Dinda Lestari baru saja diterima di sebuah Perusahaan Multinasional sebagai Intern. Di hari pertamanya bekerja, seorang pria dewasa menarik perhatiannya. Dia adalah Arya Pradana, Kepala Divisi Business and Partners yang kabarnya sudah pernah menikah dan bercerai. Dia cerdas, berwibawa, dan tegas.
Baru beberapa minggu bekerja, Bunda Dinda menjodohkannya dengan putera temannya, penyelamat keluarga mereka saat diambang kehancuran dulu. Siapa sangka putera yang dimaksud adalah Arya Pradana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Menginap Dadakan di Hotel Bagian 3
Di kamar hotel Arya dan Dinda…
Begitu masuk kamar, Dinda dengan sigap menata makanan di atas meja. Termasuk makanan yang dibawa oleh Arya. Dinda berinisiatif mengambil minuman yang tersedia di atas meja dekat pintu masuk, minuman yang sudah disediakan oleh pihak hotel.
Semua ia tata di atas meja kerja yang tadi digunakan Arya. Ia menyingkirkan laptop dan menaruhnya di tempat yang aman.
“Pak Arya mau minum teh atau kopi?”, tanya Dinda sedikit ragu tetapi dia tetap memutuskan untuk bertanya.
“Ah, iya saya lupa beli kopi. Saya gak bisa yang sachetan seperti itu. Di bawah ada cafe yang masih buka. Kamu ke bawah, belikan saya espresso one shot ya. Ini kartu kreditnya. Pinnya sama dengan yang tadi.”, kata Arya langsung menjawab dan memberikan perintah.
Begitu meletakkan makanan di atas meja, ia masuk ke kamar mandi karena sedari tadi dia sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Selesai dari kamar mandi dia langsung kaget melihat beberapa makanan sudah rapi di atas meja.
‘Apa? Gila apa! Masa aku disuruh balik lagi. Kalo aku bantah pasti jadi panjang urusannya. Ya udah deh pasrah aja. Padahal udah laper.’, teriak Dinda menderita di dalam hati.
Arya sedikit menyunggingkan senyum karena dia bisa membaca kekesalan dari wajah gadis itu.
‘Sudah jadi istri, lebih baik aku gunakan saja dia.’, bathin Arya dalam hati.
Tadinya dia masih bingung harus dia apakan gadis yang sudah resmi menjadi istrinya ini.
Melihat kesigapan Dinda, Arya langsung mendapatkan ide untuk menjadikannya sekretaris pribadi.
Meskipun di kantor dia sudah punya, tetapi punya yang gratis dan patuh serta bisa mengurusi hal - hal pribadinya di rumah juga tidak ada ruginya.
“Udah tahu butuh kopi, kenapa gak dari tadi aja dibeli. Bikin kesel aja.”, rutuk Dinda di dengan volume yang sangat kecil.
“Maksudnya apa coba. Tadi dia gak bolehin aku turun sendirian buat ngambil makanan. Sekarang malah disuruh turun sendiri beli kopi. Kalo bantah pasti jadi panjang, mana lagi di hotel. Tiap kasih ancaman pasti gak jauh - jauh dari kata ‘Unboxing’. Memangnya aku belanjaan online, apa!”, tanpa disadari, ponsel Dinda sudah berbunyi.
‘Mama’, bathin Dinda.
“Halo Din, kamu dimana, kok belum pulang? Mama khawatir.”, terdengar suara Inggit bertanya dengan penuh cemas.
Dinda kembali merutuki dirinya karena lupa memberitahu Inggit bahwa dia harus menginap di hotel malam ini. Apa lagi kalau bukan karena idenya pak Arya yang harus meeting malam - malam.
“Ya ampun, Dinda minta maaf ya, ma. Dinda lupa kasih tahu mama. Jadi tadi pas pulang, macet banget dan Pak eh maksudnya mas Arya ada meeting jam 8.30, jadi dia bilang nginep di hotel terdekat aja malam ini. Maaf ya ma. Tadi buru - buru banget jadi ga sempet telpon mama dan papa.”, Dinda merasa sangat tidak enak.
Kalau Arya lupa itu wajar. Melihat karakternya, dia bisa saja ke luar negeri tanpa bilang dulu ke orang di rumah.
Tapi, Dinda berbeda. Dia menantu di sana. Sudah seharusnya Dinda memberikan kabar kalau ada hal - hal yang sifatnya urgent.
“Iya gapapa. Lain kali jangan lupa kasih tahu, ya. Kalian nginep dimana? Udah makan?”, Inggit terus melanjutkan dengan sejuta pertanyaannya.
“Ohiya, mumpung kamu di hotel, baju yang kemarin kita beli kamu bawa ga?”, tanya Inggit.
Pertanyaan yang menurut Dinda sangat out of the box. Bahkan dia tidak menyangka Inggit masih membahasnya.
Bahkan disaat seperti ini pun baju aneh itu tidak pernah tinggal dalam topik pembahasannya.
Lagian mana ada orang bawa - bawa lingerie di mobil. Begitu pikir Dinda ketika Inggit bertanya apakah dia membawa baju aneh itu bersamanya.
Inggit akhirnya menutup teleponnya.
"Siapa?", tanya Arya.
Ternyata Dinda belum juga beranjak keluar untuk membeli kopi. Dia mencari - cari sendal yang entah dimana dia letakkan.
"Mama. Kita lupa mengabarkan ke mama kalau mau menginap di hotel. Mama khawatir dan sudah menunggu dari tadi di rumah.", jawab Dinda.
"Kamu sudah jelaskan?", tanya Arya kembali.
"Hm. Iya Pak, sudah.", jawab Dinda.
"Ya sudah. Sekarang kamu buruan berangkat buat beli kopinya.", respon Arya.
Dinda langsung menggerutu kembali dalam hati.
‘Hapenya ditinggal aja deh. Nanti Pak Arya malah nelpon buat nambah - nambahin pesanan.’, pikir Dinda sambil meletakkan ponselnya di meja rias kamar hotel dan pergi.
Suasana hotel sudah sangat sepi karena saat itu sudah hampir jam 1 malam. Kafe disini masih saja buka. Mungkin 24 jam, begitu pikir Dinda.
Setelah berhasil melakukan pemesanan, Dinda menunggu sebentar sampai dipanggil kembali saat kopi sudah siap.
Dia duduk menunggu sambil melihat ke arah kiri dan kanan. Kafe itu masih dipenuhi banyak orang. Sepertinya kafe ini juga menjual minuman beralkohol. Lokasinya benar - benar strategis. Tak lama Dinda mengenali seseorang dari kejauhan.
‘Mba Suci? Ngapain dia disini? Penampilannya kenapa seperti itu? Berbeda sekali dengan saat di kantor.’, Dinda terus memperhatikan Suci sambil memicingkan mata berusaha memastikan.
Lokasi mereka berjauhan. Suci berada agak ke dalam diantara beberapa pasangan lain yang juga sedang nongkrong di kafe..
Wanita itu terlihat sedang dirangkul oleh seorang pria. Dia juga menyandarkan kepalanya pada bahu pria tersebut.
Dinda kaget karena dia melihat Suci merokok dan menenggak minuman mirip cocktail. Tak lama nama Dinda dipanggil. Ternyata pesanan sudah siap. Dinda terjaga dari lamunannya dan beranjak.
Dia memutuskan untuk berhenti memperhatikan Suci dan mengambil pesanan itu lalu naik ke atas segera. Sebelum pria itu menghabiskan semua makanan yang ada atau mengomelinya lagi karena terlalu lama.
Bodohnya Dinda, dia salah menekan nomor lantai karena masih memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Alih - alih menekan lantai 10, Dinda justru menekan lantai 15, lantai kantor dimana dia bekerja.
Awalnya, Dinda tidak menyadarinya karena di dalam gedung hotel, lantai berapapun semuanya pasti terlihat sama. Dinda akhirnya menyadari saat melihat nomor kamar sudah di mulai dengan angka ‘15’. Sontak, dia langsung segera berbalik.
Dinda sedikit tidak nyaman karena dari tempatnya berdiri, Dinda mendengar beberapa pria sedang mengobrol di depan lift. Dinda merasa ragu - ragu. Apa dia harus menunggu mereka naik lift duluan atau ikut saja.
‘Aduh, aku tunggu aja deh sampai mereka naik.’, Dinda memilih menunggu di lorong sampai suara pria - pria itu tidak terdengar lagi.
Setelahnya, Dinda baru memberanikan diri untuk berjalan kembali ke arah lift. Dinda memencet tombol lift untuk turun. Begitu pintu lift terbuka, Dinda langsung masuk dan menekan lantai 10. Baru saja lift akan tertutup, seseorang memencet kembali tombol lift dan masuk.
Ternyata di belakang Dinda tadi ada satu orang pria paruh baya yang mengikutinya. Saat masuk lift, pria itu tidak menekan tombol sama sekali.
‘Tadi aku kok gak lihat Bapak ini ya. Apa dia dari lorong satunya?’, ujar Dinda bertanya - tanya dalam hati.
Pintu lift tertutup. Dinda tak henti - hentinya melihat ke arah pintu lift yang menerima pantulan bayangan pria paruh baya itu. Dia terlihat seperti orang baik - baik. Tapi entah kenapa perasaan Dinda tetap saja tidak enak.
‘Dia kok gak menekan tombol apapun, ya? Apa dia menginap di lantai 10? Tapi kok tadi dari lantai 15? Apa dari tempat temannya? Bisa jauh gitu menginapnya. Aduh, aku kok was - was gini.’, ujar Dinda dalam hati.
Gadis itu mencoba memeriksa kantongnya untuk mengambil ponsel. Namun dia langsung merutuki dirinya karena malah meninggalkan ponsel di kamar hotel.
Ting. Pintu lift terbuka. Dinda keluar. Nomor kamarnya adalah 1030, dia harus berbelok ke kiri dan lurus hingga ke kamar paling ujung. Dinda berjalan pelan sambil sedikit sedikit mencuri pandang untuk memastikan kemana pria paruh baya tadi pergi.
Langkah kaki Dinda pelan. Dia tidak tenang tetapi lari juga bukan pilihan yang tepat. Dinda sudah memasuki lorong kamar hotelnya. Dia hanya butuh melewati 9 kamar dan sampai di kamar miliknya.
Setelah beberapa langkah maju. Dinda memberanikan diri untuk sedikit menoleh ke belakang karena perasaannya tidak enak. Betapa kagetnya Dinda, ternyata pria paruh baya itu ada di belakangnya. Hanya berjarak sekitar 5-6 langkah saja.
Dinda menghentikan langkahnya. Dia berusaha untuk tenang. Kebodohan dia selanjutnya adalah Dinda tidak membawa kartu akses. Jadi, meskipun dia bisa lari, dia harus tetap menekan bel dan menunggu sampai Arya membuka pintu.
Siapa yang bisa memastikan Arya akan dengan cepat membuka pintu. Bagaimana kalau pria itu sudah keburu menariknya. Apalagi di sebelah itu sepertinya sudah area pintu darurat. Dinda tidak boleh gegabah dan menciptakan kepanikan. Dia berusaha untuk tetap tenang.
‘Gimana ini. Aku takut banget. Maju aja Din, maju aja terus melangkah ke kamar.', saking takutnya, Dinda melangkah sambil sesekali mengintip ke belakang. Langkahnya pelan dan tangannya gemetaran. Dia sama sekali tidak memperhatikan arah depan.
Tiba - tiba pria paruh baya itu seperti mempercepat langkahnya. Saat jarak mereka hanya tinggal 1 meter, pintu kamar Dinda terbuka. Sosok Arya terlihat jelas ada disana.
Wajahnya seketika berubah saat menyadari ada orang lain tak jauh dari arah belakang Dinda.
“Sayang, kamu lama banget beli kopinya? Makanannya udah mulai dingin, loh”, seolah langsung paham situasi yang terjadi, Arya langsung memanggil Dinda dan bergerak menghampirinya. Ia merangkul gadis itu masuk ke dalam lengan kekar miliknya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”, Arya menoleh sebentar dan bertanya pada pria paruh baya tadi.
“Oh engga, Pak. Sepertinya saya salah lantai, ya. Kalo gitu saya permisi.”, pria itu langsung bergegas pergi.
Dinda masih mematung di posisinya saat ini, persis di depan kamar 1028. Dia menghela nafasnya yang terasa berat. Arya bisa merasakan tubuh gadis ini bergetar.
“Hayuk kita masuk.”, Arya Arya mengambil kopinya dan membantu Dinda berjalan masuk ke dalam kamar mereka.
Begitu Arya menutup pintu, Dinda langsung jatuh terduduk lemas di lantai.
“Din.. kamu gapapa?”, Arya langsung memapah tubuh Dinda.
“Kamu duduk disini dulu.”, pria itu berusaha menenangkan istrinya dengan mendudukkannya di kursi sambil mengelus - elus bahunya.
“Saya telpon orang hotel dulu.”, ucap Arya berjalan ke arah telepon.
“Mba, ada pria aneh yang berkeliaran di lorong hotel. Saya kurang tahu dia stay disini atau engga. Umurnya sekitar 50 tahunan. Tolong minta security-nya cek, ya. Saya khawatir soalnya dia barusan seperti mengikuti istri saya.”, Arya langsung mengambil telpon dan menghubungi resepsionis.
“Barusan di lantai 10 mba. Tapi kayanya dia buru - buru pergi lagi. Saya gak ikutin takutnya dia bawa senjata atau semacamnya.”, lanjut Arya.
“Gak kenal mba. Kamu kenal Din?”, tanya Arya menoleh ke arah Dinda dan gadis itu langsung menggeleng.
“Gak mba. Istri saya juga gak kenal. Tolong segera, ya. Takutnya dia ada maksud yang engga - engga. Ok. Thank you.”, Arya menutup telponnya.
Dia memperhatikan Dinda yang masih pucat dan berinisiatif untuk kembali duduk di depannya.
“Udah gapapa, Din. Kamu udah sama saya. Maaf ya. Gara - gara saya minta kamu beli kopi, kamu harus ngalamin kejadian tadi.”, Arya berusaha menenangkan Dinda.
Untuk pertama kalinya, dia menunjukkan sikap gentle-nya pada Dinda.
“Pak Arya, makasih ya tadi udah keluar tepat waktu. Aku ga tahu. Aku takut banget tadi,”, tutur Dinda dengan nada bergetar.
“Ya udah, sekarang kita makan. Saya sudah lapar, kan. Lagian beli kopi lama banget, hape ga dibawa, kartu akses kamar yang satu lagi, mana? Kenapa gak kamu bawa juga?. Kalau saya telat sedikit, gimana?”, Arya kembali lagi ke mode tegasnya.
Dinda hanya bisa diam. Dia ingin menyalahkan Arya, tapi pria itu juga yang datang menyelamatkannya tepat waktu. Cara Arya untuk menghadapi situasi tadi juga sangat tenang. Seketika dia merasa bersyukur karena memiliki orang yang bisa diandalkan.
Malam itu Dinda tidur duluan setelah menyelesaikan makan malamnya. Sebelum tidur, ia melihat Arya masih lanjut duduk diatas meja kerja dengan wajah serius.
Dinda memutuskan untuk membaringkan tubuhnya segera di kasur dan mematikan lampu yang ada di area tempat tidur.
Dia lanjut masuk ke alam mimpinya tak lama setelah membaringkan badannya. Hari ini begitu melelahkan, begitu pikirnya.