NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Crazy Rich/Konglomerat / Pengantin Pengganti / Ibu Pengganti
Popularitas:311.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulisrahasiaofficial

Tujuan Zeya ke Jakarta hanya untuk melanjutkan S2, kerja dan hidup bahagia dengan laki-laki yang dia cintai. Agar tidak mengurangi jatah bulanannya, Zeya tinggal bersama kakak dan abang iparnya. Kebetulan abang iparnya adalah dosen dia di kampus. Dosen killer yang jutek dan galak terhadap mahasiswa.

Tapi takdir justru berkata lain, Ambar—kakak kandung Zeya ternyata didiagnosis Leukimia. Ambar yakin kalau hidupnya tidak lama lagi, dan dia memiliki wasiat; agar Zeya menjaga anak semata wayangnya, Ciya, dan suaminya, Digta, dengan cara menikahinya.

Tentu saja hal tersebut membuat Zeya dan Digta terkejut. Zeya tidak mungkin menikahi kakak ipar sekaligus dosen killernya. Digta juga tidak mungkin menikahi adik ipar sekaligus mahasiswi-nya yang bego-nya minta ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulisrahasiaofficial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Merasa Frustrasi

“Maa, Ambar masuk rumah sakit. Kondisinya kritis.”

“Astaghfirullahaladzim…..”

Digta berjalan mondar-mandir sambil menghubungi mertuanya, sebelah tangannya memegang ponsel. Dan sebelahnya lagi menarik rambut ke belakang dengan jari-jari.

“Tapi, aku nggak bisa menemani Ambar di rumah sakit, Ma. Karena Zeya juga masuk rumah sakit.”

“Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi, Digta?”

“Begini, Ma. Sebenarnya, kami sedang berada di puncak untuk liburan. Tapi, sedikit adalah masalah dengan Zeya sehingga dia harus di larikan ke rumah sakit. Dan ternyata, ketika menemani Zeya di rumah sakit, kondisi Ambar langsung lemah, sehingga Ambar juga sempat masuk UGD. Karena alat di sini tidak memadai, Ambar terpaksa di rujuk ke rumah sakit kanker di Jakarta. Ambar nggak ingin aku ikut dengannya, dan meminta aku menunggu Zeya sampai pulang dari rumah sakit. Ma, aku mohon…..” Digta berusaha menahan rengekan di depan mertuanya. “Aku sudah transfer sejumlah uang untuk Mama dan Papa beli tiket pesawat. Cari yang berangkat paling cepat, aku ingin kalin menemani Ambar di rumah sakit. Setelah aku selesai mengurus Zeya, kami akan menyusu ke sana.”

“Iya-iya, Digta. Baikk. Terima kasih banyak, Nak. Mama dan Papa persiapkan dulu pakaian untuk berangkat besok.”

“Iya, Ma.”

Setelah sambungan terputus. Digta duduk di kursi sambil menutup wajah dengan telapak tangan. Isakan tangis kecil muncul ketika bahunya bergergetar hebat. Kemudian, tangannya meremukkan wajahnya sendiri dengan geram.

“ARRRRRGHHH!” Dia berteriak, merasa frustrasi, merasa depresi. Dia tidak ingin kehilangan Ambar. Belum, dia belum siap untuk kebhilangan Ambar.

Ambar istri yang baik dan telaten, bagaimana Digta bisa hidup tanpa Ambar? Digta tidak bisa membayangkan hal tersebut terjadi.

***

“Ayaaaahhhh!!!” Ciya memanggilnya ketika Digta baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap dengan kondisi tubuh yang lunglai. Digta melihat Ciya sudah berada di atas brankar bersama Zeya.

“Mas, bagaimana dengan Mba Ambar?” Tanya Zeya.

“Dia dirujuk ke rumah sakit di Jakarta,” jawab Digta tanpa semangat.

“Apa?” Zeya terkejut. “Terus, kenapa Mas Digta masih ada di sini? Kenapa Mas Digta tidak ikut Mba Ambar?”

Digta menatap Zeya dengan wajah tanpa ekspresi. “Menurutmu, kenapa saya ada di sini? Ambar memaksa saya untuk menunggu kamu sampai pulang dari rumah sakit.”

Zeya mendesah frustrasi. “Kenapa harus begitu, sih?! Mas, aku sudah sembuh sekarang, aku sudah bisa pulang dari rumah sakit. Tolong sampaikan kepada suster dan Dokter unruk mengurus kepulanganku.”

Digta mengepalkan tangan geram, lalu melihat sebuah gelas di atas meja. Laki-laki itu melempar gelas ke lantai dengan perasaan geram. “Perhatikan saja kondisimu dulu, Zeya!!! Jangan banyak tingkah!”

Suara pecahan gelas terdengar nyaring sampai membuat Ciya ketakutan. Ciya semakin memeluk Zeya dengan kuat. “Tante Ciyaaa…”

“Saya juga sudah muak terjebak di sini bersamamu, saya ingin sekali menemani istri saya. Tapi, permintaan istri saya yang konyol selalu tidak bisa saya bantah. Jadi mohon—“ Digta menatap Zeya dengan mata berkaca-kaca. “Saya mohon, perhatikan saja kondisimu. Jangan bikin saya semakin sakit kepala. Semakin cepat kamu sembuh, maka semakin cepat kita bisa menyusul Ambar ke Jakarta. Kamu paham?”

Zeya tidak berani mengeluarkan sepatah kata lagi, saat melihat wajah Digta yang memerah karena air mata dan amarah.

Digta menghapus air mata yang sempat berlinang di wajah. “Saya akan ke villa untuk membereskan semua pakaian kalian. Karena setelah kamu pulang dari rumah sakit, kita akan langsung ke Jakarta.”

Setelah mengutarakan kalimat tersebut, Digta langsung keluar dari ruangan rawat inap.

Zeya yang sejak tadi menahan tangis karena takut, setelah kepergian Digta langsung memejamkan matanya—hingga membuat air matanya tumpah membasahi pipi. Zeya menjadi ketakutan. Digta pasti menyalahkan Zeya atas kondisi Ambar yang mendadak kritis.

Kalau saja Zeya tidak berada di rumah sakit, pasti mereka sudah sama-sama membawa Ambar ke Jakarta.

Zeya menekan tombol untuk memanggil suster.

“Ada yang bisa dimbanti, Bu?” Tanya suster melalui intercom.

“Sus—“ suara Zeya bergetar. “Boleh minta tolong panggilkan cleaning service, nggak. Karena ada pecahan kaca di dalam kamar ini.”

“Oke, Bu, baik. Cleaning service akan segera tiba.”

“Terima kasih, Sus.”

****

Keesokan paginya, ketika Zeya terbangun dari tidurnya. Dia melihat kalau Digta sudah ada di dalam kamar rawat inapnya dan tidur di atas sofa, sedangkan Ciya tidur di kasur sebelah. Padahal perasaan, tadi malam Ciya tidur di dalam pelukannya karena masih ketakutan melihat amukan sang Ayah.

Tapi ternyata, Digta telah memindahkan anaknya ke kasur sebelah.

“Selamat pagi, Ibu. Sudah bangun ya.” Seorang suster masuk ke dalam ruang rawat inap Zeya sambil membuka gorden di jendela—yang membuat bias cahayanya masuk ke dalam kamarnya.

Membuat pandangan Digta silau, dan pelan-pelan membuka mata.

“Kita mandi dulu pagi ini ya, Bu,” kata suster sambil berdiri di sebelah Zeya. “Maaf ya, Bu, saya buka pakaiannya.” Ketika suster hendak membuka kancing kemeja Zeya, perempuan itu menyentuh tangan suster.

Suster terkejut, sehingga menghentikan pergerakannya. Sedangkan Zeya menatap ke arah Digta yang baru saja bangun.

“Loh, kenapa harus malu dengan suami sendiri, Bu.” Suster berkelakar saat melihat kemana arah mata Zeya memandang.

Sedangkan Digta tidak banyak omong, lelaki itu bangkit dan keluar dari ruang rawat inap. Dia mencari toilet di luar untuk mencuci muka. Setelah itu, Digta keluar dari rumah sakit. Menghampiri beberapa kedai-kedai yang menjual sarapan di depan rumah sakit.

“Bu, nasi gorengnya dua ya,” ucap Digta saat memesan makanan. Lalu, Digta menarik kursi dan duduk di sebelah seorang Bapak-Bapak yang mungkin menunggu pesanan juga.

Digta memperhatikan Bapak-Bapak itu merokok dengan napas berat seolah dia punya masalah yang sangat berat.

“Siapa yang sakit, Pak?” Tanya Digta iseng.

Bapak itu mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya ke udara. “Istri saya, koma. Kemarin habis kecelakaan,” jawab si Bapak berusaha setenang mungkin.

“Kamu? Siapa yang sakit?”

Digta menarik napas dalam-dalam. “Sama, istri saya juga sakit. Leukimia akut stadium empat. Dan sekarang sedang sekarat di rumah sakit.” Digta menunduk, bahunya merosot.

Bapak tersebut menepuk pundak Digta. Lantas mengulurkan kotak rokok padanya. “Mau merokok?”

Digta melihat kotak rokok tersebut. Dia bukan perokok, dan tidak pernah merokok karena Digta sangat menjaga kesehatannya. Tapi untuk hari ini, tidak ada salahnya mencoba.

Digta mengambil satu batang. Dan memasukkan rokoknya ke dalam mulut. Sedangkan si Bapak mulai menyalakan api.

Digta mengisap rokoknya dalam-dalam, dan membuang asapnya ke udara. Paling tidak, beban pikirannya berkurang satu persen.

“Permisi, Mas. Ini pesanannya sudah selesai.” Seorang Ibu penjual nasi goreng langsung memberikan pesanannya kepada Digta.

“Makasih, Bu.” Digta menerima bungkus makanan tersebut. Dan menatap si Bapak. “Pak, saya duluan ya. Terima kasih banyak, Pak.”

“Oh iya, sama-sama.”

Digta mengisap rokoknya yang terakhir kali sebelum membuang puntung rokoknya ke aspal, dan menginjaknya hingga mati.

Lantas, Digta kembali masuk ke dalam rumah sakit.

***

Ciya belum bangun ketika Digta sudah masuk ke dalam kamar rawat inap Zeya. Sedangkan adik iparnya tersebut sudah selesai mandi.

“Sudah sarapan?” Tanya Digta dingin.

“Belum, Mas,” jawab Zeya.

Tapi, Digta melihat makanan dari pihak rumah sakit yang tidak disentuh. “Itu sarapannya kenapa nggak di makan?”

“Nggak selera makan makanan rumah sakit, Mas.”

“Yaudah, ini ada nasi goreng. Saya belikan untuk kamu satu, untuk Ciya satu.” Digta melangkah mendekati Zeya.

Menggeser meja makan agar berada di hadapan Zeya, dan membuka bungkus nasi goreng untuk Zeya.

“Terus, sarapan Mas gimana?”

“Saya mau minum kopi di kantin bawah,” ucap Digta di singkat.

Zeya mencium aroma tidak sedap di pakaian Digta. Bau rokok yang begitu menyengat. Dan selama ini Ambar membenci bau rokok.

“Mas merokok?” Tanya Zeya.

Membuat Digta menatap Zeya dengan pandangan tajam. “Iya.”

“Kenapa?”

“Tidak semua pertanyaan, harus saya jawab.”

.

.

.

BERSAMBUNG

Teman-teman, jangan lupa vote dan komen ya🤗

1
Fi Fin
ga suka sifat zeya yg celdis dan semaunya
Fi Fin
kok ortunya zeya ga peka ya ..bukanya resiko ya kalo adek perempuan tinggal sama kakak pere.puan yg sdh menikah
Aisyarani
suka sma alur cerita nya
Yusuf Maulana Efendi
whatt
Irna R
seru ceritanya saya suka
Dennoona
siapa naroh bawang disini 😭😭😭😭
fatia al jelani
🤣🤣🤣
Ani MB
semangat Thor 😍😍
Ani MB
lanjut Thor...aku padamu
Tiurma sari
Pertama kali komen. Mau bilang hayu di up 🤣
dyve
sekali*
Rani Syulfiani
ditunggu kelanjutan ceritanya...
semangat thor..
Cucu u
up... up... up... up
Irma Wati Lapadu
thor smgt...
lanjut crtnya slnya pnsran
Cucu u
kapan up lagi ka, d tunggu
Wandi Fajar Ekoprasetyo
kak othor......apa kabar nya,semoga baik².aja ya,kangen nih sama kisah selanjutnya.......semangat kakak.......
N13
kenapa karakter zeya begini amat, dia kan sdh s1, harusnya lebih dewasa dong, bkn anak labil yg baru lulus SMA
N13
toxic
N13
alamak, jd perempuan kok sempurna x ya zeya, pemalas, jorok, nggak disiplin, arghhh sumpah nyebelinnn
N13
lah bkn nya zeya kamarnya di lantai satu, othornya lupa ini mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!