Banyak Adegan 21+
Yang Masih dibawah umur harap bijak dalam memilih bacaan.
"Mas Aku Hamil" Begitu kata seorang wanita cantik yang usia nya baru menginjak 20 tahun.
"Kamu gak bohong kan ?" tanya Seorang pria yang bekerja sebagai dokter kandungan.
Wanita yang bernama lengkap Alsafa Margareth itu mengangguk.
Dan mulai hari itu dirinya resmi menjadi istri simpanan dari seorang pria yang jarak umurnya terpaut sangat jauh. Namun cinta Safa begitu tulus ia begitu sabar walau statusnya tak pernah menemukan titik ujung. Entah karena suaminya takut meresmikan hubungan mereka atau memang tak ada cinta untuk dirinya ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Malam belum terlalu larut, namun sinar rembulan sudah menampakkan sinarnya dengan terang. Juga cahaya bintang yang begitu indah menghiasi langit malam.
Akan tetapi sangat berbeda dengan yang di rasakan oleh Safa, perempuan itu tengah duduk meringkuk di dekat jendela kaca yang menghadap keluar. Sesekali jari jemarinya menghapus lelehan air mata yang terus menetes.
Mengingat hubungan nya dengan Febri. Entahlah mau di bawa kemana rumah tangga ini. Apalagi Febri selalu mengutamakan istri tuanya dan selalu takut kalau Desi tau tentang pernikahan sirih mereka.
"Aku ingin pergi, tapi harus kemana ? apalagi dengan keadaan hamil seperti ini. Pulang kerumah ibu malah akan membuat masalah besar"
******* napas panjang terus terdengar, rasanya Safa ingin pergi dan mengakhiri semua ini, namun ia harus pergi kemana ?
Jalan satu-satunya ia harus tetap tinggal di sini dan sabar menghadapi sikap Febri.
*********
Di Rumah Febri......
Laki-laki itu sama halnya dengan Safa, belum tidur dan belum merasakan ngantuk sama sekali. Sebenarnya ia ingin menginap di apartemen dan menemani Safa. Tapi sore tadi saat ia menelpon Desi, istrinya itu berkata kalau malam ini ia tak masuk kerja.
"Kamu kenapa Mas ? sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu ?" tanya Desi.
"Enggak Sayang, Mas hanya memikirkan pekerjaan. Hari ini ada begitu banyak pasien"
Desi mengangguk, ia pun tak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadap suaminya.
"Oh ya, apa perempuan yang tinggal di rumah lama kita sudah pergi ?" tanya Desi lagi saat mengingat tentang Safa yang kemaren menjadi pemicu pertengkarang mereka.
"Sudah, Mas yang menyuruhnya pergi"
"Kenapa ?"
"Mas tidak ingin kita berantem lagi".
Lagi dan lagi Febri menciptakan kebohongan. Walau sebenarnya memang kenyataan kalau Safa telah pergi namun bukan di usir Febri.
Desi tersenyum ia mendekati sang suami lalu memeluk Febri dari belakang, begitu erat seperti tak mau di lepaskan.
"Kamu memang suami terbaik ku Mas, terima kasih ya sudah mengerti perasaan ku"
"Sama-sama"
Pelukan terlepas, tak ada balasan dari Febri. Karena laki-laki itu sedang dengan pikiran yang berkelana.
"Aku yakin Safa berani tidur di apartemen. Safa kan orangnya berani. Maafkan Mas Fa, sampai saat ini Mas masih saja menyakiti kamu" ucap Febri dalam hati.
"Tidur yuk, Mas sudah mengantuk" ajak Febri.
"Tapi ini kan masih jam 08 Mas, aku mau ngajakin kamu pergi keluar. Sudah lama kita gak makan di luar"
"Lain kali saja ya ! Mas capek sekali malam ini"
Sebenarnya bukan capek ataupun lelah, tapi Febri malas untuk pergi makan malam berdua dengan Desi, di sisi lain ia ingin menjaga perasaan Safa.
"Ya sudah deh kalau gitu" Desi tampak kesal karena ajakan nya di tolak Febri.
"Tapi kamu jangan lupa ya Mas, sebentar lagi ulang tahun pernikahan kita, dan aku ingin di rayakan besar-besaran lagi" sambung Desi lagi.
"Buat apa sih Des, tahun kemaren kan sudah di rayakan. Lagian apa untungnya sih selalu merayakan ulang tahun pernikahan. Ngabisin duit aja tau gak"
Desi terhenyak kaget, karena biasanya Febri akan selalu mengiyakan jika dirinya meminta untuk merayakan ulang tahun pernikahan. Namun kali ini berbeda Febri ingin menolak.
"Kok kamu berubah Mas ? kenapa ?"
"Berubah apa nya Des, aku cuman tak ingin kita terus menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting"
"Tidak penting ? Mas ini tu ulang tahun pernikahan kita, kok bisa sih kamu bilang gak penting. Atau jangan-jangan kamu sudah tak mencintaiku lagi ? iya ?"
"Terserah kamu mau mikirnya gimana" Febri menuju ranjang tempat tidur, ia membaringkan tubuhnya dengan miring ke kiri. Sementara Desi kesal dan marah dengan sikap suaminya itu.
********
Masih di malam yang sama......
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Namun Safa masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal ibu hamil tidak boleh begadang seperti ini.
"Semoga besok atau lusa Mas Febri mau mengatakan sejujurnya sama Mbak Desi, dan dia mau menikahiku secara resmi"
Sungguh sebuah harapan yang sederhana untuk Safa, ia ingin di akui dan pernikahannya di ketahui oleh banyak orang.
Tiba-tiba Safa ingat kalau ia belum mencuci baju Orlando, karena tak bisa tidur Safa memutuskan untuk mencucinya saja.
Kemaja Orlando masih ia letakkan di dalam kamar mandi, beruntung tadi Febri tak melihatnya karena kalau Febri melihat ada kemeja laki-laki di apartemen itu Safa takut akan terjadi pertengkaran.
Dengan pelan Safa mengucek bekas muntahnya tadi, setelah di nyatakan bersih barulah Safa mencucinya di mesin cuci dan langsung mengeringkan nya juga. Jadi dengan cara di anginkan saja baju itu sudah kering. Tingga di setrika dan besok pagi akan ia kembalikan.
"Jangan lupa cuci yang bersih ya !" kembali Safa ingat dengan ucapan Orlando tadi siang.
**********
Keesokan paginya Safa sudah bangun sejak pukul 05 tadi, selesai melaksanakan sholat subuh Safa langsung memasak karena kata Febri ia akan datang pagi ini.
Safa ingin menjadi istri yang baik, makanya ia menyiapkan makanan untuk sang suami.
Mata Safa melirik kemeja yang menggantung, ia baru ingat kalau harus mengembalikan kemeja itu pagi ini sebelum Febri datang.
"Sebaiknya aku setrika kemeja itu dulu, baru melanjutkan memasak"
Safa langsung mengambil kemeja itu dan menyetrikanya, tak lupa Safa memberi pewangi supaya kemeja Orlando harum.
Selesai menyetrika Safa langsung membawa kemeja itu menuju apartemen Orlando, beruntung kemaren ia melihat yang mana apartemen laki-laki itu. Safa memencet bel dan tak berselang lama Orlando membukakan pintu.
"Wow, kenapa kau sepagi ini datang ke apartemen ku ? apa kau sedang merindukan aku ?" tanya Orlando.
Safa memutarnya tanda malas "aku cuman ingin menyerahkan kemejamu saja" ucap Safa sambil menyerahkan kemeja di tangannya.
"Cepat sekali ya keringnya, kapan kau mencucinya ?"..
"Tidak perlu kau tau aku mencucinya kapan, ya sudah aku mau pergi"
Safa hendak beranjak namun Orlando langsung memegang lengan Safa sehingga langka Safa berhenti.
"Apa yang kemaren sore datang ke apartemen mu adalah suami kamu ?" tanya Orlando, ia memang melihat Febri saat datang ke apartemen kemaren.
"Iya, dia suamiku"
"Tapi sepertinya dia tak cocok menjadi suami kamu, dia lebih cocok menjadi ayah mu, karena sepertinya dia sudah berumur"
Memang kenyataannya begitu, jarak umur yang begitu jauh antara Safa dan Febri sehingga ia layaknya anak bagi Febri.
Safa sendiri tak menyangka kalau akan menikah dengan laki-laki yang berumur seperti Febri.
"Bukan urusan mu !" ucap Safa menghempaskan tangan Orlando.
"Apa kau mencintai suami mu ? "
"Jangan banyak tanya !! kita bukan teman"
"Kalau aku mau jadi teman mu bagaimana ? apa kau mau ??"
-----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...
VISUAL AKAN AUTHOR KASIH DI EPISODE BERIKUTNYA YA !!
Klo kejadian kaya Safa harusnya Febri jujur sama istrinya klo dia sudah niduri perempuan lain walau karena kecelakaan. Istrinya mo terima apa gak itu sudah jg resiko Febri dan tanggungjawab sudah merusak kehormatan perempuan lain. Ini malah berbohong dan bohong terus lebih baik Safa pergi deh tinggalin Febri daripada tersakiti , lebih baik hidup bahagia bersama anakmu. Soal rezeki dan jodoh kan dah ada yg atur. Upps lupa deh ini kan novel 😄😄😄 jelas yg atur author donk. Safa selamat berjuang aja ya.