Cerita cinta seorang duda dewasa dengan seorang gadis polos hingga ke akar-akarnya. Yang dibumbui dengan cerita komedi romantis yang siap memanjakan para pembaca semua 😘😘😘
Nismara Dewani Hayati, gadis berusia 20 tahun itu selalu mengalami hal-hal pelik dalam hidupnya. Setelah kepergian sang bunda, membuat kehidupannya semakin terasa seperti berada di dalam kerak neraka akibat sang ayah yang memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tidak hanya di situ, lilitan hutang sang ayah yang sejak dulu memiliki hobi berjudi membuatnya semakin terpuruk dalam penderitaan itu.
Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan Mara dengan seorang duda tampan berusia 37 tahun yang membuat hari-harinya terasa jauh berwarna. Mungkinkah duda itu merupakan kebahagiaan yang selama ini Mara cari? Ataukah hanya sepenggal kisah yang bisa membuat Mara merasakan kebahagiaan meski hanya sesaat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCSD 26 : Kue Ulang Tahun
Mara, gadis belia itu melepas alas kaki yang ia pakai, membiarkan telapak kakinya bertelanjang dan berpijak di atas pasir putih yang berada di bibir pantai. Angin malam khas pantai menerpa rambut gadis itu, membuatnya berayun seiring dengan pergerakan langkah kakinya. Begitu pula dengan dress yang ia kenakan, berkibar seiring dengan hembusan angin yang menerpa.
Air laut yang surut di malam hari seperti ini membuat gadis itu tidak sadar jika ia telah berjalan jauh dari tepian pantai. Akhirnya ia memutuskan untuk mendaratkan bokongnya di atas hamparan pasir pantai ini. Pandangannya menatap lurus ke depan, melihat hamparan laut lepas yang seakan tiada berbatas. Dan terlihat kapal-kapal nelayan melaju, bergerak untuk menangkap ikan. Gadis itu hanya terdiam, larut dalam pikirannya sendiri.
Sekilas, bayangan sosok sang ayah melintas di dalam pikirannya. Meskipun ada rasa khawatir tentang kondisi sang ayah, namun ia selalu percaya jika Pramono bisa menjaga ayahnya dengan baik.
"Hhmmmmm berada di mana engkau saat ini, Yah? Apalah ayah sudah tiba di kota Bogor? Apakah ayah baik-baik saja? Mara benar-benar merindukan Ayah, namun bagaimana lagi, Mara harus menyelesaikan tugas Mara untuk menemani tuan yang akan memberikan tumpangan untuk Mara sampai ke kota itu. Semoga sebentar lagi kita akan segera dipertemukan."
Mara menghela nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. Cerita hidup yang seperti ini memang sama sekali tidak pernah sekalipun terlintas di dalam pikirannya. Kehilangan sosok seorang ibu. Menerima sebuah kenyataan bahwa sang ayah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Sang ayah yang tiba-tiba terkena stroke, lari dari kejaran juragan Karta dan terakhir bertemu dengan seorang pria dewasa bernama Dewa yang sedikit mengusik ketentraman batinnya. Semua cerita tentang kepelikan hidup yang mungkin hanya dialami oleh dirinya.
"Tinggal beberapa jam lagi, usiaku bertambah satu tahun. Dua puluh tahun, waktu yang tepat untuk memulai menapaki masa depanku. Membangun mimpi-mimpi yang sempat terhenti dan mulai menguatkan diri untuk berusaha membuat mimpi itu menjadi nyata."
Mara sedikit membuang nafas kasar. Selain ia teringat dengan sosok sang ayah, tetiba ia juga teringat akan sosok sang ibu yang kini sudah tiada. Sekelebat memory tentang masa lalu yang pernah ia lewati bersama sang ibu, tiba-tiba kembali muncul ke permukaan. Membuat dadanya terasa sedikit sesak dan mendorong bulir-bulir kristal bening berkumpul di sudut matanya.
"Ibu... Jika ibu masih ada, mungkin saat ini Mara akan melewati malam pertambahan usia Mara ini dengan penuh kebahagiaan. Sama seperti dulu, saat ibu masih berada di sini. Di setiap hari ulang tahun Mara, ibu selalu membuatkan kue. Meskipun itu hanya sekedar kue sederhana yang dibuat oleh ibu, namun Mara begitu bahagia menerimanya. Sebelum meniup lilin, ibu selalu memohonkan sebuah permohonan agar kelak, Mara bisa menjadi orang besar dan berhasil dengan apapun yang menjadi cita-cita Mara."
Mara bermonolog lirih dengan dirinya sendiri. Sesekali ia mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi. "Ibu, jika ibu masih ada di sini, mungkin Mara bisa menjadi sosok manusia yang jauh lebih kuat. Apakah mungkin Mara bisa menghadapi dan menjalani ini semua sendirian?"
Seorang laki-laki yang berdiri di balik punggung Mara hanya bisa tertegun mendengarkan apa yang menjadi curahan hati gadis itu. Ada sebuah perasaan asing yang tiba-tiba menyentuh relung hati terdalam lelaki itu. Yang ikut membuatnya merasakan sebuah himpitan di dadanya hingga setitik bulir bening itupun juga lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Siapakah sebenarnya gadis ini? Apa sebegitu rapuh kah gadis yang baru saja aku kenal ini? Meskipun ia terlihat begitu rapuh, namun ia seperti menjelma menjadi sosok yang begitu tangguh. Ia selalu terlihat begitu ceria. Mungkinkah keceriaan itu selalu terlihat untuk membentuk sebuah cangkang agar bisa melindungi hatinya dari kerapuhan?
Lelaki yang tak lain adalah Dewa itu, hanya menatap nanar tubuh gadis yang tengah larut dalam pikirannya itu. Sedari tadi ia ke sana kemari mencari keberadaan sang gadis karena tetiba ia tidak terlihat berada di dalam kamarnya. Atas petunjuk dari salah seorang pelayan resort, akhirnya Dewa bisa menemukan keberadaan gadis ini.
"Apakah esok hari kamu akan berulang tahun?"
Ucapan lelaki yang tiba-tiba terdengar melalui indera pendengaran Mara, sontak membuat gadis itu terperanjat seketika. Ia menoleh ke arah samping, dan terlihat Dewa sudah duduk di sisinya.
"Tuan? Mengapa Tuan berada di sini? Apakah Tuan mengikuti kemanapun saya pergi?"
Itu benar sekali Ra. Kamu seolah menjadi medan magnet untukku, yang bisa selalu menarik diriku untuk bisa berada di dekatmu.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan malam. Dan ternyata, aku menemukanmu di sini." Sembari memandang hamparan laut lepas yang berada di depannya, Dewa menghirup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. "Apakah benar jika esok hari kamu akan berulang tahun?"
Mara hanya tersenyum tipis. "Iya Tuan, esok hari saya memang berulang tahun. Maka dari itu saya memilih berjalan-jalan malam seperti ini agar saya bisa terus terjaga di detik-detik pertambahan usia saya nanti."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan tepat di jam dua belas malam nanti?"
Mara hanya mengendikkan bahunya. "Entahlah Tuan, mungkin hanya sekedar mengucapkan permohonan saja."
"Tanpa adanya kue dan juga lilin?"
Mara sedikit tergelak. "Ritual memotong kue dan meniup lilin sudah lama tidak saya lakukan Tuan, tepatnya setelah ibu saya meninggal. Jadi saya sudah terbiasa hanya dengan duduk merenung seperti ini."
Dewa menautkan pandangan matanya ke arah Mara. Merasakan ada sepasang mata yang menatapnya, membuat Mara juga menautkan pandangannya ke arah Dewa dan kini pandangan keduanya bersirobok.
"Jika saat ini aku yang akan memulai kembali agar kamu bisa melakukan ritual memotong kue dan meniup lilin, apakah kamu bersedia menerimanya?"
Dahi Mara sedikit mengerut. "M-maksud Tuan?"
Dewa melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sebelas lebih lima belas menit. Tanpa membuang banyak waktu ia mulai bangkit dari duduknya. Hal itulah yang membuat Mara sedikit keheranan.
"T-Tuan mau kemana?"
Seutas senyum simpul terbit di bibir Dewa. "Tunggulah di sini, aku akan segera kembali."
***
"Maaf Tuan, koki di resort ini sudah pulang. Karena memang jam kerjanya sudah berakhir sejak jam sepuluh malam tadi."
Dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa tidak enak hati, salah satu crew di resort ini meminta maaf kepada Dewa, karena pihak resort tidak dapat mengabulkan permintaan Dewa untuk membuat cake ulang tahun.
Dewa yang mendengar ucapan crew itu sedikit bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Karena harapan satu-satunya agar dia bisa mendapatkan kue itu hanya dari kitchen resort ini. Namun ia bimbang harus melakukan apa di saat di saat jam kerja sang koki sudah berakhir.
Di sela kebingungannya, tetiba Dewa memiliki ide yang cukup cemerlang. Jika ia tidak mendapatkan kue itu dari koki resort ini, mungkin ia bisa mendapatkan kue itu dari tangannya sendiri.
"Mbak, bisakah aku meminjam dapur dan semua peralatan dan juga bahan di kitchen?"
Pegawai resort itu sedikit terkejut. "Maksud Tuan?"
"Izinkan aku menggunakan dapur untuk bisa membuat kue ulang tahun seperti yang aku mau."
"T-tapi Tuan..."
"Mbak tenang saja. Aku pasti akan memberi tips yang lebih untuk Anda jika aku diizinkan menggunakan dapur."
Pegawai resort itu tersenyum kikuk. "Tapi Tuan, jika saya mengizinkan Tuan untuk menggunakan dapur, sama saja saya telah melanggar SOP. Dan konsekuensinya saya bisa dipecat. Karena kitchen merupakan salah satu area privat, yang tidak sembarang orang bisa memasukinya, Tuan."
Masih berupaya keras membujuk pegawai di depannya ini, Dewa memutar otak agar wanita ini mau mengabulkan permintaannya.
"Jika sampai mbak dipecat, mbak bisa bekerja di pabrik milikku. Aku akan menggaji Mbak dua kali lipat dari gaji yang Mbak dapatkan di sini."
Mendengar kata-kata gaji dua kali lipat, seketika membuat pegawai itu dilanda kebimbangan. Di satu sisi ia tidak mau melanggar SOP, namun di sisi lain, gaji dua kali lipat itu seakan membuatnya tergiur.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Baiklah Tuan, mari saya antar ke dapur. Namun Tuan harus berjanji jika saya sampai dipecat, Tuan lah yang menjadi jaminan untuk saya. Memberikan pekerjaan dan gaji dua kali lipat untuk saya."
Senyum lebar terbit di bibir Dewa. Ia mengulurkan tangannya ke arah pegawai itu. "Deal!!"
Sang pegawai resort menyambut uluran tangan Dewa. Ia ikut tersenyum dan mengangguk. "Deal!!!".
.
.
. bersambung...
mengecewakan😡