Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
Tiga hari berlalu dengan cepat. Selama tiga hari itu, Luc hampir tidak melakukan apa pun selain berlatih. Dari pagi, siang, hingga malam hari dia selalu berlatih pedang tanpa henti. Bahkan beberapa kali ia sampai bermimpi sedang dimarahi Chiron karena posisi kakinya salah.
Untungnya hasil latihan itu mulai terlihat. Meski belum bisa disebut ahli, setidaknya sekarang Luc sudah tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali memegang pedang.
Gerakan serta ayunannya terasa lebih baik, dan yang terpenting, ia sudah tidak terlalu panik saat menghadapi monster.
Sementara itu, Lea hampir menjadi penjaga tetap markas mereka. Setiap monster yang mendekat langsung ditembak sebelum sempat mengganggu latihan Luc.
Untungnya yang datang hanya goblin dan kobold. Kalau sampai kawanan orc atau ogre yang muncul, keadaan pasti akan jauh lebih merepotkan.
"Huft~ jadi, kapan kita lanjut jalan lagi?" Lea yang sedang duduk di dekat mulut markas akhirnya membuka suara. Ia menghela napas panjang sambil memainkan anak panah kristalnya.
Luc yang sedang duduk bersandar di dinding batu langsung menoleh. "Soal itu..." Tatapannya bergeser ke arah Chiron.
Chiron mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya rasa sudah waktunya Anda mengambil ujian dari konstelasi yang memiliki kemampuan penglihatan."
Luc berpikir sejenak. "Yang berhubungan sama penglihatan..."
Ia mencoba mengingat berbagai macam konstelasi yang ia tahu, atau lebih tepatnya beberapa konstelasi modern yang melambangkan sebuah alat.
"Reticulum, Telescopium, dan... Microscopium."
Setelah berpikir beberapa detik, ia mengangguk. "Kayaknya cuma tiga itu yang cocok."
"Ya, itu memang benar, Tuan," balas Chiron sambil menyilangkan tangan, "namun tetap akan sulit jika dilakukan di tempat yang segelap ini," lanjutnya.
Luc langsung terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Chiron, saat ini mereka berada di dasar jurang yang gelap. Bahkan untuk melihat beberapa meter saja sudah sulit karena gelapnya tempat itu. Belum lagi kalau harus menjalani ujian konstelasi yang kemungkinan besar membutuhkan pengamatan atau penglihatan.
"..."
"..."
Beberapa detik berlalu.
Luc menggaruk pipinya, "Kayaknya emang nggak ada deh."
Awalnya Chiron ingin menyarankan konstelasi Phoenix. Dengan kemampuan api miliknya, masalah penerangan jelas akan selesai. Namun bahkan Chiron tahu itu hampir mustahil. Phoenix adalah simbol kebangkitan dan api. Sangat kecil kemungkinan konstelasi itu muncul di tempat seperti jurang yang dipenuhi kegelapan.
Saat itulah suara lain tiba-tiba terdengar. "Kenapa kalian malah bingung seperti itu?"
Luc langsung menoleh. Sebuah cahaya berbentuk salib perlahan muncul di udara.
"Crux...?" ujarnya pelan.
"Ya, ini saya, Tuan." Suara lembut itu terdengar santai. "Apa Anda lupa dengan Ultimate Skill yang saya berikan?"
Luc berkedip heran. "Hah?"
Ia segera membuka panel statusnya. Matanya langsung bergerak menuju bagian Ultimate Skill.
Ultimate Skill: Crux Dawn Beyond Darkness
Saat skill ini diaktifkan, langit akan menjadi gelap, lalu konstelasi Crux akan bersinar terang. Mampu menyembuhkan sekutu dari luka ringan, melemahkan lawan yang memiliki niat jahat, serta menghilangkan kutukan dan racun ringan.
Luc membaca deskripsi itu sekali. Lalu membacanya lagi. Hingga akhirnya ia tersadar.
"Ah..."
Crux menghela napas kecil. "Sepertinya Anda benar-benar lupa, Tuan."
"Bukan lupa..." Luc menutup panel statusnya. "Aku cuma nggak kepikiran," balasnya.
Saat Ultimate Skill itu aktif, area sekitar akan berubah menjadi gelap. Namun pada saat yang sama, konstelasi Crux akan menjadi sumber cahaya utama.
Artinya... Kegelapan jurang tidak lagi menjadi masalah. Malah justru menjadi keuntungan. Karena cahaya Crux akan terlihat jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.
Sudut bibir Luc perlahan terangkat. "Kalau begitu..." Ia bangkit berdiri. "Kita bisa lanjut menjelajah."
Lea yang sejak tadi hanya mendengar Luc berbicara sendiri akhirnya mengangkat alis.
"Luc," panggilnya Lea pelan.
"Hm?" Luc menoleh.
"Kau lagi ngobrol sama siapa?" Lea langsung bertanya tanpa basa-basi.
"..."
Luc langsung membeku. Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Kalau dipikir-pikir, selama beberapa hari terakhir Lea pasti sudah berkali-kali melihat dirinya berbicara sendiri.
Kadang saat latihan, berjalan, dan waktu makan. Bahkan sesekali Luc tanpa sadar membalas komentar Chiron dengan suara keras. Tidak heran kalau Lea mulai curiga.
"Itu..." Luc mencoba memikirkan alasan yang masuk akal.
Sebuah alasan sederhana. Sebuah kebohongan kecil. Namun anehnya... Otaknya justru tidak dapat memikirkan apapun. Tidak ada satu pun alasan yang terasa cukup meyakinkan.
Luc menghela napas pelan. Pada titik ini, rasanya percuma terus berbohong. Apalagi Lea sudah beberapa kali membantunya tanpa bertanya macam-macam.
"Baiklah..." Luc menggaruk pipinya. "Aku akan menceritakan semuanya."
Mata Lea langsung sedikit membesar. Ia segera mendekat lalu duduk di hadapan Luc. Tatapannya begitu serius sampai Luc merasa seperti sedang diinterogasi.
"Silakan," ucap Lea langsung mempersilahkan Luc untuk bercerita.
"Jangan menatapku kayak gitu," balas Luc merasa risih karena tatapan itu.
"Aku cuma ingin mendengarkan ceritamu dengan serius," kata Lea tanpa mengalihkan pandangannya.
"Itu justru bikin aku gugup..."
Lea tidak menjawab dan tatapannya tetap sama.
Luc akhirnya menyerah. Ia mulai menjelaskan tentang kekuatannya. Tentu saja tidak semuanya. Ia tidak memberitahu soal delapan puluh delapan konstelasi. Tidak memberitahu soal kehidupan sebelumnya. Dan jelas tidak memberitahu kalau dirinya pernah mati.
Luc hanya menjelaskan bagian yang sekiranya aman untuk diketahui. Kalau dirinya memperoleh kekuatan dari bintang. Dan kalau sosok yang sering diajaknya berbicara adalah makhluk yang berhubungan dengan kekuatan tersebut.
Singkatnya... Ia menyebut dirinya sebagai seorang penyihir bintang.
Setelah penjelasan itu selesai, suasana menjadi hening.
Lea terlihat berpikir cukup lama.
"..."
"..."
Pada akhirnya Lea menghela napas. "Kalau orang lain yang mengatakan itu, aku pasti menganggapnya gila."
"Hahaha..." Luc tidak tahu harus membalas apa dan hanya bisa tertawa.
"Tapi..." Lea melanjutkan, tatapannya beralih ke Luc. "Aku sudah melihat terlalu banyak hal aneh darimu."
Luc tertawa kering. "Itu terdengar seperti pujian dan hinaan sekaligus."
"Aku juga tidak tahu harus menganggapmu apa," balas Lea.
Skill penyembuhan yang aneh. Navigasi dari cahaya bintang. Dan roh tak terlihat yang terus berbicara dengannya. Semakin dipikirkan, semakin sulit dijelaskan dengan akal sehat.
Pada akhirnya Lea hanya mengangguk pelan. "Baiklah."
"Hah?" Luc bingung karena mendengar hal itu.
"Aku percaya," ucap Lea dengan senyum kecil.
Luc tampak sedikit terkejut. "Segampang itu?"
"Kalau aku tidak percaya, aku harus mencari penjelasan lain yang lebih masuk akal. Lagi pula, setelah melihatmu beberapa hari ini aku tahu kau itu manusia yang aneh," jelas Lea.
Lagipula, setelah mengalaminya sendiri... diselamatkan oleh Luc menggunakan kemampuan yang tidak masuk akal itu, Lea tidak punya banyak alasan untuk meragukannya.
Setelah percakapan itu selesai, suasana di antara mereka terasa sedikit lebih ringan. Setidaknya sekarang Luc tidak perlu panik setiap kali berbicara dengan Chiron atau konstelasi lainnya.
"Nah, kalau begitu." Luc berdiri lalu meregangkan tubuhnya. "Kita lanjut perjalanan ini?"
Lea ikut berdiri sambil memanggil busur Vassal miliknya. "Kita kembali ke goa itu?"
"Yup," angguk Luc.
Kali ini mereka sudah punya tujuan yang jelas. Mereka juga sudah punya cara untuk menghadapi kegelapan di dalam goa.
Luc menatap ke arah jalur jurang yang membentang di depan mereka. Beberapa saat kemudian, mereka mulai berjalan meninggalkan markas sementara yang telah mereka tempati selama tiga hari terakhir.
Sementara itu, jauh di depan sana... Mulut goa yang gelap masih menunggu mereka seperti sebelumnya. Bedanya, kali ini mereka datang dengan persiapan yang jauh lebih baik.
"Maju sini kalian! Monster sialan!" seru Luc dengan penuh semangat.