Semenjak Kedamaian telah di dapatkan, kini ada yang berbeda dari sikap Historia.
Griffin selalu saja bertanya apa yang sedang di rasakan oleh istrinya, tetapi Historia tidak mau jujur kepadanya.
Begitu juga dengan Lyla, wanita itu berusaha bangkit dari kesakitannya, berjuang demi buah hatinya. Bertahan dan membesarkan buah cintanya tanpa mendiang Dery.
Ke dua pasangan itu, harus merasakan sakit yang mereka tidak bisa bayangkan sebelumnya.
Apakah yang akan mereka dapatkan? Tidak adakah kebahagian untuk mereka?
Yuk ikuti kisahnya, Ini Season 2 dari Karya Cassino King ya.
Jadi kalau mau Nyambung Baca yang Cassino Kingnya aja dulu. Oke 🙏🏻❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrieta rendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tukang Pijat
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Di pagi harinya, Lyla terbangun dengan tubuhnya yang begitu lelah. Dia meras tubuhnya sakit semua, karena acara kemarin memakan waktu seharian dan membuatnya kurang beristirahat.
Lyla keluar dari kamarnya, berjalan untuk ke bawah, dia ingin mengambil air minum karena terasa sangat haus sekali.
“Sayang,” tegur Freya, ketika melihat putrinya yang sedang berada di dapur.
“Eh, mamah,” sahut Lyla, sedikut terkejut dengan kehadiran mamahnya yang tiba - tiba juga ada di dapur.
“Kamu sedang apa sayang?” Tanya Freya, merasa tidak biasa putrinya ada di dapur.
“Lyla sedang minum mah, air di kamar Lyla habis, jadi Lyla turun buat ambil minum.” Jawab Lyla, memperlihatkan gelasnya yang berisi air minum itu.
Freya tersenyum lalu menganggukan kepalanya pelan. “Lain kali kalau mau turun dari kamar, boleh panggil mamah, atau pelayan di sini ya sayang, Mamah khawatir kamu jalan - jalan pakai lift dengan membawa perut besar gitu.” Ujarnya, memberikan peringatan pada putrinya.
“Mamah, Lyla udah dewasa Mah, Lyla bisa jalan sendiri.” Protes Lyla, dengan menampilkan wajah cemberutnya. Mamahnya itu sekarang jauh lebih protective di saat kandunganya sudah memasuki usia 6 bulan.
“Mamah tahu sayang kamu sudah dewasa, tapi mamah khawatir aja sayang.” Balas Freya lagi, dan kali ini tidak ada kalimat yang terdengar main - main untuknya.
“Baiklah Mah, maaf ya Mah, lain kali Lyla akan bilang kok.” Lyla sama sekali tidak bisa menyalahkan rasa kekhawatiran putrinya itu.
Karena dia tahu Mamahnya dan juga papahnya pasti akan selalu melakukkan hal terbaik untuknya dan anak - anaknya nanti.
Setelah itu, Freya langsung merangkul Lyla untuk berjalan ke ruang tamu.
“Oh ya Mah, badan Lyla semuanya sakit, kayanya Lyla butuh di pijat deh.” Adunya pada Freya, meminta seseorang untuk bisa memijatnya.
“Tapi sayang, bukannya kata Elizabeth kalau sudah masuk trisemester yang 3 sudah tidak boleh di pijat ya?” Tanya Freya, mengingatkan Lyla apa yang pernah di beritahukan oleh dokter kandungan anaknya.
“Tapi badan Lyla sakit semua mah, coba telpon Elizabeth deh, untuk tanyakan mengenai hal ini,” pintanya pada Freya. Dia tahu jika Elizabeh pernah mengatakan pijat untuk ibu hamil itu tidak boleh.
“Oke, kita telpon ya.” Balas Freya, lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan mencari nama Elizabeth di sana.
📞
Elizabeth : Hallo Bun.
Freya : Hallo, Elizabeth, maaf ganggu ya, lagi sibuk tidak ya?
Elizabeth : Tidak seberapa sih Bun, baru selesai periksa pasien. Ada apa ya?
Freya : jadi gini, Lyla merasa tubuhnya sakit semua karena acara kemarin. mau tanya, apa dia bisa ya di pijat refleks gitu?
Elizabeth : hemm, sebenarnya sih tidak boleh ya bun, tapi kalau memang sudah tidak anak banget, boleh di lakukkan. Tapi hanya boleh betis, bahu dan tangannya. Punggung tidak boleh.
Freya : oh gitu, baiklah kalau begitu makasih ya.
Elizabeth : sama - sama bun.
“Bagaimana Mah? Apa katanya?” Tanya Lyla penasaraan.
“Boleh katanya, tapi hanya boleh di Bahu, tangan dan betis, selain itu tidak boleh.” Jawab Freya, memberitahukan apa yang di beritahu oleh Elizabeth tadi.
“Ya udah tidak apa - apa mau, yang penting bisa sedikit menghilangkan pegal - pegal di badan Lyla.” Tandasnya, membuat Lyla menganggukan kepalanya pelan, dan lalu menelpon pijat langgannanya untuk datang ke rumah memijat Lyla.
****
Sedangkan di sisi lain, terlihat Mario yang terlihat tidak mengenakan baju, dan hanya mengenakan celana panjangnya saja.
Tanganya juga terlihat mengenakan sarung tangan, dan berdiri di sebuah ruangan gelap bersama dengan anak buahnya yang lain.
Buggghhhh,bugghhhhh, suara pukulan terdengar begitu nyaring dan juga suata teriakan memperlihatkan seorang pria yang wajahnya sudah sangat - sangat tidak berbentuk.
“Hanya satu saja? Bukannya ada 2?” Tanya Mario pada anak buahnya.
“Yang satunya sudah mati Tuan, mereka menyimpan satu butir obat yang mengandung racun di balik lidah mereka, dan jika keadaan darurat mereka akan menggigitnya untuk bunuh diri.”
“Tetapi, kami berhasil mencegah pria yang ini, dan mengambil obatnya secara paksa.” Jawab anak buah Mario, membuat Mario terdiam dan hanya menganggukan kepalanya saja.
”Griffin,” lirih Mario, ketika dia melihat cucunya itu tiba - tiba ada di dalam ruangan rahasianya itu.
“Aku yang akan membuatnya untuk membuka suara Grandpa.” Ucap Griffin, lalu melihat ke arah pria yang sudah menangis menahan sakit.
Griffin memberikan sebuah kode agar pria yang menghajar sandera itu berhenti untuk memukuli.
“Kamu yakin Fin?” Tanya Mario, menanyakan masalah ini pada cucunya.
Griffin menganggukan kepalanya pelan, sudah lama dia tidak bermain - main selama dia menikah dengan mendiang Historia.
“Fin tapi, mamah kamu bakal tidak suka kamu melakukkan ini,” Mario kembali memberikan peringatan pada Griffin. Namun, sepertinya tekat cucunya itu sudah bulat untuk melakukkan penyiksaan ini.
Karena melihat Griffin sudah sangat yakin, Mario tidak bisa berkata apa - apa lagi, dan membiarkan saja Griffin untuk melakukkannya.
Griffin terlihat merenggangkan jari - jarinya, lalu duduk tepat di depan pria yang sedang di sandera itu. “Jadi, apakah kamu mau memberitahu orangnya?” Tanya Griffin dengan lembut, tetapi terlihat tangannya sedang mengadah meminta sebuah alat dari anak buahnya.
“Maafkan saya, tapi bukan saya yang menabraknya, paman saya hanya mengajak saja, dan dia yang mengemudi mobilnya.” Jawabnya dengan suara yang gemetaran di campur tangisan, karena merasa takut dengan situasi ini.
Griffin hanya diam dan menganggukan kepalanya. “Baiklah ini mungkin akan terasa sedikit sakit.” Balas Griffin, dengan memperlihatkan alat untuk mencabut kuku.
“Jangan, jangan.” Pekik pria itu, tapi dia tidak bisa melakukkan apapun, karena tangannya di ikat dengan kuat.
“Aarggghhhhh, jangan, ampunnn, ampun.” Mohonya tidak kuat lagi menahan siksaan yang mereka berikan.
Namun Griffin hanya diam saja, dan kembali meminta pisau kecilnya. Membuat pria itu semakin menjerit ketakutan.
“Saya mohon jangan, saya memang tidak tahu siapa yang menyuruh, saya sudah berkata jujur, saya mohon akhiri semuanya, jangan lagi.” Pinta memohon dengan Griffin.
“Iya - iya, saya paham, pasti rasanya sakit sekali ya.” Balas Griffin kembali menampilkan senyumnya.
Jlebbbbb, “aarggghhhhh, sakitttt.” Jerit pria itu, ketika Griffin menusuk pahanya dan bahkan menggoyang - goyangkan pisau itu hingga membuat rasa sakitnya jauh lebih terasa.
“Oh ayolah, kamu masih mau menutupinya?” Tanya Griffin lagi. Lalu mencabut pisau itu.
“Tolong, saya tidak tahu. Tolong ampuni saya,” jawabnya meminta belas kasihan pada Griffin.
“Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau aku memotong jarimu satu?” Tanya Griffin, kembali membuat pria itu bergetar ketakutan.
“Janggaaaannnn, janggaannnn. Jangannnnn. Saya memang tidak tahu, tetapi saya mendengar paman saya menanggil dengan sebutan Bos Kintan.” Jawabnya, namun sepertinya semua sudah terlambat.
Griffin tetap melayangkan pisaunya dan memotong jari pria itu satu persatu.
“Jangan, jangan, aarrgggggggggghhhh.”
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*