seorang wanita yang mencintai sahabat kecilnya, dia merelakan cinta pertamanya bersama dengan wanita pilihannya. dalam diamnya dia harus memendam perasaan yang teramat menyiksa, tapi cinta yang teramat besar dengan sahabatnya menjadikan dia harus mengorbankan semuanya untuk laki laki yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan clara.
Seperti biasa pagi ini Neta dan James di sibukan dengan berbagai macam pekerjaan yang harus mereka selesaikan, beberapa tumpukan berkas dan deringan telpon mengisi rutinitas pagi mereka.
Neta yang terlihat fokus menatap monitor di depan mejanya, sampai tidak menyadari kedatangan Clara yang melewatinya.
Senyum sinis Clara terlihat saat dia melewati Neta yang tidak menyadari kedatangannya, Clara masuk begitu saja ke dalam ruangan James.
Bunyi suara deritan pintu tak membuat Neta mengalihkan pandangan matanya, Clara yang mendapatkan kesempatan emas segera masuk kedalam dan segera menutup pintunya.
Dapat Clara lihat bagaimana kekasihnya terlihat sangat tampan saat bekerja saat ini, baju putih yang di gulung sampai siku tangan, dasi yang terlihat mengendur dan kaca mata yang bertengger di hidung mancung milik James.
Neta berjalan perlahan mendekati James yang masih fokus membolak balikkan berkas, langkah Neta terlihat gemulai. Dia ingin menggoda kekasih tampannya setelah beberapa hari lalu telah membatalkan kepergian mereka ke Singapura, karena alasan yang menurutnya tak masuk akal.
Tangan gemulai clara perlahan melingkar ke leher milik james, merasakan bau parfum yang sangat dia kenal dan tangan yang dia tahu siapa pemiliknya. james mendengus kesal, konsentrasinya saat ini tengah di ganggu oleh kekasihnya, sedang clara yang tahu jika james tidak suka dengan perlakuannya segera menjauhkan dirinya.
"kamu kesal aku datang ke sini...?" ucap clara terdengar kesal.
james segera melepaskan jemari tangannya dari berkas yang tadi dia baca, dia membalikkan perlahan menatap clara yang terlihat kesal.
"kamu marah, atau kesal...?"
clara menautkan kedua alisnya, dia terkejut dengan ucapan james yang terdengar berbeda. clara menatap james dari atas sampai bawah, dia ingin memastikan jika laki laki yang kini duduk di depannya memang adalah kekasihnya.
"kamu james kan, bukan kembarannya...?"
clara masih menatap tajam, sedangkan james menghela nafasnya berat. dia merasa suatu tekanan yang di rasakan dari sorot mata clara.
"aku capek clara, kamu lihat tumpukan berkas di atass mejaku...? dan kamu aku juga bisa melihat jika kamu membawa beberapa berkas di tanganmu."
mata james melihat berkas yang di samping meja di belakang clara, kedua bibir clara sedikit terangkat. dia merasa bersalah karena ucapan james yang terdengar ada benarnya. tidak seharusnya dia kesal karena perkataan james, dia tahu jika saat ini yang james butuhkan hanya ketenangan.
"maaf... kalau begitu kamu butuh apa, biar aku siapkan."
clara yang akan beranjak gerakkannya terhenti saat james yang tiba tiba menghentikan clara.
"lebih baik keluar, aku butuh waktu sendiri untuk menyelesaikan semuanya. sepulang kerja aku akan menggantarkanmu pulang."
james masih menatap clara, dia ingin melihat bagaimana reaksi clara.
clara masih diam tanpa ada reaksi apapun, james dapat melihat jika clara sangat keberatan untuk meninggalkan ruangan james. helaan nafas james terdengar sangat jelas, dan clara tahu jika james serius akan ucapannya.
"baik baik, aku akan keluar."
clara melangkah menjauh dari meja kerja james, meninggalkan james sendiri dengan tatapan yang terarah melihat kepergian clara. saat clara akan membuka pintu. handel pintu yang tiba tiba bergerak membuat clara sedikit merasa kaget, terlihat neta yang datang membawa beberapa map biru di tangannya.
"clara...?" panggil neta dengan wajah bingung.
"neta..." lirih clara menimpali panggilan neta.
"dari mana kamu masuk...?"
suara neta terdengar sampai ke telinga james, james yang dari tadi kembali fokus membaca berkas yang di serahkan clara kembali pandangannya teralihkan melihat wanita yang berdiri di tegah tengah pintu.
"aku... aku... "
clara tampak bingung mencari alasan yang bisa neta terima, melihat kedua mata neta yang menatap tajam clara. entah kenapa tiba tiba nyali clara menyusut seketika, dia takut salah berucap dan bisa mengakibatkan james semakin bertambah kesal.
clara membalas tatapan mata neta tak kalah tajam, setelah clara menemukan jawaban yang akan membuat neta nanti akan di salahkan oleh james.
"aku tadi sudah memanggilmu, tapi kamu malah asik bermain ponsel. entah kamu sedang menghubungi siapa...? makanya kalau kerja itu fokus kerja, jangan main posel aja kerjaannya."
neta berfikir memang tadi dia sedang membalas pesan eric yang akan mengajaknya makan setelah menanyakan kabarnya, tapi seingat neta dia hanya berbalas pesan tidak sampai memakan waktu lama dan dia yakin jika dia tidak melihat clara yang akan ke ruangan james.
"tapi aku tidak melihatmu akan masuk ke ruangan pak eric, atau ..." neta menghentikan ucapannya, melihat neta yang terlihat lengah clara segera memanfaatkan situasi yang seakan mendukungnya.
"jangan jangan kamu sedang berbalas pesan sama cowok kamu ya...? oh iya aku sampai lupa, aku dengar dengar bisik bisik para karyawan kalau kamu sudah punya cowok ya, sampai sampai dia rela anterin kamu ke rumah orang tua kamu."
kedua tangan clara bertumpu di atas dadanya, dia menatap neta dengan pandagan mata yang terlihat sinis. james yang mendengar ucapan clara segera berjalan mendekat, dia merasa jika neta tidak becus dengan pekerjaannya sebagai sekertaris. sampai dia tidak tahu dengan kedatangan clara yang akan ke ruangannya, padahal tadi james sudah berpesan untuk jangan ada satu orangpun yang menggangunya.
mendengar jika neta bermain ponsel saat jam kerja membuat dada james terasa mendidih, dia yakin pasti neta tengah berkirim pesan dengan eric.
"benarkah begitu neta...? dengan apa yang clara ucapkan...?"
suara james terdengar berat dan terasa penuh kekesalan, neta dapat merasakan dari nada bicara james.
"aku... maksud saya, tadi saya hanya sebentar membalas pesan dari eric."
james yang mendengar nama eric di sebutkan merasa geram, kemarahannya semakin memuncak saat itu juga. sedangkan clara tersenyum sini melihat ketidak berdayaan neta, dia senang melihat james yang menalahkan neta.
"kamu lihat kan sayang, bagaimana dia bekerja setelah kini dia sudah punya kekasih. dia semakin sembrono dan tidak pecus, bisa bisa nya dia tidak tahu kalau aku datang."
clara menautkan tangannya ke lengan james, dia menatap neta yang menundukkan kepalanya. rasanya hari ini clara sukses membuat neta di salahkan oleh james, merasakan lenganya di gandeng clara dengan tidak tahu malunya james segera merangkul pundak clara.
neta yang semakin kesal melihat sepasang kekasih yang bermesraan di depannya merasa geram sendiri, jiwanya seakan ingin berteriak sekencangnya. dia tidak suka dengan ketidak berdayaannya saat ini, apa lagi dia di salahkan di depan rivalnya oleh james yang seharusnya melindunginya.
"kita lebih baik keluar, biarkan dia merenungkan kesalahan yang telah dia lakukan. dan kamu neta...!! ingat...!! jangan lakukan kesalahan yang sama seperti tadi, saya tidak suka itu. kalau perlu mulai besok, ponsel kamu aku sita selama kamu bekerja. aku tidak ingin kamu membuat kesalahan yang serupa."
james mengajak clara keluar menjauh dari neta yang masih berdiri mematung, neta mengepalkan tangannya erat. dia kesal karena james yang mendengaran ucapan clara tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih dulu.
"sialan kalian, awas aja ya... akan aku balas kamu james dan aku akan balas tindakkanmu clara, suatu saat nanti. ya... suatu saat nanti, aku akan balas semuanya."
neta menggepakan tangannya erat, sampai kuku jarinya memutih.