Aarav Baskara Darma, seorang jaksa yang harus menyewa jasa bodyguard untuk melindunginya dari teror yang terus saja menghampirinya, setiap dia berhasil menyelesaikan satu kasus. Dia tidak menyangka jika bodyguard cantik itu selalu bisa menarik perhatiannya, hingga hatinya merasa nyaman dengannya dan perlahan-lahan mulai menyukainya, walaupun gadis itu sangat dingin dan bahkan kejam padanya, dia juga sangat mata duitan. Dan jelas selalu saja membuat Aarav dengan mudahnya naik darah.
Bagaimana perjalanan kisah manis mereka?
Yuk! ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
.
25
.
Adrian melapaskan pelukannya. Dia menatap wajah cantik Erza yang masih di penuhi oleh air matanya.
Dengan lembut Adrian mengusapnya, "ayo. Aku juga akan membelikanmu banyak ice cream dan coklat. Itu akan membuat mu merasa sangat rileks." Ucapnya.
Erza menganggukan kepalanya. Dia sangat beruntung karena Adrian masih ada di sana dan bisa membawanya pergi dari sana di saat-saat yang paling dia butuhkan.
"Kita akan memakai motormu saja. Itu akan lebih menyenangkan." Ujar Adrian.
Erza memberikan kunci motornya pada Adrian yang sedang mengulurkan tangannya untuk memintanya.
Adrian tersenyum lebar pada Erza, saat Erza sudah memberikan kunci motornya.
"Ayo!" Ajaknya seraya menggenggam tangan Erza. Mereka berdua berjalan bersama keluar dari rumah itu.
Meninggalkan Aarav yang masih berdiri mematung di tempatnya seraya terus menatap punggung keduanya yang berjalan pergi meninggalkannya.
"Argh! Apa yang sudah aku lakukan!!! Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diri ini!" Geram Aarav pada dirinya sendiri.
"Sial!" Aarav menjambak rambutnya sendiri dengan begitu kasar.
.
Di sisi lainnya, Erza sedang bersama dengan Adrian.
Adrian mengendarai motor Erza, sementara Erza di belakangnya duduk dengan tenang.
"Erza... Berpegang. Jika tidak aku khawatir jika kamu akan terjatuh." Pinta Adrian.
"Tidak perlu. Aku tidak akan jatuh." Jawab Erza.
Adrian menepi dan menghentikan laju motornya. Dia menarik tangan Erza agar memeluk pinggangnya dengan erat.
Erza mengerjapkan matanya berkali-kali saat dia harus memeluk tubuh pria yang kini harus membatalkan segala urusannya, hanya untuk membawanya pergi entah kemana.
"Seperti ini. Aku akan merasa tenang." Ucap Adrian
Walaupun merasa sangat canggung, tapi Erza tersenyum begitu manis. Dia benar-benar merasa jika Adrian sangat lembut dan penuh perhatian dan juga kasih sayang.
"Kita akan kemana?" Tanya Erza.
"Ke rumah nenek buyut Indri. Rumahnya ada di dekat taman yang sangat indah. Ada sungai juga yang mengalir di dekatnya. Suasananya sangat asri dan sejuk. Kamu akan sangat menyukainya." Jawab Adrian
"Terimakasih Adrian. Aku benar-benar berhutang padamu." Erza meletakkan kepalanya di pundak Adrian. Memeluknya dari belakang seperti itu, membuat perasaan Erza jauh lebih tenang.
"Santai saja Erza... jangan terlalu di pikirkan. Aku juga sangat senang bisa membantu mu." Jawab Adrian seraya menyentuh tangan Erza yang masih memeluknya, sementara tangannya yang satunya lagi memegangi stang motor Erza.
Sekitar tiga puluh menitan, mereka berdua baru sampai di tempat tujuan mereka.
Erza tersenyum lebar saat melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.
"Wah... Aku benar-benar menyukai ini." Ucapnya.
Adrian juga tersenyum lebar, dia sangat senang melihat Erza yang sudah bisa tersenyum seperti itu lagi.
"Ayo!" Adrian menggandeng tangan Erza, dia menariknya untuk berjalan beriringan dengannya, untuk berjalan mendekati kursi yang ada di sana.
"Kita duduk di sini. Melihat sungai yang mengalir dan mendengar suara gemericik air. Itu semuanya bisa menghilangkan rasa stress yang berlebihan." Ucap Adrian begitu mereka berdua sampai di kursi yang memang memperlihatkan dengan jelas pemandangan aliran sungai yang tenang dan jernih.
"Terimakasih Adrian..." Ucap Erza.
"Santai saja. Nikmati pemandangan di sini, dan jangan pikirkan apapun lagi yang hanya akan membuat perasaanmu terasa tidak nyaman. Lebih baik memikirkan hal-hal ringan saja, seperti misalnya setelah ini kita makan apa? Mie ayam, ayam goreng atau apapun. Atau mungkin bagaimana kalau kita pergi ke bioskop, terus film apa yang ingin kamu tonton. Seperti itu saja. Itu tidak akan mengganggu pikiran mu." Adrian menggenggam tangan Erza yang duduk di sebelahnya.
"Jangan menangis lagi..." Ucapnya lagi.
Erza menganggukan kepalanya, dia memang sudah seharusnya tidak menangis seperti tadi.
"Sekali lagi terimakasih Adrian. Aku merasa sangat lebih baik, setelah kamu membawaku kemari." Erza merasa sangat berterimakasih karena ada Adrian di sana, di saat yang paling tepat.
"Sama-sama Erza... Aku senang bisa membantumu. Jadi jangan di pikirkan lagi." Jawab Adrian.
Erza menganggukan kepalanya, dia memilih untuk menikmati pemandangan indah yang ada di sana. Melepaskan semua pikiran yang terus mengganggunya.
Sore harinya, Adrian dan Erza baru kembali. Adrian mengantarkan Erza ke apartemennya.
Sesampainya di sana dia melihat Aarav yang sedang berdiri di depan pintu masuk apartemen Erza.
Erza menghentikan langkahnya saat dia melihat Aarav yang sedang berjalan mendekatinya.
"Kak Aarav di sini?"
"Dari mana saja? Aku menunggu kalian sangat lama." Tanya Aarav mengabaikan pertanyaan dari adiknya.
Erza masih terus melihat ke arah Aarav yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Aku sangat lapar, aku akan memasak untuk kalian." Jawab Erza yang juga mengabaikan pertanyaan dari Aarav
Erza, membuka pintu apartemennya, dia juga segera masuk ke dalamnya tanpa menunggu kedua pria yang masih berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.
"Dari mana?" Tanya Aarav.
"Apa pedulimu! Kak Aarav sangat berisik! Akan lebih baik jika kakak tidak perlu muncul saat ini!" Jawab Adrian seraya berjalan masuk meninggalkan kakaknya yang pada akhirnya juga mengikuti langkahnya
Aarav tidak memperdulikan ucapan adiknya. dia memilih untuk mendekati Erza yang sedang berdiri di depan kulkasnya.
Melihat itu Adrian hanya membiarkannya saja. Dia juga penasaran dengan apa yang akan kakaknya katakan pada Erza. Dia memilih duduk santai sambil menikmati acara televisi.
"Erza... Aku langsung saja... Aku ingin meminta maaf padamu. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku juga tidak berniat untuk membandingkan mu dengan siapapun. Hanya saja..." Aarav menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak suka jika kamu memuji Adrian atau siapapun. Aku tidak suka itu." Lanjutnya.
"Kamu boleh marah padaku, tapi kamu jangan menjauh dariku. Aku pasti akan sangat kehilanganmu. Aku benar-benar menderita jika kamu marah padaku." Ucap Aarav lagi.
Walaupun Aarav sudah mengatakan semuanya itu, tapi dia masih belum bereaksi apapun.
"Erza..."
Bamm!
Aarav terkejut saat Erza membanting pintu kulkas dengan keras.
"Kulkas ku mungkin rusak. Aku mau yang baru." Ucap Erza.
Mendengar itu Aarav mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Erza pikirkan saat ini tentangnya.
"Bagaimana?" Erza mendekatkan wajahnya pada wajah Aarav uang masih saja terdiam.
Sebenarnya Erza masih sangat sedih dengan kata-kata yang Aarav ucapkan padanya. tapi mengingat dia harus bekerja bersamanya, dia tidak ingin memperlihatkan semuanya itu. Lagi pula dia juga tidak seharusnya marah atau bahkan sampai menangis seperti tadi.
Itu membuatnya malu pada dirinya sendiri saat mengingatnya. Karena sebenarnya dia hanya tidak suka jika Aarav selalu saja memuji Olivia di depannya. Walaupun jelas Erza tahu, jika Aarav memang menyukai Olivia. Tapi tetap saja dia tidak suka dengan itu.
Walaupun begitu, saat ini dia hanya ingin kembali berdamai dengan perasaannya sendiri. Dia tidak ingin merusak segalanya. Saat ini dia membutuhkan pekerjaan dengan gaji yang besar untuk memenuhi semua kebutuhan untuk keluarganya yang saat ini memang sangat membutuhkan banyak biaya. Dia juga masih bisa mentolerir lagi apa yang Aarav katakan. Karena semuanya itu memang benar adanya. Jadi dia sudah seharusnya tidak perlu repot-repot untuk marah padanya.
"Tuan Aaraaavvv... Berhentilah menatapku dengan tatapan itu. Aku benar-benar bisa jatuh cinta padamu."
"Ah! Itu... Iya... Kamu bisa memilihnya sesuai dengan keinginanmu, kamu juga boleh jatuh cinta padaku..." Jawabnya dengan gugup.
Mendengar itu Erza tertawa geli.
"Terimakasih tuan Aaraaavvv... Kamu masih saja yang terbaik dalam hal ini." Ucap Erza dengan begitu manis.
Aarav masih tidak mengerti kenapa sikap Erza bisa kembali seperti sebelumnya dengan begitu cepat. Seolah-olah jika tidak terjadi apapun dengannya. Dia juga lupa apa yang baru saja dia katakan tadi.
"Erza... Kamu sudah memaafkanku?" Tanya Aarav.
.