NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gudang Blok C

Nayla menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar keras.

Panggilan video dari Siska masih masuk.

Inspektur Wina memberi isyarat agar Nayla mengangkatnya. Petugas siber berdiri di samping meja, memastikan perangkat perekam sudah aktif. Pak Hendra dan Bu Ratih mundur sedikit, tetapi tetap berada di dekat Nayla.

Nayla menekan tombol terima.

Layar ponsel menampilkan ruangan gelap yang hanya diterangi satu lampu kecil. Gambar video bergetar, seolah ponsel yang digunakan untuk merekam sedang dipegang seseorang dengan tangan tidak stabil.

Raka terlihat duduk di lantai.

Kedua tangannya terikat di belakang tubuh. Kemeja hitamnya kusut, rambutnya berantakan, dan ada luka tipis di pelipisnya. Namun matanya masih terbuka dan sadar.

“Nayla,” ucapnya pelan.

Dada Nayla terasa sesak.

“Pak Raka, Bapak tidak apa-apa?”

“Jangan datang.”

Suara Raka terdengar serak.

Siska muncul di belakangnya. Wajah perempuan itu tampak tegang, tetapi ia berusaha tersenyum.

“Masih sempat memberi perintah,” katanya. “Kamu lihat? Dia masih hidup.”

Nayla menggenggam ponsel dengan kedua tangan.

“Lepaskan dia.”

“Kamu datang ke sini dulu.”

“Saya tahu kamu berada di Gudang Kencana Logistik Blok C.”

Senyum Siska langsung menghilang.

Di ruang tamu, Inspektur Wina memberi isyarat agar Nayla terus berbicara.

Siska menoleh ke sekeliling ruangan, seolah baru menyadari ada seseorang yang mungkin memberi petunjuk.

“Bagaimana kamu tahu?” tanyanya.

“Saya melihat foto yang kamu kirim.”

“Kamu tidak sebodoh itu ternyata.”

“Saya hanya ingin Pak Raka selamat.”

“Kalau begitu, datang.”

“Saya tidak bisa datang tanpa memastikan Bapak tidak akan menyakiti dia.”

Siska tertawa pendek.

“Kamu masih mau bernegosiasi?”

“Saya tidak percaya begitu saja.”

Siska mengarahkan kamera lebih dekat ke wajah Raka. Nayla dapat melihat luka di pelipis pria itu dengan lebih jelas.

“Dia akan baik-baik saja kalau kamu menurut.”

Raka menggeleng perlahan.

“Nayla, dengarkan aku. Jangan datang. Polisi—”

Siska tiba-tiba menarik rambut Raka ke belakang. Raka meringis, tetapi tidak berteriak.

Nayla menahan napas.

“Jangan sentuh dia!” serunya.

“Kalau begitu, datanglah.”

“Saya akan datang.”

Semua orang di ruang tamu menoleh kepada Nayla.

Inspektur Wina segera memberi isyarat agar Nayla tidak memutuskan sambungan. Nayla memahami maksudnya. Ia harus membuat Siska percaya bahwa ia akan datang, sambil membiarkan polisi melacak lokasi.

“Kapan?” tanya Siska.

“Beri saya waktu tiga puluh menit.”

“Tidak. Sepuluh menit.”

“Saya tidak mungkin tiba dalam sepuluh menit. Saya tidak tahu jalan masuknya.”

Siska menyipitkan mata.

“Kamu tidak datang sendiri, kan?”

“Saya sendiri.”

“Kirim lokasi kamu.”

Nayla menelan ludah.

Inspektur Wina menggeleng cepat dan menunjuk layar ponsel, memberi isyarat agar Nayla mengulur waktu.

“Saya akan kirim setelah kamu memberi saya bukti bahwa Pak Raka masih aman,” jawab Nayla.

Siska mengarahkan kamera ke Raka.

“Bicara.”

Raka menatap layar. “Nayla, jangan ikuti perintahnya.”

Siska menampar sisi wajah Raka.

Nayla tersentak.

Bu Ratih menutup mulutnya. Pak Hendra mengepalkan tangan, tetapi Inspektur Wina memberi isyarat agar semua tetap tenang.

“Cukup!” kata Nayla. “Saya akan datang. Tapi jangan sakiti dia lagi.”

“Bagus.”

“Kamu ingin saya datang untuk apa?”

Siska terdiam.

Nayla melanjutkan, “Kamu menyalahkan Raka karena masalah Bayu dan proyek. Tapi apa yang kamu inginkan dari saya?”

Siska menggeser kamera sedikit. Wajahnya tampak lebih jelas.

“Aku ingin semua bukti dihapus.”

“Bukti yang mana?”

“Foto, chat, rekaman, apa pun yang bisa menghancurkan aku dan Bayu.”

“Kalau saya menghapusnya, kamu akan melepaskan Raka?”

“Kalau kamu membawa ponsel dan menghapus semuanya di depan aku, mungkin.”

Nayla menatap Inspektur Wina. Petugas itu mencatat sesuatu lalu memberi isyarat agar Nayla terus memancing pengakuan.

“Jadi kamu mengakui bahwa bukti itu benar?” tanya Nayla.

Siska langsung terdiam.

“Kamu takut bukti itu tersebar karena memang menunjukkan kesalahan kamu?”

“Jangan bermain-main denganku.”

“Saya hanya ingin tahu. Kalau kamu tidak bersalah, kenapa harus dihapus?”

Wajah Siska semakin tegang.

“Aku tidak menculik Raka untuk berdebat.”

“Kalau begitu, lepaskan dia.”

“Kamu punya waktu delapan menit.”

Panggilan tiba-tiba terputus.

Petugas siber langsung memeriksa perangkat.

“Lokasi sudah kami dapatkan,” katanya. “Sinyal terakhir sesuai dengan area Kencana Logistik Blok C.”

Inspektur Wina memberi instruksi kepada tim melalui radio. “Tim utama masuk dari sisi timur. Tim kedua mengamankan pintu belakang. Pastikan korban menjadi prioritas.”

Nayla memandang layar ponselnya.

“Apakah Pak Raka akan selamat?”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin,” jawab Inspektur Wina. “Tapi Ibu tetap di sini.”

Nayla mengangguk, meski seluruh tubuhnya ingin bergerak menuju gudang.

***

Di Gudang Kencana Logistik Blok C, dua kendaraan tanpa tanda berhenti beberapa meter dari bangunan tua itu.

Gudang tersebut sudah lama tidak digunakan. Pintu besi di bagian depan berkarat, beberapa jendelanya pecah, dan rumput liar tumbuh di sepanjang dinding.

Tim polisi bergerak perlahan.

Mereka tidak menyalakan sirene.

Di dalam gudang, Raka mendengar suara kendaraan berhenti di luar. Ia mengangkat wajah.

Siska sedang berdiri dekat pintu, berbicara melalui ponselnya.

“Kamu yakin tidak ada yang mengikuti?” suara Bayu terdengar dari sambungan telepon.

“Tidak ada,” jawab Siska. “Nayla akan datang.”

“Kamu yakin dia datang sendiri?”

“Dia takut Raka disakiti.”

Bayu tertawa pendek. “Perempuan itu ternyata mudah dipancing.”

Raka menatap mereka dengan dingin.

“Jangan libatkan Nayla,” katanya.

Siska menoleh. “Kamu masih memikirkannya?”

“Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kalian.”

“Dia adalah alasan kamu kembali menggali masa lalu Bayu.”

“Bukan dia. Saya memang sudah curiga pada kalian.”

Bayu terdengar melalui telepon.

“Raka, kamu selalu merasa paling benar.”

“Dan kamu selalu menyalahkan orang lain karena kegagalanmu sendiri.”

Suara Bayu berubah kasar.

“Kamu menghancurkan kerja sama kita. Kamu membuat investor pergi. Kamu mengambil semuanya dariku.”

“Kamu menghancurkan perusahaanmu sendiri ketika mencuri data dan menggunakan uang investor.”

“Aku melakukan itu karena kamu meninggalkanku.”

Raka menatap Siska. “Dan sekarang kamu memakai Siska untuk mengulang cara yang sama.”

Siska mengepalkan tangan.

“Diam.”

“Dia akan meninggalkanmu begitu tidak lagi membutuhkanmu.”

Siska melangkah cepat dan menampar Raka. Namun Raka hanya memiringkan wajah akibat tamparan itu.

“Aku tidak seperti Alena,” kata Siska.

“Benar,” jawab Raka. “Alena mengkhianati saya, tetapi dia tidak menculik atau mengancam orang lain.”

Siska terdiam.

Dari luar, terdengar bunyi samar.

Seperti logam bergeser.

Siska menoleh ke arah pintu.

“Apa itu?”

Bayu langsung berkata melalui telepon, “Kamu harus pergi sekarang.”

“Kamu bilang tempat ini aman.”

“Aku bilang tidak ada yang tahu. Tapi kalau polisi sudah datang, kita tidak bisa bertahan.”

Siska menatap Raka dengan panik.

“Kamu ikut denganku.”

Raka tidak bergerak.

Siska meraih pisau kecil dari atas meja dan menempelkannya ke sisi leher Raka.

“Berdiri!”

Raka perlahan bangkit. Tangannya masih terikat.

“Kalau kamu menyakiti dia, kamu tidak akan bisa keluar dari sini,” kata Bayu.

Siska menarik Raka menuju pintu samping.

Namun sebelum mereka mencapai pintu, terdengar suara keras dari arah depan gudang.

“Polisi! Letakkan senjata dan lepaskan sandera!”

Siska membeku.

Raka menutup matanya sesaat.

Akhirnya mereka datang.

Bayu berteriak dari telepon, “Jangan menyerah!”

Siska menarik Raka lebih dekat. Pisau di tangannya menekan kulit leher pria itu.

“Jangan mendekat!” teriak Siska ke arah pintu.

Suara polisi kembali terdengar.

“Kamu sudah dikepung. Lepaskan korban dan letakkan senjata.”

Siska bernapas cepat.

Raka melihat ke arah jendela kecil di sampingnya. Di luar, bayangan polisi bergerak perlahan. Mereka sedang mencari posisi yang aman.

“Nayla tidak akan datang,” kata Raka.

Siska menatapnya marah.

“Dia berjanji.”

“Dia cukup cerdas untuk tidak datang ke jebakan.”

“Kamu tidak mengenalnya.”

“Saya mengenalnya lebih baik daripada kamu.”

Kalimat itu membuat Siska semakin marah.

Ia mengangkat pisau.

Dalam satu gerakan cepat, Raka menjatuhkan tubuhnya ke samping. Pisau hanya menggores bagian kerah kemejanya. Pada saat yang sama, pintu samping didobrak.

Dua petugas masuk dan berteriak agar Siska menjauh.

Siska mundur dengan pisau masih di tangan.

Raka berusaha bergerak menjauh, tetapi karena tangannya terikat, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.

Siska menoleh ke arah pintu belakang. Tidak ada jalan keluar.

“Letakkan pisau!” teriak petugas.

Siska memandang benda tajam di tangannya.

Bayu masih berteriak melalui telepon.

“Lari, Siska! Lari!”

Namun Siska tidak bergerak.

Salah satu petugas mendekat perlahan sambil menjaga senjata tetap terarah. Petugas lain berlari menuju Raka dan memotong tali yang mengikat tangannya.

Begitu tangannya bebas, Raka segera bergeser menjauh dari Siska.

“Letakkan pisau,” ujar petugas sekali lagi.

Siska menatap Raka.

“Kamu menghancurkan semuanya,” katanya.

“Bukan saya,” jawab Raka. “Kamu dan Bayu yang memilih ini.”

Siska akhirnya menjatuhkan pisau.

Petugas langsung mengamankannya.

Di lantai, Raka berusaha berdiri. Seorang petugas memeriksa luka di pelipisnya.

“Saya baik-baik saja,” katanya.

Namun suaranya terdengar serak.

***

Di rumah orang tua Nayla, waktu terasa berjalan sangat lambat.

Nayla duduk di tepi sofa sambil terus memegang ponsel. Inspektur Wina menerima pembaruan melalui radio, tetapi belum memberi tahu banyak.

Pukul 11.42.

Lalu ponsel Inspektur Wina berbunyi.

Ia mendengarkan beberapa detik, kemudian menatap Nayla.

“Pak Raka sudah ditemukan.”

Nayla berdiri begitu cepat sampai hampir kehilangan keseimbangan.

“Dia selamat?”

“Selamat. Ada luka ringan di pelipis dan goresan kecil di leher, tetapi sadar.”

Air mata Nayla langsung jatuh.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Bu Ratih memeluknya.

“Dia selamat,” bisik ibunya. “Dia selamat, Nay.”

Nayla menangis dalam pelukan ibunya. Kali ini tangisnya bercampur lega.

Namun Inspektur Wina belum selesai.

“Siska sudah diamankan,” lanjutnya. “Tapi Bayu belum ditemukan. Kami masih melacak nomor telepon yang digunakan untuk berkomunikasi dengannya.”

Nayla mengusap air mata.

“Jadi masih belum selesai?”

“Belum,” jawab Inspektur Wina jujur. “Tapi salah satu korban sudah berhasil diselamatkan.”

Ponsel Nayla berbunyi.

Pesan masuk dari nomor yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

**Bayu:** Kamu pikir ini berakhir hanya karena Raka diselamatkan?

Nayla menatap pesan itu dengan wajah pucat.

Pesan kedua muncul.

**Bayu:** Sekarang giliran kamu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!