Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenakalan
Leon mendekati si kembar tapi Alya langsung mendorongnya karena merasa pria itu sebuah ancaman bagi anak-anaknya.
"Minggir dan pergilah!" teriak Alya.
"Aku tidak sengaja, Alya. Anak kita berada di belakangku dan aku tidak melihatnya," jawab Leon.
"Minggir! Aku bilang minggir! Kamu sudah menyakitiku berulang kali dan aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati anak-anakku," ucap Alya.
Fared terus menangis bahkan seluruh tubuhnya sudah dilapisi unsur lumpur hitam.
"Alya, aku akan bantu bersihkan," ucap Leon masih kekeuh.
"Pergi!" teriak Alya dengan frustasi.
Mendengar semua itu Leon menyadari jika Alya sudah trauma kepadanya dan sepertinya sudah sulit untuk di dekati. Hah! Semuanya menjadi kacau karena ulah Leon sendiri.
"Alya , aku minta maaf," ucap Leon.
Alya menggandeng anak-anaknya untuk menyebrang jalan sementara Leon masih berusaha mengejarnya, kali ini bukan hanya Fared yang menangis melainkan Alya juga ikut menangis karena sudah muak dengan mantan suaminya itu.
"Jangan ikuti kami!" ucap Alya.
"Aku hanya ingin menolong, setidaknya biar aku bersihkan anak itu," jawab Leon.
"Minggir! Aku tidak butuh bantuanmu," ucap Alya dengan mata melotot.
Alya dan ketiga anaknya pergi berjalan kaki dan meninggalkan Leon yang masih menatap kepergian mereka. Alya masih menangis mengingat semua perlakuan pria itu kepadanya beberapa tahun yang lalu, tak ada yang bisa membuatnya sangat trauma kecuali Leon. Si kembar pun heran kenapa sang mama sampai menangis seperti itu, di otak mereka terpikir jika pria itu sangat jahat kepada sang mama.
Sesampainya di pom bensin, orang-orang memperhatikan Fared yang berlumuran lumpur dan sedikit tertawa. Alya menghiraukan mereka dan mengajak ke kamar mandi.
"Farad, Farid, kalian tunggu di sini ya! Jangan kemana-mana! Mama mau bersihkan tubuh Fared dulu," ucap Alya.
Mereka mengangguk paham dan terduduk di depan kamar mandi, sementara Alya dan Fared masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada-ada saja," ucap Alya sambil membilas Fared.
"Mama kenapa menangis? Aku kan gapapa," ucap Fared yang sudah terhenti dari tangisannya.
"Mama takut kamu terluka, pria itu sangat jahat."
"Sejahat apa sih, Mah?" tanya Fared.
Alya terdiam dan Fared masih jawabannya.
"Pokoknya sangat jahat, jangan coba-coba bicara kepadanya!" ucap Alya.
Setelah membasuh semua tubuh Fared, sekarang Alya bingung anaknya itu harus memakai pakaian apa. Tak mungkin juga pulang dalam keadaan telanjang. Tiba-tiba Leon muncul lagi membawakan tas belanja berisi pakaian untuk Fared.
"Kamu lagi," gumam Alya.
"Pakaikan ini!" ucap Leon sambil memberikan kepada Leon.
Alya hanya melihatnya saja tapi dia sebenarnya ragu mau menolak.
"Kasian jika dia tidak memakai apa-apa dan anggap saja ini sebagai permintaan maafku," ucap Leon.
Alya mengambil itu dengan kasar dan lekas memakaikan Fared, baju dan celananya sangat kebesaran untuk bocah 5 tahun itu.
"Hah! Salah lagi, aku minta maaf karena tidak tahu ukuran pakaian anak kecil," ucap Leon.
"Tidak apa-apa, terima kasih," ucap Leon.
"Terima kasih, Om," sahut Fared sambil tersenyum.
Entah kenapa jantung Leon berdebar dengan kencang setelah melihat respon mereka sedikit membaik.
"Sama-sama, aku akan panggilkan taksi supaya bisa mengantar kalian pulang."
"Tidak perlu, kami akan cari sendiri."
Alya baru sadar kedua anak kembarnya tidak ada di sekitarnya. "Mana mereka?"
"Cari apa?"
Alya berlari kesana kemari tapi tidak melihat batang hidung Farad dan Farid.
"Mana dua anak kembarku?" tanya Alya sangat panik.
Leon baru sadar sejak tadi tidak ada bocah itu, Alya panik lagi dan berlari keluar dari pom bensin, matanya melihat ke arah selokan dekat sana lalu melihat kedua anaknya itu bermain di selokan mengambil kecebong-kecebong kecil. Alya lupa jika mereka hanya bocah 5 tahun yang masih ingin tahu pada semua hal di sekitar mereka.
"Farid, Farad!" teriak Alya dengan nada marahnya.
Mereka kaget dan naik ke atas.
"Mama bilang apa tadi?" tanya Alya menaikkan suaranya.
"Maaf, Mama," ucap mereka menunduk.
Leon hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka, ia pun juga teringat dengan masa kecilnya yang penuh kenakalan. Tanpa mengatakan apapun, Alya lantas pergi dari sana mengajak ketiga kembar tersebut. Leon juga tidak mengejarnya karena Alya mau menerima bantuannya saja lebih dari
cukup.
Sesampainya di tempat kost.
Alya langsung mandi dan teringat dengan Leon tadi, tentu saja rasa trauma masih menggebu di dadanya apalagi pria itu terus mendekati ketiga anak kembarnya.
"Aku harus bagaimana ketika aku sudah terlanjur dapat pekerjaan di sini? Huh! Sebisa mungkin aku tetap harus ketus kepada Leon dan lama kelamaan dia pun akan bosan sendiri," gumam Alya.
Air guyuran yang dingin itu mampu membuat Alya segar bugar lagi, ia juga mencuci wajahnya dengan sabun khusus wajah supaya kulitnya yang terkena debu menjadi bersih dan tidak menimbulkan jerawat. Di usianya yang masih menuju 27 tahun, Alya semakin cantik saja dan mampu merawat diri sehingga banyak pria yang menyukainya.
Setelah mandi, Alya harus cepat-cepat melihat keadaan si kembar karena takutnya melakukan eksperimen yang aneh-aneh lagi.
"Mama, kami dapat makanan dari Om Agra," ucap Farid sambil menunjukkan ayam goreng krispi berserta nasi serta minumnya.
Alya membalut rambutnya yang masih basah dengan handuk dan mendekati mereka.
"Om Agra?"
"Iya, yang rumahnya di depan kita itu," ucap Fared senang.
"Sudah terima kasih sama Om Agra?"
"Sudah dong," ucap Farad.
"Kalian mandi dulu deh, baru makan.Fared mandinya harus sebersih mungkin biar nggak bau got," ucap Leon.
"Siap, Mah."
Merek lantas menuju ke kamar mandi bersama-sama sementara Alya menuju ke kost Agra yang ada di depannya, dia heran sekali kenapa pria itu bisa-bisanya seorang pemilik hotel yang kost di tempat seperti ini bahkan berpindah-pindah.
Alya mengetuk pintu itu lalu tak berselang lama kemudian Agra pun membuka pintu.
"Alya, ada apa?" tanya Agra.
"Terima kasih makanannya, Pak Agra," ucap Alya sangat canggung.
"Tak masalah. Emh, pasti kamu heran kenapa aku ada di tempat ini?"
"Ah, enggak kok. Itu hak Pak Agra mau tinggal di mana."
Agra tersenyum kecil. "Oh, mengenai Farad. Sepertinya dia punya bakat yang luar biasa, jika bakatnya diasah maka dia bisa menjadi hacker handal."
"Farad? Hacker?" tanya Alya.
"Benar, dia bisa bermain komputer dan coding dengan baik di usianya yang masih 5 tahun."
Alya pun bingung. "Dia hanya bermain-main saja, biasalah anak kecil yang masih kepo."
Agra menepuk bahu Alya sambil tersenyum manis. "Bolehkah aku mengajarinya? Ilmu yang dia dapat bisa bermanfaat di kemudian hari, satu jam sehari saja dia bersamaku, aku yakin suatu saat dia bisa menjadi hacker yang handal dan bisa mendapatkan uang dari sana."
"Maaf, bukannya apa-apa. Namun, Farad masih kecil dan aku ingin dia fokus sekolahnya dulu."
Agra paham dan dia tidak memaksa, tapi jika berubah pikiran dia bisa membimbing Farad menjadi hacker yang handal di masa depannya kelak. Setelah mengucapkan terima kasih, Alya kembali ke tempat kost-nya dan melihat semua anaknya sudah mengenakan pakaian masing-masing. Dia membantu menyisir rambut mereka dan memberinya bedak bayi sedikit di wajah mereka supaya nampak segar.
"Anak-anak Mama sudah mandi, waktunya makan," ucap Alya.
"Yeaayyy!" teriak mereka girang.
Mereka makan bersama-sama bersama Alya, mereka juga saling berbagi dan tidak berebut satu sama lain.
***
Di satu sisi.
Leon sudah berada di apartemennya, ia tersenyum sendiri di dalam bak mandinya karena teringat kejadian sore tadi. Walau dia tidak berhasil mendapatkan sampel rambut tiga bocah kembar itu, tapi setidaknya dia berhasil mendekati mereka walau sebentar saja.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi ternyata dari Miki, ia pun malas mengangkatnya karena wanita itu sudah bukan siapa-siapanya lagi. Leon memblokir nomornya kemudian menghapus semua foto-foto mereka berdua.Ponselnya lagi-lagi berbunyi ternyata dari mamanya.
"Hallo, Mah?"
"Leon, kamu segera datang ke rumah Mama!"
"Ada apa?"
"Penting! Sekarang juga datang!"
"Iya, nanti jam 7 saja aku akan ke sana."
Leon menyelesaikan mandinya, setelah itu dia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka semua pesan dari Rick.
Rick : Hacker itu terus berusaha membobol semua data perusahaan kita, tapi sekarang aku sudah memastikan dia tak akan bisa melakukannya.
Leon : Baiklah, aku juga akan ikut memantaunya. Lalu jam 7 datanglah kemari dan antar aku ke rumah orang tuaku.
Rick: Baik, Bos.
Beberapa jam kemudian.
Leon ke rumah orang tuanya dan sesampainya di sana, ia melihat Miki duduk di sebelah orang tuanya. Tanpa mau basa-basi, Leon langsung bertanya kenapa dia harus datang kemari.
"Ada apa? Aku sangat capek dan sibuk," ucap Leon.
"Kenapa kamu memutuskan Miki?" tanya Rafael.
"Oh, aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk membahas itu?"
"Leon, kamu harus segera menikahi Miki karena dia sedang hamil anakmu."
Tentu saja Leon sangat kaget, tapi dia tahu jika ini akal-akalan wanita itu saja.
"Singkirkan omong kosong itu! Aku tidak pernah membuatnya hamil karena setiap kami bermain selalu menggunakan pengaman," jelas Leon.
"Ini anakmu, Sayang. Ini sungguh anakmu, aku tidak bohong," ucap Miki.
"Diam kamu! Apa yang kamu rencanakan sebenarnya? Selama ini kamu juga tidur dengan beberapa pria lain di belakangku dan kamu pikir aku tidak tahu?" tanya Leon.
"Itu semua fitnah! Kamu yang menghamili ku dan aku minta pertanggung jawabanmu untuk segera menikahi ku atau aku akan buat berita jika kamu sudah menghamili kekasihmu sendiri tapi nggak mau tanggung jawab, kemudian reputasi mu akan hancur," ancam Miki.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan