Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Triplet Remaja.
Apa itu cinta?
"Bullshit!" jawab Pollux dengan senyum sinis.
"Cinta?" Pax tertawa. "Gairah," imbuhnya dengan wajah menggoda.
"Cinta? Pax dan Pollux." jawab Paula dengan gidikan bahu tidak acuh. "Tidak akan ada pria yang mencintaiku sebesar Pax dan Pollux," imbuhnya dengan gumaman kecil.
***
"Kenapa kau ikut kemari?" Pollux menatap sekilas gadis dengan kuncir kuda dan kaca mata berbingkai bertengger di wajahnya yang penuh dengan bintik merah. Megan, gadis kutu buku yang selalu menjadi rival Pollux dalam meraih prestasi.
Megan, sahabat adiknya, Paula. Sahabat. Dan percayalah, keduanya terlihat sangat berbanding terbalik. Paula dengan kecantikan yang paripurna, sedangkan Megan, dengan kesederhanaan yang membuatnya tidak terlihat jika bersanding di sisi Paula.
Kedua sahabat itu selalu saling menempel, tapi banyak warga sekolah yang seakan tidak melihat gadis cupu itu. Ya, penampilan Megan sangat tidak enak dilihat. Dan gadis itu sering menjadi korban bullyan karena bisa dekat dengan Pax, yang menjadi pangeran di sekolah.
"A-aku..."
"Ingin memberikan dukungan pada, Pax?" Pollux kembali menatapnya, hanya sekilas, lalu bersedekap, menyandarkan tubuhnya ke dinding, kembali fokus ke arah para saudaranya yang sedang diintrogasi.
"Bu-bukan..."
"Kenapa tidak sekalian kau membawakan pompom, bernyanyi serta melompat dan menari, mungkin dengan begitu Pax akan tersanjung."
"Tapi aku bukan cheleeders," gumam Megan pelan sembari menundukkan kepalanya, memainkan ujung sepatunya di lantai.
"Aku hanya menyindirmu," aku Pollux jujur, lalu melangkah pergi meninggalkan Megan untuk menghampiri Aaron.
Polisi menarik napas panjang, menatap beberapa siswa SMA yang terbilang cukup sering mendatangi kantornya. Sang polisi bersedekap, menunggu penjelasan dari siswa pembuat onar tersebut. Tapi sepertinya ketujuh siswa itu lebih memilih untuk bungkam.
"Setidaknya kali ini, kau datang tidak dengan penampilan berantakan, Nona Paula," si polisi membuka suara.
"Ya, kali ini aku menjadi rebutan, sir. Bukan korban atau pun tersangka," sahutnya enteng, membuat Pax yang duduk di sebelahnya berdecak kesal. Wajah tampan saudara kembarnya itu terlihat memar, dan sudut bibirnya terlihat berdarah.
"Rebutan? rebutan saudara kembarmu sendiri?" si polisi mengernyitkan dahi tidak faham.
Paula memutar bola mata jengah. Si polisi ini bodoh atau bagaimana. Bagaimana mungkin Pax memperebutkan dirinya.
"Di mana sopan santunmu, Lala." Aaron menegurnya dengan lembut.
Paula menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tajam. "Pertanyakan itu pada dirimu yang menghajar wajah kekasihku!" sengitnya dengan wajah kesal bercampur marah.
Pria yang duduk di sisi kirinya tersenyum simpul karena merasa mendapat pembelaan. Pria yang Paula sebut sebagai kekasihnya-Lucky, nama pria itu. Melihat wajahnya yang babak belur, nama Lucky sungguh tidak sesuai dengan dirinya. Paula meringis, bibir dan mata pria itu sudah membengkak sebesar telur angsa yang siap santap.
"Jadi maksudmu keributan kali ini terjadi hanya karena dua pria ini memperebutkanmu?" si polisi menunjuk Aaron dan Lucky secara bergantian.
"Sepertinya aku harus meralatnya," Paula melipat kedua tangannya di atas meja, menatap wajah si polisi dengan serius. "Jadi kejadiannya seperti ini."
Paula mulai membeberkan cerita menurut versinya. Ia dan Lucky, sedang berjalan di pelataran parkir sekolah, menuju mobil pria itu. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada saudara kembarnya untuk pulang bersama Lucky.
Pax dan Pollux tidak memberi izin, tapi ia tidak peduli sama sekali, karena sesungguhnya mereka tidak menyukai Lucky. Tepatnya Pax yang tidak menyukai Lucky.
Sesampainya di depan mobil, Lucky membukakan pintu untuk Paula. Sebelum Paula masuk, Lucky membenarkan anak rambut yang menempel di wajah cantiknya, dan saat itu lah si pengacau Aaron datang, menarik leher Lucky hingga terjungkal ke belakang.
Lucky tidak terima, berhubung pria itu adalah ketua basket di sekolah, tentu saja ia juga cukup terkenal dan disegani. Para anak buahnya segera menghampiri dan membantu Lucky. Pax dan Pollux datang. Melihat Aaron berkelahi dengan beberap orang, rasa persaudaraannya terpanggil begitu saja. Terjadilah baku hantam antara Aaron, Pax melawan Lucky bersama teman-temannya.
Lalu apa yang dilakukan Pollux? tentu saja menghubungi polisi. Ia tidak ingin mengotori tangannya untuk hal unfaedah seperti itu. Ia melihat Paula baik-baik saja, jadi sepertinya ia tidak perlu turun tangan.
"Aku mengira dia menciummu," Aaron bersuara setelah Paula menjelaskan kronologinya.
"Memangnya kenapa jika dia menciumku? Dia kekasihku."
"Kau masih kecil!" Aaron, Pollux dan Pax, kompak menjawab.
Baru saja Paula ingin menjawab, pintu ruangan terbuka. Lucas Willson, Daddy mereka memasuki ruangan, menatap satu persatu wajah anak-anaknya.
"Daddy," Paula segera berdiri, dan menghambur ke dalam pelukan Daddy-nya. "Kali ini bukan ulahku, Dad." Ia mendongakkan kepalanya.
Lucas menunduk, tersenyum geli sembari mengusap rambut putri semata wayangnya itu. "Jika pun ulahmu, Daddy tidak akan terkejut, Honey. Hanya saja kenapa pria itu berdiri di sana?" tunjuk Lucas kepada Aaron. Pasalnya Aaron sedang berada di luar negeri melanjutkan study-nya.
"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli, Dad."
Lucas terkekeh, ia mengangguk lalu merangkul putrinya mendekati para saudaranya.
"Maafkan anak-anakku Mr. Robert. Kau selalu disusahkan oleh mereka," pungkas Lucas dengan wajah tidak benar-benar meminta maaf.
"Sudah menjadi tugas kami," sahut Mr. Robert dengan tarikan napas panjang. Memangnya siapa yang bisa menghukum anak-anak dari Lucas Willson?
"Jadi adakah yang bisa menjelaskan perkara ini?" tanya Lucas, menatap Aaron, Pollux, Pax, Lucky dan dua temannya.
"Aku menghajar pria yang disebut putrimu sebagai kekasihnya, Uncle," sahut Aaron, dengan tatapan tertuju pada Paula yang langsung meleletkan lidahnya.
"Aku membantu Aaron, karena dia diserang oleh si brengsek itu dan teman-temannya."
"Pax, perhatikan ucapanmu," tegur Daddy-nya, yang tidak membenarkan anak-anaknya berkata kasar.
"Maafkan aku, Dad."
"Sepertinya kau kalah, wajahmu mendapat banyak luka. Aaron tidak terluka sama sekali. Dan kau Pollux? Apa yang kau lakukan?" Lucas menatap Pollux.
"Menghubungi polisi," jawabnya lempeng.
"Ya, pekerjaan bagus, Dude!" puji Lucas dengan wajah geli.
"Butuh rumah sakit?" Kembali Lucas menatap Pax dan Lucky juga teman-temannya.
"Aku tidak butuh rumah sakit, tapi sepertinya calon menantumu dan para anteknya butuh perawatan," Pax tersenyum sinis, menatap Lucky dengan tatapan mengejek.
"Baiklah Lucky, melihat lukamu dan teman-temanmu, apa kalian ingin mengajukan tuntutan kepada Pax dan Aaron?"
"Dad!" tegur Pax tidak suka dengan pertanyaan Lucas.
Sebelum menjawab pertanyaan Lucas, Lucky menatap Paula untuk mendapat persetujuan. Pax berdecak.
"Kau sudah mendapat perlakuan tidak enak, kau berhak untuk menuntut mereka," ucap Paula dengan melayangkan senyum sinis ke arah Aaron.
Aaron terlihat tenang, tiak peduli apakah Lucky mau menuntutnya atau tidak.
"Karena kau berkata seperti itu, aku tidak akan sungkan, baby," semua mata kompak menoleh ke arah Lucky yang membuat pria itu susah payah untuk menelan ludahnya.
Lucky pun membuat laporan terhadap Aaron dan Pax, yang langsung dicatat oleh Mr. Robert.
"Adik macam apa kau ini," Pax menatap Paula dengan kesal.
"Dad," rengek Paula.
"Pax, jangan melotot ke arah adikmu!" Lucas memberi peringatan.
"Lucky sudah membuat laporan, apa kau tidak ingin membuat laporan, Aaron" Lucas kembali bertanya pada Aaron yang membuat semuanya mengernyit kecuali Aaron dan Mr. Robert. Ia cukup mengenal Lucas, pria itu tidak akan membiarkan putranya mendekam di penjara.
"Tentu saja. Pelecehan di depan umum terhadap adik perempuanku."
Paula dan Lucky menganga. Itu tidak betul.
"Itu fitnah!" sergah Lucky.
"Aku punya saksi. Pax dan Pollux. Kau ingin mencium Paula," jawab Aaron dengan tenang yang diangguki si kembar dengan kompak.
"Paula." Lucky meminta pembenaran.
"Dad.." rengek Paula.
"Maaf, honey. Tidak ada kemenangan untukmu kali ini." Lucas menyentil hidung putrinya.
NB: Bab selanjutnya, cerita si Kembar Tiga sudah dewasa ya.