ALIYA FAKHIRA seorang gadis berusia 17 tahun, cantik, berkulit putih, hidung lancip, mata bulat, alis hitam pekat, bulu mata lentik, bibir tipis dan periang. Sedikit berisik dan polos. Terlahir dari keluarga kaya raya namun justru itulah masalahnya, gadis itu kesepian.
RADITYA DIMITRI WIRATMADJA, Pemuda berusia 19 tahun, berperawakan tinggi, berkulit putih, alis tebal, bibir tipis, bermata tajam dan rahang yang tegas membuatnya terlihat kharismatik. Putra pertama dari pasangan Alula Mayra Wiratmadja dan Raka Dimitri. Sedikit cuek namun penyayang.
Aliya yang tergila-gila pada Radit kerap melontarkan gombalan-gombalan mautnya, namun justru itulah yang menjadi masalahnya, Radit terganggu dengan keberisikkan dan kehadiran Aliya yang selalu mengikutinya. Hingga Aliya menyerah dan memilih mundur, menjauh agar rasa kecewanya tak semakin dalam. Siapa sangka Radit justru merasa kehilangan dan mulai menyadari perasaannya.
Namun terlalu rumit untuk mereka bersatu, kehadiran gadis lain yang menjadi kekasih Radit membuat Aliya semakin yakin untuk menjauh..
Selamat membaca guys💜💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAWABAN
Matahari mulai menampakan sinarnya, memaksa bulan sang penguasa malam beranjak dari singgasananya. Suara-suara merdu burung saling bersahutan menyambut cerahnya sang mentari, membuat penghuni kamar ber cat warna pink itu menggeliat, menyesuaikan kesadarannya yang masih setengah memasuki alam mimpi.
Dengan tubuh loyo Aliya memaksakan dirinya beranjak duduk, menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuhnya kemudian menurunkan kakinya dari atas ranjang untuk kemudian beranjak ke kamar mandi, meninggalkan ranjang nyamannya, yang setiap malam setia memberikannya kenyamanan dan kehangatan.
Beberapa menit menghabiskan waktunya di kamar mandi, kini gadis cantik itu tengah bersiap dan mengolesi cream yang tiap hari rutin ia gunakan. Dengan rambut yang ia biarkan tergerai begitu saja, Aliya menyampirkan tas selempang kesayangannya kemudian beranjak turun menuruni anak tangga menuju meja makan untuk sarapan.
"Pagi non Aliya". Bi Minah menyapa dengan senyuman, menyiapkan piring untuk Aliya kemudian menyendokan nasi goreng telor mata sapi secukupnya ke atas piring.
"Makasih Bi". Aliya pun memberikan senyan terbaiknya pada bi Minah, wanita tua yang setia menemaninya sejak ia kecil hingga saat ini.
Segelas susu coklat hangat tersaji di hadapannya, pelengkap sarapan di setiap paginya.
Baru beberapa suapan saja, terdengar bunyi klakson mobil dari depan sana. Aliya mengernyit, siapa sepagi ini yang bertemu ke rumahnya??
Aliya menatap bi Minah yang juga tengah menatapnya. Tatapan bertanya yang hanya akan terjawab jika keduanya melihat siapa yang datang sepegi itu?.
"Biar bibi lihat dulu non".
"Iya Bi". Aliya kembali menyuapkan sarapannya.
"Pagi Al".
Suara seseorang menyapanya, suara yang mampu menghentikan suapan yang baru saja akan memasuki mulutnya. Kemudian ia pun menoleh. "Kak Radit?? Ngapain pagi-pagi kesini??".
"Jahat banget sih nanya nya, aku jemput kamu lah".
Aliya mencebik, sepagi ini ia harus berolah raga jantung berdekatan dengan Radit.
"Den Radit mau sarapan??". Bi Minah bertanya, dari panggilan Aliya t
"Enggak Bi makasih, boleh bikinin teh anget aja bi".
"Siap Den".
Radit tersenyum, kemudian menoleh pada Aliya yang hanya diam saja dengan sarapannya. "Khusyu banget makannya".
Aliya tak menjawab, gadis itu hanya mendelik kemudian kembali melanjutkan sarapannya.
Radit di buat gemas, baru saja ingin melayangkan cubitan di pipi Aliya, Bi Minah datang dengan secangkir teh hangat. "Silahkan den".
"Makasih loh Bi, aku jadi ngerepotin".
"Enggak atu den, bibi permisi ke belakang dulu ya non, den".
"Iya Bi". Aliya dan Radit kompak menjawab.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di perjalanan, Aliya hanya diam menatap ke sisian jalan yang ia lewati. Jalanan masih cukup lengang karena masih terlalu pagi. Pohon-pohon yang ia lewati seolah melambaikan tangan, tertinggal di belakang bak sebuah kenangan.
"Al.." Suara bariton Radit memecah keheningan, sedari tadi pemuda itu mencuri pandang pada gadis di sampingnya yang hanya diam, tidak berisik seperti biasanya.
"Iya??". Aliya menoleh pada Radit, menunggu kalimat apa yang akan terlontar selanjutnya.
"Boleh aku tanyakan jawabannya sekarang??".
Aliya menghela nafas panjang, inilah yang sedari tadi ia fikirkan, bagaimana jika Radit menagih jawabannya sedangkan ia saja masih terlalu bimbang memikirkannya.
"Kak, aku takut nyakitin kak Nadin".
"Apa kamu gak takut nyakitin aku??". Radit balik bertanya, "Al, kamu berhak bahagia, aku juga. Tolong jangan libatkan orang lain dalam perasaan kita".
Merasa tidak berkonsentrasi, Radit menepikan mobilnya. Untung saja jalanan masih sepi, pemuda itu melepas set belt nya, menghadap pada Aliya sepenuhnya kemudian meraih kedua tangan gadis itu untuk ia genggam. "Kasih aku kesempatan Al".
Aliya menunduk, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Gemuruh di dadanya mengatakan ia harus menerima Radit, tapi sisi lain hatinya mengatakan ia tidak boleh egois dengan perasaannya yang akan menyakiti orang lain. Meski Aliya seorang gadis yang ceria, berisik, bahkan kadang-kadang sedikit over, tapi sesungguhnya ia gadis yang rapuh, perasa dan lemah.
"Al please". Suara lembut Radit membuat Aliya mendongak, menatap mata teduh radit yang seakan menghipnotisnya dan menuntun kepalanya untuk mengangguk.
Radit tersenyum lebar, binar bahagia sangat terlihat jelas di sorot matanya. "Makasih Al, aku cinta sama kamu".
Aliya mengangguk seraya tersenyum, biarlah untuk saat ini mereka memperjuangkan perasaannya. Bersikap egois untuk mendapatkan kebahagiaan.
Radit menarik Aliya, membawa tubuh mungil Aliya ke dalam dekapannya. Dengan ragu Aliya mengangkat ke dua tangannya, melingkarkannya di pinggang Radit untuk membalas dekapan pemuda itu. Tak henti-hentinya Radit mengucapkan terima kasih, membuat Aliya terkekeh kemudian menarik dirinya dari dekapan sang kekasih.
"Makasihnya udah kebanyakan". Ujarnya.
Radit tertawa, tawa yang membuat Aliya terpaku. Seakan membawa gadis itu jatuh pada pesona Radit untuk yang ke sekian kalinya.
Keduanya menatap dalam diam, hanya senyuman malu-malu yang menghiasi wajah berseri mereka. Hingga tanpa sadar, Radit mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Aliya, sedikit memiringkan kepalanya untuk meraih bibir ranum kekasihnya. Aliya hanya bisa memejamkan matanya, menerima kecupan hangat Radit tanpa berani membalasnya. Jangan di tanya soal jantungnya, mungkin jika terlihat, saat ini organ-organ tubuh Aliya yang berada di dalam tengah melompat-lompat keluar dari sarangnya untuk kemudian menari-nati dengan lincahnya hingga menghasilkan degupan yang begitu kencang.
biar ara sm ziko sj & biarkan saga ttp menjadi kakaknya ara yg jd garda terdepan dlm melindungi & menjaga adiknya yg sangat dia sayangi
radit tdk sprti barry yg lebih mengutamakn istri & anaknya d banding hal yg lainnya termasuk itu pekerjaan sekalipun....bagi barry istri & anaknya yg nomer satu
smoga g ad pelakor yg berniat memisahkan cinta kalian
kisah cinta yg terhalang restu, jarak & waktu😭😭😭😭
smoga suatu saat akan ada pelangi yg muncul setelah badai utk cinta radit & aliya😌