Follow IG : renitaria7796
Aran Odelia Courtney seorang raja berkuasa yang menyukai gadis bernama Sara Helowit. Raja menginginkan Sara menjadi selir keempat puluh satu. Namun sayangnya Sara sudah memiliki seorang kekasih.
Bagaimana Aran akan menaklukkan Sara? Lalu mampukah sang kekasih menyelamatkan Sara dari belenggu Aran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan
"Kita harus lakukan pembersihan kota suci secepatnya," ucap Charles.
Beberapa anak buah Calder mulai melakukan pembersihan. Pendeta serta pengikutnya mulai dijadikan tawanan oleh mereka.
Charles maju dengan menunggangi kuda karena mendengar beberapa kuda yang datang dari depan. Seorang pria bawahannya memberikan teropong dan terlihat bahwa prajurit dari kerajaan mendekat.
"Sial!" Charles berpacu dengan kudanya. "Prajurit kerajaan akan sampai. Kalian bersiaplah dan salah satu dari kalian, katakan kepada Calder untuk menyerang daerah lain."
"Baik, Tuan."
Orang-orang dari desa Suci dibiarkan saja dalam keadaan terikat. Charles beserta bawahannya pergi dan meninggalkan para tawanan di sana.
Prajurit kerajaan datang dengan kuda-kuda mereka disertai panglima raja yang gagah berani. Ranulf berkeliling dan ia melihat langkah jejak kuda di tanah.
"Kalian lepaskan para tawanan, dan sisanya tetap waspada. Mereka mungkin akan menyerang sewaktu-waktu," ucap Ranulf.
Tiba-tiba beberapa prajurit mengerang karena tembakan panah yang melukai tengkuk leher serta pinggang mereka karena di sisi sana terdapat celah yang tidak dilindungi baju besi.
"Bersiap untuk menyeranggg!" seru Ranulf.
Prajurit mulai membuat benteng dari tameng besi untuk melindungi tubuh mereka dari hujanan anak panah.
"Nyalakan api dan bakar mereka!" perintah Ranulf.
Api segera dinyalakan. Prajurit mengunakan anak panah yang diberi api untuk memancing para pemberontak itu keluar.
"Lepaskan batu besar itu!" perintah Charles, "kita akan menghancurkan benteng manusia yang mereka buat.
Jebakan itu telah dibuat sebelummya oleh Charles dan bawahannya untuk menjebak prajurit kerajaan.
Tali yang menahan batu besar dipotong, lalu digulingkan. Prajurit yang melihat batu itu menggelinding segera bubar dan anak panah mulai melesat ke arah mereka.
"Sial! Aku sangat benci mereka melakukan penyerangan secara tersembunyi," ucap Ranulf dengan mengepal tangan.
Ranulf mengambil terompet yang berada di sisi pinggang, lalu meniupnya. Suasana menjadi hening karena suara terompet itu.
Tubuh Charles menegang karena suara anak buahnya yang terkena anak panah. Semua melihat ke belakang dan mereka melihat prajurit keluar dari hutan.
"Mereka mengepung kita! Cepat, menyingkir!" teriak Charles.
Pemberontak yang bersembunyi di balik hutan belakang desa, mulai keluar dan dari luar mereka dikepung oleh pasukan Ranulf.
"Habisi mereka! Jangan sampai ada yang tersisa," kata Ranulf.
"Kalian semua, lakukan perlawanan dengan sengit. Jangan pantang untuk menyerah!" perintah Charles membangkitkan semangat para bawahannya.
Ranufl tertawa, "Kalian tidak akan bisa mengalahkan kami!"
"Yakin sekali kamu Panglima! Mungkin kamu bisa menghancurkan kami di sini, tetapi tidak di tempat lain," kata Charles.
Ranulf dan Charles saling beradu pedang. Begitu juga dengan yang lain. Mata Charles melirik pada pria yang masih duduk di atas kuda dengan seragam perangnya.
"Kenapa rajamu tidak turun tangan?" tanya Charles di tengah sengitan pedang mereka.
"Tidak perlu rajaku turun untuk menghabisi kalian semua. Aku saja yang turun sudah bisa menghabisi kalian," jawab Ranulf yang berhasil melukai lengan Charles.
Charles mundur kemudian meniup peluit panjang. Pria itu tertawa melihat wajah Ranulf yang penuh kebingungan.
"Kali ini kalian akan habis!" kata Charles tertawa.
Suara langkah kuda berpacu. Mereka menembakan anak panah ke arah musuh. Pasukan kedua yang dipimpin Calder mendekat. Di sana ada Elios, Bear, Simon, Peter, serta Hendrik. Mereka itulah anggota inti dari pasukan.
"Kamu kira kami akan menyerang desa Fordam?" Charles menggeleng. "Kami sengaja membuat kalian terjebak di dua tempat. Kami akan menghabisimu Ranulf!"
Kedua lawan saling bertempur satu sama lain. Elios meluapkan segala amarahnya dengan menebas kepala prajurit kerajaan Whiteland. Tujuan utamanya adalah pria yang memakai baju zirah berwarna perak.
"Aku akan menebas kepalamu Raja sialan!" teriak Elios yang berlari menghampiri sang pria.
Dentingan benda tajam saling beradu. Elios seakan menjadi iblis di tengah medan tempur. Ia menyayat habis tubuh dari sang pria.
"Tunggu Elios!" tahan Calder.
"Biarkan aku menghabisinya!" teriak Elios.
"Dia bukan raja Aran." Calder membuka topeng pelindung dari sang pria dan tebakannya benar. Itu bukanlah Aran.
Ranulf berlutut dengan pedang yang tertancap di tanah sembari memegang dadanya yang tergores. Pelindung tubuhnya sudah terlepas dan ia terluka parah karena melawan setidaknya tiga orang ahli pedang, yaitu Simon, Bear, dan Hendrik.
"Kalian lihat di sana?" tunjuk Ranulf. "Pria itu sangat bersemangat bukan? Orang itu yang akan menghabisi kalian."
Pria dengan memakai baju zirah biasa menghabisi pasukan Calder. Sekarang tinggal mereka saja yang tersisa. Peter dan Charles menghadang pria itu dengan pedangnya, tetapi dibabat habis oleh sang pria. Peter dan Charles gugur dengan tusukkan di kepala.
"Kalian mencariku?" tanya pria yang membuka topeng zirahnya.
"Aran!" murka Calder.
"Panglimamu sudah sekarat," ucap Bear.
Aran tertawa, "Ranulf mungkin bisa kalah, tetapi aku sendiri bisa menghabisi kalian. Bawahan kalian sudah aku habisi dan prajuritku masih tersisa."
"Raja busuk! Kembalikan Sara," teriak Elios.
Aran tersentak, "Kamu tunangan selirku?"
"Raja kejam! Kamu menghancurkan cinta seorang gadis!"
Aran tertawa, "Kebetulan sekali. Aku berjanji kepada Sara untuk memenggal kepala pemberontak di hadapannya, dan aku tidak sabar untuk melihat wajah dari dua orang yang saling mencintai terluka."
"Banyak bicara! Serang mereka!" kata Calder.
"Ranulf, berikan senjatamu," pinta Aran.
"Tidak mau. Ini pedang kesayanganku. Pakai saja pedang lain. Aku juga akan melawan mereka."
"Sempat-sempatnya dalam keadaan terluka kamu ingin bertempur." Aran mengambil pedang dari prajurit yang terluka. Ia memakai dua pedang untuk menghabisi musuh di depan.
Ranulf melawan Hendrik. Aran melawan Elios dan Calder. Sisanya melawan prajurit kerajaan. Pasukan musuh terdesak. Simon gugur, begitu juga dengan Bear. Hendrik terengah-engah melawan Ranulf. Panglima itu sudah terluka, tetapi masih bisa mengalahkan musuh. Tidak heran ia dijuluki si monster.
Tebasan kepala menandakan Hendrik telah gugur. Tinggal Elios dan Calder yang masih bertarung sengit.
"Kamu pernah mendengar jeritan kenikmatan Sara? Jeritan itu sangat indah. Saat-saat dia puas dengan hentakan yang kuberikan," ucap Aran.
Elios semakin murka mendengarnya. Ia mengayunkan pedang ke arah Aran dan berhasil raja itu tangkis.
"Jaga emosimu, Elios. Dia sengaja membuatmu marah," teriak Calder.
Elios tidak peduli dan bagai kesurupan mengayunkan pedangnya dan hal itu sangat disukai Aran. Bagaimanapun Elios bukan tandingan Aran dan pria itu hanya main-main dengannya. Elios menjerit saat ia mendapat sayatan di dada.
Calder menyerang dan bertarung melawan Aran. Sang raja terluka di bagian tangan dan kaki bagian atas lutut, tetapi tidak mengurangi kekuatannya. Calder terdesak saat ujung pedang Aran berada di lehernya.
"Menyerahlah sekarang! Pasukanmu sudah gugur," kata Aran.
"Tidak akan!" kata Calder.
Aran menekan leher pria itu dengan pedangnya. "Tangkap mereka berdua. Kita akan memperlihatkan hukuman yang pantas untuk pemberontak."
Calder dan Elios ditangkap. Kepala dan tangan mereka diberi rantai dan di masukkan ke dalam kerangkeng besi. Calder menatap rekan dan pasukannya yang telah gugur di medan pertempuran. Tanah tempat mereka bertempur menjadi merah dari tubuh yang kehilangan nyawanya.
Bersambung
Krn istana bukan cuma rumah utk suami, istri dan anak, tp ada bnyk kehidupan didalamnya yg saling menjatuhkan utk bertahan hidup
Jessica juga yg jadi penyebab kematian ibunya sara