan Dinda, sungguh dia malas.
Hingga akhirnya, Tristan melihat seseorang yang sangat dia kenal masuk ke dalam mobil.
"Dinda, dia pergi sama siapa?" gumam Tristan.
Tristan segera mengikuti mobil yang ditumpangi Dinda itu, dada Tristan begitu sangat bergejolak, Tristan mengepalkan tangannya.
Hingga akhirnya mobil yang ditumpangi Dinda pun masuk ke sebuah hotel, Dinda dan sang pria keluar dari dalam mobil dan Dinda merangkul lengan pria itu dengan sangat mesra.
Amarah Tristab memuncak, Tristan segera turun dari dalam mobilnya dan menyusul Dinda.
"Dinda!" teriak Tristan.
Dinda menghentikan langkahnya, matanya melotot mendengar teriakan Tristan. Dengan perasaan takutnya Dinda pun membalikan tubuhnya, terlihat Tristan berdiri dengan tatapan tajamnya, terlihat sekali kalau Tristan sangat marah.
kenapa Andre nggak dikasih jodoh jg..
tapi nanti jadi panjang episode atau babnya..
terima kasih author keren...