Zahra dan Arya dipertemukan saat masih kecil. Mereka berjanji untuk bertemu lagi 13 tahun kemudian. Saat dewasa mereka bertemu dan bekerja bersama, namun mereka tak menyadarinya. Hingga menjelang pertemuan mereka, Zahra harus mengalami kecelakaan demi menolong Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fasya Al Hafizh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Hasan
" Mamaaa..." teriak Arya dan Reyhan.
" Apaan sih, berisik. Malu di dengar orang, ayo cepetan pulang. Papamu udah nyampe rumah katanya..." ucap Mama.
Mereka keluar dari Mall dengan jalan sempoyongan. Seandainya bukan Mama yang ngajak pasti mereka lebih memilih berantem sama preman satu RT.
Reyhan mengantarkan Mama pulang ke rumah dengan mobil Arya. Sementara Zahra dan Arya mencari taksi untuk mereka pulang ke kost'an Zahra buat mengambil barang - barang yang di perlukan Zahra selama menginap di rumah Arya.
* * *
Hari ini Zahra pergi ke kantor dengan taksi, karena Arya dan Reyhan akan menjemput kakak dari Arya yaitu Hasan Dirgantara di bandara. Satu jam perjalanan Arya dan Reyhan sampai di bandara menunggu kedatangan kakaknya.
Setengah jam kemudian yang ditunggu tiba, Hasan bersama istrinya Sania dan putra tunggalnya Devan.
" Assalamu'alaikum..." ucap Hasan.
" Wa'alaikumsalam Mas..." jawab Arya dan Reyhan.
Mereka saling berpelukan melepas rindu karena Hasan sudah tiga tahun tak pulang ke Indonesia.
" Hai Devan sayang, nggak kangen sama Om Arya..?" ucap Arya lalu menggendong anak usia 5 tahun itu.
" Om Arya mana mainan yang Om janjiin kemarin...?" tanya Devan.
" Nanti kamu bisa pilih mainan yang kamu sukai, sekarang kita pulang yuk, Opa dan Oma sudah nungguin di rumah.
Di perjalanan mereka berbincang - bincang hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah.
" Assalamu'alaikum Pa, Ma.." sapa Hasan.
" Wa'alaikumsalam..." jawab keduanya.
" Devan ketiduran ya Ar, biar saya bawa ke kamar dulu.." ucap Sania.
" Nggak usah kak, biar saya aja..." jawab Arya.
" Kalian juga istirahat dulu, pasti capek..." ucap Mama.
" Iya Ma, Hasan masih kangen sama Mama.." Hasan tiduran di pangkuan Mamanya.
" Kamu ini nggak malu udah punya anak istri.." ledek Mama.
" Biarin aja, Hasan juga masih anak Mama kan..?" ujar Hasan.
" Ma, Pa, Rey dan Arya mau balik ke kantor dulu ya. Ada klien yang akan datang soalnya.." ucap Reyhan.
" Iya, panggil Arya sana.." kata Mama.
" Iya Ma..." saut Rey lalu beranjak ke kamar Devan.
Sampai di kantor mereka langsung masuk keruangan Arya, namun mereka tak melihat Zahra disana.
" Rey, Zahra kemana..?" tanya Arya.
" Nggak tahu boss, tadi pagi berangkat kerja kayaknya..." saut Reyhan.
"Assalamu'alaikum.." ucap Zahra.
" Wa'alaikumsalam...darimana Za..?" tanya Rey.
" Dari bawah ketemu temen sebentar. Ada apa..?" tanya Zahra balik.
" Sudah di siapkan perjanjian kerjasama dengan PT. Angkasa..?" tanya Arya.
" Sudah Mas, tadi CEO nya datang kesini..." ucap Zahra.
" Pak Darma kesini Za..?" tanya Reyhan.
" Bukan Pak Darma, tapi anaknya yang baru pulang dari luar negeri namanya Panji Angkasa..." jawab Zahra.
" Ngapain dia kesini, bukannya janji jam makan siang..." tanya Arya.
" Saya juga tidak tahu, udahlah saya mau beresin berkas - berkasnya dulu. Pak Panji mengajak ketemu di Resto XXX nanti jam 13.00..." ucap Zahra seperti tak bersemangat.
Setelah keluar dari ruangan Arya, Zahra duduk di kursinya sambil mengingat kejadian tadi.
" Permisi nona, saya ingin bertemu presdir anda.."
" Maaf, anda siapa..? Apa sudah punya janji..? Pak Arya sedang tidak ada di tempat..." ucap Zahra.
" Ya sudah, kalau begitu kamu yang temenin saya..." ucapnya sambil memegang tangan Zahra.
" Maaf, lepaskan tangan saya..." ucap Zahra kesal.
" It's Ok... bilang sama boss kamu di tunggu di Resto XXX. Kenalkan saya Panji Angkasa CEO dari PT. ANGKASA anak dari Darma Angkasa..." ucapnya lalu pergi meninggalkan gedung Dirgantara Enterprises.
Reyhan datang mengagetkan Zahra yang sedang melamun.
" Za, kamu kenapa..?" tanya Reyhan.
" Astaghfirullah Mas Rey, ngagetin aja sih..." jawab Zahra.
" Hahahaa... mikirin pujaan hati ya...?" goda Reyhan.
" Apaan sih, sana pergi. Gangguin aja..." saut Zahra.
" Nanti kamu ikut ketemu klien kan Za..?" tanya Rey.
" Nggak usah Mas, saya disini aja banyak kerjaan.." tolak Zahra.
" Nanti sehabis ketemu klien kita langsung pulang Za, nggak kesini lagi. Soalnya anak Mas Hasan ngajak beli mainan..." ucap Reyhan.
" Kalian aja ya yang pergi, nanti Zahra pulang ke kost'an aja..." tutur Zahra pelan.
" Memangnya kenapa Za...?" tanya Reyhan.
" Nggak apa - apa, sekarang kan keluarga Dirgantara sudah lengkap buat apa Zahra disana, Mama sedang tidak membutuhkan Zahra sekarang.." ucap Zahra.
" Kamu jangan berpikir begitu Za, Mama kalau sudah sayang sama orang beliau tidak akan membeda - bedakannya..." saut Reyhan.
Zahra hanya tersenyum, namun hatinya merasa tak tenang. Zahra merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
Arya dan Reyhan memaksa Zahra untuk ikut meeting dengan mereka. Dengan terpaksa Zahra mengikuti perintah atasannya. Sampai di Resto XXX mereka bertemu dengan Panji.
" Hai sayang, kamu udah sampai rupanya. Udah nggak sabar gue nungguin kamu disini..." sapa Panji.
Arya dan Reyhan sangat geram mendengar ocehan Panji, namun mereka harus bisa menahan diri karena mereka sangat menghormati Pak Darma. Kini mereka tahu kenapa Zahra tidak mau ikut, Arya menyesal sudah memaksa Zahra mengikutinya.
" Langsung saja ke inti Pak Panji, kami punya urusan yang lain juga..." ucap Arya.
" Jika Anda ada keperluan lain silahkan, tinggalkan saja sekretaris Anda disini.." ucap Panji.
" Maaf, sebaiknya kita mulai sekarang meetingnya..." ucap Zahra menengahi.
Setelah meeting selesai Arya langsung pergi dari tempat itu diikuti Zahra dan Reyhan.
* * *
Sampai di rumah, Devan sedang bermain sendirian di halaman samping rumah.
" Hai boy, sendirian aja...mana papa dan mama.." tanya Arya.
" Di dalam Om. Eh, Om bawa bidadari kesini ya...?" bisik Devan.
" Ssttt...jangan kenceng - kenceng ngomongnya nanti bidadarinya denger.." saut Arya.
" Tante siapa, kenalin saya Devan..." Devan mengulurkan tangannya.
" Hai, tante namanya Zahra. Kamu imut banget sih..." Zahra mencubit pipi Devan setelah menjabat tangan mungilnya.
" Jangan dicubit tante, sakit. Di cium aja... hehehee..." ucap Devan.
" Astaghfirullah, hei bocah lho diajarin apa sama bapak lho..." saut Reyhan.
" Om Rey payah..." jawab Devan, Arya dan Zahra malah tertawa melihat wajah kesal Reyhan.
" Om, jadi kan beli mainan..." tanya Devan.
" Besok ya, emangnya kamu nggak capek...?" tanya Arya.
" Nggak Om, kan nanti di Mall di gendong sama Om Rey..." jawab Devan.
" Ogah banget gendong lho, mending tidur di rumah..." saut Reyhan.
" Eh, Mas Rey nggak boleh gitu..." ucap Zahra.
" Terserah kalian aja..." jawab Rey asal.
Mereka akhirnya langsung pergi lagi sebelum masuk rumah.
" Pak Asep, tadi kayak denger mobil Arya, kok nggak ada..." tanya Hasan.
" Maaf Mas, tadi Mas Arya pergi lagi sama Den Devan.." ucap pak Asep.
" Mungkin mereka cuma jalan - jalan Mas..." ucap Sania di belakangnya.
Sampai di Mall Devan langsung menuju toko mainan. Devan selalu menggandeng tangan Zahra sehingga Arya dan Rey cuma seperti bodyguard yang mengikutinya di belakang.
" Rey, gue berasa jadi kacung disini..." ucap Arya.
" Bener Ar, gue juga ngerasa begitu. Feeling gue udah nggak enak.." saut Reyhan.
Zahra dan Devan sibuk memilih mainan sedangkan Arya dan Rey hanya sebagai penonton. Setelah selesai berbelanja mereka langsung pulang tentu saja Devan minta gendong sama Rey menuju parkiran.
Sampai di rumah, mereka sudah di sambut semua keluarga.
" Ma, ini siapa...?" tanya Sania melihat Zahra.
" Ini Zahra, sekretaris Arya di kantor.." jawab Mama.
" Kenapa dia ikut kesini, inikan bukan jam kantor..." ucap Sania lagi.
" Mama yang suruh dia tinggal disini nemenin Mama. Udah ayo masuk, kalian istirahat dulu nanti turun pas makan malam.." perintah Mama.
Semuanya masuk ke kamar masing - masing untuk membersihkan diri dan istirahat. Jam makan malam Zahra keluar kamar untuk turun kebawah, sampai di bawah Zahra melihat Mama dan Sania sedang berbincang.
" Ma, kenapa gadis itu tinggal disini...?" tanya Sania.
" Mama yang suruh dia tinggal disini, emangnya kenapa...? dia gadis yang baik.." ucap Mama.
" Mama itu jangan tertipu dengan penampilannya. Sania yakin dia cuma mau memanfaatkan Mama dan Arya.." ujar Sania sinnis.
" Jangan begitu, Zahra nggak seperti itu San. Mama yakin Zahra gadis yang baik..." saut Mama.
" Mama sama Arya itu sudah termakan oleh rayuannya..." ucap Sania.
Zahra mencoba menahan airmatanya agar tak membasahi pipinya. Hatinya sangat sakit. Zahra tak tahan untuk lebih lama lagi tinggal di rumah ini.
Zahra berbalik ingin kembali ke kamarnya. Namun baru baru beberapa langkah Zahra menabrak Reyhan di depannya.
" Kenapa za..." Reyhan pura - pura tidak tahu, padahal dari tadi Rey juga mendengar semua yang dikatakan Sania.
" Nggak apa - apa Mas..." Zahra masuk ke kamar namun Rey terus mengikutinya.
" Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang.." ucap Reyhan.
Zahra menangis dan memeluk Rey dengan erat. Reyhan pun juga membalas pelukan Zahra untuk memberikan ketenangan pada gadis itu.
" Zahraaa... Reyhan..."
.
.
TBC
🌧🌧🌧
Jangan menilai sesuatu dengan mata
Lihatlah dari hatinya
Yang kamu lihat belum tentu benar
Yang kamu anggap salah belum tentu salah...
🌧🌧🌧
.
.
semangat
sukses,mksh