Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemuliaan Lelaki
Seperti biasa, Aiza memasak bersama dengan Qanita di dapur. Aiza terlihat tidak berminat untuk banyak bicara, ia lebih banyak diam. Tidak banyak bunyi. Nyaris seperti pendiam.
Melihat tingkah putrinya yang berubah drastis, Qanita langsung tahu apa yang terjadi. Pasti sedang ada masalah di rumah tangga putrinya itu. Meski tidak tahu akar permasalahan yang sebenarnya, namun Qanita tak mau banyak bertanya. Dia pun memilih untuk mendiamkan putrinya itu supaya masalah tidak tambah runyam. Kalau salah bicara, nanti malah bikin Aiza tersinggung. Diam lebih baik. Sesekali Qanita melirik ke arah putrinya dengan senyum simpul.
Tak lama Akhmar muncul di ruangan makan yang keberadaannya dapat dijangkau oleh pandangan mata Aiza yang berada di dapur. Sebab antara dapur dan ruang makan tidak ada batas dinding, tanpa penyekat ruangan.
Akhmar menghampiri Ismail yang tengah membuka kulkas dan meneguk minuman dingin. Pagi- pagi gini minum dingin? Nggak salah? Akhmar heran juga melihat tingkah mertuanya.
"Abah, ayo ke dapur!" ajak Akhmar dengan nada sopan.
Ismail sontak tersedak.
Yaah... Baru diajak ngomong udah keselek.
Ismail mengembalikan botol ke pintu kulkas. "Kenapa kamu mengajakku ke dapur, huh?" geram Ismail dengan tatapan tajam.
Akhmar menarik sudut bibirnya hingga wajahnya yang tampan dihias dengan senyum. "Nyuci piring, abah!"
Ismail melotot, melirik ke arah westafel di dapur yang dipenuhi dengan piring kotor bekas makan malam.
"Atau biar aku yang cuci piring, abah nyuci baju, gimana?" tawar Akhmar mengajak mertuanya berunding. "Kasian umi mengerjakannya sendirian."
"Hei, nggak pantas kamu memerintah orang tua!" Ismail melangkah pergi dengan wajah kesal.
Sikap itu ditanggapi dengan senyum simpul oleh Akhmar. Dia kemudian melangkah menyusul ke dapur. Berdiri di depan westafel, lalu mulai melakukan aktifitas mencuci piring.
Sekilas Aiza yang tengah membuat roti bakar itu melirik ke arah Akhmar. Sedangkan Qanita yang tengah sibuk membuat minuman hangat itu melirik ke arah Aiza dan Akhmar silih berganti sambil mengulum senyum.
Di tengah perasaan kesal, terselip rasa kagum yang mengalir begitu saja di benak Aiza melihat Akhmar yang begitu cekatan dalam mengerjakan kegiatan mencuci piring. Sama sekali tidak kaku. Dia tampak terbiasa mengerjakannya.
"Ini gelas kotor!" Qanita menatap ke arah Aiza sambil memberi kode supaya mengantar gelas kotor yang teronggok di meja depannya tersebut ke westafel, tempat dimana Akhmar tengah mencuci piring. Sengaja ia menyuruh Aiza, ia tahu sedang ada masalah antara Aiza dan Akhmar sehingga keduanya saling diam.
Terbiasa patuh, Aiza menuruti perintah uminya, mengambil beberapa gelas dan menaruh di westafel, tempat dimana Akhmar tengah mencuci piring.
Inilah yang dilakukan Rosulullah, yaitu mengerjakan pekerjaan rumah, menyingsingkan lengan baju untuk melakukan kegiatan di rumah, termasuk menimba air untuk mandi istrinya.
Tak ada perbincangan saat Aiza meletakkan gelas tersebut kemudian ia lanjut membuat roti bakar yang belum selesai.
"Akhmar!" panggil Qanita lembut.
"Ya, Umi?" sahut Akhmar dengan pandangan fokus ke arah gelas yang tengah ia cuci.
"Kamu nggak gengsi ya terjun ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan itu?"
"Gengsi kalau nggak bisa mencari nafkah untuk perempuan, umi. Kalau nyuci piring kebapa harus gengsi?" jawab pria berkaos putih dengan celana pendek selutut itu.
"Justru laki- laki yang melakukan pekerjaan sama seperti yang dikerjakan Rosulullah itu adalah mulia, bukan malah menurunkan derajatnya. Rosul itu nggak segan mengerjakan pekerjaan rumah, sama seperti yang kamu lakukan. Yang dicari di dunia ini adalah kemuliaan di hadapan Allah, dan itulah salah satunya." Qanita tersenyum manis sekali.
Akhmar meletakkan piring ke rak. Ia sudah selesai mencuci piring.
Bersambung