Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Penyisihan kelompok Wanita 3
setelah Syifa meraih kemenangan dengan cepat, di grup berikutnya tidak menarik perhatian, baru di grup 15 bisa di bilang cukup menyita perhatian para penonton.
ada Empat peserta di grup ini, salah satunya adalah Khanza binti Hamr dari perguruan Beruang Kutub, gadis ini cukup di kenal oleh masyarakat, karena dia keturunan putri kerajaan di Benua biru.
Neneknya menjadi tawanan perang kerajaan 'Adn saat panglima Hasan melakukan ekspedisi ke Benua biru, setelah neneknya dengan suka rela memeluk agama islam, dia dinikahkan dengan putra panglima Hasan, yaitu Syaikh Umar, dari pernikahan itu lahirlah ibundanya Khanza yang bernama Sufiyah, sama seperti Khanza, dia juga memiliki paras cantik seperti orang orang benua biru, rambut keemasan dan manik mata kebiruan, banyak pemuda yang melamarnya, namun jodohnya adalah Hamr bin Amr, dari perguruan bela diri Beruang kutub.
Khanza sejak kecil memang sudah memiliki kekuatan dalam tubuhnya, yang berbeda dengan anak kecil pada umumnya, tubuhnya selalu mengeluarkan hawa dingin terus menerus.
awalnya Syaikh Hamr bin Amr khawatir dengan keadaan putrinya, dia bahkan jauh jauh membawa Khanza ke ibu kota untuk memeriksakan putri nya pada permaisuri, Khanza mengalami kondisi fisik yang berbeda, kondisi fisik tulangnya tidak sesuai dengan pembentukan sel sel darah nya, saat itu permaisuri hanya memberikan obat penguat tulang sumsum nya, agar gadis itu bisa bertahan sampai paling tidak usia remaja, sedikit berbeda dengan kedua adiknya, mereka tidak bisa bertahan dalam kondisi yang sama, mereka meninggal saat usia belum genap satu tahun.
Syaikh Abu Khanza sampai saat ini masih mencari cara bagaimana agar putri semata wayang nya bisa bertahan hidup.
Khanza sampai saat ini memang belum bisa mengumpulkan satu tingkatpun tenaga dalam, namun dia sudah bisa membuat beberapa bentuk unsur es dengan kekuatan fisik nya saja.
dari keempat gadis pendekar yang sedang bertarung, cuma Khanza yang belum memiliki tenaga dalam, di tambah lagi dia tampil tanpa membawa senjata, banyak yang mengatakan bahwa perguruan Beruang kutub tidak mempunyai banyak pilihan murid wanita.
sejak awal pertandingan Ali mengamati kemampuan gadis bertubuh mungil itu, Ali takjub dengan kemampuan gadis itu yang mampu mengendalikan unsur es.
di kerajaan 'Adn memang tidak ada yang bisa melakukan nya, kecuali beberapa saja. salah satu nya adalah Ali sendiri, berkat tenaga murni yang begitu besar dalam tubuh nya, dia mampu mengkolaborasikan unsur air dan angin hingga menjadi serpihan serpihan es, tapi berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Khanza, gadis itu tidak mempunyai tenaga dalam sedikitpun, gadis itu murni menggunakan kemampuan dari dalam tubuh nya sendiri.
gadis itu bisa membuat suhu di atas arena menjadi cukup dingin, dalam keadaan tertentu dia juga bisa membuat perisai dan senjata dari es, namun harus mengeluarkan kekuatan yang sangat besar, sehingga semakin lama wajah nya semakin pucat, karena tenaga dalam tubuh nya terkuras habis.
"kakak guru, gadis itu sungguh cantik seperti bidadari ya?" ucap Ruqayyah menyadarkan Ali.
Ali baru sadar jika dia sudah terlalu fokus memperhatikan Khanza, Ali menatap empat gadis di belakang nya, mereka menatap Ali dengan tatapan menyelidik, apalagi tatapan yang di lemparkan Aisyah kepada nya, mengerikan.
"apa yang kalian pikirkan?" tanya Ali dengan tatapan mengintimidasi.
Aisyah dan Shafia diam menundukkan kepala, Ruqayyah sadar pertanyaan nya sudah menyinggung gurunya, dia terdiam, Laila yang memberanikan diri "apa kakak guru melihat sesuatu yang tidak kami pahami dari gadis itu?" tanya Laila dengan sangat hati hati.
Ali kembali tersenyum "kalian jangan berfikir yang tidak pantas, aku hanya mengamati jurus jurus nya, bukankah itu adalah hal yang baru bagi kita semua, dia tidak mempunyai sedikitpun tenaga dalam, aku khawatir dia tidak bisa bertahan sampai pertandingan selesai" Ali menjelaskan apa yang ada dalam benak nya.
"khawatir?" kata kata itu yang keluar dari mulut Aisyah.
Ali menoleh pada Aisyah "sangat di sayang kan jika gadis itu tidak bisa lanjut ke babak berikutnya" ucap Ali datar.
"kenapa kau begitu perhatian kepada nya? apa kau juga ingin mengambil nya sebagai murid mu juga?" Aisyah melempar pertanyaan, tapi matanya mencari jawaban yang lain.
"kau benar, aku memang sedang mencari sebanyak banyaknya murid perempuan yang berbakat" jawab Ali mantap.
"lalu kenapa harus perempuan? kenapa tidak laki laki saja? " tanya Aisyah menyelidik.
"suatu hari nanti kalian akan mengetahuinya" jawab Ali sambil tersenyum penuh makna.
di tengah arena ketiga lawan Khanza sudah tak mampu lagi berdiri, badan nya menggigil hebat, walau tak ada luka yang cukup parah, tapi mereka sudah tidak bisa melanjutkan pertandingan lagi.
sedangkan Khanza sendiri masih mematung, wajahnya sudah sangat pucat, saat wasit menyatakan Khanza sebagai pemenang nya, gadis itu langsung menarik kembali aura dingin yang di tebarkannya.
beberapa saat kemudian gadis itu jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri, wasit langsung memeriksa denyut nadi nya, dan langsung memanggil tenaga medis dan membawa nya ke ruang perawatan.
Ali masih tidak menghiraukan nya, sampai Shafia mengingat kan "kakak dia pingsan, kenapa kakak dian saja? " kata Shafia sambil mengguncang guncang kan bahu Ali.
Ali memandang aneh Shafia "kenapa sekarang kamu yang sangat mengkhawatirkan nya?" tanya Ali heran.
Shafia juga bingung dengan apa yang dipikirkan nya, dia hanya berpikir kalau Ali bisa menyembuhkan nya, seperti saat mengobati nya dulu. "aku taju kakak bisa menyembuhkan nya" ucap Shafia sambil menoleh ke sekitarnya.
"aku disini untuk menjaga kalian semua, kalau untuk dirinya sudah ada dokter yang menangani nya" jawab Ali.
Ali mengira tim medis perlombaan bisa mengatasi keadaan nya, dia tidak ingin terlalu banyak ikut campur semua urusan, apalagi sudah ada yang menangani nya, dia hanya ingin menangani sesuatu yang hanya dia yang bisa menangani nya.
sesaat kemudian seorang murid senior berjalan dengan tergesa gesa, dia menghampiri Ali dan memanggilnya "Syaikh muda, anda di panggil guru besar" ucap pemuda itu.
Ali menoleh kebelakang, dia bingung apakah pemuda itu sedang memanggil nya atau bukan, setelah pemuda itu sampai di hadapan nya, Ali bertanya pada pemuda tersebut, "kamu mencari siapa? " tanya Ali.
pemuda itu masih mengatur nafasnya yang terputus putus, "Syaikh muda di panggil guru besar, anda diminta untuk mengobati gadis yang sedang sekarat." pemuda itu mengulangi ucapannya.
Ali mengerutkan dahi nya, dia tidak suka dipanggil begitu "aku? " tanya Ali sambil menunjuk dirinya sendiri. "siapa yang menyuruh kalian memanggil ku seperti itu? " tanya Ali sedikit kesal.
pemuda itu terkejut, dia memanggil seperti itu karena ingin membuat Ali bahagia, tapi malah sebaliknya, Ali kelihatan tidak suka di panggil seperti itu. "gu.. guru besar yang menyuruh pangeran" kata pemuda itu dengan terbata bata.
Aisyah dan yang lain merasa heran dengan kelakuan kedua pemuda di hadapan nya itu, "kenapa kalian berdebat hal yang tidak penting" hardik Aisyah.
Ali menatap Shafia, "sebentar lagi giliran mu bertanding, ingat kau harus memakai strategi" pesan Ali pada Shafia.
"iya kakak, sudah cepat bantu gadis itu, sembuh kan dia, agar kita punya saudara baru lagi" jawab Shafia bersemangat.
~1085kata.