Dari bab awal akan banyak revisi kata ya. Maafkan author yang masih sering typo dalam penulisan. Jangan lupa untuk terus dukung author dengan memberikan like, komentar, dan jadikan novel "Cinta Terpendam" sebagai favorite agar kalian tidak ketinggalan update episode terbarunya. Eiittsss jangan lupa kasi vote buat author ya, biar author tambah semangat.
Ini adalah kisah tentang sepasang sahabat yang diam-diam saling menyimpan rasa. Ya, mereka adalah Hutama dan Ayu. Mereka adalah sepasang sahabat yang bisa dikatakan cukup dekat, hampir seperti sepasang kekasih. Tetapi di antara mereka tidak pernah terlontar ucapan cinta, hanya dari perbuatan saja. Ikuti terus kisah Hutama dan Ayu.
ig : whyelok
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon why_elok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Hari ini adalah hari ke 60 aku resmi menjadi seorang istri dari Febrian Hutama. Hari-hari yang kami lalui begitu terasa menyenangkan. Setiap hari kami mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama. Tama selalu membantuku membereskan rumah...Setelah 2 bulan menikah, aku semakin mengenal Tama..
"Bihh bangun, udah pagi sayang, tumben kamu jam segini belum bangun?" Jam sudah menunjukan pukul 06.30 pagi, Tama sudah bersiap-siap berangkat mengajar.
Karena tak ada jawaban sama sekali, Tama mendekatiku dan menepuk pipiku lembut. Tapi ketika Tama memegang pipiku, dia langsung tersentak, karena pipiku sangat panas, ya, aku demam.
Tama terlihat panik, dia tetap berusaha membangunkanku. Aku mengumpulkan tenagaku untuk membuka mataku, kepalaku terasa berat, mulutku pahit, dan mataku berkunang-kunang.
Setelah aku bangun, Tama menyentuh keningku lalu mengambil termometer di laci nakas dekat ranjang. Tama menyelipkan termometer di bawah ketiakku. Ternyata suhu panasku 40 derajat. Tama segera berlari menuju dapur, mengambil waskom dan mengisinya dengan air serta menambahkan sedikit es batu.
Tama kembali ke kamar dan mengompresku. Sangat terlihat Tama begitu panik. Sampai dia bingung apa yang harus dilakukan. Aku memegang tangan Tama, karena memang dengan dipegang tangannya, bisa mengurangi kepanikan Tama. Itulah kelemahan Tama...
"Sayang, jangan panik, aku gapapa kok...sayang berangkat kerja aja." Kataku dengan menggenggam tangan Tama.
"Enggak...kalau aku kerja, trus siapa yang jagain kamu? Badan kamu panas tinggi bih, biar aku ijin saja, nanti bahan mengajar hari ini biar aku kirim via email. Aku buatin bubur ya? Kamu harus makan biar cepet sembuh." Ucap Tama. Tangan kirinya menggenggam erat tanganku dan tangan kanannya membelai rambutku lalu mengecup kening.
"Di lemari dapur bagian atas ada bubur instan, kamu tinggal kasi air hangat aja, gk usah bikin bubur sayang."
"Baiklah, tunggu sebentar ya bih..aku akan menghubungi kepala sekolah dulu untuk meminta ijin hari ini, setelah itu membuatkanmu bubur." Tama keluar kamar dan mengecup keningku sekilas.
Ketika Tama akan membuka pintu kamar...
"Sayanggg..." Panggilku lagi dan Tama langsung menoleh.
Aku melambaikan tanganku isyarat memanggil Tama agar mendekat kepadaku.
"Ada apa bih??"
"Sini aku bisikin."
Tama mendekatkan telinganya ke bibirku. Dan aku membisikan...
"Sayang, buka bajunya dong, aku pengen lihat kamu telanjang dada dan pakai boxer." Aku mengatakannya dengan memasang wajah memelas.
"Kan aku mau buatin kamu bubur bih, masak aku harus telanjang dada dan pakai boxer aja?"
"Ya udah kalau gak mau nurutin. Aku mogok makan!" Entah kenapa tiba-tiba saja moodku berubah, keinginanku juga terasa sangat aneh. Padahal biasanya aku selalu protes kalau melihat Tama hanya bertelanjang dada dan memakai boxer, tapi kali ini aku sungguh ingin melihat Tama bertelanjang dada.
"Lhaa...kok ngambek sihh? Ya udah tunggu bentar, aku ambil boxer dulu di lemari."
"Tapi gantinya di sini aja, jangan di kamar mandi."
Duhh keinginan apalagi ini. Aneh sekali permintaanku pagi ini. Tanpa menunggu lama, Tama sekarang sudah bertelanjang dada dan bawahannya hanya menggunakan boxer..Itu pun aku yang memilihkan boxernya.
Tama keluar menghubungi kepala sekolah untuk meminta ijin lalu membuatkanku bubur. 10 menit kemudian Tama kembali ke kamar membawa nampan yang berisi bubur instan, air putih, dan obat penurun panas.
"Bihh, ayo makan dulu. Aku suapin ya."
Ketika sendok bubur sudah hampir masuk ke mulutku, tiba-tiba saja perutku terasa mual. Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutku. Tapi yang keluar hanya air saja, karena perutku belum terisi apa-apa.
Dengan lembut Tama terus memijat tengkuk leherku...
"Kamu kenapa bih? Kita ke dokter aja ya? Lihat ini, tangan kamu panas banget, wajahmu juga pucet sayang."
Seperti kehilangan tenaga, untuk berdiri pun aku tidak kuat. Dengan sigap Tama menggendongku dan merebahkanku ke ranjang.
"Sayangg...jauhin buburnya..baunya bikin eneg" Ucapku dengan menutup hidungku.
"Tapi kamu harus makan bih. Ayo aku suapin lagi."
Dan terjadi lagi, bau bubur perutku rasanya sangat mual. Padahal aku suka sekali aroma bubur instan ini. Aku coba menahan rasa mualku, masih dengan menutup hidungku, aku memohon pada Tama agar menjauhkan bubur itu. Dengan sangat terpaksa, Tama menuruti keinginanku.
"Sayangg...aku pengen makan roti bakar isi coklat, tapi yang dibakar pakai arang."
"Hah? Pagi-pagi gini mana ada yang jual roti bakar bih? Kamu kok aneh-aneh sih permintaannya?"
"Yee, siapa juga yang nyuruh kamu beli, aku pengen kamu yang bikinin." Kataku manja dengan bergelayut ke lengan Tama.
"Udah kayak orang ngidam aja mintanya aneh-aneh"
Aku langsung teringat sesuatu ketika mendengar perkataan Tama barusan.
"Sayang, sekarang tanggal berapa?"
"Tanggal 14, kenapa bih?"
Tanggal 14? Tunggu, bulan kemarin aku datang bulan tanggal 14, seharusnya bulan ini aku datang bulang tanggal 7, karena memang jadwal menstruasiku selalu maju 1 minggu. Batinku.
"Bihhh...kamu kenapa kok bengong? Kamu mikirin apa sayang?"
"Sayang, bisa minta tolong gak?"
"Minta tolong apa bih? Pasti aku tolongin lah, kan istriku yang minta."
"Aku minta tolong belikan tespack di apotik ya?"
"Testpack? Buat apa bih?"
"Udah sayang ceoet beliin, mumpung ini masih pagi"
Masih dengan rasa bingung, Tama mengganti bajunya dan pergi ke apotik untuk membelikan Testpack sesuai permintaan istrinya.
"Dasar wanita, masih pagi udah macem-macem yang diminta." Batin Tama.
***
"Biihhh...ini testpacknya, aku tadi juga beli roti sama arang untuk bikin roti bakar pesenanmu." Tama berjalan mendekat dan memberikan kantong plastik yang berisi testpack.
"Sayanggg...kok banyak banget? beli 1 aja cukup." Protes Ayu karena kaget melihat jumlah testpacknya lebih dari 1.
"Tadi aku ditanyain sama penjaga apotiknya bih, katanya mau yang biasa apa yang bagus...ya udah aku beli semuanya aja."
"Kamu tunggu disini dulu ya, aku mau bikin roti bakar di belakang. kalau ada apa-apa panggil aku ya bih."
Ayu bangun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi. Sebelum mencoba testpack, terlebih dahulu Ayu membaca petunjuk penggunaan yang ada.
"Tuhan, semoga aku benar-benar hamil."
Perlahan Ayu menggunakan testpack sesuai petunjuk. Karena deg degan melihat hasilnya, setelah menggunakan testpack, Ayu membalikan testpacknya. Semua testpack yang dibelikan Tama di coba semua.
Setelah selesai, Ayu tak langsung melihat hasilnya. Dia keluar kamar dan membawa semua testpacknya. Ayu duduk di tepi ranjangnnya, mengambil nafas panjang dan menhembuskannya pelan-pelan. Setelah mengumpulkan keberanian, Ayu melihat satu persatu testpack yang telah dia gunakan.
Dan setelah melihat semua hasilnya, Ayu meneteskan air mata kebahagiaan. Semua testpack bergaris dua, yang artinya sekarang Ayu sedang hamil.
Ayu keluar kamar dan mencari Tama ke belakang, disana terlihat Tama sedang berusaha membakar roti dengan arang sesuai permintaan istrinya. Sudah terlihat ada 4 lembar roti yang sudah selesai dibakar.
"Sayang..." Ucap Ayu biasa saja, karena dia memang ingin memberi kejutan pada Tama.
"Eh bih, kok bangun sih? Aku tadi kan bilang kalau butuh apa-apa panggil aku aja." Tama menuntun Ayu untuk duduk di kursi.
"Aku gak mau duduk sendiri." Tolak ayu pada Tama.
"Kan aku juga di sini bih, duduk di sebelah kamu." Wajah Tama terlihat seperti kebingungan melihat tingkah istrinya yang tidak seperti biasanya.
"Aku maunya kamu duduk di sini dan kamu pangku aku."
Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Tama langsung saja menuruti. Tama duduk dan memangku istrinya. Tama mengoleskan coklat di roti yang sudah dibakar, sedangkan Ayu masih tetap bergelayut manja di leher Tama, serta menyandarkan kepalanya di dada Tama.
"Papah aku laper,." Ayu memanggil Tama dengan sebutan papah, karena ingin anaknya kelak memanggil Tama dengan sebutan papah dan mamah.
Seketika Tama langsung melihat istrinya.
"Kamu mau mengubah panggilan kita bih?" Ucap Tama dengan mencium puncak kepala istrinya.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Tama, Ayu masih tetap merengek manja.
"Rotinya belum selesai ya pah? Mamah dan dedek udah laper nih."
Tama melihat lagi wajah istrinya dan mengangkat alisnya.
"Papah? Mamah? dedek? Dedek siapa bih?"
Masih tetap bergelayut di leher suaminya, tangan kanan Ayu meraih tangan Tama dan mengarahkannya ke perutnya yang masih terlihat rata.
"Kenalin pah, dedek bayi sekarang ada di perut mamah."
Seakan masih belum mengerti, Tama masih terus memandangi wajah istrinya, seolah ingin meminta penjelasan yang jelas.
"Bih...dedek bayi? Kamu hamil?"
Ayu hanya menganggukan kepalanya.
"Iya papah, aku sudah tumbuh di perut mamah" Jawab Ayu seperti suara anak kecil.
Tama langsung menghujani istrinya dengan ciuman bertubi-tubi tanpa melepaskan pelukannya karena rasa bahagianya.
"Kamu beneran kan bih? Gak bohongin aku kan?" Seolah Tama masih meminta penjelasan dan bukti.
"Masih belum percaya? Lihat ini sayang, kalau garis dua artinya positif." Ucap Ayu dengan menyerahkan testpack yang di beli Tama tadi pagi.
Lagi-lagi Tama menciumi Ayu karena rasa bahagianya.
"Papah, dedek dan mamah udah laper nih, kapan makannya kalau dari tadi papah nyiumin mamah terus." Ucap Ayu lagi.
"Maaf sayang, papah bahagia banget dedek udah ada di perut mamah. Sampai papah lupa kalau dedek dan mamah belum makan. Sekarang mamah sama dedek makan ya, papah yang suapin." Jawab Tama dengan meraba perut Ayu yang masih rata.
Kebahagiaan keluarga kecil Hutama akan bertambah lengkap dengan hadirnya calon bayi di perut Ayu.
kayak mimpi dapet notif darimu😘😘
abisnya lucu
ga ditanggepin masiiiih aja ga tau diri
ga kaya di tempet lain
malah di ladenin sm pemeran cowonya jadiiii aja berantem Mulu