Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan sang suami, mengharuskan Hanum berbagi bukan cuma raga tapi juga hati. "Saya terima nikah dan kawinnya Amalia binti Ahmad dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah.... sah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🕊R⃟🥀Suzy.ೃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Pertama
Sesampainya di rumah, Ilham keluar dari dalam mobil masih dengan keadaan marah, menyisakan debuman yang kembali menggema. Membuat Hanum yang bersiap akan keluar pun terlonjak kaget, saat mendengar pintu mobil ditutup dengan keras.
Brak
Hanum masuk kedalam rumah dengan setengah berlari, mengejar langkah Ilham yang terlalu cepat.
Sesampainya di dalam kamar, Ilham membuka paksa jas yang melekat di tubuhnya dan membuang kasar ke segala arah.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Hanum lembut.
"Aku yang seharusnya bertanya kenapa, siapa laki-laki tadi?" tanya Ilham menggebu.
"Laki-laki yang mana?"
"Oh baru sebentar saja dan kau pura-pura lupa hah?" sarkas Ilham.
Hanum yang tak mengerti kemana arah pembicaraan Ilham, hanya menggeleng menandakan dia benar-benar tak mengerti.
Ilham menarik tangan Hanum dan menyentaknya kasar, "Masih pura-pura tak tau juga Num?"
Mendapat perlakuan yang mulai tak mengenakan, Hanum sedikit meneteskan air mata.
"Berpura-pura apa maksudmu Mas?"
"Siapa sakha?" tanya Ilham.
Hanum sedikit terperanjat saat Ilham menyebut nama sakha, dan apa hubungan nya dengan sakha Hanum sama sekali tak mengerti.
"Sak … kha." ucap Hanum mengulangi kalimat yang tadi Ilham ucapkan.
"Iya sakha, laki-laki yang tadi berbicara denganmu saat di Mall."
Hanum tak menyangka kalau Ilham melihat nya berbicara dengan sakha dan bisa sampai semarah ini.
"Kenapa diam, gak bisa jawab Num?"
Hanum menggeleng, "Bukan Mas, tadi memang Hanum berbicara dengan bang sakha, tapi itu tidak sengaja karena kami tadi bertabrakan." ucap Hanum menjelaskan.
"Wah hebat, apa aku gak salah dengar kau panggil dia apa? abang sudah berapa lama kamu berhubungan dengan nya?"
Hanum masih menggeleng, "Hubungan apa yang Mas maksud disini?" tanya Hanum yang mulai sedikit berani menjawab ucapan Ilham.
Ilham yang mendengar jawaban Hanum yang mulai keras, sedikit terkejut dengan perubahan istrinya.
"Wah, sekarang pun kamu sudah mulai berani sama aku Num?" decak Ilham.
"Maaf mas bukan maksud Hanum untuk kasar, hanya saja Mas mulai tidak masuk akal!"
"Dimana letak tidak masuk akal ku Num, saat melihat istri tercinta nya begitu bahagia berbicara dengan lelaki lain."
"Aku tidak seperti itu Mas." elak Hanum.
"Lalu seperti apa? oh apakah seperti duduk dan berbicara berdua begitu." sarkas Ilham.
Lagi-lagi Hanum terkejut mendengar ucapan Ilham, "Itu tidak seperti yang Mas pikirkan. Aku masih mampu menjaga marwah ku sebagai seorang istri dimanapun aku berada, tidak seperti Mas." ucap Hanum yang mulai terpancing emosi.
"Oh, begini kamu sekarang Num! Sudah berani melawan, kamu mau jadi istri durhaka karena melawan ucapan suami." bentak Ilham murka.
Untuk ucapan suaminya ini, Hanum tak lagi mampu menyembunyikan air matanya, lelehan kristal bening itu perlahan turun dengan derasnya. Seperti hatinya yang kembali terkoyak, karena kata dan juga bentakan yang untuk pertama kalinya ia terima.
Hanum tergugu, tak lagi mampu menjawab ucapan Ilham, "Maaf Mas mungkin aku bukan istri yang terbaik untuk mu."
Ilham yang mendengar ucapan Hanum, seketika menarik rambutnya kasar merasa bersalah untuk kesekian kalinya.
"Ma … a …." belum selesai Ilham berbicara, Hanum pergi meninggalkan Ilham sendiri dan memilih untuk masuk kedalam kamar mandi.
Ilham berusaha menggapai tubuh Hanum, tapi saat tubuh ringkih itu mulai masuk kedalam kamar mandi dan menumpahkan tangisnya, Ilham terpaku menyadari kalau dirinya kembali menyakiti hati istri tercinta nya.
Hanum masuk dan mengunci dirinya di dalam kamar mandi, menumpahkan segala sesak yang mulai memenuhi hatinya. Hanum menangis tergugu saat menyadari orang yang paling dia cintai mulai meragukan marwahnya sendiri.
Lama Hanum terisak di dalam kamar mandi, melupakan masih ada orang lain yang juga sesak mendengar isak tangisnya.
Suasana kamar menjadi sunyi, yang terdengar hanya suara isakan yang mulai samar terdengar. Tak lama dering suara gawai dari saku Ilham memecah keheningan tersebut.
Kring … kring … kring
Ilham hanya melirik gawainya tanpa berniat untuk menjawab. Tapi suara dering telepon yang terus menerus, membuat Ilham mau tidak mau harus menjawabnya juga.
"Hallo?" ucap Ilham serak.
"Halo, Mas kamu dimana?"
"Masih dirumah ada apa?"
"Kamu kesini jam berapa? udah mau malam aku udah siapin makan malam untuk kita!"
"Hmm, entahlah aku merasa tak enak badan." ucap Ilham beralasan.
"Kamu jangan bohong ya mas." ucap amel dengan nada yang mulai naik.
Tak enak kalau sampe Hanum mendengar pembicaraan nya dengan Amel, Ilham melangkah pergi meninggalkan depan kamar mandi dan pergi menuju ruang tamu.
"Aku gak bohong, kepalaku sedikit sakit."
"Ya sudah kamu kesini nanti pasti sakitnya hilang, ya? aku tunggu kalau Mas gak dateng aku marah." ancam Amel.
Ilham memijat pusing kepalanya, "Hmm, nanti aku datang setelah kepalaku mulai baikan."
"Ya sudah aku tunggu awas ya kalau sampai gak datang, kalau begitu aku tutup dulu."
"Hmm."
Klik
Suasana rumah kembali hening, Ilham melangkahkan kaki nya kembali kedalam kamar dan saat ia masuk Ilham mendapati Hanum sedang bersujud, untuk sesaat hatinya terketuk.
Ilham melihat dengan seksama bagaimana sholehanya istri tercinta nya ini, hanya karena rasa cemburu ia kembali melukai hati istri nya untuk yang kesekian kalinya.
Selesai Hanum menjalankan kewajiban nya, ia langsung naik ke atas tempat tidur dan menutup dirinya sendiri dengan selimut.
Ilham yang berniat untuk berbicara kembali harus menelan kekecewaan, akhirnya ia memilih untuk pergi tapi, sebelum Ilham benar-benar pergi ia sempat mencium kening Hanum dan mengucapkan permintaan maaf.
"Maafkan aku, aku terlalu cemburu jangan pernah berniat untuk meninggalkan ku."
Hanum tak bergeming ia tetap bungkam, mendengar ucapan suaminya.
"Aku pergi dulu, tenangkan dirimu dan aku sungguh minta maaf." ucap Ilham seraya bangkit dan berlalu meninggalkan Hanum sendirian.
Debuman suara pintu menandakan sangat pemilik nya sudah pergi meninggalkan rumah, Hanum sedikit membuka selimut yang menutup dirinya, "Seandainya meminta maaf semudah itu Mas, apa mungkin kau akan terus menyakiti ku." ucap Hanum lirih.
***
Ilham datang ke rumah istri keduanya dengan penampilan yang sedikit berantakan.
Tok … tok … tok
Amel berlari membuka pintu rumahnya tapi ia sedikit terkejut, saat melihat Ilham dengan keadaannya yang benar-benar berantakan.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Amel penasaran.
"Gak papa hanya sedikit pusing saja." ucap Ilham seraya melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah.
"Hmm, ya sudah kamu mau mandi dulu atau mau makan dulu?" tanya Amel.
"Aku mandi dulu saja biar lebih segar," ucap Ilham sambil melangkah menuju kamar mereka dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
Amel yang melihat ada yang tidak beres dengan suaminya hanya menggeleng, dan berlalu menyiapkan baju untuk suaminya.
Amel kembali ke meja makan, menyiapkan kembali makanan yang tadi sempat ia panaskan sebelum Ilham datang.
Aroma sabun menguar saat Ilham melangkahkan kaki nya ke arah meja makan, "Kamu masak apa Mel?" tanya Ilham sesampainya ia di depan meja makan.
"Masak kesukaan kamu Mas, ayam rica tapi aku gak yakin sama rasanya. Aku gak pandai masak seperti mbak hanum."
Mendengar nama hanum kembali disebut, Ilham mulai kehilangan selera makan nya.
"Yaudah gak papa, aku coba saja dulu."
Amel dengan telaten menyiapkan makanan untuk Ilham, melihat itu Ilham kembali ingat dengan istrinya yang menangis di rumah. Sudah makan apa belum istrinya itu, Ilham bahkan tak memikirkan nya tadi.
Ilham menarik nafas nya dalam dan mulai mencicipi masakan Amel.
"Gimana Mas, enak gak?" tanya Amel.
"Lumayan." ucap Ilham sambil menikmati makanan nya.
Mereka makan dalam keadaan diam, Ilham masih berkutat dengan pikiran nya dan Amel masih mencari cara agar Ilham tak menanyakan kemana ia pergi kemarin.
Selesai makan Ilham berjalan masuk kedalam kamar, merebahkan tubuh juga pikirannya, ia melihat gawai berharap ada pesan masuk dari istri tercinta nya, tapi semua sia-sia.
Tak lama Amel masuk kedalam kamar dan mulai membersihkan diri, ia keluar hanya menggunakan lingerie berwarna merah yang cukup menggoda.
Ilham yang masih melihat gawai nya tak sadar, saat Amel mulai mendekat dan mencium bibirnya.
Tindakan Amel yang tiba-tiba membuat Ilham sedikit terkejut, walaupun hatinya masih sedikit risau karena memikirkan Hanum, tapi serangan yang dilakukan Amel sedikit membuatnya lupa.
Dan malam ini, menjadi malam panas kesekian kalinya untuk Ilham lewati bersama dengan istri baru nya, melupakan sedikit risau di dalam hati dengan kesenangan lainnya.
*****
Silahkan kalau Mas Ilham mau di maki-maki, mamak ikhlas bener😭😭😭
itu anak siapa?