Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. TEROR BERDARAH DI RUMAH SAKIT
Arka menoleh ke arah pintu kamar Bastian ketika suara langkah kaki di luar semakin jelas terdengar.
Dua orang laki-laki berjaket hitam sedang menuju ke arah mereka. Arka tidak tahu apakah mereka orang yang sama dengan dua pria yang menghalangi jalan Bastian beberapa waktu lalu. Namun, pesan misterius yang baru saja diterimanya membuat satu hal menjadi jelas: seseorang ingin memastikan Bastian tidak pernah kembali bekerja.
Dan Arka tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ia segera menghampiri tempat tidur Bastian.
"Kau tetap di sini," katanya tegas.
Bastian mengangkat kepala. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menyusul Sara di lantai bawah."
"Arka, tunggu dulu. Kita tidak tahu berapa banyak orang yang mereka bawa."
"Justru karena itu aku tidak bisa membiarkan Sara berada di luar sendirian."
Bastian berusaha bangkit, tetapi rasa sakit pada kaki kanannya membuatnya kembali bersandar ke bantal.
"Sialan!" gerutunya. "Kalau kakiku tidak seperti ini, aku akan ikut denganmu."
"Kalau kakimu tidak seperti itu, mungkin kau sudah berlari mengejar mereka tanpa berpikir."
Bastian mendelik.
"Ini bukan waktunya bercanda!"
"Aku tidak bercanda."
Arka mengambil ponselnya, lalu meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur Bastian.
"Hubungi petugas keamanan. Beri tahu mereka ada orang mencurigakan di lantai ini. Jangan biarkan siapa pun memindahkanmu tanpa konfirmasi langsung dari dokter."
"Dan kau?"
"Aku akan membawa Sara kembali ke sini."
Bastian menatapnya serius.
"Arka, dengarkan aku. Kalau mereka benar-benar anak buah kakak mu, jangan hadapi mereka sendirian. Kau tidak tahu apa yang diperintahkan kakakmu kepada mereka."
Arka terdiam sesaat.
Nama Phat membuat pikirannya kembali kepada pertengkaran di taman.
Tatapan penuh kebencian itu.
Ancaman yang diucapkan sebelum kakaknya pergi.
Arka, kau akan menyesali ini.
Saat itu, Arka mengira Phat hanya marah karena urusan Sara. Namun, setelah mengetahui bahwa ayah mereka ingin menghentikan penyelidikan Bastian dan mencegahnya menemukan Tiara Chenzae, Arka mulai menyadari bahwa kemarahan Phat mungkin hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sesungguhnya.
"Kalau aku menunggu sampai semuanya jelas, mungkin sudah terlambat," jawab Arka.
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.
"Arka!"
Arka berhenti, tetapi tidak menoleh.
Bastian menarik napas dalam-dalam.
"Jangan mati sebelum kau sempat menjawab pertanyaanku tentang Sara."
Arka mengembuskan napas pendek.
"Kau benar-benar menyebalkan."
"Aku tau."
Untuk sesaat, Arka tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian, ia menoleh sedikit.
"Aku akan kembali."
Setelah mengatakan itu, ia membuka pintu dengan hati-hati.
Koridor tampak lengang. Lampu putih di langit-langit menyinari lantai yang mengilap, sementara suara televisi dari ruang tunggu terdengar samar di kejauhan.
Kedua pria berjaket hitam yang sebelumnya menuju kamar Bastian sudah tidak terlihat.
Arka tidak membuang waktu.
Ia keluar, menutup pintu kamar, lalu bergegas menyusuri koridor menuju tangga darurat. Ia sengaja menghindari lift karena terlalu mudah terjebak jika seseorang menahan pintunya atau menunggunya di dalam.
Sara berada di lantai bawah.
Dan ia harus sampai kepadanya sebelum orang-orang itu melakukannya.
Di lantai dasar, Sara berdiri tidak jauh dari mesin penjual minuman.
Tangannya menggenggam dua gelas kopi kertas yang baru saja dibelinya. Di sekelilingnya, beberapa pengunjung rumah sakit masih duduk di kursi tunggu. Seorang ibu menggendong anak kecil yang tertidur, sementara seorang pria lanjut usia berbicara pelan dengan perempuan yang diduga keluarganya.
Semuanya tampak biasa.
Namun, Sara tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Dua pria berjaket hitam yang baru memasuki lobi tidak berhenti di meja resepsionis. Mereka juga tidak terlihat sedang mencari kamar pasien. Keduanya justru terus mengamati orang-orang di sekitar mereka, seolah sedang mencari seseorang.
Salah satu pria mengeluarkan ponsel.
Ia menatap layar sebentar, kemudian menunjukkan sesuatu kepada rekannya.
Pria yang lain mengangguk.
Setelah itu, mereka mulai berjalan ke arah lorong yang mengarah ke tangga dan lift.
Sara merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Jangan-jangan mereka sedang mencari Bastian.
Ia segera mengeluarkan ponsel dan hendak menelepon Arka lagi. Namun, sebelum sempat menekan tombol panggilan, salah satu pria berjaket hitam menoleh ke arahnya.
Pandangan mereka bertemu.
Sara membeku.
Pria itu menatapnya selama beberapa detik, lalu berbisik kepada rekannya.
Keduanya mengubah arah.
Mereka berjalan menuju Sara.
Sara segera berbalik dan bergerak menuju koridor samping, berusaha terlihat tenang meskipun langkahnya semakin cepat.
Ponselnya bergetar.
Arka menelepon.
Sara langsung mengangkatnya.
"Arka?"
"Di mana kau sekarang?"
"Aku masih di dekat lobi. Dua orang itu melihatku."
"Menjauhlah dari mereka. Aku sedang menuju ke sana."
Sara menoleh sekilas.
Kedua pria itu semakin dekat.
"Arka, mereka mengikutiku."
"Jangan berhenti. Cari petugas keamanan atau masuk ke tempat yang ramai."
"Aku sedang mencoba!"
Sara mempercepat langkah.
Namun, ketika ia melewati sudut koridor, suara keras tiba-tiba mengguncang seluruh bangunan.
DOR!
Sara terlonjak.
Salah satu gelas kopi terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
Sesaat kemudian, terdengar jeritan dari arah lobi.
Lalu satu suara tembakan lagi memecah malam.
DOR!
Sara menutup mulutnya.
"Apa itu?" suaranya bergetar.
Di seberang telepon, Arka mendadak berhenti berlari.
Ia baru saja mencapai tangga darurat ketika suara tembakan terdengar dari bawah.
Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.
Kemudian, jeritan orang-orang menyusul, bercampur dengan suara langkah kaki yang berlarian dan benda-benda yang jatuh.
Arka merasakan darahnya seolah berhenti mengalir.
"Tembakan..." gumamnya.
"Arka?" Sara memanggil dari telepon. "Arka, kau mendengarku?"
Arka langsung kembali berlari.
"Sara, dengarkan aku! Menjauh dari lobi sekarang!"
"Aku tidak tahu harus ke mana!"
"Cari ruangan yang bisa dikunci! Jauhi pintu masuk dan jangan mendekati orang-orang bersenjata!"
Ia menuruni tangga dengan cepat, melewati satu lantai demi satu lantai.
Ketika mencapai bordes lantai dua, ia mendengar suara tembakan ketiga.
DOR!
Kali ini, disusul suara seseorang menjerit kesakitan.
Arka mengepalkan tangan.
Ia mengenali pola kekacauan ini.
Ini bukan sekadar upaya membungkam seorang polisi yang sedang dirawat.
Mereka telah membawa senjata ke rumah sakit.
Tempat yang dipenuhi orang-orang tidak bersalah.
Orang-orang yang datang untuk mengobati penyakit, menemani keluarga, atau sekadar menunggu kabar dari dokter.
Dan sekarang, mereka semua terjebak di tengah baku tembak.
"Brengsek..." desis Arka.
Ia mempercepat langkahnya.
Di dalam kepalanya, satu pikiran terus berputar.
Phat, apa yang sebenarnya kau lakukan?
Lobi rumah sakit berubah menjadi lautan kepanikan.
Orang-orang berlarian ke segala arah. Seorang perawat menarik dua pasien menuju lorong samping, sementara petugas keamanan berteriak meminta semua orang menjauh dari pintu masuk.
Seorang ibu memeluk anaknya erat-erat di balik meja resepsionis. Seorang lelaki tua terjatuh ketika mencoba berlari, membuat istrinya berteriak meminta pertolongan.
Di dekat pintu utama, seorang pria terbaring di lantai.
Darah merembes dari tubuhnya.
Ia bukan polisi.
Bukan pula anggota polisi.
Ia hanyalah seorang warga yang datang untuk menjenguk saudaranya.
Sara melihatnya dari ujung koridor.
Napasnya tercekat.
Pria itu berusaha mengangkat tangannya, tetapi gerakannya lemah. Seorang perawat yang berada tidak jauh darinya hendak mendekat, namun suara bentakan dari arah pintu membuat perempuan itu terpaksa berlindung kembali.
"Semua mundur!"
Dua pria berjaket hitam berdiri di dekat lobi. Salah satunya memegang pistol, sementara yang lain mengawasi lorong-lorong di sekitar mereka.
"Di mana polisi yang dirawat di sini?" bentak pria yang memegang senjata.
Tidak ada yang menjawab.
Orang-orang justru semakin ketakutan.
Pria itu mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke langit-langit, lalu melepaskan tembakan.
DOR!
Jeritan kembali memenuhi ruangan.
"Jangan membuatku bertanya dua kali!" teriaknya. "Kami hanya mencari satu orang!"
Sara mundur perlahan.
Kakinya terasa lemas.
Ia akhirnya memahami bahwa kedua pria itu memang sedang mencari Bastian.
Namun, mengapa mereka menembak warga sipil?
Mengapa mereka harus membuat semua orang ketakutan?
Bukankah mereka bisa menemukan Bastian tanpa melibatkan orang lain?
Jawabannya muncul di benak Sara dengan begitu mengerikan.
Mereka tidak peduli siapa yang terluka selama tujuan mereka tercapai.
Sara berbalik, berniat mencari jalan lain menuju tangga darurat. Namun, baru beberapa langkah ia bergerak, seorang pria berjaket hitam muncul dari lorong samping.
Sara langsung berhenti.
Pria itu menatapnya.
"Kau."
Sara tidak menjawab.
"Kau perempuan yang bersama Arka Khontacron, bukan?"
Jantung Sara berdegup semakin kencang.
Ia mundur selangkah.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Pria itu tersenyum tipis.
"Jangan berbohong. Kami sudah melihatmu bersama dia."
Sara menggenggam ponselnya erat-erat.
Arka masih tersambung.
Ia berharap Arka bisa mendengar semua yang terjadi.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Pria itu melangkah mendekat.
"Kami hanya ingin memastikan seorang polisi tidak lagi mengganggu urusan keluarga tertentu."
Sara menelan ludah.
"Kalau begitu, cari dia. Jangan ganggu orang lain."
Senyum pria itu melebar.
"Sayangnya, kau juga sudah terlibat."
Sara segera berbalik dan berlari.
"Hei!"
Pria itu mengejarnya.
Sara berbelok ke koridor yang mengarah ke ruang pemeriksaan. Ia berlari melewati beberapa pintu, hampir terpeleset ketika menginjak kopi yang tumpah dari gelasnya sendiri.
Di belakangnya, suara langkah kaki semakin dekat.
Ponsel di tangannya masih tersambung.
"Arka!" teriaknya. "Ada satu orang yang mengejarku!"
"Aku sedang menuju ke sana! Terus berlari!"
"Aku tidak tahu jalan keluarnya!"
"Cari tangga darurat di ujung koridor!"
Sara menoleh sekilas.
Pria itu hanya berjarak beberapa meter darinya.
Ia berlari lebih cepat, menahan rasa takut yang hampir membuatnya kehilangan kendali.
Namun, saat mencapai persimpangan koridor, ia melihat seorang anak kecil berdiri sendirian di dekat pintu ruang pemeriksaan.
Anak itu mungkin berusia lima atau enam tahun. Ia menangis sambil memanggil ibunya, yang tidak terlihat di mana pun.
Sara berhenti.
Ia tahu pria bersenjata itu sedang mengejarnya.
Ia tahu setiap detik yang terbuang bisa membuatnya tertangkap.
Namun, ia juga tidak sanggup meninggalkan seorang anak kecil sendirian di tengah kekacauan.
Sara segera menghampirinya.
"Hei, Sayang. Di mana ibumu?"
Anak itu hanya menangis semakin keras.
Sara berjongkok, menggenggam tangannya, lalu menariknya menuju pintu ruangan terdekat yang terbuka.
"Kita bersembunyi sebentar, ya? Jangan bersuara."
Ia membawa anak itu masuk dan menutup pintu perlahan.
Tepat ketika ia menguncinya, seseorang menghantam pintu dari luar.
BRAK!
Sara terlonjak.
"Keluar!" bentak pria itu.
Anak kecil tersebut langsung menangis ketakutan.
Sara memeluknya dan menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit.
Di luar, pria itu menghantam pintu sekali lagi.
BRAK!
"Jangan membuatku mengulanginya!"
Sara melirik sekeliling.
Ruangan itu merupakan ruang pemeriksaan yang sudah tidak digunakan. Ada sebuah meja, beberapa kursi, lemari peralatan, dan pintu kecil yang tampaknya mengarah ke ruang penyimpanan.
Ia segera membawa anak itu ke balik meja.
"Jangan bergerak," bisiknya. "Apa pun yang terjadi, tetaplah bersamaku."
Anak itu mengangguk sambil menangis tanpa suara.
Sara memejamkan mata sesaat.
Arka, cepatlah...
Arka akhirnya mencapai lantai dasar.
Begitu keluar dari tangga darurat, ia langsung melihat orang-orang berlarian menuju pintu samping. Seorang petugas keamanan berteriak meminta mereka menjauh dari lobi, sementara dua perawat berusaha membawa seorang pasien yang menggunakan kursi roda ke tempat yang lebih aman.
Suara tembakan terdengar lagi dari arah pintu utama.
DOR!
Arka merunduk secara refleks.
Ia menempelkan tubuhnya ke dinding, lalu mengintip dari balik sudut koridor.
Salah satu pria berjaket hitam sedang mengacungkan pistol kepada seorang petugas keamanan. Pria lainnya berlari ke arah lorong yang mengarah ke ruang pemeriksaan.
Arka mengenali gerakan mereka.
Mereka bukan orang yang kebetulan membawa senjata.
Mereka datang dengan tujuan yang jelas.
Membunuh Bastian.
Dan jika perlu, membunuh siapa pun yang menghalangi mereka.
Arka merogoh saku dan memeriksa ponselnya. Sambungan dengan Sara masih aktif.
"Sara?" panggilnya lirih.
Tidak ada jawaban.
"Sara, kau mendengarku?"
Terdengar suara napas terburu-buru dari seberang, kemudian suara Sara yang sangat pelan.
"Aku bersembunyi di sebuah ruang pemeriksaan. Ada anak kecil bersamaku."
Arka mengembuskan napas lega, tetapi hanya sesaat.
"Apakah pria itu masih di luar?"
"Iya."
"Jangan buka pintunya. Aku akan mencarimu."
"Arka, hati-hati. Mereka membawa senjata."
"Aku tahu."
Arka memutuskan sambungan dan memasukkan ponselnya ke saku.
Ia tidak memiliki senjata.
Ia juga tidak tahu berapa banyak orang yang dibawa Phat ke rumah sakit.
Namun, ia tidak punya pilihan lain.
Sara berada di lantai bawah bersama seorang anak kecil, sementara Bastian masih sendirian di kamar.
Arka harus menyelamatkan keduanya.
Ia mulai bergerak menyusuri koridor, menggunakan dinding dan sudut ruangan untuk berlindung. Setiap kali mendengar langkah kaki, ia berhenti dan menunggu sampai suara itu menjauh.
Ketika mencapai persimpangan, ia melihat seorang pria berjaket hitam berdiri di depan sebuah pintu.
Pria itu sedang berusaha membuka pintu dengan paksa.
Arka mengenali pintu tersebut.
Itu adalah salah satu ruang pemeriksaan di sisi koridor.
Dan ia menduga Sara berada di dalamnya.
Arka mengepalkan tangan.
"Hei!"
Pria itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
"Kau Arka Khontacron?" tanyanya.
Arka tidak menjawab.
Pria itu tersenyum, kemudian mengangkat pistolnya.
"Akhirnya, aku menemukanmu juga."
Arka segera menjatuhkan diri ke samping ketika suara tembakan mengguncang koridor.
DOR!
Peluru menghantam dinding di belakangnya.
Beberapa serpihan kecil berhamburan ke lantai.
Arka berlari ke balik sudut, sementara pria itu terus mengejarnya.
Namun, sebelum pria tersebut sempat membidik kembali, terdengar suara teriakan dari arah lobi.
"Dia di sana!"
Pria bersenjata itu menoleh sejenak.
Kesempatan itu digunakan Arka untuk bergerak ke arah berlawanan.
Ia tidak boleh tertangkap.
Bukan sebelum Sara dan Bastian berhasil dibawa ke tempat aman.
Di lantai tiga, Bastian mendengar suara tembakan yang menggema dari bawah.
Ia segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi petugas keamanan rumah sakit. Namun, panggilannya tidak segera dijawab.
Wajahnya mengeras.
"Arka, kau seharusnya tidak pergi sendirian," gumamnya.
Ia menoleh ke arah pintu kamar.
Kursi yang digunakan Arka untuk menahan pintu masih berada di tempatnya, tetapi Bastian tahu itu tidak akan cukup untuk menahan seseorang yang benar-benar ingin masuk.
Ia berusaha menggeser tubuhnya ke tepi tempat tidur.
Rasa sakit menjalar dari kaki kanannya, membuatnya meringis.
"Sial!"
Ia hampir menyerah, tetapi kemudian teringat buku catatan Pak Thom.
Nama Tiara Chenzae.
Orang-orang yang menghilang.
Pesan yang memperingatkan agar Tiara tidak kembali ke Sagara.
Jika anak buah Phat datang untuk membunuhnya, berarti keluarga Khontacron sudah mulai kehilangan kendali atas situasi.
Dan jika mereka berani menyerang rumah sakit di tengah malam, mereka mungkin tidak akan berhenti sampai semua saksi dibungkam.
Bastian meraih ponselnya sekali lagi.
Kali ini, ia mencoba menghubungi seorang petugas yang dipercaya olehnya.
Sambungan tersambung.
"Bastian?" suara di seberang terdengar terkejut. "Ada apa?"
"Dengarkan aku baik-baik. Rumah sakit sedang diserang oleh orang-orang bersenjata. Hubungi polisi tambahan sekarang. Jangan kirim satu atau dua orang saja."
"Apa? Kau yakin?"
"Aku mendengar tembakan sendiri! Mereka mengejar pasien dan warga sipil!"
Bastian berhenti ketika mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya.
Ia menahan napas.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu.
Kemudian, seseorang mengetuk pelan.
Tok. Tok. Tok.
"Pak Bastian?" terdengar suara seorang laki-laki dari luar. "Kami dari petugas medis. Kami perlu memindahkan Anda sekarang."
Bastian menatap pintu dengan curiga.
Ia teringat petugas yang datang sebelumnya, yang tidak mampu menyebutkan nama dokter yang memberikan instruksi.
Ia menurunkan suaranya.
"Siapa nama dokter yang meminta saya dipindahkan?"
Tidak ada jawaban.
Bastian menggenggam ponselnya semakin erat.
Lalu terdengar suara laki-laki itu lagi.
"Kami tidak punya banyak waktu, Pak."
Bastian menatap pintu dengan rahang mengeras.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana sebelum aku berbicara langsung dengan dokterku."
Keheningan menyelimuti koridor.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara benda berat menghantam pintu.
BRAK!
Bastian tersentak.
Kursi yang menahan gagang pintu bergeser sedikit.
Ia segera berteriak melalui telepon.
"Kirim bantuan sekarang! Mereka sudah berada di depan kamarku!"
Pintu kembali dihantam.
BRAK!
Kali ini, salah satu kakinya terlepas dari posisinya.
Bastian menggertakkan gigi, meraih tiang infus dengan kedua tangannya, lalu menariknya mendekat sebagai alat untuk mempertahankan diri.
Ia tidak tahu apakah Arka akan kembali tepat waktu.
Ia juga tidak tahu apakah polisi tambahan bisa tiba sebelum pintu itu jebol.
Namun, satu hal ia ketahui.
Jika ia mati malam ini, orang-orang yang menghilang dari Desa maupun tentang kematian ayah Sara mungkin tidak akan pernah ditemukan.
Dan nama Tiara Chenzae akan terkubur bersama rahasia keluarga Khontacron.
Di lantai bawah, suara tembakan kembali terdengar.
Kali ini, disusul teriakan seorang perempuan.
Arka yang sedang berlari menyusuri koridor mendadak berhenti.
Ia mengenali suara itu.
"Sara!"
Ia berbalik dan berlari secepat mungkin menuju ruang pemeriksaan.
Namun, ketika mencapai persimpangan, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Di ujung koridor, seorang pria berjaket hitam berdiri di depan pintu tempat Sara bersembunyi.
Pistolnya terangkat.
Dan dari balik pintu itu, terdengar suara tangisan anak kecil.
Arka tidak lagi berpikir.
Ia menerjang ke arah pria tersebut.
Pada saat yang sama, pria itu menoleh dan mengangkat senjatanya.
Dua pasang mata bertemu di bawah cahaya lampu koridor.
Lalu, jari pria itu menarik pelatuk.
DOR!