NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman yang di mulai

Penthouse Arsen kembali sunyi setelah pria itu masuk ke ruang kerjanya sambil membawa tablet dan secangkir kopi.

Klik.

Pintu ruang kerja tertutup pelan.

Senja yang sedari tadi berdiri kikuk di ruang tengah akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Ya Tuhan... gue beneran tinggal di sini?"

Dia mengusap wajahnya pelan.

Semuanya terasa begitu cepat.

Tiga hari lalu dia masih seorang asisten kreatif biasa yang pusing memikirkan revisi desain dan bonus tahunan.

Sekarang...

Dia tinggal serumah dengan bosnya yang ternyata seorang penguasa dunia bawah.

"Kalau gue cerita ke Rara, pasti dikira lagi halu," gumamnya lirih.

Karena bosnya sedang sibuk, Senja memutuskan berjalan mengelilingi penthouse.

Apartemen itu benar-benar luas.

Ruang tamunya hampir sebesar rumah sederhana milik ibunya.

Dapur berkonsep terbuka dipenuhi peralatan memasak premium yang tertata rapi.

Rak buku memenuhi satu sisi dinding dengan koleksi buku bisnis, ekonomi, sejarah, sampai filsafat.

Namun...

Semakin lama Senja memperhatikan, semakin aneh tempat itu.

Tidak ada satu pun foto keluarga.

Tidak ada pajangan kelulusan.

Tidak ada kenangan masa kecil.

Bahkan televisinya nyaris tak pernah menyala.

Apartemen itu terasa seperti...

"...hotel."

"Karena memang saya jarang menganggap tempat ini sebagai rumah."

Suara berat itu membuat Senja langsung menoleh kaget.

Arsen sudah berdiri di ambang lorong menuju ruang kerja.

Entah sejak kapan.

"Astaga!"

Senja memegang dadanya.

"Bapak hobinya ngagetin orang, ya?"

"Bukan."

Arsen berjalan santai mendekat.

"Kamu terlalu sibuk melamun."

Senja mendengus pelan.

Dasar.

Tetap saja nyebelin.

Belum sempat dia membalas, bel apartemen berbunyi.

Ting.

Arsen melirik layar kecil di dekat pintu.

"Masuk."

Beberapa detik kemudian pintu terbuka otomatis.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahunan masuk sambil membawa dua koper besar dan beberapa paper bag.

Tubuhnya tegap.

Rambutnya dipotong pendek.

Wajahnya tenang dengan kacamata tipis yang membuatnya terlihat seperti pegawai kantoran biasa.

Namun cara jalannya terlalu disiplin.

Begitu melihat Arsen, pria itu langsung berhenti.

"Selamat pagi, Tuan."

Arsen mengangguk singkat.

"Lapor."

"Seluruh barang milik Nona Senja sudah berhasil dipindahkan sesuai instruksi."

Senja langsung menoleh.

"Hah?"

Pria itu meletakkan koper-koper tersebut dengan hati-hati.

"Laptop kerja, pakaian, perlengkapan mandi, obat-obatan, dan beberapa buku bacaan Anda sudah saya ambil dari rumah. Ibu Anda juga menitipkan beberapa makanan kesukaan Anda."

Senja membelalak.

"Loh... jadi itu koper gue?"

"Iya, Nona."

"Terus... Ibu gue gimana?"

"Beliau baik-baik saja."

Jawabannya singkat, tetapi sopan.

"Sebelum saya berangkat, beliau masih sibuk memilih bunga untuk ditanam di vila."

Senja akhirnya mengembuskan napas lega.

Syukurlah.

Arsen menoleh.

"Senja."

"Iya?"

"Ini Genta."

Pria berkacamata itu sedikit membungkukkan badan.

"Perkenalkan. Nama saya Genta Pradana. Asisten pribadi Tuan Arsen."

Senja buru-buru ikut membungkuk.

"Senja..."

"Saya tahu."

Jawaban Genta membuat Senja berkedip.

"Maaf?"

Genta tersenyum tipis.

"Nama Nona Senja sudah cukup sering saya dengar beberapa hari terakhir."

Entah kenapa kalimat itu membuat Senja merasa sedikit malu.

Arsen langsung memotong.

"Genta."

"Baik, Tuan."

Genta langsung kembali serius.

"Jadwal keamanan sudah diperketat. Empat personel ditempatkan di area bawah, dua orang di rooftop, dan seluruh akses lift sudah menggunakan otorisasi ganda."

Senja mengernyit.

Empat personel?

Rooftop?

Otorisasi?

Ini apartemen atau markas militer?

Arsen hanya mengangguk.

"Bagus."

"Oh ya, Tuan."

Genta mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

"Ini hasil pemeriksaan lokasi semalam."

Tatapan Arsen berubah tajam.

Dia mengambil amplop itu tanpa membukanya di depan Senja.

"Terima kasih."

"Kalau begitu saya permisi."

Genta membungkuk sekali lagi.

"Sampai jumpa, Nona Senja."

"Eh... iya."

Pintu kembali tertutup.

Keheningan menyelimuti penthouse.

Senja masih menatap ke arah pintu beberapa detik.

"Genta aneh."

"Dia profesional."

"Bukannya sama aja?"

"Tidak."

Arsen berjalan menuju dapur.

"Saya lapar."

Senja mengikuti dari belakang.

"Nah, terus kita makan apa?"

Arsen membuka kulkas.

"Nasi goreng."

Senja tertawa kecil.

"Bapak bisa masak?"

Arsen mengambil dua butir telur.

"Kalau saya tidak bisa memasak..."

Pria itu mulai memanaskan wajan.

"...saya mungkin sudah mati kelaparan sejak umur lima belas tahun."

Senyum di wajah Senja perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya...

Dia mendengar sedikit potongan masa lalu Arsen.

Dan entah kenapa...

Kalimat sederhana itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada semua luka yang pernah dia lihat di tubuh pria tersebut.

Suasana penthouse kembali hening setelah sarapan selesai.

Senja membantu membereskan piring-piring di meja makan. Meski berkali-kali Arsen mengatakan akan ada petugas kebersihan yang datang, Senja tetap bersikeras mencuci cangkir kopinya sendiri.

"Aku nggak enak kalau cuma numpang tinggal terus nggak ngapa-ngapain," gumamnya pelan.

Arsen yang berdiri di dekat island dapur hanya memperhatikannya tanpa komentar. Sudut bibirnya nyaris terangkat, tetapi segera kembali datar.

Beberapa menit kemudian...

Ting.

Suara notifikasi dari salah satu ponsel satelit di atas meja ruang kerja memecah keheningan.

Arsen langsung berubah.

Sorot matanya yang tadi tenang kembali dingin.

Dia mengambil perangkat itu, membaca beberapa baris pesan, lalu wajahnya mengeras.

Tanpa sadar, jemarinya mengepal.

Senja yang sedang mengeringkan tangan menoleh.

"Pak... ada apa?"

Arsen tidak langsung menjawab.

Dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langit Jakarta, lalu berkata pelan tanpa menoleh.

"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan saya."

"Siapa?"

"Viper."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat bulu kuduk Senja berdiri.

Arsen kembali melihat layar ponselnya.

"Semalam tiga orang yang menyerang kamu berhasil ditangkap."

Senja mengembuskan napas lega.

"Syukurlah..."

"Tapi..."

Arsen memotong.

"Mereka semua ditemukan tewas tiga puluh menit yang lalu."

Senyum lega Senja langsung lenyap.

"Apa?"

"Mereka dibungkam."

Arsen menaruh ponselnya perlahan.

"Artinya orang yang memerintahkan mereka tidak ingin ada satu pun saksi yang hidup."

Ruangan kembali sunyi.

Senja mulai memahami...

Kalau musuh Arsen bukan sekadar preman jalanan.

Mereka adalah organisasi yang siap membunuh anak buahnya sendiri demi menutup jejak.

Arsen menoleh ke arah Senja.

Tatapannya berubah jauh lebih serius.

"Mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar dari penthouse tanpa saya."

"Tapi kalau cuma ke minimarket di bawah—"

"Tidak."

"Kalau cuma sebentar—"

"Tidak."

Nada Arsen tetap tenang.

Namun mutlak.

"Saya tidak sedang membatasi kebebasan kamu."

Arsen melangkah mendekat.

"Saya sedang memastikan kamu tetap hidup."

Kalimat itu membuat Senja kehilangan bantahan.

Dia hanya bisa mengangguk pelan.

Senja menggenggam ujung kaus hitam yang dikenakannya. Kini ia benar-benar mengerti bahwa musuh Arsen bukan sekadar kelompok kriminal biasa. Mereka bahkan tega menghabisi anak buah mereka sendiri demi menghilangkan jejak.

Arsen masih memandang keluar jendela.

"Saya sempat berharap bisa mendapatkan petunjuk dari mereka."

Ia mengembuskan napas pelan.

"Ternyata saya terlambat."

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

Lalu...

Ponsel satelit itu kembali bergetar.

Arsen melirik layarnya.

Pesan singkat dari Genta hanya berisi satu kalimat.

"Tuan... kemungkinan besar Viper sudah mengetahui lokasi penthouse."

Tatapan Arsen langsung berubah tajam.

Sementara Senja, yang hanya melihat perubahan ekspresi pria itu, merasakan firasat buruk kembali menyelimuti dadanya.

Permainan yang sebenarnya...

Baru saja dimulai.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!