NovelToon NovelToon
Terjebak Di Penjara Suci

Terjebak Di Penjara Suci

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Obsesi / Tamat
Popularitas:480.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: UQies

Berkisah tentang seorang gadis belia bernama Ulfi yang terpaksa di jebak oleh keluarganya agar ia bisa masuk pesantren karena pergaulan bebasnya.

Merasa tersiksa karena aturan pesantren yang begitu ketat dan bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya, membuat Ulfi terus berusaha melarikan diri.

Hingga akhirnya sang kakek muak dan memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang pria di pesantren itu agar ada yang bisa menjaganya tidak kabur lagi.

Lalu bagaimana kisah Ulfi selanjutnya selama di pesantren? apakah ia sanggup menjalani pernikahan tanpa cinta itu atau bahkan ia tetap nekat kabur demi kehidupan lamanya yang bebas?

Yuk ikuti kisahnya :)

Sebelum baca jangan lupa subscribe/favorite, dan tinggalkan jejak like dan koment yah agar Authornya semangat 🥰

Terima kasih juga kepada Asketch dari pixabay atas gambarnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UQies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Saat kata mulai terucap, tak ada yang bisa menariknya kembali, saat cinta mulai melebarkan sayap, hanya Allah tempat menyandarkan hati.

Hanya ikhlas yang bisa ku usahakan atas setiap penolakan, tapi jika suatu saat nanti kamu menyadari perasaanmu, maka kembalilah, selagi raga masih bernyawa, maka hatiku pun masih memiliki rasa unukmu.

Bukan kuasaku untuk mengatur kepada siapa hatiku akan berlabuh, namun Allah sebaik-sebaik penguasa hati yang telah menanamkan rasa ini hingga tumbuh subur di dalam hati.

(Ammar Hisyam)

💮💮💮

Sebelumnya.

Ulfi menatap fokus jalanan yang di lalui oleh mobil milik orang suruhan Boy, dimana ia duduk di jok tengah, sementara Boy dan supir mobil duduk di depan

"Boy, itu pasarnya, kita parkir disi...-." Perkataan Ulfi terputus saat ia menyadari mobil justru semakin melaju meninggalkan pasar.

"Boy, apa yang kamu lakukan?" tanya Ulfi sinis.

"Aku sedang membantumu untuk keluar dari penjara suci itu Ulfi," jawab Boy santai.

"Apa kamu bilang? keluar?"

"Iya, aku sudah mengajukan pindah sekolah, dan sekarang aku akan kembali ke Jakarta, makanya aku membawamu ikut bersamaku, kamu harus berterima kasih padaku."

"Kamu gila Boy, aku sudah berjanji untuk tidak kabur lagi, turunkan aku sekarang!" titah Ulfi.

"Tidak, kamu pasti akan sangat senang setelah sampai di Jakarta, tenang saja, semua biaya transportasimu akan ku tanggung, tapi itu tidak gratis." Boy tersenyum miring tanpa menoleh ke arah Ulfi.

"Aku tidak pernah meminta ini darimu Boy, dan aku bilang turunkan aku sekarang," teriak Ulfi yang mulai menggila sebab mobil terus melaju semakin jauh sementara ia sama sekali tidak membawa uang atau apapun itu.

"Sssst, tenanglah Ulfi, jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun padamu saat..."

Bugh

Boy yang mendengar suara itu langsung berbalik dan betapa terkejutnya ia saat tidak lagi mendapati Ulfi di belakang.

Sementara di jalan, tubuh Ulfi terguling beberapa kali hingga kepalanya terbentur di pembatas jalan. Tubuhnya saat ini penuh luka, beberapa bagian bajunya pun sudah terkoyak akibat bergesekan dengan permukaan jalan raya yang kasar. Di tambah kepalamya saat ini yang mengeluarkan darah akibat benturan itu.

"Astaga, sakit sekali." Ulfi meringis sambil memegangi tubuh dan kepalanya yang sakit.

"Ulfi!"

Ulfi mendelik saat mendengar teriakan Boy yang bagaikan orang kesetanan dengan amarah di matanya.

Sekuat tenaga ia berusaha berdiri dan berlari untuk menghindari laki-laki yang saat ini mengejarnya dari belakang.

Merasa hilang arah dengan keadaan tubuh yang melemah dan sangat sakit tentunya, gadis itu memilih bersembunyi di balik tong sampah. Tubuhnya bahkan bergetar karena ketakutan. Dalam hatinya, ia berdoa agar bisa selamat dari laki-laki itu, dan tentu itu adalah pertama kaliya Ulfi berdoa kepada Allah dengan segala keputus asaan yang menghampirinya saat ini.

Gadis itu merutuki kebodohan dan kepolosannya. Bisa-bisanya ia percaya dan ikut dengan laki-laki itu, padahal dengan datangnya laki-laki itu ke pesantren untuk membawanya pergi sudah terlihat jelas bahwa laki-laki itu sangat terobsesi dengan Ulfi. Selain itu, jauh sebelum masuk pesantren laki-laki itu sudah beberapa kali menyatakan cinta untuknya namun selalu di tolak oleh Ulfi. Bahkan desas desus kelainan Ulfi pun tidak ia pedulikan.

"Ulfi! Dimana kamu?" teriak Boy yang semakin mendekat.

"Ulfi! Awas saja kalau aku sampai menemukanmu."

Tubuh Ulfi semakin bergetar ketakutan mendengar ancaman Boy, bahkan ia sampai membekap mulutnya sendiri agar suara tangisannya tidak terdengar oleh laki-laki itu.

Cukup lama Boy dan supirnya lalu-lalang di sekitar tempat itu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

"Alhamdulillah," lirih Ulfi dan seketika ia kehilangan kesadaran.

💮💮💮

Di sisi lain, Ammar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat dimana teman polisinya menunggu. Waktu telah menunjukkan pukul 07.30 malam.

Kini ia tiba di depan sebuah toko bangunan, dimana Arga, polisi sekaligus teman Ammar sudah menunggunya sejak tadi.

"Bagaimana Ar? Apa kau menemukan petunjuk?" tanya Ammar dengan raut wajah khawatir.

"Lihatlah rekaman CCTV yang ku ambil di toko bangunan ini." Arga memperlihatkan video dari dalam ponselnya, disitu terlihat jelas Ulfi yang melompat dari mobil hingga terguling di jalanan, dan setelah itu ia berjalan terseok-seok ke samping toko itu dan hilang dari CCTV.

"Astaghfirullah, aku akan mencarinya, mungkin saja dia masih di samping toko ini," ucap Ammar.

"Ide bagus, tadi aku baru ingin mencarinya tapi kamu sudah keburu datang, jadi lebih baik kita mencarinya bersama," ujar Arga.

Mereka berdua kini berpencar di tempat itu, sesekali mereka memanggil nama Ulfi, namun si empunya nama tak kunjung menyahut.

Ammar mencari kesana-kemari dengan bantuan senter dari ponselnya, bahkan beberapa warga menjadi tempatnya bertanya. Rasa gelisah dan takut semakin memenuhi dadanya yang semakin terasa sesak. Tubuhnya yang menggigil dan lemah tak lagi ia pedulikan. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Ulfi, istri kecilnya yang sangat ia cintai.

Bibirnya tidak berhenti mengucapkan dzikir dan doa agar istrinya itu bisa segera ia temukan dalam keadaan selamat.

Tak putus asa, Ammar berbalik untuk kembali ke toko bangunan dan melihat kembali rekaman CCTV itu, barangkali ia bisa menemukan petunjuk.

Di balik malam yang semakin gelap, perhatian Ammar tertuju pada benda berkilauan di balik rerumputan yang tidak terlalu tinggi akibat pantulan cahaya senter.

Perlahan pria itu mendekat ke arah rerumputan itu, tepatnya di sekitar sebuah tong sampah besar, ia hendak memeriksa dan seketika matanya membola saat mendapati Ulfi yang tengah hilang kesadaran berada di balik tong sampah itu, rupanya benda berkilauan itu berasal dari cincin yang terpasang di jari manis Ulfi.

"Astaghfirullah, Ulfi," pekik Ammar begitu terkejut. Air matanya luruh tatkala melihat keadaan istrinya yang dipenuhi luka goresan dan benturan, terutama di wajah, tangan dan kaki, serta baju yang sudah terkoyak dan memperlihatkan darah yang sudah mengering.

Ammar membungkus tubuh Uĺfi dengan jaket yang ia bawa, lalu di angkatnya tubuh mungil itu dengan hati-hati dan membawanya ke dalam mobil.

Sebelum berangkat ke rumah sakit, Ammar meminta Arga untuk mengurus laki-laki yang telah membawa Ulfi. Ia yakin bahwa Ulfi tidak ingin kabur melainkan di paksa kabur.

Setelah beberapa menit, mobil yang di bawa Ammar telah sampai di depan rumah sakit terdekat.

Para dokter mulai menangani Ulfi di ruang UGD, sementra Ammar duduk lemas di depan ruangan.

Ada rasa bersalah dan menyesal yang hinggap di hatinya karena telah menyuruh Ulfi kembali ke asrama siang itu, padahal gadis itu datang untuk merawatnya.

"Maafkan saya Ulfi, harusnya saya bisa lebih bersabar menghadapi kamu, maafkan saya." Ammar menarik rambutnya frutrasi.

Tak lama setelah itu, dokter yang memeriksa Ulfi keluar dari ruangan, dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Ammar menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan sang istri.

"Dia sudah lebih baik, hanya saja ada beberapa cedera di bahu dan lengannya, jika berisitirahat total selama beberapa hari insya Allah semuanya bisa segera pulih," terang dokter itu.

Ammar merasa cukup lega dengan mendengar informasi dari dokter, gegas ia menghampiri Ulfi di dalam ruangan setelah dokter mengizinkannya masuk. Ia sudah menghubungi ayahnya dan kakek Hasan, dan kemungkinan besok baru mereka bisa datang mengingat mobil saat ini di bawa oleh Ammar.

Ammar berjalan mendekati Ulfi yang terbaring lemah di atas brangkar. Pria itu mengambil posisi tepat di samping brangkar Ulfi, Di raihnya tangan mungil itu, lalu mengecupnya dengan begitu lembut.

"Maafkan saya Ulfi.."

-Bersambung-

1
Eskael Evol
syukur lah ibu Hanna mengizinkan ke pesanteren
Eskael Evol
harus tegas jangan kesempatan si fira
Eskael Evol
rencana jahat apalagi ni si fira
Eskael Evol
waduh gawat masriyyin beraksi
Eskael Evol
astaga kemana nih ulfi
Eskael Evol
syukur lah akad nya sempat di rekam
Eskael Evol
so sweet ulfi bravo
alangkah bahagia pak ustadz 😊
Eskael Evol
ada apa ya dengan ammar
Eskael Evol
waduh ahirnya kepergok
Eskael Evol
sudah di duga pasti ada yg akan curi bros tersebut
Eskael Evol
seru thor!
ceritanya keren
good job💯👍👏
Eskael Evol
Sarah gak punya malu amit² deh
Eskael Evol
waduh siapa yg nyawa fitnah
Eskael Evol
Sarah kamu yg tak tau malu ya
Eskael Evol
ponakan dari mana tuh cewek
Eskael Evol
ammar datang kah
Eskael Evol
siapa ya?
Eskael Evol
gimana ya reaksi sarah nanti saat tau ulfi istri nya ammar
Eskael Evol
wkwkwk ketahuan bobo mulut terbuka😄
Eskael Evol
ikut aja ke cairo ulfi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!