Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Salah Paham
Sementara Bryan memulai dari Surabaya, Seline kembali ke Hartono dengan perasaan seperti membawa dua bayangan sekaligus.
Yang pertama adalah Tao, nama yang baru saja ia kunci lagi lewat email galeri.
Yang kedua adalah Wijaya, nama yang sejak dulu tersembunyi di liontin gioknya dan kini terus mendekat lewat tatapan Bryan.
Mobil Jason berhenti di area samping rumah besar. Biasanya Seline turun cepat, mengucapkan terima kasih, lalu masuk melalui jalur belakang agar tidak menarik perhatian. Pagi itu ia baru membuka pintu ketika Jason berkata, "Kalau Bryan muncul lagi di sekolah Darren, kabari aku."
Seline menoleh. "Ko Jason tidak perlu ikut repot."
"Aku yang antar kalian ke sekolah. Kalau ada orang membuatmu tidak nyaman di sana, itu sudah jadi urusanku juga."
Kata-kata itu hangat, tetapi Seline justru makin gelisah. Terlalu banyak orang mulai menaruh perhatian. Terlalu banyak perhatian berarti terlalu banyak celah untuk disalahartikan.
"Terima kasih," katanya hati-hati. "Tapi aku bisa mengurusnya."
Jason tidak tersinggung. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Aku tahu kamu bisa. Aku cuma bilang, kamu tidak harus selalu sendirian."
Seline turun dengan dada yang terasa sedikit lebih berat.
Ia belum sempat melangkah jauh ketika suara Vivian terdengar dari arah beranda samping.
"Pagi sekali sudah diantar pulang, Seline."
Seline menutup pintu mobil pelan.
Vivian berdiri di dekat tiang beranda dengan gaun rumah berwarna krem dan rambut ditata rapi. Seolah ia memang menunggu di sana. Di belakangnya, Jessica baru keluar dari pintu samping sambil membawa gelas kopi susu, wajahnya langsung berubah ketika melihat situasi.
Jason ikut turun. "Pagi, Vivian."
Vivian tersenyum padanya. "Ko Jason baik sekali. Setelah antar Darren, masih sempat antar Seline pulang. Perhatian seperti ini jarang, ya."
Jessica mendecak. "Vivian, pagi-pagi jangan mulai."
"Aku cuma bicara." Vivian menoleh pada Seline. "Kemarin Ko Wilson, pagi ini Ko Jason. Di rumah ini, kamu sibuk sekali."
Udara pagi yang tadinya lembap terasa mendadak tajam.
Seline menatap Vivian. "Saya pulang dari mengantar Darren."
"Tentu." Vivian tersenyum lebih manis. "Semua selalu ada alasan yang terdengar benar."
Jason melangkah maju, tetapi Seline mengangkat tangan sedikit, menghentikannya. Kalau Jason membelanya sekarang, Vivian akan mendapat bahan baru.
"Kalau Vivian ingin bertanya soal Ko Wilson," kata Seline, "tanyakan pada Ko Wilson."
"Aku memang akan bertanya." Suara Vivian turun. "Tapi calon tunanganku bicara berdua denganmu lebih dulu daripada denganku. Menurutmu itu wajar?"
Jessica meletakkan gelasnya di meja beranda dengan bunyi cukup keras. "Yang tidak wajar itu kamu menunggu orang di pintu cuma untuk menyindir."
"Jess, kamu tidak mengerti."
"Aku mengerti lebih dari cukup."
Langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Wilson muncul di pintu samping, mungkin hendak menuju garasi. Ia berhenti ketika melihat mereka.
Vivian langsung menoleh. "Ko Wilson, kebetulan. Aku ingin dengar langsung."
Wilson menatap Seline, lalu Jason, lalu Vivian. Wajahnya tetap datar, tetapi rahangnya mengeras.
"Aku yang memanggil Seline kemarin," katanya.
Vivian tertawa pendek. "Itu justru yang ingin aku tanyakan. Kenapa?"
"Untuk meminta maaf."
"Minta maaf soal apa sampai harus berdua di koridor?"
Seline merasakan bahaya sebelum kalimat itu selesai. Surat lama. Tante Chen. Perangkap yang dulu nyaris meledak. Kalau Wilson menjawab terlalu jelas di depan Jessica dan Jason, nama Tante Chen bisa terseret. Kalau ia tidak menjawab, Vivian akan terus menekan.
Wilson berkata, "Urusan lama yang tidak ada hubungannya denganmu."
Wajah Vivian memerah. "Sekarang semua yang berhubungan denganmu ada hubungannya denganku."
"Belum." Suara Wilson dingin. "Pertunangan belum dilakukan."
Kalimat itu membuat Vivian seperti ditampar.
Jessica menarik napas kecil. Jason diam, tetapi sorot matanya menajam.
Seline tidak menikmati kemenangan kecil itu. Ia hanya merasa situasi semakin buruk. Vivian yang dipermalukan tidak akan berhenti. Ia akan mencari tempat lain untuk menggigit.
Benar saja, mata Vivian kembali padanya.
"Kamu dengar? Senang sekarang?" tanyanya pelan. "Semua orang di rumah ini tiba-tiba punya alasan untuk membelamu."
"Vivian."
Suara Tante Chen datang dari belakang Wilson.
Semua orang menoleh. Tante Chen berdiri dengan senyum tipis yang terlalu tenang. Seline tidak tahu sejak kapan ia berada di sana, tetapi dari sorot matanya, ia sudah mendengar cukup banyak.
"Pagi-pagi jangan ribut di beranda," kata Tante Chen. "Tetangga bisa dengar."
Vivian menunduk, tetapi tangannya mengepal di sisi gaun.
Tante Chen menatap Wilson. "Kamu juga. Kalau ada hal lama, selesaikan dengan dewasa. Jangan membuat calon tunanganmu merasa tidak dihargai."
Wilson tidak menjawab.
Lalu Tante Chen menoleh pada Seline. Nada suaranya tetap lembut, tetapi matanya keras. "Seline, kamu anak pintar. Kamu tahu rumah besar seperti ini mudah salah paham. Jangan berdiri di tempat yang membuat orang lain punya bahan bicara."
Itu bukan nasihat. Itu peringatan.
Seline menunduk singkat. "Saya tidak pernah mencari bahan bicara, Tante."
"Kadang orang tidak mencari, tapi tetap membawa."
Jessica hampir menyahut, tetapi Jason lebih dulu berkata sopan, "Tante, saya yang mengantar Seline karena Darren sekolah. Tidak ada yang perlu disalahpahami."
Tante Chen tersenyum kepadanya. "Ko Jason tentu baik hati. Tante hanya menjaga suasana rumah."
Kata menjaga terdengar seperti menutup pintu dari luar.
Seline tahu percakapan itu sudah tidak bisa dimenangkan. Ia pamit singkat dan masuk melalui koridor samping. Di belakangnya, suara Vivian tertahan, suara Jessica marah pelan, dan suara Tante Chen yang terus halus seperti kain sutra yang membungkus pisau.
Di kamar, Seline baru berani membuka ponsel.
Ada balasan dari galeri.
Kami sudah menyampaikan keputusan Tao. Kolektor menghormati batas komunikasi tertulis, tetapi meminta agar namanya tetap dicatat sebagai prioritas bila suatu hari Tao bersedia menerima pertemuan pribadi.
Seline duduk di tepi ranjang.
Menghormati batas.
Untuk saat ini.
Ia menutup mata. Kevin tidak memaksa hari ini. Tetapi Kevin Hartono bukan orang yang mudah berhenti hanya karena pintu pertama terkunci.
Di tempat lain, jauh dari rumah Hartono, Bryan duduk di mobil setelah acara sekolah selesai. Stafnya mengirim beberapa tautan arsip publik dari Surabaya, kebanyakan tidak berguna. Catatan lomba sekolah. Artikel kegiatan panti. Berita keluarga kecil yang tidak cocok dengan tahun pencarian.
Lalu satu pesan baru masuk.
Pak, ada indeks koran lama yang mungkin relevan. Edisi Cap Go Meh delapan belas tahun lalu. File lengkapnya belum digital, harus diminta dari arsip.
Bryan menatap layar.
Jarinya berhenti di atas satu baris judul sementara napasnya tertahan.
Delapan belas tahun adalah angka yang terlalu panjang untuk satu keluarga menunggu, tetapi terlalu pendek untuk Bryan melupakan suara Mama Christine setiap kali malam lampion datang. Ia pernah berjanji akan mencari sampai semua arsip habis.
Kini satu judul lama menatapnya balik.
Anak Perempuan Hilang di Keramaian Lampion.