Dibuang dan dijadikan pelayan oleh keluarga angkatnya, Lin Yue tidak menyangka bahwa seminggu sebelum kiamat ia mengaktifkan Sistem Suaka di rumah tua neneknya.
Saat Virus Genesis meletus, manusia, hewan, dan tumbuhan bermutasi menjadi monster berelemen. Di tengah kiamat yang mengerikan, rumah tua Lin Yue diubah oleh Sistem menjadi zona aman mutlak!
Aturan Lin Yue sangat sederhana: "Mau makanan hangat, listrik, dan perlindungan? Bayar sewa pakai Kristal Inti di kepala zombie!"
Dari kos-kosan 4 kamar sederhana, Lin Yue membangun perumahan elit hingga kota suaka terbesar di dunia, memaksa keluarga angkat yang dulu menyiksanya berlutut memohon perlindungan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PENYEWA PERTAMA YANG TERDESAK
BAB 10: Penyewa Pertama yang Terdesak
Sore di hari ke-14 menyelimuti Kota Jiangcheng dengan warna abu-abu keemasan yang muram. Angin dingin berembus melewati celah-celah reruntuhan bangunan, membawa deru napas memburu dan langkah kaki yang berantakan di sepanjang jalan utama gang.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara sepatu kets yang robek menghantam permukaan aspal kering berbunyi kian kencang.
Seorang pemuda berusia awal dua puluhan berlari mati-matian. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik-turun hebat, dan wajahnya yang penuh jelutuh hitam dipenuhi oleh ketakutan yang luar biasa. Di punggungnya, terikat sebuah karung goni berisi beberapa botol plastik kosong dan kaleng bekas—modal bertahannya yang tak seberapa.
Namanya Xiao Chen, seorang penyintas pemungut barang bekas yang selama dua minggu terakhir bertahan hidup di celah-celah reruntuhan kota.
"Ggrrrrrr!"
"Krrraaakh!"
Di belakang Xiao Chen, berjarak kurang dari lima belas meter, tiga ekor zombie melangkah seret namun agresif. Salah satu di antaranya adalah zombie mantan atlet yang masih memiliki otot kaki cukup utuh, membuatnya sanggup bergerak jauh lebih cepat dibandingkan zombie biasa.
"Sial! Sial! Kenapa mereka banyak banget?!" umpat Xiao Chen dengan suara tercekat.
Ujung kakinya yang lelah sempat tersandung batu berkerikil, membuatnya hampir tersungkur. Matanya yang sembap dan memerah menatap liar ke sekeliling gang sepi, mencari celah atau pintu rumah yang bisa ia jadikan tempat bersembunyi. Namun, sebagian besar pintu rumah di sepanjang gang itu tertutup rapat dari dalam atau sudah hancur berantakan bekas jarahan.
Saat keputusasaan mulai menggerogoti jiwanya, pandangan Xiao Chen mendadak terkunci pada sebuah sudut di ujung jalan kecil.
Di sana, berdiri sebuah rumah tua dua lantai yang dikelilingi pagar besi tebal. Yang membuat matanya melotot lebar adalah keberadaan kompleks bangunan beton baru bercat abu-abu gelap di sisi timur halaman rumah tersebut—empat kamar kos modern dengan pintu besi hitam tebal dan panel lampu digital bersinar hijau!
Lebih menakjubkan lagi, di dekat pintu gerbang pagar, sebuah papan kayu memancarkan tulisan berwarna emas terang yang sangat jelas:
[SEWA KOS-KOSAN SUAKA AMAN KHUSUS PENYINTAS]
- Bebas Zombie 100%, Air Bersih Mandiri, Listrik 24 Jam.
- Biaya Sewa: 2 Kristal Inti Keruh Level 0 per Minggu.
...----------------...
"Air bersih... listrik... aman dari zombie?!" Xiao Chen membelalakkan mata seolah melihat ilusi surga di tengah neraka.
Ia tidak punya waktu untuk memikirkan apakah ini jebakan atau sihir. Zombie atlet di belakangnya sudah melompat maju, hanya berjarak lima meter dari punggungnya!
"Tolong! Siapa pun di dalam, tolong saya!" jerit Xiao Chen histeris seraya menerjang lurus menuju pintu gerbang pagar Suaka!
Sret!
Tepat sebelum Xiao Chen menghantam pagar besi, langkahnya terhenti secara mendadak. Sebuah dinding energi transparan yang hangat menahan dorongan tubuhnya secara lembut, sementara di sepanjang jeruji pagar besi di sebelahnya, sirkuit listrik biru berdesir halus.
Zzzzt!
Zombie atlet yang menerjang di belakang Xiao Chen langsung menghantam batas pagar luar dengan telapak tangannya!
PLAK! ZZZZZZT!
Kejutan listrik bertegangan tinggi dari Barrier Level 1 menyengat telapak tangan zombie itu seketika! Arus biru menjalar cepat membakar saraf geraknya, membuat mahluk itu meraung kesakitan dan terlempar mundur dua meter dengan dada berasap.
Xiao Chen terduduk lemas di atas tanah kering, gemetar hebat. Matanya membelalak menyaksikan zombie yang mengejarnya tak sanggup menyentuh area pagar tersebut.
Cklek.
Pintu kayu utama rumah tua dua lantai itu terbuka secara perlahan.
Seorang gadis muda melangkah keluar dengan tenang. Ia mengenakan pakaian hitam ringkas yang bersih, memegang sebuah tombak kayu jati berujung pisau dapur berkilau. Tatapan matanya jernih, dingin, dan sangat tenang—sangat bertolak belakang dengan atmosfer kehancuran di sekitarnya.
Lin Yue berdiri di dalam garis batas Suaka, memandangi pemuda pemungut barang bekas yang bersimbah keringat di luar pagar.
"Ini area privat Suaka," kata Lin Yue dengan suara datar namun penuh tekanan. "Kamu berteriak terlalu keras di depan pintuku."
Xiao Chen menatap Lin Yue dengan tatapan memohon yang sangat dalam. Ia merangkak mendekati garis pagar, menunjuk papan pengumuman emas di sebelahnya.
"saudari... Tolong saya, Sudari! Papan ini... papan ini beneran kan?!" bisik Xiao Chen terbata-bata dengan tenggorokan kering. "Saya mau sewa! Tolong sembunyiin saya di dalam kosan itu! Di luar ada tiga zombie!"
Lin Yue melirik ke arah tiga zombie yang kini berkumpul lima meter di seberang jalan, meraung-raung mengintai ke arah pagar namun takut mendekati sirkuit listrik.
"Aturan Suaka sangat sederhana," Lin Yue memutar tombaknya dengan santai. "Tidak ada tempat bernaung gratis di dunia kiamat. Kamar kos di belakangku memiliki fasilitas air bersih tak terbatas, listrik 24 jam, dan perlindungan mutlak."
Lin Yue menatap mata Xiao Chen dengan tajam.
"Biaya sewanya adalah 2 Kristal Inti Keruh Level 0 untuk satu minggu pertama. Punya?"
Xiao Chen membeku. Wajahnya seketika pucat pasi. "K-Kristal Inti? Batu abu-abu bercahaya dari kepala monster itu?"
"Tepat," jawab Lin Yue dingin. "Jika punya, pintu Kamar 101 akan terbuka untukmu sekarang. Jika tidak, silakan angkat kaki dari area depan pintuku sebelum tiga zombie di seberang sana memakanmu hidup-hidup."
Xiao Chen gemetar hebat. Ia merogoh saku celananya yang kotor dengan panik. Tangan keriputnya menarik keluar selembar kain lusuh. Ketika kain itu dibuka, dua buah batu abu-abu keruh berukuran biji jagung tampak berkilau redup di dalamnya—kristal yang tak sengaja ia temukan saat menggeledah bangkai zombie yang hancur tertimpa reruntuhan dua hari lalu.
"S-Saya punya dua, saudari! Ini! Ini seluruh modal hidup saya!" seru Xiao Chen seraya menyodorkan kedua batu itu melewati garis pelindung transparan.
Bip!
Layar Sistem di mata Lin Yue berkedip cepat saat kedua kristal itu melintasi garis batas.
[Deteksi: 2 Buah Kristal Inti Keruh Level 0 Terverifikasi!]
[Transaksi Sewa Kamar 101 Diterima!]
Lin Yue menyambar kedua kristal tersebut, lalu tersenyum tipis.
"Transaksi berhasil. Selamat datang di Kos-kosan Suaka," kata Lin Yue.
Brak!
Dengan satu jepretan jari Lin Yue, panel Kunci Digital di pintu Kamar 101 berbunyi nyaring dan pintunya terbuka secara otomatis dari dalam.
Xiao Chen tidak membuang waktu satu detik pun. Ia merangkak bangun dan melompat masuk ke dalam Kamar 101 bagaikan orang gila. Begitu tubuhnya melewati ambang pintu, pintu besi padat itu langsung tertutup rapat dan terkunci dengan bunyi cklek yang kokoh, mengisolasi total dirinya dari dunia luar yang penuh neraka.
Lin Yue membalikkan badan, menatap tiga zombie di seberang jalan yang masih meraung-raung.
Penyewa pertamanya telah tiba, dan mesin ekonomi Suaka resmi berputar.
Bersambung.....
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...