Gimana jadinya jika seorang anak konglomerat menikahi seorang biduan dangdut karena perjodohan kakek mereka di masa lalu.
Kalau Indonesia punya Nela Kharisma, Tristan Trijaya punya Nala Kharina. Gadis delapan belas tahun yang suka dia panggil bocil, yang ternyata seorang biduan dangdut dan suka nyanyi di acara kawinan.
Tristan yang adalah pemimpin perusahaan kakeknya saat ini, harus mau menikah Nala atas dasar janji kakeknya pada sahabatnya (kakek Nala) yang sudah meninggal. Demi mempertahankan harta yang tidak akan dibiarkan jatuh ke tangan sepupunya sendiri yang juga adalah rival besarnya, Tristan setuju menikahi Nala meski ia sendiri sudah punya kekasih.
Tapi sikap Nala yang polos, apa adanya, dan punya badan bak gitar spanyol itu seringkali membuat Tristan hampir gila. Seatap dengan gadis itu bikin hidup Tristan jadi warna warni kayak balonku ada lima. Bisakah Tristan menahan diri dan melupakan perjanjian yang sudah ia buat dengan Nala?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tristan Bodoh
"Nala?"
Wajah Tristan memucat saat ia memalingkan muka dan pandangannya yang langsung bertemu dengan mata indah Nala.
"Tristan pernah dengar lagunya Ada Band yang judulnya Manusia Bodoh?" tanya Nala serak. "Dulu, Nala kira kisah di lagu itu cuma sekedar lagu biasa. Ternyata, mereka ciptain lagu itu gak sia-sia kok, karena manusia bodoh itu memang ada. Kamu."
Tristan beranjak, berbalik sebentar lalu sebelum pergi keluar kamar, ia berkata dengan sarkas. "Karena lo gak pernah tahu apa yang gue rasain, La. Ratu itu cinta pertama gue."
"Hanya karena dia cinta pertama kamu, terus kamu akan selalu maafin dia dan tetap jadi laki-laki yang selalu ada buat dia? Selalu nurutin apapun kemauan dia?Sekalipun kamu tahu bahwa dia dan sepupu kamu sudah pernah selingkuh dan sampai hamil?" Nala ikut beranjak pula dari tempat tidurnya.
"Lo gak tahu apa-apa! Lo ... cuma anak kecil yang gak tahu apa-apa!" desis Tristan menyangkal semua kebenaran yang baru saja Nala sampaikan.
"Anak kecil ini lebih bisa berpikiran jernih, dibanding kalian, orang dewasa yang pemikirannya terlalu kerdil. Tristan terlalu memandang semua hal dari sudut pandang yang sempit, padahal dunia ini luas."
"Stop, Nala! Lo gak tahu apa-apa!" bentak Tristan setelah itu.
Nala duduk di atas ranjangnya dengan tenang. Kantuknya tiba-tiba hilang. Malam pertama mereka berakhir dengan kata-kata pedas yang terlontar satu sama lain.
"Harusnya, Tristan gak perlu cerita dan bilang begitu kalau Tristan masih mau menyangkal tentang Ratu. Laki-laki harus tegas, perempuan gak boleh semena-mena. Itu prinsip orang yang beradab. Kalian, gak punya itu sebagai manusia."
Lalu Nala kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tristan gak bisa lagi membantah apapun yang Nala katakan. Ia tidak menyangka, bahwa Nala belum tidur dan bisa mendengar semua hal yang meluncur bebas begitu saja dari lidahnya.
Dan lagi, kenapa dia harus ngomong gitu sama Nala? Kenapa harus ada adegan Nala pura-pura tidur segala? Udah, jangan nyalahin orang, dasar elu memang yang plin plan dan bego.
Nala membiarkan Tristan berjalan keluar dari kamar mereka. Situasi rumah megah kakek sudah sepi. Sepi? Enggaklah. Kakek sedang duduk di tengah kegelapan.
Tristan jadi terlonjak kaget saat lampu yang tadi udah dimatikan kini terang benderang.
"Mau kemana, Tris?" tanya Kakek penuh selidik.
Tristan jadi gelagapan.
"Ehmmmmm itu, Kek ... "
"Itu apa?"
"Ehmmmmm, Nala ngidam nasi goreng kambing."
Kakek kemudian tersenyum lebar.
"Ya udah, sana beliin dulu, jangan biarin anak kalian ileran."
Aki mah ada-ada aja. Malam pertama aja enggak masa iya Nala udah hamil aja. Lagian Tristan bisa aja. Tadi marah-marah sama Nala, ini malah bawa-bawa nama Nala pas ketahuan mau kabur di malam pertama.
"Kakek tidur kalo kamu udah balik."
Makin lesu Tristan jadinya. Dia cuma bisa manggut-manggut aja kayak ayam lagi sakit. Tristan akhirnya keluar. Jam segini dimana juga nasi goreng kambing yang masih buka? Keluhnya dalam hati dengan dongkol.
Lagian sape yang mau makan nasi kambing? Nala mah gak suka kambing. Apalagi kambing bego yang barusan berantem sama dia. Jadi ketika Tristan balik dengan sebungkus nasi goreng kambing, Nala gak peduli.
"Nih, makan dulu." kata Tristan sambil menyorongkan benda yang masih terbungkus.
"Nala gak suka nasi goreng kambing. Apalagi sama bapaknya kambing."
"Makan! Gue suapin."
"Gak suka!"
"Kambingnya gak usah dimakan."
"Gak mau!"
"Gue udah beliin jauh-jauh nih buat elo. Gak menghargai banget sih!" keluh Tristan lagi.
"Nala mau makan bebek goreng!"
"Mana ada jam segini, Nala."
"Makanya, main tuh jangan ke club malam aja. Ke pinggiran juga, kamu bakal lihat deretan warung dengan penjual ramah dan makanan enak juga harga yang merakyat." ujar Nala keki. Ia sudah pergi ke pintu lalu berhenti melihat Tristan yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Aduh ... sini! Katanya mau temenin Nala makan, gimana sih?" Nala segera mendekati Tristan lalu menarik lengan lelaki itu, membawanya keluar dan turun.
"Loh ... mau kemana lagi pengantin baru?"
"Nala mau bebek goreng, Kek." jawab Nala sambil tersenyum.
"Loh, tadi katanya pengen nasi goreng kambing?"
"Enggak, Kek. Tristan salah beli, Nala gak suka kambing, nanti ketularan bego." Terkikik Nala, sedang Tristan segera mencubit pinggang Nala tanpa diketahui kakek membuat gadis itu segera meringis tertahan.
"Ya sudah, hati-hati ya."
Nala dan Tristan mengangguk lalu segera pergi keluar. Setiba di dalam mobil, Tristan bisa bernafas lega. Dia pengen segera pulang ke rumah besok, gak bisa kalau terus-terusan di rumah kakek.
Nala menunjukkan jalan menuju warung pecel lele langganannya yang masih buka di jam malam. Ternyata beneran dong, tempat itu masih ramai bahkan banyak segala jenis cabe-cabean di sana, bentuk mereka pada gak jelas. Ada yang kayak cuma pake handuk mandi karena baju yang benar-benar minim juga sampe yang ketebalan make up, mukanya putih, leher dan tangan juga area sekitarnya cokelat kehitaman, fix dia cabe jenis baru, cabe-cabean kopi susu.
"Tuh, banyak yang lihatin Tristan. Mereka pasti iri lihat Nala bareng kamu. Sayang aja, cowok ganteng ini lagi gak bisa lihat perempuan lain selain Ratunya." Nala tersenyum jahil. Menyadari air muka Tristan yang langsung berubah lagi, Nala cepat-cepat meralat. "Canda doang kok." sambung Nala. Tristan akhirnya menarik segaris senyum. "Tapi serius." lanjut Nala lagi, bikin Tristan melotot lagi lalu segera mengapit kepala Nala dengan lengan dan ketiaknya dengan gemas.
Mereka jadi lupa kalo tadi baru aja berantem gara-gara kebodohan Tristan. Apalagi pas bebek goreng mereka datang. Beneran deh, bebek goreng lebih enak dari kambing. Mereka makan sambil bercanda, Tristan sedikit demi sedikit mulai melupakan Ratu yang sudah mencak-mencak sendiri di apartemennya saat ini.
Udah ya Romlah, manten baru mau berduaan dulu. Maen aja sama guling.
keren mah pokoknya, suka sama kosakata yg dipakek mak othor..
semoga selalu diberi kesehatan ya mak..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu dimanapun dirimu berkarya..
🙏🏻💪🏻😘😍🥰🤩💕💕💕