Lea Miranda tak pernah menyangka, di usia pernikahannya yang Ke 12 tahun, ia mendapatkan ujian yang begitu berat. Yaitu, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri, Arya Dan Chelsea.
Awalnya, Lea memutuskan untuk bercerai dan merasa tak sudi melihat suami dan sahabatnya itu ketika mengetahui perselingkuhan mereka. Namun, ia berubah pikiran ketika teringat bagaimana ia dan Arya membangun rumah tangga, dan bagaimana mereka berjuang dari nol hingga mereka berada di titik yang sekarang.
Akhirnya, kini Lea memilih merebut suaminya kembali. Ia bertekad akan kembali membuat Arya bertekuk lutut di hadapannya dan menghempaskan Chelsea dari hidup mereka.
Bisakah Lea melakukan itu?
Bagaimana caranya ia merebut kembali suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Rumah Tangga Dimulai
Pagi ini Lea sangat bersemangat karena dia akan kembali bekerja setelah 4 tahun lebih ia fokus menjadi Ibu rumah tangga. Wanita itu bahkan berdandan sangat cantik, hingga mendapatkan pujian dari Darrel.
"Mama adalah wanita tercantik di dunia," kata Darrel, ia menatap wajah ibunya itu dengan penuh cinta.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Jihan?" tanya Lea.
"Jihan juga cantik," jawab Darrel.
"Hari ini Papa yang akan mengurus kalian, okay? Jangan nakal, ya. Jangan bikin Papa repot," pinta Lea sembari mengusap kepala Darrel dan Jihan bergantian.
"Aku bisa mengurus mereka, jangan khawatir," sahut Arya.
"Kalau begitu Mama pergi dulu, Sayang."
Lea mencium pipi Darrel, Jihan, kemudian pipi Arya. Bahkan dia sengaja mencium suaminya itu sedikit lebih lama untuk membuat Chelsea kesal.
"Lagi pula dia suamiku, kenapa harus dia yang kesal jika suaminya dicium istrinya sendiri? Dasar perempuan sakit." Lea mencibir dalam hati.
Chelsea tak berkata apa-apa, ia hanya terus diam sembari menikmati sarapannya.
"Hati-hati, Sayang!" seru Arya sebelum Lea pergi.
"Aku juga harus ke kantor," kata Chelsea kemudian.
"Iya," jawab Arya.
Kini, kedua wanita itu sudah pergi, dan Arya masih di meja makan bersama kedua anaknya.
"Darrel, ayo cepat selesaikan, nanti kamu terlambat ke sekolah!" pinta Arya.
Darrel hanya mengangguk, ia pun segera menyelesaikan sarapannya, setelah itu ia ke kamar.
Sementara Arya kini mengurus Jihan. "Jihan masih mau makan, Papa," kata Jihan.
"Oh ya? Emm ... kalau gitu nanti Jihan cuci tangan sama Bibi, ya. Papa mau mengantar Kakak ke sekolah."
Jihan mengangguk pelan, dan lagi-lagi ia mengambil makanan yang jatuh di meja.
"Jihan, makan yang ada di piring!" seru Arya, ia mengambil tissue dan mengelap makanan yang jatuh ke meja.
"PAPA!"
Arya terkejut saat tiba-tiba mendengar suara teriakan Darrel.
Ia pun langsung ke kamar putranya itu. "Ada apa, Darrel?" tanya Arya.
"Papa, buku tugas Bahasa Indonesiaku hilang," rengek Darrel.
"Nggak mungkin hilang, Darrel, paling keselip."
Arya langsung membantu mencari buku putranya itu. "Kenapa buku kamu banyak banget?" gerutu Arya.
"Ya kan aku masih pelajar, Papa, pasti banyak buku. Kalau sudah jadi boss nanti, akan banyak berkas penting," canda Darrel. Namun, itu tidak terdengar lucu bagi Arya. Apalagi hari sudah semakin siang, dan mereka bisa terlambat ke sekolah.
"Ini, bukan?" tanya Arya sembari menunjukkan buku yang bertuliksan Bahasa Indonesia di sampulnya.
"Itu buku materi, Papa, buku tugas itu beda," papar Darrel yang membuat Arya melongo.
"Kenapa harus dipisah, Darrel? Dijadikan satu 'kan lebih simple."
"Lebih enak dipisah, Papa."
...🦋...
Chelsea bekerja seperti biasa, tapi fokusnya sedikit terganggu karena ia memikirkan Arya yang tidak bekerja, sementara Lea justru bekerja. Posisi Lea juga sangat bagus, menjadi sekretaris Farrel di perusahaan cabang.
"Dia enak banget ya hidupnya," gumam Chelsea. "Bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, posisinya juga langsung yang menjamin."
Wanita itu menghela napas berat. "Tapi masih untung dia nggak kerja di kantor ini, mas Arya bisa merasa insecure, dan malu juga."
Sementara di sisi lain, Lea sungguh menikmati perannya saat ini sebagai sekretaris pribadi Farrel.
"Semangat bangat, Bu!"
Lea langsung mendongak saat mendengar suara itu, dan seketika ia terkekeh melihat Carol yang sudah berdiri di depannya. "Jangan goda suamiku ya, Bu! Soalnya saya sama Anda beda, jika Anda berpikir untuk menghancurkan mereka, maka saya berpikir untuk membunuh mereka! Faham?"
Lea langsung tergelak mendengar ocehan Carol.
"Aku masih punya harga diri, dan aku sangat mencintai diriku sendiri, juga kedua anakku, Bu! Jadi aku nggak akan melakukan hal yang bisa merusak hidup kami," balas Lea.
Kedua wanita itu pun sama-sama tertawa. "Oh ya, aku mau ketemu sama bosmu, alias suamiku. Apa dia ada?"
"Masuk aja, selingkuhannya belum datang," gurau Lea.
"Suruh datang, biar aku habisi sekarang!" desis Carol dengan serius, tapi kemudian ia tertawa. "Aku senang kamu kembali tertawa, Lea, dan yang pasti aku senang melihat kamu kembali bekerja."
"Besok ke salon, yuk!" ajak Lea yang membuat Carol langsung mengernyit. "Aku pengen potong rambut, perawatan, pedicure manicure, massage. Ah, pokoknya semuanya deh."
"Wah, ide cemerlang, hem."
...🦋...
Setelah mengantar Darrel ke sekolah, Arya dibuat melongo dengan kelakuan Jihan yang masih ada di meja makan.
"Bi, kenapa Jihan nggak diurus?" teriak Arya kesal.
"Nggak mau, Pak," jawab Bibi. "Tadi Bibi sudah bujuk biar udahan saja makannya, tapi Non Jihan ngga mau,"
"Astaga!" keluh Arya.
Ia langsung mengangkat Jihan dengan paksa dari kursinya, membuat anak itu langsung mengamuk, bahkan menangis.
"Jihan pasti sudah kenyang, nanti makan lagi, ya!" bujuk Arya.
"Nggak mau ... mau makan lagi!"
"HUUAAA... MAMA!"
Arya meringis melihat Jihan yang semakin menjadi.
"Nanti Papa belikan mainan, berhenti nangisnya, ya?"
Jihan langsung berhenti menangis, ia menatap sang Ayah dan bertanya, "Beneran, Papa?"
"Iya," jawab Arya lesu.
Ia pun segera mencuci tangan Jihan, juga mencuci wajahnya yang belepotan.
Setelah itu ia bingung harus melakukan apa lagi. Jadi, ia duduk bersama Jihan yang kini bermain di lantai.
"Pa, mau susu," pinta Jihan kemudian.
"Bi, bikinkan Jihan susu!" teriak Arya. Namun, yang dipanggil tak merespon.
"Bi?" teriak Arya sembari berjalan ke dapur.
"Di kamar mandi, pa!" Bibi balas berteriak, membuat Arya berdecak kesal.
"Pa, susu!" Jihan juga berteriak, yang membuat Arya merasa pusing.
Ia pun membuatkan putrinya itu susu, dan itu butuh waktu lama karena dia masih harus membaca petunjuk cara pembuatannya di kemasan.
"Papa, susu!" Jihan kembali berteriak.
"Perasaan dia nggak pernah teriak sama ibunya," gerutu Arya.
"Sering, Pak!"
"Ah!"
Arya terlonjak saat tiba-tiba mendengar suara Bibi, ia menoleh dan wanita paruh baya itu sudah ada di belakangnya.
"Non Jihan itu memang rewel, Pak, rasanya setiap saat dia berteriak sama Ibu kalau sudah mau sesuatu."
"Oh ya?" tanya Arya. "Tapi aku nggak pernah liat Jihan naka seperti itu."
"Itu bukan nakal, Pak, namanya anak-anak ya memang begitu," sahut Bibi. "Dan bapak memang nggak akan liat kapan Non Jihan berteriak, kan pagi-pagi Bapak sudah ke kantor, pas Bapak pulang anak-anak sudah tidur."
Arya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
terus maju, pantang mundur Arya, perjuangan mu tak akan sia", sekeras apapun hati Lea, dgn melihat kegigihan mu, pastilah Lea akan luluh dan bersedia menjadi istrimu kembali. ..... ibarat batu cadas yg keras, dgn setitik air yg menetes, lambat laun akan berlubang juga itu batu.