Seorang pria tampan yang hidup dengan kegelapan penuh dengan tragis, di musuhi oleh orang sekitarnya hingga di buang oleh ibu tirinya. Hingga satu hari dia di buang oleh ibu tirinya dan di selamatkan oleh gadis berhati malaikat.
kisah yang memilukan yang sangat membuat dirinya merasa tidak layak hidup di dunia ini, sebelum seorang gadis menyelamatkan dirinya.
cover by:canva
Baca lebih lanjut di Novel Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Putri yesi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stanford University
Satu minggu kemudian julian sudah berangkat ke Amerika bersama dengan Arga. Saat ini julian sedang bersiap-siap untuk pergi
ke kampusnya karena ini hari pertama dia sekolah mungkin akan ada pengumuman untuk acara MABA( Mahasiswa Baru)
setelah selesai dia keluar di Apartemennya itu dengan senyum mengambang mengukir di wajahnya. Dia bersemangat sekali untuk pergi ke University tersebut. Jarak antara University dengan Apartemennya lumayan dekat jadi
otomatis Julian hanya berjalan kaki saja. Di karenakan dirinya menyayangkan uangnya untuk naik taksi
Setelah sepuluh menit berjalan dari Apartemennya Julian sampai di depan pintu gerbang Stanford University yang terlihat sangat indah dan mega sekali. Dengan langkah
yang masih terus berayun Julian memasuki gerbang yang luas itu dengan kagum
atas ke indahan nya.
Saat ini Julian yang pergi untuk menemui uang
Rektor untuk menemuinya. Ia menelusuri setiap koridor itu untuk mencari Ruang
rektor... akhirnya ia melihat ruang Rektorat itu.
Sekarang Julian ke luar dari Ruangan itu dan
berkumpul di sebuah Aula yang sangat besar sekali dan itu tidak terbayangkan akan kemegahan yang ia lihat di sana. Julian segera berkumpul di depan lalu mendengarkan apa yang disampaikan oleh Senior yang berdiri di depan mereka semua dan dia mengangguk paham apa yang di sampaikan.
Bubar dari Aula Julian langsung pulang ke
Apartemennya dengan langkah kaki yang kecil sengaja ia berjalan dengan pelan
ia ingin melihat- lihat keindahan bangunan- bangunan sepenjang perjalanan itu.
Tiba-tiba ia tersungkur akibat seseorang yang
menyenggol dirinya begitu kencang... julian meringis ke sakittan saat lututnya
terbentur oleh aspal. Dengan bersusah payah Julian berdiri hingga ia bisa beridiri kembali dia melihat ke kanan dan ke kiri ternyata ia menemukan sosok yang menyenggol dirinya tadi yang sedang di kejar oleh orang banyak dan orang itu akan berbalik ke arah dia lari barusan lalu dengan Cepat Julian merentangkan kakinya saat Pria itu berlari.
Bug...bug...
bunyi tubuh Pria itu di atas aspal. Julian dengan lutut sakitnya dengan cepat
memegang ke dua tangan Pria itu ke belakang punggungnya. Pria itu meringis
kesakitan saat tangannya di putar dengan keras oleh julian mungkin saat ini
tangan pria itu terkilir.
Orang –orang yang mengejar pria itu segera
mengambil alih dari tangan Julian dan membawa pria itu dengan paksa. Julian kembali melanjutkan jalannya ke apartemennya dengan lututnya yang masih rada ngilu
saat berjalan. Sesampai dia Apartemen Julian masuk ke dalam ia tidak melaikat
Arga sama sekali, lalu Julian masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mengobati luka di lututnya.
Sedang Arga saat ini dia sedang berkutik dengan Laptopnya ia sangat serius sekali
dengan apa yang sedang dirinya kerjakan. Arga sengaja mengunci pintu kamarnya
supaya Julian tidak masuk tiba- tiba dirinya bisa di pergoki oleh Julian. Di harus
bersembunyi dulu untuk saat ini.
Tawa sinis Arga tampa di bibirnya saat ia berhasil mengambil alih perusahaan dan
beberapa cabang milik Arkan saudaranya itu. ia tak menyangka atas kemampuannya
yang sangat luar biasa ini. Dirinya sudah bertekat untuk mendapatkan apa yang
dia mau yang sudah di rebut oleh ibu serakahnya dan kakaknya itu. Dia akan membuat mereka seperti
gelangdangan di pinggir jalan.
Julian ke luar dari kamarnya dan mencari Arga
ke kamarnya... saat dia mau membuka pintu ternyata terkunci dari dalam Julian
mencoba mendorong pintu tersebut namun terkunci kemudian dia memanggil Arga di
dalam kamar itu.
“Kak Arga ngapain di dalam, buka pintunya kak!” teriaknya dari luar pintu.
Tak ada respon dari dalam Julian terus berusaha untuk mencari cara dan mengulangi
memanggil Arga.
“Kak Arga kakak Arga di dalam, buka pintunya,” ucap Julian yang sudah mulai khawatir
terjadi apa- apa di dalam sana.
Klek..... pintu terbuka Julian segera melihat
Arga seperti bangun tidur
“Kak Arga kenapa pintunya di kunci?” tanya Julian.
“Aku takut nanti ada penjahat masuk ke kamar, dan berniat jahat padaku.”
“Kak Arga takut sendirian di kamar?” tanya Julian dengan Khawatir.
“Iya Julian kakak takut,” ujarnya dengan ekspresi yang takut.
Melihat itu Julian segera memeluk Arga dengan
hangat ia mengusap kepala Arga dengan lembut
“Kak Arga gak usah takut ya kan ada Julian yang akan lindungi kakak.”
“Tapi aku takut Julian, ini kan banyak penjahat aku takut aku gak mau jauh dari kamu
Julian,” ucap Arga dengan tenang namun itu caranya dia Arga dia lebih
mendapatkan perhatian lebih dari Julian.
“Kak Arga untuk malam ini tidur di kamar aku ya,biar kak Arga gak takut lagi.”
“....”Arga
hanya menggk menurut dengan apa yang di
katan oleh julian.