NovelToon NovelToon
SEPERTI QA'IS DAN LAILA

SEPERTI QA'IS DAN LAILA

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:94k
Nilai: 5
Nama Author: sita Azzaky

Mereka sudah pernah memulai meskipun tanpa cinta, bahkan hubungan itu sudah berakhir dengan meninggalkan cinta yang baru datang karena sesal. Setelah yang terkasih pergi. Lalu apa jadinya, jika yang kita pikir telah pergi, dia kembali?

Cerita masa lalu itu tersuguh kembali di depannya. Seolah di sadarkan apa yang dia lakukan dua puluh lima tahun lalu adalah suatu dosa.

Bukan lagi tentang kisahnya. Namun, kisah ini seolah mengulik konflik pelik yang belum pernah menjadi titik. Mejabar memoar rasa yang hampir memudar. Menguji diri yang berdiri di balik jeruji janji. Resah dalam kungkungan dosa berbalut rasa.

Masih cerita tentang cinta yang penuh kemelut, karena tak tersambut. Rasa yang tersesat, karena terlambat memahami sebuah hakekat dalam diri yang terjerat. Berharap ada setitik asa dalam kisah yang bisa dirasa.

Meneruskan kisah Alvina. Kisah ini tentang anak-anak dari para tokoh di Alvina.

Tidak update tiap hari. Semoga layak di nikmati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

•> BAB 25 <•

"Besok kita ketemu lagi, untuk membicarakan rencana pernikahan." ucap Bae dan berlalu.

Wajah Kemal dan Nauval menegang, mereka berdua sama-sama cemas. Nauval takut dirinya tidak bisa melihat boneka cantiknya menikah dengan sahabat yang sudah seperti adiknya sendiri.

Sedang Kemal belum siap memperlakukan Dhira yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri sebagai istrinya, tapi dia juga tidak bisa menolak permintaan Alvina. Demi mendapatkan kasih sayang yang sudah delapan belas tahun dia rindukan.

Namun, tidak dengan Alvina dan Dhira. Kedua perempuan beda usia itu diam-diam menyunggingkan senyum. Sama-sama berharap dalam hati pernikahan mereka yang dibicarakan Bae besok pagi.

Satu persatu mereka masuk ke kamar masing-masing dengan membawa rasa cemas dan senang akan keputusan Bae besok pagi.

Malam ini terasa panjang. Setelah menyelesaikan sujud di sepertiga malamnya, Dhira berjalan ke arah dapur hanya untuk mengambil segelas air putih. Jika dia tidak menemukan sesuatu yang bisa dimakan.

Dia ambil segelas susu dari lemari es, lalu menghangatkannya. Ada satu roti gandum di lemari, dia olesi mentega dan ditaburi parutan keju. Lalu memakannya sendiri di meja makan.

"Belum tidur?" Suara itu mengagetkan Dhira. Spontan Dhira menoleh ke arah suara. Kemal sudah berdiri di sampingnya dengan segelas air putih. Lalu tanpa sungkan, Kemal duduk di samping Dhira.

"Kamu sendiri belum tidur?" tanya Dhira setelah menelan roti yang ada di mulutnya. Kemal menanggapinya dengan senyuman.

"Aku nggak nyangka kalo BiQi merencanakan pernikahan kita besok pagi, bukankah ini terlalu cepat?" Kemal sambil mengoles roti gandum dengan cokelat hazelnut.

"Pernikahan kita?" Dhira pura-pura terkejut. Padahal dia yang meminta Bae dan Alvina untuk memastikannya pada Kemal.

"Sebelum ke Gili Labak, Mami memintaku untuk menikahimu. Tapi aku nggak nyangka akan secepat ini." Kemal lirih. Hembusan napas berat menandakan jika sebenarnya keberatan dengan rencana pernikahan ini.

"Apa kamu punya kekasih?" Dhira menanyakan alasan kenapa raut wajah Kemal terlihat keberatan.

Kemal tertawa pelan. "Buat aku, wanita nomer satu cuma mami. Saat aku mulai mencintai wanita lain, wanita itu sudah memiliki cinta lain. Cuma mami yang nggak pernah berkhianat pada rasa yang kumiliki."

"Aku juga nggak akan berkhianat dengan rasa yang kumiliki untukmu." Dhira tegas. Kemal tersenyum kecut.

"Kamu yakin itu cinta? Darimana kamu tau kalo itu cinta? Apa kamu lebih memilih menikah dengan orang yang kamu cintai daripada dengan orang yang mencintaimu?" tanya Kemal. Dia lap sisa susu di pinggir bibir Dhira dengan tisue.

"Sama aja buat aku, asal ada cinta hubungan bisa terjalin. Bukannya cinta datang karena telah terbiasa?" ucap Dhira yang membuat Kemal terkesiap.

"Tuhan sudah menentukan jodoh, rezeki dan maut kita. Semoga kita berjodoh ya ... Sampai saat ini aku masih menganggapmu adik. Karena orang tuamu, orang tuaku juga." Kemal berhenti sejenak, tak ada reaksi dari Dhira.

"Meskipun cuma tujuh tahun, mereka lah yang mengajari aku segalanya. Mereka yang terjaga saat malam hari aku haus. Mereka yang pertama kali menyuapiku makanan. Mereka juga yang mengajariku cara berjalan. Mereka berikan aku kasih sayang dengan penuh rasa tulus dan ikhlas, sehingga sampe sekarang rasa itu masih terasa." Kemal melanjutkan dengan panjang lebar.

"Untuk itu semua aku setuju, saat mami memintaku untuk menjadi pria halal buatmu." imbuh Kemal.

Kali ini Dhira yang terkesiap. Ucapan Kemal menegaskan, kalau pria yang dia cintai itu setuju menikah dengannya hanya karena ingin membalas semua kebaikan orang tuanya.

"Subuh masih lama, pergilah tidur! Besok pagi, jangan sampe kehilangan fokus gara-gara ngantuk." ucap Kemal sambil mengusap puncak kepala Dhira sebelum pergi dari meja makan.

"Kemal," panggil Dhira. Menghentikan langkah Kemal. Menoleh lagi ke Dhira. "Kalo kamu tidak setuju dengan pernikahan ini, kamu ...."

"Kamu tidak perlu khawatirkan itu. Kita ikuti aja permainan takdir Tuhan." Kemal sambil berlalu.

Dhira beranjak dari duduknya setelah menghabiskan susu dalam gelasnya. Namun, saat dia menoleh, dia dikagetkan dengan Nauval yang berdiri tepat di belakangnya.

"Mas Nau belum tidur?" tanya Dhira.

Nauval menjawab dengan gelengan kepalanya. "Kamu nggak bisa tidur? Pasti saking senengnya mikirin keputusan rencana pernikahan yang BiQi ucapkan besok pagi." tebaknya.

Dhira tersenyum. "Mas Nau kenapa belum tidur?"

"Karena akan berpisah darimu. Selamat ya, Dek. Akhirnya impian dan harapan cintamu segera tercapai." ucap Nauval dengan senyum manis yang dengan susah payah dia sunggingkan.

"Mas Nau juga cepat-cepat cari pendamping. Semoga Allah juga memberikan jodoh yang terbaik buat Mas Nau." ucap Dhira yang diaminkan Nauval. Setelah itu mereka berdua pergi ke kamar masing-masing untuk merangkai mimpi dan berharap semua berjalan seperti keinginan hati mereka.

Ada sepasang mata lagi yang tidak bisa terlelap tidurnya. Janda muda yang belum dikaruniai anak tersebut juga punya harapan ingin hidup bahagia bersama pria yang telah lama dia dambakan. Namun sayang, sang pujaan telah menjatuhkan pilihan pada wanita lain untuk dijadikan impian.

*****

Paginya ....

Zoya melemparkan botol air mineral ke dalam tong sampah, setelah dia menghabiskan isinya.

"Pagi Beb ...." Zoya tersentak dengan suara yang menyapanya dan tiba-tiba berdiri di sampingnya.

Zoya tersenyum sinis lalu melanjutkan joging nya. Tidak dia hiraukan pria yang menyapanya, seolah tidak ada siapapun. Setelah lumayan jauh dia berlari kecil, dia duduk dengan berselonjor di atas trotoar. Ini hari Minggu, banyak para penghuni komplek perumahan yang memilih menghabiskan paginya dengan joging.

"Sarapan yuk ...." Pria dengan kaos casual dan celana cargo itu duduk menjajari Zoya.

"Sudah lupa kalo aku nggak pernah sarapan?" sarkas Zoya. Dia sapu keringat yang menetes di wajahnya dengan lengan atasnya.

"Masih marah ma aku? Maafin kapalmu ini! Kemaren aku pikir kamu hanya guyon mau datang kemari."

Sekali lagi Zoya tersenyum sinis. Dia masih bertahan dengan bungkamnya. Dia hendak berdiri, tapi pria yang wajahnya mirip Rangga Azof itu menarik tangannya.

Tanpa bicara, Nauval mengikat rambut Zoya dengan tali rambut yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu dengan penuh perhatian dia menyeka keringat di kening Zoya dengan sapu tangan miliknya.

"Nggak usah sok perhatian padaku deh, Kak Val. Jangan beri aku perhatian palsumu!" sentak Zoya. Dia tampik dengan kasar tangan Nauval. Lalu berdiri meninggalkan Nauval yang bingung, kehabisan cara untuk meminta maaf.

"Hukum aku sesukamu!" ucap Nauval sambil menekuk lututnya di atas aspal. Namun, Zoya tak menghiraukannya.

"Aku akan tetap berlutut di sini sampai kamu mau memaafkan aku!" teriak Nauval. Teriakan itu tak dapat sambutan karena Zoya sama sekali tak menghiraukan dan tetap pergi meninggalkan Nauval.

'Dia benar-benar pergi. Ada apa dengannya? Dia tidak seperti ini sebelumnya.'

Nauval mengumpat dalam hatinya, bahkan dia harus berlutut di sana sampai Zoya datang memaafkannya. Entah sampai kapan. Sepupu Kemal itu susah ditebak, tapi Nauval tahu watak gadis yang hampir sembilan tahun hidup bersamanya di Singapura.

Gadis barbar itu mencintainya, jadi hanya dengan ucapan maaf, hati lembutnya akan luluh. Namun, ada apa dengannya hari ini? Semalaman dia bungkam, tak mau melihatnya, bahkan pagi ini tak menghiraukannya.

'Ya Tuhan, maha pembolak balik hati .... Jangan biarkan hamba seperti ini terlalu lama. Beri Zoya kelapangan hati untuk memaafkan hamba Mu ini.'

*****

Sambil menunggu kedatangan Bae ke rumah Alvina, Kemal pamit sebentar pergi ke rumah Malik. Sudah hampir dua minggu di Surabaya, dia belum bertemu dengan Mika dan Dokter Arifin. Delapan belas tahun lalu, di rumah itulah dia sering menghabiskan waktu menunggu Rizal pulang kerja dan menjemputnya.

Disambut Mika dan Dokter Arifin, kakak kandung dan kakak ipar Rizal. Kemal dibuat terharu dengan perlakuan kedua pasangan suami istri itu, meskipun mereka tau Kemal bukan anak kandung Rizal, kasih sayang yang mereka tunjukkan sama seperti delapan belas tahun lalu.

Kemal dan Malik berbincang di taman. Malik ingin memperkenalkan Kemal dengan anak dari pasiennya yang seorang manager tim pembalap. Mungkin saja Kemal ingin melanjutkan karirnya dengan kerja bareng.

Saat asyik ngobrol, tiba-tiba wajah ayu mirip Michelle Ziudith itu lewat di pinggir kolam. Kemal tertegun. Pandangannya terpaku ke gadis dengan manik kecoklatan dengan rambut ikal mayang yang dikucir ke atas dan bandana bunga-bunga. Seperti pertemuan pertama waktu itu.

"Syeila, kekasihnya Dafa. Kamu kenal? Dia bisu, karena itu Dafa memanfaatkan kepolosannya." Kata-kata terakhir Malik membuat Kemal menoleh ke arahnya.

"Maksudmu?"

"Dafa banyak berubah. Tante Vita seolah menutup mata dengan kelakuan Dafa. Mama sama Mami juga Bunda seringkali mengingatkan Tante Vita, tapi ...."

Cerita Malik tak menarik lagi. Kemal bergegas beranjak dan berdiri menghadang jalan Syeila. Jika Dafa menyia-nyiakan gadis polos itu, maka Kemal akan merebut dengan caranya.

Mata melotot, mulut menganga, ekspresi yang ditunjukkan Syeila saat tubuhnya menabrak tubuh Kemal dan terjungkal kebelakang. Untung dengan sigap Kemal menarik tubuh cantik itu ke dalam dekapannya.

Wajah Syeila menegang, untuk menutupi kecemasannya, dia menggigit sedikit ujung bibirnya. Namun , ekspresi itu justru memanggil para pasukan tak kasat mata meniupkan jurus andalan mereka ke tubuh Kemal. Dorongan hawa nafsu, jurus andalan pasukan tak kasat mata itu membuat Kemal melupakan semua batasan dan hendak mengganti peran gigi Syeila untuk memberikan kesakitan pada bibir Syeila.

"Ehem ...."

Deheman Malik membuyarkan semua pasukan tak kasat mata Kemal. Dengan cepat mereka saling melepaskan diri. Canggung mereka berdua tunjukkan seolah ada rasa yang tak dimengerti raga.

"Sendiri?" tanya Kemal.

Syeila mengangguk sambil menunduk dalam. Dia tak berani beradu pandang dengan Kemal. Entah kenapa mendadak dadanya berdebar, tubuhnya gemetar, ada takut yang dia rasakan meski hanya beradu pandang dengan Kemal.

"Dafa udah jarang antar kamu ya?" tanya Malik.

Sekali lagi Syeila mengangguk menjawab pertanyaan Malik.

"Aku antar kamu balik ke Panti." Kemal menoleh ke arah Malik seolah meminta izin. Malik mengangguk setuju.

Syeila hanya diam. Gadis ini sedang takut dengan perasaannya yang mulai tak bisa dia artikan.

Perjalanan ke Panti.

Syeila dan Kemal sama-sama saling diam. Jika Syeila memang tidak bisa bicara, sedang Kemal berusaha konsentrasi dengan setirnya. Dilema melanda saat dua pilihan membutuhkan keputusan. Dhira atau Syeila.

Namun, demi membalas semua kasih sayang Alvina, pilihan itu tetap pada putri semata wayang wanita yang dia panggil mami. Dan gadis bisu ini, mungkin ini hanya perasaan sesaat meskipun terasa hangat.

Kediaman Mertua Alvina ....

Alvina sudah duduk menunggu kedatangan Bae. Dhira di sebelahnya. Wajah mereka terlihat senang. Mereka sama-sama menunggu kabar gembira dari Bae. Merencanakan pernikahan, Alvina dan Dhira sama-sama menginginkan ikatan itu dengan orang yang mereka cintai.

Bae dan Kemal sudah datang, mereka datang bersama meski dengan mobil yang berbeda.

"Pagi Bi ...." Pelukan hangat Kemal eratkan untuk lelaki yang sudah membuatnya ada di dunia ini.

"Pagi Yang, darimana?"

"Malik, mampir sebentar ke Panti Asuhan Ar-Rahman."

"Kamu sering ke Panti?"

Kemal hanya mengangguk mengiyakan.

"Zoya nggak BiQi ajak?" tanya Kemal. Tipe penyayang pada saudara, Bae turunkan pada putra semata wayangnya.

"Dia bilang ntar nyusul."

Diam.

Bae menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, dia menghentikan langkah Kemal juga dengan menggamit lengan putranya itu.

"Percayalah dengan apapun keputusanku, ini adalah yang terbaik." ucap Bae.

Kemal tersenyum lalu mengangguk. "Asal Mami bahagia, apapun Kemal lakukan Bi ...."

Bae menepuk pundak putra yang wajahnya mirip dengan Antonio Blanco **. Tampan dengan pesona yang luar biasa. Apalagi dengan profesinya, semua gadis di dunia pasti ingin memilikinya.

"Assalamualaikum ...." Bae dan Kemal kompak.

"Waalaikumsalam ...." Dhira dan Alvina menyambut mereka.

Nggak berapa lama, Ifah datang dengan nampan berisi teh hangat dengan gula terpisah dan beberapa irisan jeruk lemon. Dan sepiring pisang goreng keju coklat.

Bae langsung mencomot pisang goreng coklat keju yang masih hangat. "Hem, ini enak banget Fah," pekiknya.

Ifah tersenyum menanggapi. Sedang tangannya sibuk meracik teh lemon yang biasa Alvina minum.

"Kamu nggak pengen nikah lagi, Fah? Ngomong lah kalo ada pria yang kamu sukai, aku yang akan melamarnya buat kamu. Ntar keburu karatan gerbangnya."

Sekali lagi Ifah tersenyum, tapi kali ini wajahnya memerah karena malu. Lalu pergi dari ruang tamu.

Bae selesaikan makannya dengan meminum segelas teh hangat. "Dear, di depan putra putri kita, izinkan aku Baehaqqi Abdullah ...."

"BiQi terlalu formal. Aku ma Dhira sudah setuju kok dengan perjodohan ini. Rencanakan saja kapan dan bagaimana pestanya." Belum selesai kalimat yang Bae ucapkan, Kemal menyelanya.

Dhira tersenyum sambil mengangguk mantap.

Terlihat perubahan wajah pada Bae, senyum manisnya yang menunjukkan kebahagiaannya langsung memudar. Namun tidak dengan Alvina, entah kenapa wanita yang Bae panggil Dear itu tersenyum.

"Tapi ...."

"Kemal, antarkan Dhira ke rumah Bunda. Mami ingin membagi kabar gembira ini dengannya." Kali ini Alvina yang menyela ucapan Bae. Tidak terlihat perubahan wajah atau apapun yang menunjukkan kesedihan pada Alvina.

Dhira dan Kemal mengangguk. Setelah pamit mereka berdua pergi.

Alvina terduduk lemas setelah kedua putra dan putrinya pergi. Dia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahunya berguncang hebat. Meskipun berusaha dia tahan, isaknya tetap terdengar.

"Selalu seperti ini!" Bae mengumpat. "Kenapa kamu tidak bilang ke mereka kalo kita yang mau melanjutkan hidup bersama?" sentak Bae.

Alvina hanya diam, dadanya masih terasa sesak, hingga membuat mulutnya terbungkam.

"Sampai kapan kita akan mengalah dengan keadaan Dear?"

1
𝕸𝖆'𝕶' 𝖈𝖚𝖙𝖊
😘
Qiana
Waaaahhh maaf tak berkunjung 🙏
Rini Antika
kirain mau bilang nama Rini Antika pemenangnya..🤭, Salken ya kak, aku mampir nanti bacanya nyicil, smg berkenan mampir jg ke karya saya yg msh pemula..🙏
Mega
Aku mampir di ending, kikikikik.

Miss U Mbak.
Mega: Siap Akak
total 2 replies
Author yang kece dong
aku mampir kaka
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
next 😎
🅕🅘
Berkah juga untuk, Kakak💚
Akhir yang manis 😍
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upp 🤭🤭 up ka
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up up ka
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up🤭
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up😎
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
uppppppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upppppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
uppppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
uppp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upp
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
upppp Thor 👍🏻😎🤸‍♂️🤭
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
up
🇰  ͨ🅰︎ͦ🇮 ᷛ🇸ͣ 🅰︎ᷡ🇷💕
nexttttttttttt 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!