Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Dirumah sakit jiwa
Dicky baru saja selesai memeriksa kondisi nyonya Delvina, wanita paruh baya itu semakin hari semakin tidak baik keadaannya namun Dicky tidak pernah memberitahu Fiona kabar buruk, dia sendiri berjuang untuk menyembuhkan nyonya Delvina.
'Fiona dua hari lagi datang kerumah sakit ya,' ucap Dicky dari pesan suara.
'mama ku baik baik saja?' tanya Fiona.
'ikuti saja perkataan ku, datang dua hari lagi,"
'baiklah titip mama ku,"
'lanjutkan kuliah mu belajar yang benar,'
Dicky menyudahi pembicaraan melalui pesan suara, pria itu memiliki banyak pasien hari ini.
"Permisi dokter ada pasien baru diluar," ucap salah satu suster.
"Baiklah bawa dia masuk aku akan segera keruangan nya nanti,"
"Baik dokter,"
Dicky pergi keruangan nya terlebih dahulu mengambil perlengkapan untuk pasien selanjutnya lalu kembali keruang pemeriksaan.
ceklek
Dicky terdiam melihat pasiennya kali ini, dia sempat mematung beberapa saat sebelum mengembalikan kesadarannya.
"Nona.."
"Aku tidak gila,"
Dicky tidak jadi menyentuhnya, ya walaupun dia memiliki gangguan kejiwaan setidaknya dia tidak mengamuk.
"Baiklah siapa namamu?" Tanya Dicky.
"Siera,"
"Siera umur mu berapa?"
"20"
"Kau tinggal dimana?"
"Aku bukan dari sini, aku hanya berkuliah tapi..." Siera tidak melanjutkan kalimatnya ketika mengingat kejadian saat ia pulang dari kampus.
"Kau memiliki orangtua?"
"Ya"
Dicky tersenyum dan membiarkan Siera duduk di kasur, entah apa yang membuat orangtuanya mengantar Siera ketempat seperti ini.
"Baiklah Siera aku belum melihat keseharian mu jadi kau perlu menginap disini beberapa hari," ucap Dicky.
Siera menekuk lututnya mengiyakan perkataan Dicky, Siera sendiri bingung apakah dia gila atau tidak.
"Kau percaya aku ingin dibunuh oleh seseorang?" Tanya Siera dengan tatapan kosong.
Uhuk..uhuk
Sudah kuduga dia dikira gila karena hal ini, batin Dicky.
"Oleh siapa?"
"Entahlah mungkin orangtuaku benar jika aku sudah gila tapi aku jelas jelas melihat seseorang ingin membunuh ku, dia mengikat ku di suatu tempat yang gelap," jawab Siera.
"Siera mungkin itu hanya halusinasi mu jika kau terus memikirkannya aku akan menganggap mu sama seperti mereka," ujar Dicky sedikit tegas.
Siera mengambil selimutnya dan tidur dengan tenang, gadis itu terlihat baik baik saja namun tekanan yang ia dapatkan saat itu mungkin saja membuat Siera agak terganggu hingga terkena imbas pada mentalnya.
Fiona jika hewan dijalanan tidak mendapat makanan maka aku akan mendapat pasien baru karena perbuatan mu, batin Dicky.
***
Dikantor Roosevelt
Bara masih sibuk begitu juga dengan Rezza namun tidak dengan Liora yang mendatangi Bara untuk membawakan souvernir dari tempat lokasi shooting nya.
"Bara aku membawakan souvernir untuk mu lihat ini sangat indah bukan," ucap Liora sembari memamerkan gelang yang akan ia berikan pada Bara.
"Kau membeli ini untuk ku?" Tanya Bara dengan senyum manis.
"Tentu saja tuan," Jawab Liora.
"Terimakasih,"
Liora berpikir Bara sangat senang tapi dalam hati pria itu dia muak melihat Liora berkeliaran terus menerus sedari tadi dikantor nya namun Bara harus tetap menggunakan topengnya yang dikenal sebagai orang ramah.
"Kau membelikan Rezza juga?" Tanya Bara.
Ekspresi Liora berubah, alih alih membelikan Rezza dia hanya memikirkan bagaimana mengambil perhatian Bara agar mendapat promosi lebih di dunia entertainment.
"Mm aku tidak berpikir sampai kesana," jawab Liora.
"Aahh sayang sekali padahal Rezza sangat menyukai gelang seperti ini," ujar Bara sendu.
"Benarkah?"
"Iya aku dan Rezza saling mengerti satu sama lain jika dia melihat gelang ini dia pasti akan sedih karena tidak memiliki gelang yang dia sukai," jawab Bara asal membuat cerita.
"Bagaimana jika aku memberikan nya pada Rezza?"
Liora sudah pasti keberatan karena dia memberikan itu pada Bara bukan Rezza tapi karena dia gadis yang sok baik jadi ia ikhlaskan saja.
"Terimakasih banyak Liora kau sangat baik tapi aku tidak bisa mengantarkan nya keruangan Rezza, bisa kau bantu aku memberikan ini padanya?"
Liora kembali memasang wajah malasnya karena disuruh suruh tapi tidak ada masalah Liora akan tetap melakukannya.
"Baiklah Bara," jawab Liora memasang wajah manis.
Liora mengambil gelang tersebut lalu pergi keruangan Rezza dibarengi salah satu staf kantor disana. Sedangkan Bara langsung mengunci pintu setelah Liora keluar.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔