Anggun yang mengira hidupnya sudah bahagia dengan mendapat cinta Adrian,, namun ternyata itu hanya mimpi sesaat baginya. Kenyataan pahit menghempaskannya kembali pada kehancuran dimana Adrian harus terjerat kembali pada wanita di masa lalunya.
Dan kali ini dia harus menghadapi badai yang lebih berat dari sebelumnya. Adrian melayangkan gugatan cerai padanya di saat dia sendiri sudah menanggalkan cintanya pada pria tersebut. Dan disaat yang bersamaan,, muncullah pria yang sebelumnya selalu memberikan dukungan untuknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Akankah Anggun memperoleh kebahagiaannya kembali?? Simak kisahnya di "Anggun Bidadariku Season 2"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Mobil Ny Sujono sudah sampai di pekarangan. Kaki Anggun terasa kelu untuk melangkah. Rumah itu, kenapa terasa asing baginya?
"Doni, tolong kamu bawakan barang-barang Anggun!" perintah Ny Sujono setelah mereka keluar dari mobil. Wanita itu lalu segera mengajak Anggun masuk.
Ragu-ragu Anggun memasuki rumah tersebut. Ya. Semua terasa asing. Tapi ada hal lain yang mengganggu hatinya. Kenangannya bersama Adrian menyeretnya kembali ke masa lalu. Wanita itu menelan ludah pahit. Kenapa dia harus kembali ke rumah ini? Menjadikan sesuatu yang ingin ia lupakan jadi teringat kembali.
"Anggun, kenapa masih di situ terus?" tegur Ratih saat dilihatnya Anggun tetap diam berdiri di ambang pintu. Anggun tersentak karenanya. "Ayo, masuklah!" ajak Ratih kemudian.
Perlahan Anggun menginjakkan kakinya. Matanya membesar ke seluruh ruangan. Sebentar kemudian muncullah mbok Inem dari dalam rumah. Wanita yang sudah hampir mencapai senja di usianya itu datang dengan tergopoh-gopoh.
"Non Anggun."
"Mbok." Anggun dengan sopannya menyalami wanita tua itu yang membuatnya terharu. "Sehat mbok?" tanya Anggun kemudian.
"Ya, seperti inilah. Simbok senang bisa melihat non Anggun di sini lagi." Anggun tersenyum kecut.
"Apa kamar sudah di bersihkan, Bi?" Ny Sujono menyela.
"Sudah Ndoro. Kamar non Anggun sudah siap." Ny Sujono tersenyum senang. Dia lalu mengulurkan tangannya pada Anggun berusaha meraih tangan wanita muda itu.
"Ayo Nduk, aku antar kamu ke kamar," ajaknya kemudian. "Oh....ya bi, segera siapkan sarapan setelah ini."
"Njih Ndoro." Bi Inem cepat berlalu dari hadapan keduanya. Dan kini Ny Sujono mengajak Anggun ke kamar yang di maksud.
Jantung Anggun berdetak. Kakinya terasa kaku saat mengetahui Ibu Adrian mengajaknya ke kamar yang di tuju. Kamar Adrian.
Tidak. Aku tidak mau masuk kesana.
"Ayo Nduk, kenapa kau masih berdiri terus?" Anggun tersentak. Menelan ludah pahit seketika.
"Eh....Bu, sebaiknya saya menempati kamar tamu saja," Anggun mencoba menolak.
"Ndak bisa. Sejak kamu menjadi bagian dari keluarga ini, kamar ini sudah menjadi milikmu. Dan sampai sekarang, kamar ini tetap milikmu. Sudahlah, jangan berfikir apapun. Ayo masuklah. Taruh barang-barangmu di dalam."
Ibu Adrian membukakan pintu segera. Dia lalu menganggukkan kepala dengan tujuan meyakinkan Anggun. Wanita itu sedikit ragu memasuki kamar tersebut. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Semua masih sama. Tidak ada yang berubah. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah foto berbingkai besar yang terpasang di dinding.
Kenapa foto itu masih terpasang disana?
"Ibu tinggal dulu, Anggun. Ibu mau lihat bi Inem di dapur dulu." Anggun yang sedikit terkejut dengan cepat mengangguk pelan.
Wanita itu meletakkan tasnya di tepi ranjang. Menghela napas perlahan. Ini seperti mimpi baginya.
Sementara itu.....
Ratih yang melewati ruang keluarga terkejut saat tiba-tiba sebuah seruan berat menegurnya.
"Sudah puas dengan keputusanmu?" Ratih menoleh seketika ke arah datangnya suara. Rupanya di tengah-tengah ruangan sudah berdiri pak Sujono dengan kedua tangan bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Pak...."
"Sudah puas karena sudah mengajak Anggun kesini?" Pria itu berjalan pelan mendekati istrinya.
Ratih melengos seketika saat mendapati suaminya menatap tajam ke arahnya. "Bapak tidak perlu berkomentar apapun kalau tidak suka." Wanita itu mencebik.
"Aku peringatkan Bu, jangan sampai Ibu melampaui batasan Ibu."
"Kenapa memangnya? Saya masih berhak atas Anggun kan dari pada mereka?"
"Kita semua sudah tidak berhak lagi atas dirinya. Apapun sekarang yang menjadi keputusan Anggun, kita tidak berhak mencampuri."
"Sudahlah Pak. Kalau Bapak ndak suka, sebaiknya Bapak diam saja. Saya tahu apa yang harus saya lakukan." Ratih lalu beranjak pergi meneruskan langkahnya ke dapur.
Pak Sujono hanya bisa menarik napas panjang. Pikirannya melayang pada perdebatannya semalam dengan sang istri. Dimana Ratih kekeuh ingin mengajak Anggun kembali sedangkan dirinya menolak mentah-mentah. Dan akhirnya semua berakhir pada keputusan Ratih. Pak Sujono benar-benar tak bisa mengendalikan istrinya kali ini.
👇
👇
👇
👇
Flash Back On
*Anggun yang sedang merenung terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan di ambang pintu sudah berdiri seorang pria yang merupakan ayah dari mantan suaminya.
"Pak...." Anggun bergegas menghampiri pria itu.
Pak Sujono kemudian masuk ke dalam kamar meski tanpa dipersilahkan oleh Anggun. Matanya mengedar ke seluruh ruangan dan terhenti pada foto yang sebelumnya sempat membuat Anggun terkejut.
Pak Sujono menghembuskan napas kasar. "Foto itu...." pria itu berhenti sejenak. "Pasti kau terkejut kenapa foto itu ada disini." Anggun tak menjawab.
"Aku tak mau menyembunyikan apapun darimu, Anggun. Dan perlu kamu tahu, kalau semua ini adalah perbuatan ibumu. Termasuk ide membawamu kembali ke rumah ini lagi." Anggun masih diam tak bergeming di tempatnya.
"Bapak sudah berusaha membujuk Ibumu agar tidak memaksakan keinginannya, namun rupanya ego Ibumu terlalu tinggi sampai-sampai tak mengindahkan larangan Bapak." Pria itu mendesah pelan.
"Bapak tau kalau kau merasa tidak nyaman dengan semua ini, Nduk. Dan Bapak minta maaf atas nama Ibumu." Serasa tercekat kalimatnya di tenggorokan. Pak Sujono menelan ludah pahit.
"Sungguh, Bapak merasa tidak enak hati padamu, Anggun."
"Ndak Pak, ndak. Jangan berkata demikian. Anggun tau, Ibu ngelakuin ini karena beliau sangat sayang sama Anggun." Anggun tiba-tiba menyerobot perkataan pak Sujono. Hatinya teriris karena keluh kesah pria tersebut.
"Percayalah Anggun, Bapak akan selalu ada di sampingmu. Kalau Ibumu akan menjadi penghalang dalam masa depanmu, maka Bapak adalah orang pertama yang akan menghadapinya." Anggun tersenyum haru lalu tanpa berpikir lagi dia memeluk pria itu.*
Flash Back Of
Anggun merenung sambil menyiram bunga. Sejak tadi pikirannya melayang entah kemana saja sehingga membuatnya tidak fokus pada pekerjaannya.
Suara deru mesin mobil membelah ketenangan. Jantungnya berdegup saat mengenali siapa pemilik mobil tersebut.
"Adrian...." desis wanita itu lirih. Mata Anggun masih memperhatikan dimana Adrian berada yang mana pria itu turun dari mobilnya dengan sedikit tergesa.
Adrian belum sadar kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Dan saat matanya menangkap sekelebat bayangan, tertujulah perhatiannya pada sosok Anggun berada. Langkah Adrian terhenti seketika. Kedua pasang mata itu saling memandang hingga akhirnya Anggun memutus kontak mata tersebut. Adrianpun ingat akan tujuannya ke rumah itu. Tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam, langkah lebarnya masuk dengan kasar menuju ke dalam rumah. Mencari seseorang yang saat ini akan ia interogasi.
Sepi tak ada siapapun. Beberapa kali berteriak memanggil sang Ibu namun orang yang di maksud tak menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya suara nyaring dan cempreng mengagetkannya.
"Mas Rian...."
"Oh....Dinda."
"Ngapain teriak-teriak?"
"Ibu. Ibu dimana?"
"Ibu arisan. Bentar lagi juga pulang." Dinda hendak melangkah pergi namun di cegah dengan cepat oleh Adrian.
"Dinda, tunggu!!!" Dinda menoleh setelahnya. Adrian masih sempat melongok ke arah luar sebelum akhirnya ia bersuara. "Hmmm, kenapa mbak Anggun ada disini?" tanyanya setengah berbisik.
Dinda mengerutkan keningnya. "Mas Rian nggak tau?"
"Ahhh, kalau aku tau kenapa aku bertanya segala padamu."
Dinda terdiam sesaat. Ikut melongokkan kepalanya sebentar keluar. "Itu, Ibu yang nyuruh mbak Anggun kesini," jawab Dinda sambil berbisik pula sembari matanya melirik-lirik ke arah luar mengantisipasi kalau-kalau orang yang di bicarakan akan muncul tiba-tiba.
"Ibu?"
"Iya. Mulai sekarang mbak Anggun tinggal disini." Adrian sedikit terkejut. Matanya membulat seketika. Namun seiring dengan itu, sebuah senyum simpul muncul di bibirnya.
"Ok. Terima kasih atas informasinya." Adrian menepuk pundak Dinda pelan.
"Huh, jadi cuma mau tanya itu saja? Pakai bisik-bisik segala." Dinda lalu ngeloyor pergi.
Adrian lalu mencoba menunggu di ruang tamu sambil bermain ponsel di tangannya. Sedangkan di lain tempat, Anggun yang tau akan kehadiran Adrian di rumah itu, mencoba sebisa mungkin untuk menghindar agar tak bertatap muka langsung lagi dengannya. Berharap kalau Adrian disana hanya sebentar dan akan segera pergi lagi. Anggun memilih bersembunyi di dalam kamarnya.
Satu jam kemudian....
Suara langkah kaki ringan namun tegas terdengar di halaman rumah. Adrian yang sudah menunggu sejak sejam yang lalu, sudah mulai bosan. Sedikit-sedikit ia menoleh ke arah jam yang melingkar di tangannya sambil sesekali menoleh ke arah lain. Mencoba mencari seseorang yang beberapa saat lalu di jumpainya sedang menyiram bunga di taman. Namun hingga satu jam kedepanpun Adrian tak menjumpai siapapun kecuali bi Inem yang setengah jam lalu baru pulang dari pasar bersama pak Doni dan setelah tahu majikan mudanya datang, ia segera menyuguhkan kopi pada Adrian.
Dan kini orang yang di tunggupun tiba.
"Eh...Le...Sudah lama kamu disini?" Suara Ratih menginterupsi. Tersenyum lebar ke arah putranya.
"Sejak satu jam yang lalu, Bu."
"Maaf, Ibu baru saja arisan di rumah jeng Nanik."
"Iya, saya sudah tau kok. Dinda yang bilang."
"Kamuuuu...sudah makan?" Ny Sujono meletakkan tasnya di meja lalu duduk di seberang Adrian.
"Nanti lah Bu. Rian masih kenyang. Oh...iya, ada apa Ibu memanggilku kemari?"
Ny Sujono diam untuk sesaat. "Ibu hanya rindu padamu, Le." Seketika terdengar gelak tawa Adrian. "Kenapa kamu tertawa? Apakah lucu kalau Ibu merindukan putra Ibu sendiri?"
"Enggak Bu, maaf. Hanya saja, Rian merasa geli. Padahal hampir tiap hari Rian datang kemari."
"Le...Ibu ingin kamu tinggal disini lagi." Seketika tawa Adrian terhenti. Berganti dengan wajah serius.
"Bu, apa tujuan Ibu sebenarnya?" selidik Adrian. Ny Sujono yang di tatap dengan mata memicing tampak tenang-tenang saja. "Apa ini ada kaitannya dengaaannn...." Adrian tak meneruskan kalimatnya, namun sang Ibu mengerti ke arah mana maksud pembicaraan putranya.
"Sebaiknya jangan berpikir apapun." Ny Sujono seketika bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. "Ibu akan menyiapkan kamar untuk kamu." Imbuhnya kemudian tanpa menoleh sedikitpun.
Adrian hanya duduk terpekur. Soal keinginan ibunya? Apakah ini tidak berlebihan? Menyuruhnya tinggal kembali di rumah itu sedangkan disana juga ada sang mantan yang tinggal satu atap dengannya? Apa kata orang nanti?
👇
👇
👇
"Kau tidak bisa menyuruh Adrian tinggal disini, Bu!" Suara menggelegar memenuhi ruangan. Di ruang keluarga, tampak pak Sujono dan istrinya tengah berdebat sengit.
"Kenapa ndak bisa? Adrian anak kita. Kenapa memangnya kalau dia kembali ke rumah ini," bantah sang istri sengit.
"Bu, apa Ibu pikir ini lelucon? Adrian akan tinggal disini dan akan satu atap dengan Anggun?"
"Lalu? Apa masalahnya?"
"Tentu saja itu bermasalah, Bu. Mereka sudah bercerai. Kau harusnya menghargai perasaan Anggun."
"Bukankah lebih baik dari pada dia tinggal di rumah Dion? Siapa memangnya dia? Muhrim aja belum. Dan mereka sudah pernah tinggal bersama. Bukankah lebih baik disini? Lagi pula di rumah ini mereka tidak sendirian. Ada kita yang berada di tengah-tengah mereka."
"Tapi sekarang Anggun tidak tinggal bersama Dion lagi. Dia tinggal bersama orang tua Dion."
"Hallahh, lebih baik di sini juga dari pada dia disana."
"Tidak!!! Pokoknya Bapak tidak setuju kalau Adrian tinggal disini. Dia tetap harus pulang ke rumahnya!" putus pak Sujono kemudian dan segera angkat kaki. Ny Sujono hanya bisa mendesah kesal.
Dan soal bagaimana sang suami tau kalau Anggun tinggal bersama orang tua Dion? Itu karena tadi siang Anggun sempat berbincang dengannya. Anggun menceritakan semua tentang dirinya selama ini. Dari situlah pak Sujono tau.
Di lain tempat, Anggun yang memang mendengar perdebatan orang tua Adrian, tengah berdiri menghimpit pada sudut tembok. Tatapannya menerawang kosong ke depan. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, kenapa nasib mempermainkanku seperti ini?
Selang beberapa saat kemudian terdengar ponselnya berbunyi. Anggun segera berlari ke kamar untuk mengangkat telfon tersebut. Anggun tersenyum saat melihat siapa yang tengah menghubunginya saat ini.
"Hallo...."
"Sayang, kamu sedang apa sekarang? Maaf baru menghubungimu."
"Iya. Nggak apa-apa. Eh, aku sedang ada di kamar."
"Kau tidur?"
"Nggak. Hanya duduk-duduk saja."
"Kau sudah makan?"
"Iya. Sudah. Kamu?"
"Udah, baru saja sama mama dan yang lain."
"Kamu ada di rumah mama kamu?"
"Hmmm, bagaimana aku bisa di rumah sendirian kalau pikiranku hanya tertuju padamu. Aku bisa gila karena memikirkanmu. Karenanya aku disini. Di rumah mama. Setidaknya disini ada orang yang menemani dan menghapus rasa sepiku."
"Cckkk, kau ini. Seperti aku pergi jauh saja."
"Anggun, aku serius. Asal kau tau kalau aku cemburu karena keberadaanmu disana."
Anggun tergelak dalam waktu bersamaan. Merasa geli karena ucapan Dion yang terlihat posesif. Merasa terharu juga karena ada pria yang mengkhawatirkannya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Ahhhh, aku hanya merasa geli saja. Memangnya apa yang membuatmu cemburu? Di sini aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh."
"Disana ada Adrian bukan?"
Anggun terdiam seketika. Dan kediaman Anggun sudah bisa ditebak kalau dugaan Dion benar.
"Dion, dari mana kamu tahu kalau Adrian ada disini?" tanya Anggun kini lebih serius.
"Itu mudah ditebak, Anggun. Kedatangan Ibu Adrian yang menjemputmu dan menginginkan kau tinggal disana, tentu bukan tanpa sebuah maksud."
Untuk sejenak mereka saling berdiam diri. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Anggun, tunggu aku. Lima belas menit lagi aku datang, Ok. Aku akan bersiap dulu. Bye Sayang...."
"Ap...apa? Hallo...Halo Dion....tuutttt....tuutttt....tuutttt...." Anggun terbengong dan masih harus mencerna apa kalimat yang di ucapkan Dion barusan. Dan saat dia sadar, Anggun terloncat dari pembaringan seketika. "Apa? Dion mau kesini sekarang? Ahhhhh, sepertinya akupun harus bersiap juga."
🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃
kecuali klo ada bonus nya
tapi seru c
semua dpt porsinya, Andini & andrian g bersatu,, Andini suka mempermainkan, andrian blm dewasa, cepat kebawa emosi, labil, kasih yg jadii pasangannya, gampang terombang ambing. baca ceritanya yg ending part 1 aja udah jelas hambar rumahtangga nya, cuma main² aja. memang baik anggun sama dion, cuma agak aneh, klo habis kena serangan jantung atau apalah yg keliatan sakit, knp habis ijab kabul gak istirahat aja?
dulu bagas dan niken skrg rian dan andini