🏆 JUARA FAVORIT PEMBACA LOMBA "PENGKHIANATAN" SEASON 2 🏆
Qiana dan Emir sudah menjalin hubungan selama 12 tahun dan rencana mereka akan menikah tahun depan. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendatangi pernikahan Zeline, sahabat baiknya. Ternyata yang menjadi mempelai laki-laki adalah Emir.
Dunia Qiana terasa hancur saat tahu kalau dirinya sedang hamil anak Emir. Sementara laki-laki itu tidak mau mengakuinya. Akibat kejadian itu sang ibu meninggal karena gagal jantung.
Di tengah keterpurukan itu datang penolong yang selalu memberikan penyemangat, yaitu Keenan seorang office boy. Pemuda ini sering membantu Qinan secara diam-diam. Apalagi saat Emir ingin kembali merebut hati Qiana dan Zeline ingin selalu berusaha menghancurkan kehidupannya.
Siapakah Keenan itu?
Apakah Qiana akan mendapatkan kebahagiaan setelah datang banyak cobaan yang menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Identitas Asli Keenan
Bab 26
Qiana dan Keenan saling menatap satu sama lain, yang perempuan menunggu jawaban, sedangkan yang laki-laki bingung bagaimana dia memulai cerita. Sudah lima menit mereka terdiam dengan netra yang saling bersirobok.
"Loh, Ken. Sejak kapan kamu datang?" tanya Bara yang baru saja datang sambil memanggul galon berisi air, sedangkan tangan kiri menjinjing keresek berisi makanan ringan dan berbagai jenis buah-buahan.
"Tidak lama setelah Ayah pergi," jawab Keenan sambil tersenyum tipis dan mengambil keresek dari tangan Bara.
Bara pun langsung meletakan galon itu dibantu oleh Keenan. Qiana langsung mengambil air karena air minum miliknya sudah habis.
Terdengar suara tangisan Shaka, maka Bara pun langsung mendatangi bayi itu bersama Keenan, karena Qiana masih makan. Bayi mungil itu langsung terdiam begitu digendong oleh Bara.
"Sepertinya Shaka terbangun karena suara kita. Tapi, masih ngantuk jadi tidur lagi," ucap Bara sambil terkekeh.
Keenan ingin mengatakan sesuatu kepada Bara. Selain itu dia juga ingin meminta restu untuk hubungannya dengan Qiana.
"A …," ucapan Keenan tiba-tiba terpotong.
"Apa Shaka tidur lagi, Yah?" tanya Qiana yang baru masuk ke kamar.
"Iya," jawab Bara sambil membaringkan kembali cucunya.
Keenan pun akan membicarakan hal penting lainnya ketika mereka ke luar dari kamar. Dia tidak mau mengganggu tidur Shaka.
"Qiana … Ayah, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan," kata Keenan dengan perasaan gugup.
"Katakan saja," balas Bara sambil mengambil segelas kopi yang baru saja dia buat.
Suara dering telepon dari handphone milik Keenan berbunyi. Terlihat ada nama papanya di sana.
"Halo, Pa."
"Ken, cepat ke rumah sakit. Penyakit kakek kambuh kembali dan dia mencari kamu." Suara Gilang di seberang sana.
"Iya, Pa. Aku segera ke rumah sakit sekarang!"
Bara dan Qiana memperhatikan Keenan semenjak handphone milik Keenan berbunyi. Kini terlihat wajah pemuda itu agak pucat.
"Maaf, aku harus segera pergi," kata Keenan dan Qiana pun memberikan pelukan agar perasaan kekasihnya lebih tenang.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut meski saat ini kamu sedang terburu-buru," balas Qiana dan Keenan pun mencium kening sang kekasih.
***
Kakek Keenan adalah seorang pengusaha terkenal bernama Yudha Wijaya. Semenjak muda laki-laki itu sudah banting tulang dan hanya punya waktu istirahat sedikit, sehingga efeknya dia rasakan setelah tua. Penyakit komplikasi yang sering membuatnya drop.
Keadaan Yudha Wijaya yang kritis mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Berita tentangnya pun kini menghiasi di berbagai media cetak dan elektronik.
"Ken," panggil Yudha dengan suaranya yang lemah.
"Ya, Kek. Aku di sini," balas Keenan sambil memegang tangan laki-laki tua yang sering memanjakan dirinya sejak masih kecil.
Air mata Keenan tidak bisa dia tahan lagi. Perasaan dia sangat sedih saat ini melihat keadaan kakeknya saat ini. Sekarang dia tidak bisa mengajak bercanda laki-laki yang sedang menatapnya dengan netra yang sudah mulai kehilangan pancaran cahayanya.
"Mana wanita yang ingin kamu kenalkan kepada kakek?" tanya Yudha dengan seulas senyum tipis.
"Iya. Nanti akan aku ajak untuk bertemu dengan Kakek," jawab Keenan sambil mengusap wajah Yudha karena air matanya meleleh.
"Jika kakek tidak bisa bertemu dengan dia, sampaikan salam untuk dirinya. Jangan lama-lama kalian pacaran, nanti malah diambil sama orang lain."
"Iya, Kek. Makanya Kakek harus sembuh dan bantu aku untuk melamar dia," sahut Keenan.
Yudha hanya tersenyum lalu menutup matanya. Keenan membetulkan letak selimut agar kakeknya bisa tidur dengan nyaman.
Karin dan Gilang hanya diam berdiri di dekat brankar dan mendengarkan pembicaraan kakek dan cucunya itu. Mereka tidak mau mengganggu interaksi keduanya, karena Yudha sering marah jika mereka ikut campur pembicaraan mereka.
***
Ternyata keinginan Yudha untuk bertemu dengan kekasih cucunya tidak bisa kesampaian, karena laki-laki tua itu menghembuskan napasnya saat menjelang pagi. Sejak menutup mata, dia tidak membuka lagi netra itu sampai terlihat tanda garis lurus di monitor.
Banyak para awak media yang meliput berita kematian pengusaha kaya raya itu. Banyak yang melayat juga, baik dari kalangan pengusaha, pejabat, dan karyawan perusahaannya.
Keenan merasa kesedihan yang mendalam. Dia semalam ketiduran dan bangun saat mendengar bunyi dentingan karena denyut jantung yang berhenti dari alat elektroardiograf (EKG). Setelahnya dokter menyatakan kalau sang kakek sudah meninggal dunia.
Pemakaman Yudha Wijaya juga disiarkan secara langsung oleh beberapa berita nasional. Kesedihan keluarga Wijaya dan rekan-rekan keluarga itu terlihat dari raut wajah yang hadir di pemakaman.
Sementara itu, Bara yang sedang mengasuh Shaka sambil menonton berita, terkejut saat melihat ada Keenan di jajaran keluarga Wijaya. Pemuda itu juga ikut menaburkan bunga dan wajah sendunya terlihat jelas meski memakai kaca mata hitam.
"Qiana, coba lihat ke sini!" titah Bara kepada putrinya yang sedang memasak.
"Ada apa, Ayah?" tanya Qiana sambil mendekat.
"Lihat, bukannya itu Ken!" seru Bara sambil menunjuk ke arah laki-laki berjas hitam yang berdiri di samping kuburan.
"Iya, itu Ken. Sedang apa dia di sana?" tanya Qiana.
"Konglomerat yang bernama Yudha Wijaya meninggal dunia. Lalu, Ken berkumpul bersama keluarga dari orang-orang Wijaya," jawab Bara dengan perasaan tidak percaya.
"Apa? Maksud Ayah kalau Ken adalah keluarga Wijaya?" Qiana sangat terkejut.
***
Bagaimana perasaan Qiana setelah tahu identitas asli Keenan? Apakah hubungan mereka akan berjalan lancar atau malah menemui banyak kendala baru? Ikuti terus kisah mereka, ya!
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
knapa yg musuhin Qiana jd 2 gini?
Qiana, kuat ya...
tggu saja