NovelToon NovelToon
Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa

Status: tamat
Genre:Romansa-Percintaan bebas / Diam-Diam Cinta / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:295.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

"Apa itu mahabbah?"

Ketika mendapat pertanyaan itu Khalisa tidak bisa mendapat jawabannya hanya dengan berpikir satu atau dua hari, meski telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memahami apa itu mahabbah ia tak akan bisa betul-betul mengerti.

Namun ada satu orang yang membuat Khalisa merasa jika dekat dengannya maka ia juga dekat dengan sang pencipta—dekat pula pada arti dari mahabbah.

Suatu hari di pertengahan bulan suci ramadhan, ia mengungkapkan perasaannya berharap mereka memiliki rasa yang sama dan mau menjalani ibadah paling lama yakni pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

"Hari ini mau kemana?" Rindang menyendok makanannya dengan malas karena ia melihat Khalisa makan nasi putih sedangkan dirinya harus puas hanya dengan oatmeal dan susu plain. Nasi putih terlihat begitu istimewa di mata Rindang karena ia tak bisa memakannya setiap hari.

"Ada kegiatan cuci mukenah bareng di masjid." Khalisa meletakkan telur mata sapi yang baru digorengnya di atas nasi, ia membuat sarapan sederhana nasi putih dan telur ceplok serta sambal terasi kalengan yang ada di kulkas nya. Ia duduk di hadapan Rindang bersiap menyantap sarapannya.

"Kayaknya seru tuh."

Khalisa mengangguk, "mau ikut?" Ia melahap nasi dan sambal terasi dingin dengan nikmat, seharusnya ia menghangatkan sambal tersebut lebih dulu tapi ia sudah telanjur lapar ingin segera makan sehingga harus menerima sambal yang terasa seperti es di mulutnya.

"Pengen ikut tapi aku mau ibadah pagi, siangnya ke kantor polisi buat proses penyidikan."

"Jason temenin kamu kan?"

Rindang mengangguk, sejak kejadian itu Jason tak pernah membiarkannya keluar sendiri. Karena mereka kuliah di kampus yang sama itu memudahkan Jason untuk menjaga Rindang. Mereka menempel bagaikan gelatin yang tak bisa dipisahkan. Khalisa tidak heran karena semua cowok yang menjadi pacar Rindang pasti akan tergila-gila. Hanya saja hubungan mereka tak akan lebih lama dari 2 bulan. Itu sebabnya Khalisa kagum pada Jason karena sebentar lagi ia dan Rindang akan merayakan anniversary ke 1 tahun.

"Semoga semuanya berjalan lancar ya." Khalisa berharap tak ada kejadian seperti ini lagi di masa depan. Ia tak mau Rindang terluka fisik maupun batin.

Mereka sarapan bersama di rumah Khalisa karena Rindang menginap disini semalam. Rindang masih trauma dengan kejadian itu apalagi orangtuanya telah kembali ke Banyuwangi sehingga ia harus tidur di apartemen Khalisa untuk sementara, setidaknya sampai proses penyidikan selesai.

"Kemarin aku lihat rekaman CCTV waktu kamu tidur di apartemen ku, orangnya sama sekali nggak kelihatan, dia pakai jaket bertudung gitu, karena koridor gelap jadi aku nggak bisa lihat itu jaket warna apa."

Meski telah memikirkannya Khalisa tidak tahu siapa kemungkinan orang yang telah menggedor apartemen Rindang. Kemungkinan terbesar yang ada di kepala Khalisa saat ini adalah staf apartemen yang menyukai Rindang dan ingin menggodanya dengan cara seperti itu. Namun ia tidak mau terlalu cepat menarik kesimpulan karena mereka tidak memiliki petunjuk apapun kecuali rekaman CCTV yang tak kelihatan jelas itu.

"Itu buah banyak banget." Rindang melirik semangka, pepaya dan apel yang sudah dikupas dan dipotong di dalam kotak. Ia mengalihkan pembicaraan dengan cepat karena tidak mau merusak selera makan Khalisa.

"Mau aku bawa ke kampus." Khalisa menyiapkan itu semua untuk dimakan bersama teman-temannya setelah membersihkan masjid nanti. Ia juga memesan nasi kotak untuk makan siang.

"Rajin banget." Rindang juga ingin makan buah-buahan itu tapi mereka mengandung banyak gula sehingga ia hanya bisa meminumnya sesekali.

"Oh iya, Azfan bilang makasih karena kamu udah mau ngasih hp mu buat dia." Khalisa lupa memberitahu ucapan terimakasih Azfan pada Rindang padahal ia memberikan ponsel itu sudah beberapa hari yang lalu.

"Kalau mau lagi masih banyak tuh di studio aku."

"Buat apa Rin, sekarang hp udah didesain dengan banyak fitur jadi jarang tuh yang pakai lebih dari satu hp kecuali mereka yang bener-bener sibuk dan mengerjakan semuanya pakai hp kayak kamu misalnya."

"Zaman sekarang masih ada yang kesusahan beli hp." Rindang merendahkan suaranya meskipun mereka hanya berdua disini tapi ia merasa tidak enak seolah-olah akan ada yang tersinggung dengan ucapannya.

"Ada, kita aja yang kurang bergaul sama orang lain, dari kecil kita hidup di lingkungan atas yang tahunya semua orang kaya dan berkecukupan padahal di luar sana banyak yang beli makan aja susah."

"Tapi ini bukan lagi tahun 2022 yang minyak aja sampai antre di minimarket waktu denger harganya diturunin sama pemerintah."

Khalisa membuang napas panjang, "aku yakin sebenernya Azfan mampu kalau cuma beli hp tapi mungkin aja dia punya kebutuhan lain yang lebih penting apalagi dia harus bayar kuliah sendiri."

"Kok kamu tahu sih?" Rindang melihat Khalisa dengan pandangan meneliti sebelum ia beranjak dari kursi untuk mencuci mangkuk bekas makannya.

"Bu Kirana sendiri yang bilang sama aku, waktu kita kesana kan kami sempet ngobrol."

"Akrab banget sama camer."

Khalisa mendelik, camer katanya? "Rindang apaan sih." Ia ikut beranjak menyusul Rindang ke tempat cuci piring setelah menyelesaikan makannya.

"Dih mukanya merah." Rindang tertawa puas melihat semburat merah pada pipi Khalisa.

Khalisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas, apakah karena ia makan sambal terasi terlalu banyak?

"Kamu suka banget ya godain orang." Khalisa memercikkan air ke wajah Rindang agar berhenti menggodanya, "kalau ada Ko Levin bilangnya ya ampun Ko Levin perhatian banget ya, kalau ada Azfan ya ampun Azfan ganteng ya." Khalisa menirukan gaya bicara Rindang saat menggodanya.

Rindang memegangi perutnya saat tertawa, ia meletakkan mangkuk yang telah dicuci pada rak dan buru-buru menjauh dari Khalisa sebelum ia mendapat percikan air lagi. Rindang malas bersentuhan dengan air sehingga hari ini ia memutuskan untuk tidak mandi.

"Jadi maksud kamu, aku harus konsisten gitu godain kamu sama Azfan aja jangan sama Ko Levin."

Khalisa berbalik dan menggeleng samar, "maksudnya jangan godain aku lagi."

Rindang mencoba menghentikan tawanya, bagaimana mungkin ia berhenti menggoda Khalisa padahal ia sangat menikmati momen tersebut dimana wajah Khalisa bisa memerah bahkan jika kebetulan Khalisa tidak mengenakan jilbab maka Rindang bisa melihat telinga sahabatnya itu ikut memerah.

"Oke." Rindang mengedikkan bahu, maksudnya oke aku bakal godain kamu terus.

"Buruan mandi gih, katanya mau ibadah jangan bilang kamu nggak mau mandi." Khalisa melangkah ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan gamis dan pashmina.

"Karena kamu yang nyuruh nih aku mandi." Rindang setengah berteriak ketika hendak keluar dari apartemen Khalisa. Rindang menarik kembali kata-katanya untuk tidak mandi karena ia hendak menghadap Tuhan maka ia harus berdandan yang cantik untuk itu.

******

Seluruh anggota HAWASI telah berkumpul di masjid Ulil Albab untuk membersihkan masjid tersebut. Itu merupakan kegiatan rutin yang dilakukan anggota organisasi mahasiswa kampus. Tak hanya membersihkan masjid, mereka juga melakukan perbaikan jika ada fasilitas masjid yang rusak.

Anggota perempuan bertugas mencuci mukenah sedangkan anggota laki-laki mencuci alas shalat yang dipasang di seluruh lantai masjid. Mukenah yang sudah tidak layak pakai maka akan diganti yang baru karena mereka memiliki banyak cadangan mukenah baru di lemari khusus.

"Khalisa, baju kamu mahal ya?" Ikha menyentuh gamis Khalisa disela-sela ia sedang memasukkan mukenah ke mesin cuci.

"Hm? enggak kok." Khalisa tertawa, apakah bajunya terlihat mahal padahal ia membelinya di salah satu e-commerce dengan harga yang termasuk murah.

"Masa sih, aku cari yang kayak gini di Alindra Mall aku pikir semua baju kamu beli disana."

Khalisa justru jarang membeli pakaian disana karena letaknya cukup jauh dari sini. Jika bukan Huma yang selalu memaksa pergi ke Alindra Mall maka Khalisa tak akan mengunjunginya.

"Di Alindra Mall sepertinya ada juga yang sama kayak ini tapi mungkin kualitasnya lebih bagus dengan harga yang lebih mahal juga tapi kalau ini versi murahnya."

Ikha masih tidak percaya bahwa gamis yang Khalisa kenakan itu murah. Memang kalau orang yang pada dasarnya sudah kaya pakai baju murah pun akan terlihat bagus dan mahal.

Khalisa dan Syifa membawa mukenah yang telah selesai dan dikeringkan di mesin cuci dijemur kembali di bawah terik matahari.

Matahari mulai meninggi sehingga tidak butuh waktu lama menunggu mukenah itu untuk benar-benar kering karena sebelumnya juga sudah dikeringkan di dalam mesin cuci.

"Khalisa." Levin menghampiri Khalisa yang sedang menjemur mukenah bersama anggota HAWASI perempuan lainnya.

"Ya Ko?" Khalisa sedikit mendekat pada Levin.

"Pakai ini." Levin menyodorkan sebuah topi berwarna putih polos pada Khalisa, "mata kamu hampir nggak terlihat karena kepanasan."

"Ko Levin juga." Khalisa menerima topi tersebut dan memakainya. "Pas juga, kamsia Koko." Ia mengulas senyum lebar.

"Kamu cocok pakai itu." Levin ingin memuji Khalisa terlihat makin cantik dengan topi tersebut, pipi Khalisa yang kemerahan saat terkena cahaya matahari membuat Levin enggan mengalihkan pandangan darinya. Namun Levin harus mengendalikan diri dan segera pergi dari sana meski hatinya berkata ingin terus berada di dekat Khalisa.

"Khalisa, Koko itu pacar kamu?" Syifa yang dari tadi curi-curi pandang pada Levin akhirnya berani bertanya apa hubungan cowok kedokteran itu dengan Khalisa karena mereka terlihat sangat akrab. Meski Khalisa memang akrab dengan semua orang tapi Syifa merasakan percikan cinta dari cara Levin menatap Khalisa.

"Bukan lah." Khalisa geleng-geleng.

"Tapi kalian kelihatan akrab banget loh." Ikha menimpali.

Khalisa tidak menjawab karena pasti mereka akan semakin penasaran jika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

******

Sesuatu yang paling ditunggu-tunggu ketika melakukan pertemuan organisasi adalah makan bersama. Biasanya mereka akan mencari tempat makan dekat sini seperti warung sate klatak atau gudeg untuk makan siang. Namun kali ini Khalisa telah membawa nasi kotak di mobilnya untuk semua anggota HAWASI.

"Kak Hasan boleh minta tolong anak cowok buat ambil makanannya di mobil saya?" Khalisa melihat Hasan yang baru saja menggelar alas di bawa pohon sawo.

Beberapa anggota laki-laki mengambil nasi kotak di mobil Khalisa yang terparkir tak jauh dari sana.

Mereka duduk membentuk lingkaran di bawah pohon sawo yang rindang sehingga meskipun cuaca panas mereka tetap merasa sejuk apalagi angin bertiup cukup kencang siang itu.

"Wah makan enak nih." Celetuk salah satu dari mereka.

"Semoga cocok dengan selera kalian." Khalisa membagikan makanan itu kepada semuanya dibantu oleh anggota lain.

Mereka mengucapkan terimakasih pada Khalisa karena telah memberikan semua makanan dan buah-buahan ini untuk mereka.

Azfan ikut duduk setelah selesai membagikan makanan itu, ia melihat sekilas pada Khalisa yang juga baru duduk bersama anggota perempuan lain. Aroma sambal menyeruak ketika Azfan membuka kotak makanan tersebut. Terdapat nasi putih, sayur dan sambal, tahu dan tempe serta ikan goreng. Mereka tampak menggiurkan.

"Oh iya for your information Khalisa bilang ini makanan khas Banyuwangi, jadi siap-siap kepedesan ya." Seru Hasan setelah ia membuka kotak makanan miliknya.

"Semoga nggak terlalu pedas karena aku minta orangnya untuk mengurangi cabe nya, kalau ketagihan berarti kalian harus ke Banyuwangi sendiri." Khalisa menebar senyum yang disambut tawa oleh anggota lain.

Mereka membaca doa bersama sebelum mulai makan nasi tempong yang merupakan makanan khas Banyuwangi yang terkenal dengan sambal pedasnya.

"Azfan bisa makan pedes nggak?" Khalisa melihat wajah Azfan memerah meski baru beberapa suapan, ternyata meski ia telah meminta kokinya untuk mengurangi cabai nya tapi itu tetap terasa pedas bagi mereka.

"Bisa kok." Azfan gelagapan karena tak mengira bahwa Khalisa memperhatikannya, ia menunduk dalam karena malu meski teman-teman yang lain tidak melihatnya.

"Buat aku aja sambelnya kalau nggak mau, jangan dibuang, sayang." Khalisa tidak tega melihat Azfan kepedasan seperti itu.

"Nggak apa-apa, masih kuat." Azfan mengulas senyum yang dipaksakan karena sebenarnya ia tak mampu lagi makan sambal itu tapi tidak mungkin ia memberikannya pada Khalisa setelah memakannya sedikit.

Khalisa sedikit mencondongkan tubuhnya, "aku ambil ya?" Tanyanya.

"Ini udah aku makan sedikit."

"Nggak apa-apa." Khalisa mencomot semua sambal milik Azfan dari pada ia melihat cowok itu kepedasan dan tak bisa menikmati makannya.

Azfan tertegun melihat Khalisa begitu santai mengambil sambal di kotak makannya, ia pikir Khalisa tak mau sembarangan mengambil makanan orang lain karena berasal dari keluarga kaya. Namun Azfan salah, Khalisa tak hanya ramah tapi juga tak pernah menganggap dirinya berbeda dari yang lain. Selama ini Azfan membangun batas tinggi antara dirinya dan Khalisa karena ia menganggap mereka sangat berbeda. Namun Khalisa seolah menerobos batas itu dan berusaha memberitahu bahwa ia juga manusia biasa.

1
Mirna
Luar biasa
Kamrah Azizah
kereeen bageet
Hr sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Rochis Khikma
mksh kk akhirnya happy ending...oh ya ada kelanjutannya untuk anak2 mereka gk kk?
Mirna: Udah ga ada kayaknya, ga kepikiran bikin lagi 😁
total 1 replies
Nina
di tunggu cerita yang baru kak mirna
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Marsha Andini Sasmita
👍👍👍❤️👍👍👍
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Titin Erawati
sukses selalu Thor, ditunggu cerita yg lainya,jgn lupa jaga kesehatan ♥️♥️♥️♥️♥️
34. Tiara Atikah
bagus banget😘😘😘😍
Mirna: Wah makasih Kak Tiara Atikah, nama kamu mirip Mahira—Mahira Atiqah 😁
total 1 replies
Jauza Lesmono
sukses terus kak dan di tunggu karya karya selanjutnya,salam sehat
Mirna: Makasih Kakak 😍
total 1 replies
RINAWATI AZZA
buat crita azka dewasa donk mbk...
Mirna: Nggak bosen sama keluarga Alindra? 🤣
total 1 replies
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
kak Mirna... sayangku..
makasih jg udah kasih kita bacaan yg positif bgt.. aku tunggu karyamu yg lain kak.. sukses terus kaka sayang...😘😘
q bakal kangen ma mereka pasti..😥
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: insyaa Allah ka Mirna...
kpn launching karya baru nih..hehe
total 2 replies
Fat Tonah
terimakasih kasih telah update sebenarnya ndk terima cerita ni berakhir tp d tnggu novel dan cerita lain berikutnya love sekebon untuk authorx love love love
Mirna: Wah love dua kebon buat Kak Fat, makasih udah baca Mahabbah Cinta Khalisa
total 1 replies
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
Alhamdulillah... selamat Abi n umma. ...
Bundanya Abhipraya
hemm ga rela tamat dehhh
Bundanya Abhipraya
suka bgt persahabatan mereka...
Bundanya Abhipraya
selamat ya azka punya dede bayi cantikk... yg akur2.
Lusia
jangan tamat dulu ya kk, panjangin aja gak akan bosen
Mirna
yang pada nanya Zulaikha, fotonya ada di tengah-tengah Papa dan Mama nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!